
"Apa kamu sedih kamu belum bisa hamil? Kamu jangan sedih mungkin saat ini rumah tangga mu sedang di uji dengan kesabaran, ada saatnya nanti kamu memiliki anak Jadi bersabar lah"Setelah mengatakan itu nyonya Miharjo mengajak cucu mantu'nya pergi ke ruang keluarga.
Waktu terus berjalan, mereka pun mengakhiri obrolan, dan saatnya mereka pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Pagi menerpa pelupuk bumi, saat ini keluarga mereka sedang melakukan sarapan.
"Mah, hari ini aku dan varisa akan periksa ke dokter."
"Apa kalian sakit?"Tanya mama elea. Yang menghawatirkan keadaan putra dan mantu'nya.
"Enggak mah, kami cuma ingin check up kesehatan. Siapa tau dalam waktu dekat Risa bisa hamil."Jawab varisa dengan lembut.
Mereka hanya menganggukkan kepala, mereka mengharapkan agar varisa cepet hamil dan bisa memberikan penerus keluarga wangsami Harjo dan lacerta.
"Ayah? Kapan kita keluar dari sini? Ayah tau harta kita sudah habis untuk melunasi hutang-hutang yang ada."Ucap Eleanor
"Ayah tau Lea, tapi mau gimana lagi seluruh kekayaan kita sudah tidak ada lagi."Jawab tuan wangsami Harjo.
"Sayang lebih baik kita bicarakan dengan meneer? Siapa tau dia bisa membantu kita?"
"Tidak istriku, mungkin saat ini meneer sudah bahagia dengan keluarga barunya.. Biarkan saja,"
Mereka pun terdiam, dan melanjutkan sarapannya.
Setelah sarapan pagi nyonya Miharjo mengajak cicit untuk berkunjung ke pantai asuhan, yang sudah di janjikan. Tadi malam,
MUTIARA KELUARGA.
Panti asuhan yang sangat besar di daerah itu, bahkan jumlahnya tak sedikit. Banyak anak-anak yang sedang bermain.
Nyonya Miharjo pun menyuruh cicitnya untuk ikut gabung bermain dengan anak-anak.
Saat sedang memandang cicitnya, ia di kejutkan dengan seorang yang memanggil dirinya.
"Daniah!" Nyonya Miharjo pun menengok ke arah belakang teryata yang memanggil adalah sahabatnya sekaligus pemilik dari panti asuhan.
"Ya Allah filia? Sudah lama tak berjumpa, teryata kamu awet muda ya?"
"Ya Allah Niah. Kamu bisa saja memujiku sampai aku terbang,"Filia sangat terkejut saat sahabat baiknya ada di panti asuhan yang dirinya dan sang suami dirikan. "Ngomong-ngomong kamu sedang apa di sini?"
"Aku ingin berkunjung saja sekalian mengajak cicitku main."
"Dan kamu sedang apa di sini?"
__ADS_1
"Aku adalah pemilik panti asuhan ini"
Daniah terkejut teryata panti asuhan ini milik sahabat lamanya, mereka pun saling bertukar cerita sampai melupakan waktu.
Karena sebentar lagi makan malam filia mengajak sahabat untuk ikut bergabung bersamanya.
Daniah tidak bisa menolak permintaan dari sahabatnya, lantas ia pun meminta izin kepada keluarga di rumahnya untuk makan malam bersama dengan sahabatnya.
Setelah meminta izin ia mengajak cicitnya masuk kedalam,
Saat mereka sedang makan mereka tak menyadari ada seseorang yang berada di luar yang ingin membuat rencana jahat.
DI LUAR RUMAH.
"Tuan Marquez apa tidak apa-apa kita membakar panti ini?"
"Tidak apa-apa karena ini pelajaran buat mereka yang pembangkang."
Setelah tuan Marquez menyuruh anak buahnya menyiram rumah itu dengan bensin dan membakarnya sampai ludes.
KEDIAMAN WANGSAMI HARJO.
PYARR!!
Sang suami pun mendekati istrinya ia bertanya apa yang terjadi kepadanya.
Sonya menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan, karena ia bener-bener merasakan tidak tenang.
Suami donya pun menghubungi nomer eyangnya, namun ponsel eyangnya tak aktif. Karena melihat kepanikan istrinya ia menyuruh seluruh anak buahnya datang ke kediaman panti asuhan itu.
