CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
THE END'


__ADS_3

Pyarrrrr...


Sebuah gelas terjatuh yang berasal dari dalam kamar. Mereka segera masuk ke dalam ruangan dan menemukan seorang wanita yang terjatuh dari ranjang dengan tangan yang berdarah akibat terkena pecahan gelas.


"Sayang..!!"


"Katakan padaku apa yang kamu katakan tadi ibu bohong kan? Bunda dan vagas gak mungkin meninggal kan?"


"Itu semua benar, mereka tidak bisa di selamatkan lagi."


"TIDAKKKKKKK..!! TIDAK MUNGKIN VAGAS MENINGGAL.? KALIAN PASTI BOHONG, INI SEMUA BERCANDA KAN?" teriak vanandya karena tidak terima anaknya di katakan sudah meninggal.


"Sayang dengarkan aku..


Perkataan Valdes langsung di potong oleh Vanandya dengan suara yang sangat lantang, bahkan ia langsung menutup telinganya karena tidak ingin mendengar suami'nya mengatakan kalau sang putra telah meninggal.


"Tidak, aku tidak ingin mendengar itu, kalian jangan bohongi aku. Vagas anak yang kuat mana mungkin dia meninggal." kata vanandya dengan tangisnya yang sudah pecah.


Ia terus saja mengelak kalau sang putra tidak pernah meninggalkan dirinya, karena putranya itu sudah berjanji kepada dirinya untuk selalu menemani mommy'nya,


Valdes yang tidak ingin melihat air mata kesedihan sang istri langsung mendekap tubuh vanandya kedalam dekapannya, ia terus saja menciumi kening sang istri, bohong kalau dirinya tidak sedih, bahkan ia sangat sedih tapi ia tidak pernah menunjukkan kannya ia hanya meneteskan air matanya saja setelah itu ia hapus kembali.


Bayangan, tentang putranya yang terbakar dalam jurang yang seperti lautan api membuat ia tidak bisa melupakan akan hal itu, bahkan ia bersumpah akan menghabisi anak keturunan dari Eriska, dan ia tidak perduli jika ia harus membunuh Ameera, karena selagi darah Eriska mengalir di dalam tubuh Ameera ia tidak akan pernah memaafkan mereka.


Apa lagi Ameera juga dalang yang sudah membuat istrinya mengalami keguguran, maka Ameera akan membayar semua atas kesalahan dia yang sudah dia perbuat. Karena susah membuat istri mengeluarkan air mata.


Setelah berapa lama memeluk tubuh Vanandya ia melepaskan pelukannya, lalu ia mengusap air mata yang terus saja membasahi pipi Vanandya.


Semua keluarga yang berada di situ hanya diam tak bisa berkata-kata lagi, ia juga sangat sedih karena harus kehilangan dua orang tersayangnya. Varisa wanita yang sangat baik harus pergi dengan secara tragis.


Dan vagas yang masih sangat kecil harus menerima semua itu, bahkan dia harus terlibat dalam kecelakaan tersebut.


Vanandya, melepaskan infusnya dari tangan, lalu ia berdiri untuk mencari ruangan di mana sang putra di rawat karena ia tidak akan pernah mempercayai kalau sang putra harus meninggal begitu saja.


Valdes pun. Segera menyusul sang istri yang pergi dengan tiba-tiba, dengan di ikuti keluarga besar yang berada di belakang Valdes.


Ia yang menemukan sang istri sedang bersimpuh langsung menghampiri sang istri dengan terus saja mengeluarkan air mata, bahkan banyak pengunjung yang melihat itu semua. Dengan tatapan sendu.


Kabar kematian varisa istri dari Hendrik lacerta dan kematian dari vagas, saudara kembar dari Vegas putra dari Vanandya dan Valdes, langsung tersebar ke seluruh dunia. Bahkan banyak yang memberikan bela sungkawa karena meninggalnya keluarga besar.

__ADS_1


Kabar kematian juga langsung terdengar ke telinga Hayden mantan asisten pribadi lacerta. Bukan hanya itu, kedua mantan pelayan vanandya juga mendengar berita tersebut.


Valdes mengangkat vanandya untuk berdiri dan ia menunjukan tempat dimana vagas di rawat. Dengan langkah gontai mereka berjalan ke arah ruangan tempat mereka di rawat dengan keluarga Marquez dan lacerta berada di belakang mereka.


Saat mereka akan membuka pintu ruangan tersebut, tangan Vanandya bergetar karena tidak Mampu menerima kenyataan pahit ini.


"Apa kamu sudah siap melihat anak kita?" tanya Valdes dengan lembut. Karena ia tidak ingin memaksa Vanandya untuk melihat, Namun. walau bagaimanapun juga Vanandya adalah ibu kandung dari vagas, jadi dia berhak melihatnya untuk yang terakhir kalinya.


Ceklek.


Pintu ruangan terbuka. Dan pandangan mereka melihat dua brangker yang terdapat tubuh varisa dan vagas dengan tubuh yang sangat kaku. Bahkan tubuh keduanya sudah di tutupi oleh kain putih.


Semua keluarga langsung mendekati brangker tersebut yang sudah ada seorang suster yang akan memandikan jenazah ke-duanya.


