CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
Bab 41


__ADS_3

Vanandya termenung di balkon kamar tidurnya. Ia masih memikirkan kakak ipar yang mengigau menyebut-nyebut nama seseorang, hatinya seakan-akan menghangat saat mendengar nama kecilnya di sebut. Ia tak tau kenapa dia bisa mengetahuinya namanya,


Karena tak ingin larut dalam pikiran. Ia pun beranjak dari tempat balkon ia ingin memasak sarapan buat dirinya dan juga kakak ipar'nya,


Saat sedang berjalan ke dapur ia melihat seseorang dengan aura dingin sedang memasak sarapan, bau wangi masakan itu pun tercium di Indra penciuman.


Valdes yang melihat kedatangan wanitanya, langsung menyuruh dia untuk duduk. Karena ia tidak suka di bantah ia pun berkata dengan datar.


Vanandya hanya matuh saja, namun rasa mualnya menggagalkan dirinya untuk duduk. Ia pun berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Dengan gesit Valdes mematikan kompornya dan menyusul wanitanya, ia tak ingin kejadian kembali menimpanya. Dan setelah sampai di kamar mandi ia membantu Vanandya memijat tengkuk leher wanitanya.


Setelah selesai mengeluarkan isi perutnya, tiba-tiba Vanandya merasakan lemas karena tak kuat berjalan.


Valdes yang peka pun menggendong wanitanya ala bridal style. Dan ia lalu mendudukkan wanitanya di kursi, lalu ia menyuruh agar wanitanya makan karena dia sudah mengeluarkan cairan di pagi harinya.


"Makan"


"Tidak mau kak perutku merasa tak enak, aku tidak mau makan."


Mendengar penolakan dari wanitanya membuat ia merasa kesal dan ia pun langsung menyuapi Vanandya dengan tangannya sendiri. Ia tak suka di bantah,


Vanandya yang mendapatkan perlakuan seperti itu tidak bisa menolak karena ia juga sebenarnya merasa lapar. Karena perut'nya merasa tak enak. Namun, saat ia mencoba mengunyah makanan yang sudah di mulut ia merasakan nikmat saat ia di suapi menggunakan tangan kekernya itu, membuat ia menjadi nafsu makan.


Satu suap dan sampai suap terakhir Vanandya terlah menghabiskan sarapannya dengan nikmat.


***


Sementara di mansion Marquez, sedang terjadi kehebohan dari seorang wanita bernama Rebecca. Ia sangat mencemaskan keberadaan mantu'nya yang sejak semalam tidak pulang.


Saat sedang stres tak mendapatkan kabar dari mantu'nya. Ponselnya berdering dengan sangat keras, membuat sang punya langsung mengangkat panggilan itu.


"Hai singa betina.. Ck kamu terlalu mengawatirkan mantumu."


"Oh kelinci berjiwa bansing. Kok kamu bisa tau?"


"Hoho. Kamu nanya ? Kamu bertanya-tanya ?"


Rebecca berdecak sebel karena jawaban yang membuat seluruh kaum kesal. Ia berpikir kalau mereka satu gen, ga anak ga ibu sama saja gendeng, andai dia ada di sini sudah pasti akan berantem. Dan untungnya Rebecca memiliki kesabaran selembut tisu,

__ADS_1


"Kamu ini udah tua, tapi masih saja mengikuti gaya anak muda."


"Hm kamu ga perlu memikirkan Vanandya, karena dia sedang menemaniku di rumah sakit"


"WHATTTTTT!!"Pekik Rebecca yang mendengar sahabatnya di rumah sakit.


Semua orang yang mendengar pekikan Rebecca pun menutup kupingnya,


Wanita yang bernama Varisa pun mematikan sambungan teleponnya, entah apa yang terjadi sampai membuat dia mematikan ponselnya.


Rebecca merasa khawatir, karena sahabatnya tiba-tiba mematikan ponselnya, dia tak ini sebelumnya. Karena saat dia akan mematikan ponselnya dia akan izin terlebih dahulu.


Saat ia akan mengabari Varisa, teleponnya tidak aktif. Ia pun sedang menunggu mantunya untuk bertanya tentang apa yang terjadi,


***


Setelah menyuapi wanitanya ia mengajak Vanandya pulang kekediaman mansion. Mereka pun masuk kedalam mobil dan Valdes menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Saat di perjalanan pulang mereka pun berdiam-diaman, mereka sangat gugup harus mulai dari mana obrolannya.


