
Satu persatu delapan juri sudah mulai mencicipi makanan yang di buat ketiga peserta memasak. Saat mencicipi makanan ekspresi wajah juri berbeda-beda. Dan saat ini giliran juri ke delapan yang maju untuk mencicipi makanan mereka.
Setelah semu juri sudah ngerasain masakan mereka, tibalah saat ini penilaian terhadap makanan mereka.
"Pemenangnya adalah.." Juri pertama menjeda ucapannya.
Anggota keluarga Marquez merasa penasaran dengan siapa yang menang dalam ujian ini. Bahkan jantung mereka seperti berdebar lebih kencang dari biasanya.
' Pasti aku yang menang, karena ayahku memiliki restoran yang terkenal di Indonesia, jadi aku yakin kalau masakan yang aku buat seperti masakan binatang 5. 'Batin Melissa bermonolog dengan sendirinya.
' Aku yakin pasti masakan yang aku buat sangat enak, tidak ada tandingannya, bahkwn chef-chef di luaran sana kalah sama masakan yang aku buat. ' Batin Tanu dengan percaya diri.
' Ck. Kalian sangat percaya diri. Dari penampilannya aja amburadul seperti makanan kucing, tapi gak papa walaupun masakan dia lebih seperti makanan hewan aku tetap menghargai, siapa tau nanti mereka akan jadi chef, buat hewan peliharaanku. 'Batin Vanandya saat melihat senyuman mereka berdua, yang sangat percaya diri dengan masakannya.
Virendra dari tadi diam saja, karena perasaannya pulai tak menentu apa lagi saat melihat kehebatan istrinya. Ia sangat terkagum-kagum dengan Vanandya yang pandai di dapur.
Victor yang mengetahui kalau mantu'nya sangat pandai memasak senyumannya mengembang, ia akan menghadiahkan restoran buat sang mantu. Karena ia sangat yakin kalau mantunya itu memenangkan ujian ini.
Gengsi yang begitu besar yang di miliki oleh nyonya Rebecca membuat ia tak mau menunjukkan dan mengagumi keahlian sang mantu, ia masih setia dengan pendiriannya yaitu menjadikan Melissa sebagai mantu'nya.
Tiba saatnya mengumumkan siapa yang memenangkan ujian ini. Sang juri kembali membuka suara.
"PEMENANGNYA ADALAH.. NYONYA MUDA VANANDYA.!!"Ucap Satu kiri itu mengejutkan semua yang ada di sana.
Bruk.
Bruk.
Kedua wanita itu terjatuh setelah mendengar vanandya yang memenangkan ujian ia, ia tak akan membiarkan semua ini terjadi.
"Pasti kau melakukan kecurangan kan?"Bentak Melissa yang tidak terima akan kekalahannya, lalu bangkit mendekati Vanandya ia ingin menampar pipi wanita itu namun di cegah oleh virendra sang suami,
Virendra lalu menghempaskan tangan wanita itu, ia merasa jiji akan tangan Melissa, lalu ia menatap istrinya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Vanandya hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia masih marah akan perlakuan dia terhadap dirinya.
Melihat, istrinya hanya menganggukkan kepala, ia merasa kesal. Dengan kasar ia menarik tangan istrinya menunju ke halaman belakang.
__ADS_1
"Kenapa kamu berubah, Apa karena permainan ku yang kurang memuaskan atau karena uang yang aku berikan kurang?"
Bukan seperti ini yang Vanandya harapan, ia hanya ingin mendengar kata. 'MAAF.' Dari mulut virendra, namun dia menjatuhkan pilihannya untuk membalas perbuatannya dengan sangat setimpal.
PLAK. "Jangan pernah urusi kehidupanku, bukannya perjanjian dari awal sudah jelas kalau kita tak berhak mencampuri urusan pribadi."Kata-kata yang di ucapkan oleh Vanandya yang sangat dingin membuat, virendra merasa marah.
Dengan kasar ia menarik tengkuk Vanandya, lalu virendra mencium bibir istrinya dengan sangat ganas. Karena vanandya tidak membalas ciumannya ia menggigit bibir bawahnya.
"Akhhh."
Desah Vanandya yang merasakan sakit akibat di gigit oleh virendra, dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh virendra, namun tenaganya sangat kuat.
Mendapatkan celah. Virendra langsung melahap habis bibirnya, ia menyelusuri setiap giginya, ia tidak ingin ketinggalan satu rongga mulut Vanandya.