Sambil menunggu kabar dari anak buahnya paksu, mengajak istrinya untuk tetap tenang dan menyuruhnya agar duduk.
Setelah berapa lama dering ponsel mengejutkan mereka, tuan Brian pun mengangkat panggilan masuk,
"Gimana?"
"...."
Brak, ponselnya terjatuh ke lantai. ia sangat terkejut dengan berita yang terlah di sampaikan oleh anak buahnya. Saat ia akan memberi tau istrinya dengan rasa takut keluarganya datang secara bersamaan.
"Brian, Sonya. Ada apa ini?"Tanya nyonya Eleanor. Saat melihat kesedihan anaknya.
"Mah, Pah, eyang, kakak... Eyang putri...!"
__ADS_1
"Ada apa dengan eyang putri?"Eyang Miharjo bertanya kepada cucu mantu'nya.
"Eyang daniah meninggal dalam kebakaran."
DUARRR!
Bagai tersambar petir merah di siang bolong seluruh anggota merasa terkejut dengan apa yang terlah Brian katakan. Namun mereka tak percaya begitu saja.
Brian pun memberikan rekaman yang terlah di kirim oleh anak buahnya.. Kebakaran yang sangat besar membuat penghuni panti tidak ada yang selamat satu orang pun.
Mereka syok dengan apa yang mereka lihat, mereka pun bergegas menunju ke arah panti asuhan.
Setelah sampai sudah banyak polisi tim medis dan pemadam kebakaran.
Sonya berteriak histeris karena putrinya ada di dalam rumah itu. Sebelum akhirnya ia terjatuh pingsan.
Lain dengan tuan Miharjo dia mematung bahkan raganya sudah hilang dia tak mampu lagi untuk berbicara karena dia sangat terpukul atas kepergian istri tercintanya teman hidupnya.
Eleanor terus saja menangis sambil memanggil nama ibunya, ia belum siap atas kepergian ibunya.
Varisa dan Hendrik juga sama terpukulnya atas kematian eyangnya, mereka tak menyangka kalau eyangnya akan pergi secepat ini.. Padahal mereka baru ingin mengasih kejutan tapi Mereka lah yang di berikan kejutan.
*PAGI TIBA. Saat ini rumah Miharjo terlah banyak pelayat yang ingin memberikan bela sungkawa karena meninggalnya nyonya Wangsami Harjo. Namun hanya kerabat dan tetangga saja yang datang, karena tuan Miharjo menutup kasus kematian istrinya.
Tibalah saatnya nyonya daniah Miharjo di kebumikan berdekatan dengan cicitnya, warga sekitar pun membantu menguburkan jenazah Nyonya daniah dan sang cicitnya.
Setelah pemakaman selesai satu persatu pun pulang ke tempatnya masing-masing, namun tuan Miharjo merasa enggan untuk meninggalkan istrinya.
"Ayah pari kita pulang?"
"Ayah ingin di sini saja El, ayah ingin menemani ibumu. Lagian buat apa ayah pulang jika rumah itu sudah tidak ada istri ayah."
Mereka, sedih karena tidak ada yang berasil membujuk tuan Miharjo untuk ikut bersama dengannya.
Varisa yang sejak tadi diam saja pun mendekati sang eyang. Dan berjongkok di sampingnya. Eleanor dan yang lain hanya diam menyaksikan varisa yang mereka tidak tau ingin berbuat apa.
"Eyang, apa eyang tidak sedih? Lepaskan eyang putri, jika eyang seperti ini eyang putri tidak akan bisa tenang di alam sana... Dan apa eyang tau, sebentar lagi eyang akan mendapatkan cicit lagi."Varisa berbicara dengan lembut kepada eyangnya.
eyang Miharjo pun menatap ke Arah cucu mantu'nya, apakah bener kalau dirinya akan mendapatkan cicit baru. Dengan berapa pertimbangan akhirnya eyang Miharjo ingin ikut pulang bersamanya, ia juga sudah berusaha mengikhlaskan kepergian istrinya.
Mereka pun pulang dengan kesedihan, mereka juga berencana ingin membalas dendam kepada orang yang sudah membuat ratu yang sangat agung dalam keluarga wangsami Harjo pergi untuk selama-lamanya...
...FLASHBACK OFF...
__ADS_1