"Hm. Kak bolehkah aku bertanya?"


Namun Vanandya mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan kakak ipar'nya.


Setelah perjalanan yang memakan waktu, dan berdiam-diaman mereka pun memasuki pekarangan mansion Marquez. Lalu mereka pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki mansion. Valdes dengan tangan yang di masukan kedalam saku celananya sambil mengekor mengikuti wanitanya itu.


"Dari mana kalian?"Ucap Rebecca dengan aura dinginnya


Valdes tak menanggapi perkataan mamanya ii a berjalan melewati sang mama. Entah ada apa dengan mereka sampai tak saling menyapa.


Rebecca menatap ke arah mantu'nya dan bertanya kenapa bisa bareng.


Vanandya pun menjawab dengan seadanya, ia bertemu dengan kakak ipar'nya di rumah sakit.


Rebecca mengangguk menujui ucapan mantunya. Karena ia sudah di beritahu sahabat'nya kalau mantu'nya sedang menemani dia.


Rebecca pun berkata kalau tadi Grey's mengabari kalau mansion barunya sudah siap untuk di tempati dan dia juga menyuruh mereka untuk bersiap-siap karena nanti sore harus udah ada di sana.


Vanandya pun menganggukkan kepalanya, ia naik ke atas untuk packing baju yang akan ia gunakan nantinya.

__ADS_1


3 jam.. Vanandya menghabiskan waktunya untuk packing baju, dan itu menghabiskan 180 koper. Vanandya berpikir kalau koper-koper nya terlalu sedikit, namun ia di kejutkan dengan sang mama yang berteriak histeris.


"Astaga sayang buat apa kamu membawa semua'nya?"


"Bukannya tadi di suruh mama packing?"


"Ya, bukan gitu juga sayang.. mama suruh kamu packing untuk mengemas barang yang di perlukan, karena semua baju-baju sudah ada di sana"Rebecca menggelengkan kepalanya, yang melihat tingkah konyol mantu'nya.


Vanandya pun jadi salah tingkah ia pun kembali memasukkan kopernya ke dalam walk in closet. Dan di bantu oleh Rebecca, setelah semua koper masuk Rebecca mengajak keluar, karena mereka sudah berkumpul untuk makan siang.


Vanandya pun mengekor di belakang mamanya, setelah sampai di ruang makan mereka pun duduk. Vanandya pun mengambilkan makanan untuk suami'nya. Namun ada rasa panas meluap di tubuh seorang pria, pria itu sangat tak rela kalau wanitanya melayani pria lain.


***


Setelah makan siang, mereka bersiap untuk pergi meninggalkan mansion itu, mereka akan pergi untuk menepati mansion baru. Yang sudah di beli buat Vanandya, dari Grey's.


Disini lah mereka berada mansion yang sangat mewah, dua kali lebih besar dari mansion sebelumnya.


Mereka pun masuk kedalam yang sudah di sambut oleh para pelayan. Yang sangat ramah dan sopan.


"Gimana mansion ini adik ipar?"


"Hm, bagus aku suka, desainnya tak membosankan apa lagi bangunan yang sangat besar."Ucap Vanandya sambil menggendong keponakannya yang sangat tampan.


Grey's menganggukkan kepalanya, lalu ia pun pergi dari ruang keluarga, dan meminta kepada Vanandya untuk memberikan anaknya kepada dirinya.


Setelah memberikan Green kepada Grey's Vanandya berjalan ke arah kamarnya. Ia ingin melihat kamar barunya di lantai dua,


Valdes, yang melihat kepergian Vanandya pun berjalan meninggalkan ruang keluarga tanpa berpamitan kepada kedua orangtuanya ataupun adiknya.


Bruk suara seorang menubruk sebuah dinding besar. Orang itu meringis kesakitan saat punggungnya menghantam sebuah tembok, ia pun melihat siapa pelaku yang sudah melakukannya.


"Kau...


...****************...


Kepada siapakah Vanandya berlabuh? Kepada Virendra yang sudah di jodohkan oleh oma'nya? Atau kepada Valdes Cinta sejatinya yang baru di pertemukan ?


NANTIKAN KISAH MEREKA DI CINTA DI ATAS PERJODOHAN..

__ADS_1


__ADS_2