
Seorang, suami-isteri baru saja mandi karena mereka berdua habis mengadon bayi agar cepat jadi. Walaupun, kecil kemungkinan bakalan jadi tapi keduanya tetap berusaha untuk melakukannya.
"Sayang, mudah-mudahan kita segera di berikan momongan ya? Aku, ingin sekali memiliki seorang putri." ucap Valdes.
"Apa, setelah aku hamil dan melahirkan seorang anak perempuan kamu bakalan berpaling dari vale?" tanya vanandya.
"Aku..?" belum sempat Valdes, menyelesaikan kalimatnya ada seorang mengetok pintunya dengan sangat keras.
Karena, penasaran mereka keluar dari rumahnya. Dengan, kesal Valdes membuka pintu dengan kasar.
"Kalian, siapa? kenapa sangat lancang sekali mengetuk pintu dengan kasar?" bentak Valdes.
"Maafkan saya putra mahkota saya tidak tau jika di dalam ada putra mahkota?" ucap seorang pria dengan takut.
"Cih, alasan" cibir Valdes karena sudah telanjur kesal kepada pria di depannya.
Vanandya, langsung melerai keduanya untuk tidak berantem apa lagi saat ini mereka ada di desa jadi takut mengganggu warga setempat sekitar.
Lalu, Vanda bertanya kepada pria di depannya ada kedatangan apa dia kemari di waktu siang hari. Karena, setau dirinya tidak ada yang mengetahui keberadaan dirinya dan juga suaminya.
"Ada, apa kalian datang kemari?" tanya Vanda.
"Maaf jika Kedatangan kami mengganggu kalian karena kami di suruh oleh tuan besar untuk menjemput putra mahkota dan putri mahkota untuk segera kembali ke mansion Marquez." ujar pria itu.
Keduanya mengerutkan dahinya karena ke-duanya heran kenapa tiba-tiba vinton menyuruh ke-dua nya pulang apa saat ini mansion sedang ada masalah?
Valdes dan Vanda bertanya-tanya apa yang terjadi yang terjadi di dalam mansion Marquez.
Namun, pria itu tidak menjawab yang ia ucapkan hanya agar Valdes dan Vanandya segera pulang ke dalam mansion.
Keduanya mau tidak mau ikut bersama dengan. Mereka, karena mereka tidak ingin membantah apa yang vinton ucapkan jika vinton meminta mereka untuk pulang maka mereka harus pulang.
__ADS_1
Mereka, pun bersiap-siap terlebih dahulu sebelum mereka pergi meninggalkan tempat ini. Tapi, sebelum mereka kembali mereka singgah di rumah Anvaya. Namun, mereka tidak ada di rumah jadi ke-dua nya membuat pesan agar saat mereka pulang mereka tidak mencarinya.
Setelah semua'nya sudah siap mereka langsung masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan oleh pengawal dari mansion utama Marquez.
Banyak, para warga yang melihat kepergian dari vanandya dan Valdes mereka sebenarnya ingin bertanya kepada mereka tapi mereka sangat takut jadi mereka mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Selama perjalan mereka hanya diam saja tidak ingin bertanya lagi apa yang terjadi di dalam mansion Marquez.
***
Eleanor, menarik tangan mantu'nya agar duduk di dekatnya walaupun mereka adalah keluarga besar tapi mereka masih saja mengerjakan pekerjaan rumah.
Ia. ingin mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi kepada ke-dua nya karena Eleanor berhak tau apa lagi ia melihat kemarahan Hendrik saat mereka pulang. Karena, tidak seperti biasanya Hendrik marah seperti itu.
Varisa ragu-ragu ingin mengatakan karena walau bagaimanapun juga ini adalah masalah keluarga jadi ia tidak ingin mengatakan kepada siapapun walaupun dia adalah ibu mertuanya sendiri.
Tapi, Eleanor terus mendesaknya agar varisa bercerita tentang penyebab tentang pertengkaran mereka.
( flashback on.)
Saat ke-dua nya terlah sampai di mansion lacerta Hendrik tanpa berkata-kata langsung keluar dan pergi ke kamarnya ia bahkan tidak menyapa orang tuanya yang ada di ruang keluarga.
