
Sementara, di sebuah pantai terdapat dua orang pria yang sedang berdiri menghadap ke arah pantai. Pria itu dengan menggunakan jas kerjanya, dan tidak lupa dengan tangan di masukan kedalam saku celananya. Dia, sangat merindukan akan pantai yang penuh dengan kenangan manis.
"Tuan, apa tuan masih tetap akan berada di sini terus? Bukannya, tuan sekarang tuan akan ada pertemuan dengan CEO dari perusahaan Bar," tanya asisten pribadinya.
"Aku, ingin tetap disini cak. Karena, aku masih sangat merindukan kenangan manis bersama dengan. Vanandya, karena, disini lah awal aku melakukan hubungan dengannya. Walaupun saat itu aku tau kalau Vanandya sudah tidak segel lagi. Tapi aku tak mempermasalahkan hal itu, karena rasa sayang aku yang begitu dalam kepadanya sampai aku tak mempermasalahkan akan hal itu." kata, virendra kepada Cakra. Karena, hanya Cakra lah yang selalu menemaninya.
"Aku, tau pasti tuan, sangat sakit. Melihat, nyonya vanandya dan tuan valdes? Tapi, tuan harus melupakan perasaan tuan. Kalau, tuan tidak berjodoh dengan nyonya vanandya. "
Virendra, menghela nafas panjang. Dia, memang harus melupakan perasaannya kepada vanandya. Karena, setatus mereka sekarang bukan lagi suami istri tapi kakak ipar dan adik ipar. Namun, sekuat apapun dia berusaha. Dia, tak bisa membohongi perasaannya, karena saat dirinya di jodohkan oleh neneknya. Dia, merasa senang. kalau neneknya teryata masih memperdulikan dirinya.
Cakra, yang melihat virendra sangat rapuh hanya bisa diam saja. Namun. di dalam diamnya, Cakra merasa iba kepada tuannya. Walaupun, tuannya sudah menikah dengan Tanu. Tapi hatinya masih milik orang lain.
"Tuan, malang sekali hidup mu tuan. Jika, saja kamu menyadari perasaan kamu lebih awal. Pasti nyonya vanandya akan mencintai kamu seutuhnya. Bahkan, aku sangat yakin kalau nyonya vanandya tidak akan pernah memiliki perasaan dengan tuan Valdes," batin Cakra.
"Cakra, apa aku memang harus memperjuangkan cinta ku kembali, agar aku bisa memiliki Vanandya sepuasnya? Aku, tidak ingi. terus merasakan sakit hati ini perasaan ku menginginkan kalau Vanandya kembali ke pelukan aku." tanya virendra, yang masih setia berdiri di depan pantai.
"Saya, tidak akan melarang apapun yang tuan lakukan, tapi tuan harus tau, secara garis besar tuan akan menyakiti hati banyak orang. Bahkan, bisa jadi tuan akan di asingkan dari keluarga. Apa, tuan ingin?" ucap cakra. Dengan santai, tapi auratnya sangat dingin dan datar.
"Tapi, aku ingin vanandya menjadi milikku, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan perasaan ini tapi tidak bisa. Aku ingin egois, dan bisa memiliki vanandya seutuhnya." kata virendra.
__ADS_1
"Tuan, lihatlah dengan mata hati tuan, jika tuan ingin memiliki nyonya vanandya silahkan, tapi asalkan tuan tau, kalau tuan akan menyakiti perasaan Twins, perasaan anak tuan, perasaan orang tua tuan, perasaan nyonya Tanu, perasaan tuan Valdes, bahkan tuan bisa di benci oleh Vanandya, tuan tau kan nyonya vanandya sangat menyayangi twins, jika sampai twins membenci nyonya vanandya, maka vanandya juga akan membenci tuan, karena tuan penyebab semua'nya terjadi." ujar Cakra. dengan tegas, agar dia bisa menyadarkan kegilaan tuannya.
Deg...! Virendra, tidak menyangka, kalau dia akan menyakiti perasaan orang lain jika dia tetap merebut vanandya dari tangan kakak'nya. Dia lalu menghela nafas panjang. Dia, lebih baik menyakiti perasaannya sendiri di bandingkan dia harus menyakiti perasaan orang lain. Bahkan, dia tidak ingin kalau anak-anak yang akan menjadi korban karena keegoisan dirinya.
