CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 110


__ADS_3

"Oh jadi yang di incar oleh para wartawan adalah vanandya? Pantesan saja aku seperti tidak asing dengan apa yang para reporter katakan." ucap indah saat menyadari kalau sahabatnya yang di cari oleh para wartawan.


Namun, Valdes tak memiliki banyak waktu ia harus segera pergi karena ada urusan mendesak, jadi ia minta tolong kepada indah dan astuti untuk menemani vanandya sampai urusan dia selesai. Ia juga meminta kepada mereka untuk mengawasi vanandya, jangan sampai dia menyetel tv ataupun membuka ponsel.


Mereka berdua pun mengangguk setuju, pasalnya mereka juga tidak ingin Vanandya melihat berita yang semakin tak terkendali, bahkan Rudra dan keluarga sudah melakukan berbagai cara agar berita itu tidak semakin menyebar.


"Sebaiknya kalian cepat pergi, dan cepat kembali." ucap astuti.


Valdes dan kedua asisten pun pergi meninggalkan mansion itu, yang sudah di jaga ketat oleh orang-orang kepercayaan tuan Miharjo pada masanya.


***


"Jawab aku jadi ini semua kamu yang melakukan?" bentak Axel kepada Amira. Ia sangat marah akan apa yang terlah Amira lakukan kepada kakak sepupunya.


"Kalau iya emang kenapa hah? Asalkan kamu tau gara-gara dia aku harus memiliki seorang anak dasar brengsek emang.! Dan ya aku aku bersumpah akan menghancurkan wanita itu berserta keluarganya, camkan itu baik-baik,"


"Oh gitu, jadi selama ini kamu menyesal memiliki seorang anak hah? Asalkan kamu tau dia adalah anakku, jika kamu tak ingin maka aku akan membawa anakku." bentak Axel. Yang, sudah sangat murka akan perilaku Amira.


Perkataan Axel tentu membuat kemarahan Amira semakin murka, siapa dia yang berani melakukan hal seperti itu, "Punya hak apa kamu sampai harus membawa anakku hah?"


Namun, tanpa mereka sadari seorang gadis kecil mendengar semua apa yang terlah di katakan oleh Axel dan Amira, hati seorang anak kecil baru seperti di iris-iris pisau yang sangat tajam.


"Kamu tanya aku punya hak apa? Tentu saja aku adalah ayah kandung Ara dan semua bukti sudah ada di tanganku."


"Mami. Om," panggil gadis kecil berumur sekitar empat setengah tahun.


"Ara?" ucap Axel dan Amira secara bersamaan. Mereka, sangat terkejut akan apa yang putrinya lakukan di situ. Lalu, mereka mendekati ara. Namun, Ara perlahan mundur seakan-akan tidak ingin di dekati oleh kedua orang tuanya.


"Aku benci kalian.!" Ara pun lari dari rumah yang mereka tinggali. Axel yang melihat kepergian putrinya pun ikut lari mengejar Ara.

__ADS_1


Amira yang melihat kepergian putrinya merasa syok dia terdiam saja, karena menyesali akan perbuatannya. Yang, mengatakan yang membuat putrinya bersedih.


"Maafkan aku tuhan, aku tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu." gumam Amira. Yang, langsung keluar dari rumah ia ingin mencari akan keberadaan anaknya.


***


"Akhhh! Brengsek jadi semua ini karena kelakuan Amira?" Valdes tak menyangka kalau adiknya mampu berbuat hal sekeji itu kepada kakak iparnya, walaupun istrinya tak sepenuhnya bersalah.


Lantas, Valdes menyuruh Kairo untuk mencari tau akan apa yang terjadi saat tragedi waktu adiknya di gauli oleh seorang. Karena, ia sangat penasaran siapa orang yang melakukan itu.


Kairo pun melaksanakan tugas, yang sudah di katakan oleh tuannya. Namun, berapa jam Kairo mencari tidak ada informasi mengenai kasus itu. Sepertinya sudah di tutup rapat-rapat oleh seseorang yang Kairo tidak ketahui.