10 mereka habis kan, lalu ciuman mereka berakhir setelah salah satu dari mereka kehabisan oksigen. Dengan kuat Vanandya menendang burung rajawali yang di miliki oleh virendra.
Virendra yang merasakan kesakitan akibat juniornya di tendang oleh Vanandya, ia pun langsung melepaskan Vanandya dari cengkeramannya.
Vanandya lalu meninggalkan virendra yang kesakitan, ia tak perduli, baginya itu adalah hukuman atas apa yang dia lakukan kepadanya yang melakukan dengan tanpa perasaan.
***
"Nadya."Ia sangat penasaran kenapa nyonya muda, membawa dirinya ke pusat perbelanjaan. Ia takut apa yang ia sembunyikan akan terbongkar.
Setelah sampai di depan toko Vanandya mengajak mereka, ke toko baju wanita. Saat sedang pilih-pilih pakean mereka terkejut dengan suara lantang dari seseorang pria paruh baya.
"ASTUTI. SIAPA YANG MENGAJARIMU BERPAKAIAN SEPERTI KAMPUNGAN."
DEGH. Semua pengunjung dan pegawai mall merasa terkejut dengan tindakan tuan Bram Wijaya. Pemilik perusahaan Wijaya group.
"Astuti apa selama ini kamu pergi, Kamu menjadi seorang pelayan?"Bentak tuan Bram.
"Ayah.. Kenapa ayah ada di sini?"
"Jawab ayah, apa selama ini yang ayah berikan kurang sampai kamu menjadi seorang pelayan?"
"Ya selama ini yang ayah berikan sangat kurang, karena istri baru ayah yang selalu mengambil uang ku."
Astuti sudah habis kesabaran, ia ingin mengungkapkan kepada ayahnya hari ini juga.
__ADS_1
Citra, merasa terkejut dengan perkataan anak tirinya itu, bisa-bisanya dia mengatakan itu di depan umum, membuat ia malu saja.
'Awas saja jika kamu pulang ke rumah akan aku buat kamu menderita.' Batin citra.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu citra? Ibu salah apa sampai kamu memfitnah ibu. Dari kecil ibu sudah mengurus kamu tapi balasan kamu begini, mempermalukan ibu."Ujar citra dengan nangis bombai.
Tentu, saja perkataan citra membuat para pengunjung percaya. Mereka menduga kalau astuti lah yang bersalah.
Bahkan banyak cibiran negatif mengarah ke Astuti yang tidak tau balas budi, yang di besarkan oleh citra, mereka sangat tau kalau citra sangat baik.
Vanandya hanya menyimak pertengkaran mereka, ia belum mengetahui tentang keluarga Wijaya.
"Sekarang kita pulang." Tuan Bram Wijaya menyeret putrinya dengan kasar,
Citra memulai aktingnya. Ia menangis, dan mengejar suaminya agar tidak menyeret anaknya, ia bahkan pun terjatuh saat mengejar suaminya yang menyeret anaknya.
"Sayang."Bram melepaskan tangan putrinya lalu berjalan mendekati istrinya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?"Ucap Bram khawatir.
Citra menggelengkan kepalanya, lalu menatap sang putri.
"Sayang ibu minta maaf ya, ibu ngelakuin itu hanya agar kamu belajar hemat tidak seperti wanita di luaran sana yang suka berfoya-foya. jika ada rejeki lebih baik di berikan kepada orang yang membutuhkan."
Perkataan citra membuat pengunjung merasa takjub dengan apa yang terlah citra katakan.
Astuti merasa terpojokkan seakan-akan ia yang bersalah karena terlah menindas ibu tirinya itu.
Saat ia akan membalas perkataan ibu tirinya,. sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Jika ingin melawan ibu tiri yang licik, kita cukup melawannya dengan kecerdikan. Itu adalah solusi agar kita terhindar dari fitnah dari ibu tiri."
Pesan yang astuti dapatkan, dari nyonya'nya. Lalu ia menatap ke arah Vanandya yang sedang tersenyum simpul, ia mengerti sekarang, ia pun berterima kasih lewat isyarat.
"Ibu maafkan aku karena aku mencurigai ibu aku termakan oleh rayuan kakak tiri, agar aku membenci ibu."Astuti menangis lalu bersimpuh di hadapan ibu dan ayahnya.
"Apa maksud kamu...
...****************...
__ADS_1