Eleanor membuka kain milik varisa, dan setelah kain terbuka semua mata tertuju pada pemilik wajah itu Bakan wajah'nya sudah rusak separuh.


Tangis Eleanor dan para wanita pecah di tempat itu karena melihat kematian varisa yang sangat tragis.


"Risa, kenapa kamu meninggalkan mama. Apa salah mama sampai kamu pergi? Bukan kah selama ini mama selalu Baim sama kamu, bahkan mama selalu membela kamu saat suami kamu marah.. Tapi kenapa sekarang kamu pergi meninggalkan mama," tangis Eleanor pecah begitu saya dengan suara tangisannya ia berbicara kepada varisa.


Begitu juga dengan hazel, Kimberly, Tanu. Mereka sangat kehilangan bunda mereka yang sangat Baik kepada mereka bahkan varisa tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang antara anak kandung dan anak angkat.


Vanandya hanya diam saja tak bersuara karena ia sekaligus kehilangan tiga orang dari hidupnya. Putranya vagas, bunda kandung yang selalu menemani dirinya. dan ia juga harus kehilangan janin yang belum ia ketahui.


"Tidak itu bukan vagas, anak saya tidak mati.. Tidak Valdes tidak, dia bukan putra kita, dia orang lain. Aku mohon Valdes selamatkan anak kita,"


"Dia, putra kita sayang dia putra kita. Karena aku melihat sendiri mobil mereka terbakar di depan ku,"


"Aku tidak percaya, aku akan mencari anak aku dia bukan Vagas, kalian semua pembohong putraku tidak akan mati begitu saja." ucap Vanandya yang tidak mempercayai kalau anak di brangker tersebut itu adalah vagas.


Karena Valdes sangat kesal dan sangat sedih secara refleks ia menampar pipi istrinya dengan sangat keras sampai membuat wajah vanandya berpaling.


Plakk..


"Sayang disini bukan. kamu saya yang berduka, kami juga berduka atas meninggalnya mereka, jadi aku mohon kamu harus menerima kenyataan semua ini kalau putra kita dan ibunda sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya." bentak valdes.


"Tuan, nyonya, sudah waktunya kami untuk membersih dan melaksanakan tugas kami untuk segera memandikan jenazah,"


Mereka pun keluar dari ruangan dengan sangat sedih karena mereka masih tidak kalau anak dan bunda mereka meninggal dengan keadaan sangat tragis.

__ADS_1


Tanpa di sadari, oleh keluarganya vanandya mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, ia tidak akan pernah memaafkan wanita yang sudah membunuh putranya begitu pun dengan bunda'nya.


"Aku bersumpah dengan nama dewa dan Dewi saya akan membunuh kalian dengan sangat tragis seperti apa yang sudah kalian lakukan kepada putra dan bunda saya...! Itu adalah janji seorang ibu dan Jani seorang anak..!!" batin Vanandya.


"Mommy."


Seorang seorang anak kecil yang begitu memperihatinkan berjalan menghampiri sang mommynya, karena mendengar kalau saudara kembarnya terlah tiada ia nekad kabur dari mansion.


"Son.."


Vanandya dan Valdes saling pandang lalu mereka memeluk Vegas dengan sangat erat, karena mereka melihat Vegas berada di rumah sakit.


ketiganya pun saling berpelukan, karena mereka sangat kehilangan soso vagas berada di tengah-tengah mereka, bahkan Vegas yang notabene seorang anak yang jarang menangis sekarang dia mengeluarkan air matanya.


"Mommy, vagas gak mungkin pergi kan? ini semua bohong kan?" ucap Vegas dengan air mata yang terus membasahi pipinya karena kehilangan saudara kembar.


Vanandya tidak bisa mengatakan apa-apa, ia hanya bisa mengelap pipi Vegas yang basah karena air mata yang terus keluar.


*


*


*


*


Saat ini semua orang tengah hadir dalam acara pemakaman yang akan mereka lakukan di makan milik keluarga Marquez yang berada di ibu kota karena mereka tidak bisa memakamkan varisa atau vagas di pemakaman keluarga Adiningrat.


Hayden bersama sang istri dan berapa sahabat-sahabatnya mereka juga sudah hadir, yang saat ini mereka akan segere mengiring kepergian varisa.


Suara sirine ambulans terus saja terdengar di sepanjang jalan. Bahkan ribuan mobil terus saja memadati jalanan karena mereka ingin mengikuti pemakaman keluarga besar itu.


Dan itu terus saja di jaga oleh ribuan bodyguard yang terus menjaga agar tidak terjadi kerusuhan. Karena mereka tidak ingin acara peristirahatan mereka berujung kekacauan.


Setelah sampai di makam para petugas langsung mengangkat peti jenazah yang sudah di isi dengan tubuh varisa dan tubuh sang putra mereka vagas.


para petugas lantas memasukkan peti jenazah masuk kedalam liang lahat dan setelah kedua peti mati sudah masuk mereka pun mulai mengubur peti tersebut.


Tangis vanandya pun pecah kembali karena tidak sanggup melihat sang putra di kubur. Valdes hanya bisa memeluk tubuh istrinya untuk tetap kuat karena ia juga sangat sedih atas semua ini.

__ADS_1


"Selamat jalan Putraku..!"


...'''''THE END'''''...


__ADS_2