Saat ini Valdes sedang berada di perusahaan miliknya, karena di rumah keadaan belum sangat membaik. Lantas, Valdes menelpon mertuanya tentang perkembangan akan kasus yang terus beredar yang mengatakan kalau vanandya jal*ng rendahan, pelac*r yang berani bermain api dengan kakak ipar'nya. Dan Vanandya juga di salahkan karena terlah merusak masa depan Amira.


Valdes termenung akan semua ini, ia sangat murka kepada para wartawan yang terus saja membuat berita yang tidak benar. Namun, saat dirinya memejamkan mata ponselnya berdering.


"Hallo dad."


"Iya dad, ini Alve anak Daddy."


"Ada apa son? Tumbenan telpon Daddy."


"Dad. Maksudnya apa semua ini kok mereka terlalu menyalahkan mommy, jelas-jelas mommy di situ niatnya membantu."


"Apa maksud kamu alve?"


"Panjang ceritanya dad.. Alve males,"


"Ya sudah kamu minta kepada om Laksh untuk membawa kamu ke perusahaan Daddy biar na.." sebelum Valdes menyelesaikan ucapannya semua suara membuat dirinya merasa kesal. Pasalnya, anaknya mematikan sambungan telepon sepihak nampa mau mendengarkan sambungan dari apa yang ia ucapkan.

__ADS_1


"Anak tak punya sopan, anak siapa si sebenarnya dia. Sama Daddy sendiri mematikan teleponnya." gerutu Valdes yang di buat kesal oleh anaknya itu.


"Ya itu anakmu lah tuan, kan dia menuruni sifat tuan. Yang, mematikan sepihak." Kairo menjawab gerutuan si tuannya.


"Diam!" ucap Valdes menatap tajam ke arah Kairo.


***


Saat ini seorang wanita sedang membuat makanan untuk sahabat'nya yang baru saja bangun dari tidurnya. Saat, makanan yang ia buat sudah matang ia pun menaruh di mangkuk dan tak lupa juga ia menaruh minumnya.


Sebenarnya ia hanya membuatkan sop untuk vanandya karena di kulkas tidak ada bahan makanan, dan astuti membuat SOP juga hasil metik di kebun belakang rumah yang sangat subur akan sayuran.


Ceklek! Astuti membuka pintu kamar vanandya dengan pelan-pelan tanpa bersuara. "Tara..sop hasil karyaku sudah jadi." ucap astuti kepada sahabatnya.


"Sop? Kamu mendapatkan sayuran dari mana hah? Perasaan tadi aku melihat dapur Sangat kosong." tanya indah yang sangat terkejut tak kala astuti membuat SOP, karena tadi saat ia ke dapur mengambil air. Ia benar-benar melihat kulkas dan lemari sangat kosong gak ada bahan buat di masak.


"Aku metik di halaman belakang, karena di sana banyak sekali tanaman sayuran yang sangat subur." ucap astuti sambil menaruh nampan di depan Vanandya agar segera di makan.


"Beb!"


"Kalian pasti penasaran kan apa yang sedang di beritakan di stasiun televisi dan media sosial?" ucap vanandya sambil memakan SOP buatan sahabatnya. Indah dan astuti saling pandang terus mereka terdiam,


"Maaf kami gak bermaksud menyinggung kamu?"


"Tak apa-apa, aku akan menjelaskan semuanya kepada kamu. Tapi, setelah alu makan sop buatan sahabatku ini." ucap vanandya yang membuat kedua sahabat tersenyum dengan di katakan oleh vanandya.


Vanandya, lalu. makan sop buatan astuti, walaupun ia masih merasakan rasah karena apa yang wartawan lakukan tadi pagi membuatnya sedikit trauma akan itu. "Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak bersalah.!" teriak vanandya dengan nampan sudah melayang ke udara sampai jatuh ke lantai.


Indah dan astuti tentu sangat terkejut akan apa yang di lakukan oleh vanandya membuat mereka merasa khawatir karena vanandya terus saja meracau tidak jelas.

__ADS_1


"Van, tenang Van tenang," indah menenangkan vanandya, karena dirinya adalah dokter. Jadi, ia tau kalau saat ini vanandya mengalami depresi, akibat serangan yang di lakukan oleh wartawan dan para warga.


"Sebaiknya kamu kesini cepat..."


__ADS_2