
"Sayang... Mulai sekarang kamu akan tidur di kamar suamimu "
Perkataan Rebecca membuat Vanandya terkejot sekaligus kesal. Jika ia tidur dengan suaminya, pasti suami'nya akan melakukan apa yang mereka lakukan tadi pagi.
Lalu ia menatap tajam sang suami. Yang hanya memperlihatkan wajah bahagianya, walaupun begitu. Ia tak akan jatuh cinta dengannya begitu mudah. Karena apa yang terlah di buat suami'nya terlah menggores hatinya.
( Coba bayangkan jika kalian, hatinya tergores oleh seorang pria kalian akan melakukan apa? )
Vanandya pun hanya menganggukkan kepalanya, toh tak ada gunanya membantah.
Briana kembali dengan wajah lemahnya, ia pun duduk kembali.
Grey's. Tidak tahan dengan kondisi adiknya yang terus-menerus seperti ini langsung pergi entah kemana, walaupun sudah berapa kali Rebecca memanggil si sulung.
Virendra lalu mengajak istrinya pergi ke kamarnya untuk istirahat, karena besok ia akan ada meeting penting dengan investor dari Kalimantan.
Saat mereka sudah di kamar, Virendra kembali mendorong tubuh istrinya itu. dan membuka semua pakean yang melekat di tubuh mereka,
Pergulatan ranjang pun kembali terjadi namun mereka hanya melakukan tiga ronde.
Tiga ronde memakan waktu empat jam. Karena merasa lelah merekapun tertidur dengan pedang menancapkan ke sarung pedangnya.
Virendra, sangat menikmati tidur tanpa sehelai benangpun dan junior yang menancap ke lubang gua.
Vanandya juga tidak munafik. Ia sangat menyukai gaya tidur mereka yang tanpa pakaian, dengan junior masuk ke dalam rumahnya.
***
Sang Surya terlah terbit dari timur, memberikan cahaya buat makhluk hidup yang masih setia dengan bantalnya.
Vanandya pun perlahan membuka matanya tak kala sang surya menyinari tubuh mereka. Karena sang pusaka masih menancap di lubang buaya, ia hanya bisa diam sambil menunggu suami'nya bangun.
Saat ia melihat sang suami sedang tertidur ia merasa kagum dengan ketampanan suami'nya.
"Apa kamu sudah puas. Memandang wajah tampanku?"Virendra menggoda istrinya dengan suara khas bangun tidur. Yang membuat dia menjadi seksi dengan suaranya.
Vanandya menjadi gugup saat suaminya berkata seperti itu, teryata suaminya sudah bangun sejak tadi.
"Cih.. Pede sekali anda in....Ahhhhhh"Vanandya yang belum menyelesaikan ucapannya pun langsung mendesah, saat junior suami'nya di dorong kuat-kuat masuk lebih dalam oleh sang pemilik.
__ADS_1
Mereka kembali melakukan sebelum mereka melakukan aktivitasnya masing-masing.
***
Saat ini mereka sedang sarapan pagi. Tentunya dengan Briana yang terus mual-mual walaupun sudah di berikan vitamin kepada Briana.
Setelah sarapan mereka akan berangkat pergi ke perusahaan mereka. Namun, mereka di kejutkan dengan kedatangan Bintang sang asisten tuan besar mereka.
"Permisi tuan, nyonya. Saya disini ingin menjemput Briana."Ucapan dingin bintang membuat mereka mematung dengan perkataan dari bintang.
"Kamu?"
"Saya adalah bintang asisten pribadi tuan Marquez.. Saya di sini ingin menjemput nona Briana, karena sang tuan besar ingin bertemu dengan nona muda."Bintang berkata kepada semua orang yang ada sini.
Melihat istri dan anak-anaknya akan membantah ucapan asisten dari ayahnya, ia menggelengkan kepadanya. Mungkin ini jalan satu-satunya agar anak perempuannya aman di tangan ayahnya.