Varisa, yang melihat kemarahan Hendrik langsung mengejar Hendrik sampai ia tidak memperdulikan keberadaan ayah mertua dan ibu mertuanya.
Setelah, mereka sampai di dalam kamar vaira mencari keberadaan suaminya. Namun, tidak menemukan keberadaan Hendrik karena saat ini dia sedang berada di dalam kamar mandi.
Hendrik lalu keluar dari dalam kamar mandi ia melirik ke arah varisa dengan tajam. Namun, ia langsung memutuskan kontak mata mereka ia berjalan ke arah walk in closet.
Namun, saat sedang memilih pakaian varisa memeluk Hendrik dari belakang dia terus saja mengucapkan kata maaf kepada Hendrik.
Tapi, Hendrik tetap diam tak ingin mengatakan apa-apa kepada varisa ia lalu menyingkirkan varisa dari pelukannya ia pun memakai pakaian tidur.
__ADS_1
Varisa yang sudah tidak tahan di diemin seperti ini oleh suaminya tidak sengaja membentak Hendrik.
"Hendrik, kenapa kamu jadi seperti ini sih? Hanya karena aku menyembunyikan hal kecil kamu sampai kamu semarah ini kepadaku?" bentakan varisa teryata Mampu memancing kemarahan Hendrik karena Perkataan dari varisa.
"Kamu bilang apa hah? Hal kecil kamu bilang? Asalkan kamu tau hal kecil itu yang membuat putraku meninggal. Kalau, saja kamu mengatakan semuanya sejak awal kejadian seperti itu tidak akan pernah terjadi sampai sekarang dan ya karena kebungkaman kamu itu yang membuat semua hancur!" bentak Hendrik.
Kemarahan Hendrik sudah tidak bisa di bendung lagi ia sangat marah, kecewa dan hancur karena istrinya tidak jujur kepada dirinya.
"Lebih baik kamu menjauh dari aku maupun dari putriku dan cucu-cucuku." sambungnya.
"Apa, kamu bilang kamu menyuruh aku menjauh dari anak aku dan cucu-cucu aku? Aku, tidak akan pernah melakukan apa yang kamu minta." ucap varisa.
Ia, sangat kecewa kepada suaminya karena dia terlah mengatakan hal yang menyakitkan kepada dirinya.
"Mulai, sekarang belajar lah menjauh karena kamu adalah orang yang membuat Putraku mati terbunuh karena semua itu dari keluarga kamu yang sangat gila akan kekuasaan. Jangan, sampai anak dan cucu-cucuku terlibat dalam kekuasaan yang Keluarga kamu punya!" bentak Hendrik.
Plakkk ...
Varisa tidak menyangka kalau suami'nya mengatakan itu kepada dirinya padahal dirinya juga tidak menginginkan akan hal itu apa lagi harus melihat putranya mati.
"Kenapa? benarkan apa yang aku katakan? karena keluarga kamu penyebab kematian putra tunggalku kalau saja putraku masih hidup pasti saat ini aku sangat bahagia karena hadirnya seorang putra mahkota." lagi-lagi Hendrik membentak keras varisa.
Deg ...
Varisa, kembali merasakan sakit di hatinya mendengar perkataan dari Hendrik.
"Hendrik aku adalah seorang ibu aku adalah seorang yang terlah melahirkannya aku juga sangat kehilangan dan terpukul akan kematian putraku, jadi bukan kamu saja yang merasa sedih. Aku Hendrik aku, aku yang sangat kehilangan akan sosok putraku.!" ucap varisa dengan lemah.
"Oh jadi kamu merasa sangat kehilangan putraku? tapi semua itu sudah terlambat, dan andaikan saja dulu kamu mengatakan kepadaku kalau keluarga kamu haus akan kekuasaan dan ambisius ingin menyingkirkan anak laki-laki dari keturunan Adiwilaga ke 6 mungkin aku sudah lebih dulu membunuh mereka sampai ke akar-akarnya." ucap Hendrik berpaling dari wajah varisa.
"Hendrik andaikan saja aku mampu...?"
__ADS_1