"Tuan, saya tau kalau hati tuan sudah mencintai nyonya Tanu. Walaupun, ada sedikit rasa cinta tuan kepada vanandya. Perbandingannya adalah, nyonya Tanu 80% dan nyonya vanandya 20%," kata Cakra, menjelas kepada tuannya.
Lagi-lagi, virendra terdiam dia tidak percaya kalau asistennya sangat bijak menghadapi percintaan. Tapi yang tidak habis pikir adalah Cakra belum bisa dapat jodoh.
"Seperti, saya memang harus memendam perasaan vanandya. Agar, saya tidak menyakiti perasaan banyak orang." kata virendra, yang membuat Cakra tersenyum. Karena, tuan'nya sudah penjawab dengan tepat. Untuk, menghilangkan perasaan vanandya sejauh mungkin.
"Saya, senang tuan. Memilih pilihan yang tepat untuk menghilangkan perasaan nyonya vanandya." ucap cakra.
"Tapi, sebagai balasnya, kamu harus memperkenalkan calon istri kamu dalam waktu 24 jam." sambung virendra.
"Tapi... Tuan, saya..." belum sempat Cakra menyelesaikan ucapannya sudah lebih dulu di potong oleh tuan'nya.
"Saya, tidak ingin mendengar alasan kamu, yang saya ingin dengar, kamu bawa calon kamu.! Dan, jika sampai kamu tidak membawa dalam waktu yang sudah di tentukan. Saya, sendiri lah yang akan memberikan kamu calon pasangan." kata virendra, dengan datar. Dan, setelah mengatakan hal itu virendra pergi dari tempat itu. Walaupun, sangat berat meninggalkan pantai yang penuh kenangan.
***
__ADS_1
Seperti, apa yang terlah di katakan oleh ibu kavita, dia akan menanyakan tentang pria yang ada di dalam foto bersama dengan bunda'nya. Karena, bunda'nya lah yang mengetahui tentang bunda Vera. Jadi, dia pun sekarang menunju ke kediaman lacerta. Namun, dia langsung mengerem. Saat menyadari kalau bunda varisa berada di Bali.
Jadi, dia pun mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke kediaman lacerta, lalu virendra pulang ke kediaman papa mertuanya. Yaitu, mansion pamungkas.
Setelah, sampai dia langsung masuk ke dalam mansion. Yang, sudah di sambut hangat oleh keluarganya dan juga istrinya yang tengah hamil sedikit besar.
"Sayang, kamu dari mana saja? Dede, kangen pengen di peyuk." kata seorang wanita yang tak lain adalah Pitaloka.
"Aku, habis membereskan rumah yang akan kita tempati, karena waktu kita di Bali bunda varisa menginginkan kita tinggal di kediaman orangtuanya. Yang, sudah lama tidak di tempati." ujar vernando kepada istri. tercintanya.
"Oh. Benarkah, kalau bunda varisa mengizinkan kita untuk tinggal di kediaman eyang?" tanya Pitaloka,
"Benar, sayang lagian rumah itu sudah tidak di pakai. Karena, rumah itu hanya bisa di wariskan kepada anak laki-laki bukan anak perempuan, jadi bunda menyuruh tinggal di sana." vernando menjelaskan kepada istrinya.
Sebenarnya, dia juga masih bingung kenapa bunda varisa berkata seperti itu. Yang, mengatakan kalau keturunan laki-laki yang bisa menepatinya.
Dia, ingin meminta penjelasan kepada bunda varisa, tapi dia belum menjelaskan, katanya bunda varisa akan menjelaskan saat dia berada di sini.
Shanty, hanya menyimak pembicaraan mereka saja. Tak, menginginkan ikut dalam pembicaraan suami-istri baru. Tapi sekali-kali dia menimpali Perkataan mereka.
__ADS_1
"Jadi, rencana kalian untuk pindah kapan hm? Mama, menginginkan kalau Kavita berada di sini sementara waktu, karena. kondisi Pitaloka yang sedang hamil takut kenapa-kenapa." tanya shanty yang mengkhawatirkan keadaan putrinya, apa lagi sedang hamil muda, kondisi yang masih renta.
"Kami, pindah menunggu kedatangan bunda varisa..."