
Valdes saat ini sedang meeting di mall, mereka sedang membahas tentang kerja sama dengan perusahaan yang berasal dari eropa, karena yang Valdes tau perusahaan itu cukup baik. Bahkan, kerja perusahaan itu sangat menguntungkan.
Valdes, sudah mulai kesal karena orang itu tak kunjung datang. Namun, saat dia akan pergi orang itu sudah berada di hadapannya. Lalu orang itu berkata kepada dirinya.
"Tuan, valdes?" tanya orang itu kepada Valdes,
"Iya, saya Valdes...Kau kau tuan vernando?" ucap Valdes kepada pria di depannya. Namun, dia merasa tidak asing dengan wajah orang di depannya, karena orang di depannya mirip seseorang. Tapi, dia tidak tau siapa,
Pria itu, pun menganggukkan kepalanya. Lalu, dia menganggukkan kepalanya, Dan, ketua pimpin itu pun berjabat tangan satu sama lain. Dan lalu keempat pria itu duduk di tempat mereka masing-masing. Satu jam sudah mereka bahas tentang kerja sama antara perusahaan Marquez group dan Veva group.
Vernando Adhikara Veva, seorang pria yang sangat tegas dan dingin. Dia, adalah seorang pria yang sangat baik kepada orang-orang terdekatnya. Dia, adalah seorang CEO di perusahaan VEVA GROUP. Perusahaan, yang dulu di bangun oleh ibunya. Dan, sekarang vernando yang menggantikan posisi sang ibu yang sudah lama tiada.
Mereka, berdiri dari duduk'nya lalu mereka berjabat tangan satu sama lain. Dan, mereka pun keluar dari ruang VVIP, yang sudah di sediakan oleh pemilik mall ini.
Namun, saat mereka keluar mereka mendengar keributan yang berasal dari toko dassi. Tapi, karena mereka sedang sibuk jadi mereka tak menghiraukan keributan itu.
"Tuan, bukannya dia adalah. Nyonya vanandya?" ucap asisten Kairo, yang langsung menghentikan langkah Valdes dan vernando. Lalu, ke-duanya melihat arah di mana Kairo tunjuk.
Sontak hal itu, pun membuat Valdes. Sangat, terkejut lalu Valdes menghampiri istrinya itu dengan langkah cepat dengan di susul oleh Kairo, vernando dan Dika, asisten dari vernando.
Saat, sudah sampai di hadapan istrinya Valdes bertanya kepada Vanandya tentang apa yang terjadi. Kenapa, dia bisa ribut bersama dengan wanita itu.
"Kami, berebut dasi. Sayang, tapi dia merebutnya dariku?" ucap vanandya. Membuat Valdes mengerutkan keningnya. Karena, dia merasa heran akan vanandya yang ingin membeli dasi.
__ADS_1
"Sejak, kapan kamu ingin membeli dasi?" tanya Valdes kepada istrinya.
"Sejak, tadi.. Karena, aku ingin memberikan dadi itu untuk kamu tapi Wanita itu merusaknya." ucap vanandya yang sangat kesal kepada wanita di depannya.
Valdes, bertanya kepada manager mall, apa masih ada dassi yang istrinya pegang. Karena, dia tidak ingin istrinya merasa kecewa.
Namun, manager menggelengkan kepala. Karena, di mall ini dasi yang kedua wanita itu rebutkan sudah tinggal satu, karena itu barang limited edition jadi hanya ada satu di dunia dan tidak ada yang mampu membelinya.
Saat, Valdes sedang berdiskusi dengan manager. Vernando datang bersama dengan asistennya, lalu seorang wanita yang berebut dengan vanandya berteriak kepada pria bernama vernando.
"Kakak..!!" ucap wanita itu.
"Ada, apa ini?" tanya vernando kepada adiknya itu. Yang, tiada hari tanpa belanja.
"Lihat, kak. Wanita itu merebut barangku, aku kan ingin membelikan dassi untuk kakak, tapi wanita itu mengambilnya." ucap wanita itu dengan nada manja.
Valdes, setelah berbicara kepada manager pun kembali ke tempat istrinya dan dia terkejut saat melihat vernando ada di sini.
"Tuan, vernando.. Sedang apa anda di sini?" ucap Valdes.