Rebecca, Virendra, dan Grey's yang awalnya ingin menolak sang asisten untuk membawa anak perempuan satu-satunya pun pasrah sangat melihat kepada Victor menatap tajam sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka pun menurutinya saja, dengan terpaksa. mereka tau jika sudah di dalam mansion utama, akan sangat mencengkram dengan berbagai peraturan yang di buat oleh sang tuan besar.
Anggota pria pun pergi meninggalkan mansion'nya, mereka pergi ke perusahaannya.
Saat semua baju sudah masuk kedalam koper. Mereka menyuruh para maid untuk membawa koper itu ke bawah.
Briana merasa sedih jika harus tinggal di sana. Karena seumur-umur ia belum menginjakkan kakinya di mansion utama, semenjak ia umur sepuluh tahun.
Tamun sekarang ia akan tinggal di sana. Tak terbesit pikirannya untuk tinggal disana.
Ia saat ini sudah siap. dengan penampilannya, lalu ia mengatakan kepada bintang, bahwa dirinya sudah siap untuk pergi. Ia pun berjalan mendahului bintang. Saat sudah di depan mobil yang terparkir lari dengan mobil para bodyguard'nya untuk menjaga perjalanan sang nona muda.
Setelah kepergian sang anak,. Rebecca menangis sejadi-jadinya ia tak bisa membendung air matanya yang terus mengalir, menangisi nasib sang anak yang harus kehilangan masa depannya oleh pria bejad tak tau tanggung jawab.
Vanandya pun menenangkan mamah mertuanya, ia juga merasakan kesedihan,karena Briana pergi dari kediaman Marquez. Lalu ia mengajak sang mama masuk ke dalam, setelah mereka masuk, Vanandya membuatkan teh hangat.
Rebecca pun meminum teh hangat yang di berikan mantu'nya kepada dirinya. Ia sangat kagum karena teh hangat buatan Vanandya sangat persis dengan buatan varisa.
"Teh hangat yang kamu buat. cukup enak? Bahkan sama persis dengan apa yang di buat oleh Sasa."
"Terima kasih mah."
__ADS_1
Mereka pun terdiam satu sama lain, lalu Vanandya bertanya kepada mamanya, di mana awal pertemuan dengan bundanya.
Rebecca dengan senyum mengembang, sejenak ia melupakan permasalahannya. Ia mengatakan kalau dirinya dengan Sasa adalah temen seperjuangan sampai kemana-mana barang, ia bertemu dengan varisa saat mereka sedang kemping, dia juga mengatakan kalau varisa adalah orang yang menyelamatkan dirinya saat berada di kemping.
Vanandya merasa kaget dengan apa yang di katakan oleh Rebecca,. berarti bunda'nyaa terlah menyelamatkan mamah mertuanya.
Karena. Mereka bosan, akhirnya Vanandya mengajak Mamahnya untuk bikin kue yang sepesial.
Mereka pun. asik bikin kue sampai tidak menyadari kalau seseorang yang mendekati kedua wanita beda generasi.
"Selamat pagi tante "
Kedua wanita itu yang sedang fokus membuat kue, Langsung menatap ke arah wanita. Vanandya yang melihat kedatangan musuhnya dengan sangat dingin dan datar, tatapan tidak suka dari Vanandya membuat dia menelan ludahnya.
"Buat apa kamu kesini tanu? Bukannya hubungan kalian sudah putus?" Tanya Rebecca kepada wanita yang tidak lain adalah Tanu.
Saat sedang menunggu kue'nya jadi, ponselnya berdering. Lalu ia menjauh dari mereka.
"......"
"Aku sudah mencari tahu dengan sendirinya."
"......"
" Kau tenang saja, aku bisa mengatasi semuanya."
"......"
"Ya mereka juga sangat baik."
"......."
"Tidak akan pernah ada cinta."
"......"
Sambungan telepon berakhir, Vanandya termenung saat kembali mengingat apa yang baru saja dia katakan membuat. Membuat ia kembali pilihannya. Antara cinta dan dendam.
Vanandya lalu berjalan meninggalkan taman. Namun, sebelum ia masuk ia berpapasan dengan si wanita ganjen.
__ADS_1
"Sayang.....