"Aku, disini ingin menjemput adikku yang bandel karena terlalu sering berbelanja. Bisa di katakan adalah pemburu barang branded." ucap vernando.
Valdes, tak menyangka kalau wanita yang sedang berebut barang dengan istrinya adalah adik dari rekan kerjanya. vernando pun menyuruh adiknya berkenalan dengan rekan kerjanya.
__ADS_1
Hal, itu pun membuat wajah wanita yang tadi kesal menjadi secercah matahari. Karena, dia berkenalan dengan pria ganteng. Lalu wanita itu mengulurkan tangannya."Hallo .Ganteng, kenalkan aku adalah Tania Putri Adhikara." ucap wanita itu dengan genit, hal yang membuat vanandya kesal.
"Hallo, juga.. Aku vanandya nayesha lacerta Marquez. Istri dari pria ganteng ini." jawab Vanandya kepada Tania. Lalu, dia juga yang menerima uluran tangan Tania.
"Hiii...Kok, kamu sih yang jawab kan aku bertanya kepada pria tampan itu," ucap Tania dengan kesal, lalu dia melepaskan jabatan tangan itu dan mengelapnya menggunakan tissue basah. "Bisa-bisa, tanganku terkena bakteri darimu." ucap Tania dengan sedikit sinis.
Valdes, yang mendengar tania mengatai istrinya bakteri merasa marah. Namun, semua itu di cegah oleh vanandya untuk tidak gegabah kalau ingin bermain dengan wanita seperti ini. Karena dia akan melakukan rencana yang membuat wanita di depan tak menggoda suami'nya.
Vernando, meminta maaf atas apa yang terlah adiknya katakan, karena dia orangnya memang seperti itu. Apa lagi dengan wanita yang di anggap musuh karena menjadi pesaing dalam pemburu barang branded.
Valdes dan vanandya hanya menganggukkan kepala, mereka sudah memaafkan apa yang di katakan oleh tania. Karena, Vanandya sudah tidak ingin memiliki dassi itu vanandya menyerahkan dassi itu kepada Tania yang sangat lebay. Lalu, vanandya berpamitan kepada vernando dan yang lain.
"Tania, jangan coba-coba kamu mengatakan hal, seperti itu lagi. Karena yang kamu hadapi adalah putra, putri mahkota. Dan, mereka adalah pasangan suami-isteri yang memilik perusahaan yang sangat besar di dunia." ucap vernando dengan geram.
Mendengar, kakak'nya mengatakan seperti itu membuat dia menjadi takut, jika wanita itu tersinggung bisa hancur reputasinya. Bisa-bisa dirinya tidak akan mendapatkan barang branded yang di keluarkan oleh perusahaan besar itu. "TIDAKKKKK...!! Jika, aku sampai tidak mendapatkan asupan branded maka aku akan kehabisan oksigen. Ya, jalan satu-satunya adalah aku harus minta maaf dan meminta nyonya vanandya untuk tidak menghentikan pengeluaran barang branded." racau Tania tidak jelas.
Karena, sudah tidak tahan dengan racauan adiknya ia membayar dassi yang adiknya pilih, setelah pembayaran vernando berjalan mendekati adiknya lalu dia menyeret Tania untuk ikut pulang bersama dengan dirinya.
Saat, mereka sudah berada di mobil, vernando melamun, dia sedang membayangkan akan wajah milik vanandya, karena wajah dia menginginkan akan sosok ibunya. "Dik, kamu merasa familiar tidak dengan wajah dari nona vanandya?" tanya vernando.
"Hmm...Iya, tuan aku merasa familiar, karena aku melihat nona vanandya sering berada di lancar kaca." ucap Dika, yang masih fokus dengan menyetirnya.
"Bukan, itu maksudnya.. Tapi, apa kamu merasa vanandya mirip seseorang?" ucap vernando. Yang, kesal akan jawaban dari asistenya.
__ADS_1
"Sepertinya begitu tuan. Karena, di dunia ini banyak yang memiliki wajah yang hampir mirip." ucap Dika, yang semakin membuat vernando kesal. Tanpa, mereka sadari mereka terlah sampai di kediaman mansion mereka.
"Sayang...!!"