CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 109


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Valdes terlah sampai di kediaman wangsami Harjo. Mansion yang begitu mewah dan elegan, kediaman itu sudah lama tidak di tinggali semenjak kematian Miharjo. Bukan, tanpa alasan Valdes membawa istrinya ke sini, karena dia ingin istrinya merasa aman. Karena, saat ini mansion lacerta, mansion Marquez dan mansion dirinya sedang di buru oleh wartawan dan haters, mereka ingin melakukan perlawanan kepada istrinya.


Valdes sudah menyuruh asisten pribadi dan anak buah untuk merendahkan tanggapan berita tentang Vanandya yang menghancurkan masa depan nona tunggal Marquez.


Sementara Kairo, Hayden dan keluarga lacerta sedang berkerja untuk meredakan berita yang semakin melejit, Valdes saat ini sedang menenangkan istrinya agar tidak terkena mental.


"Sayang. Hiks," panggil vanandya. Dengan, isak tangisannya yang terus saja turun membasahi pipinya.


"Kamu tenang ya? Ini semua bakalan baik-baik saja," ucap valdes menenangkan istrinya.


"Aku takut sayang."


"Kamu tidak perlu takut. Karena, aku ada di sini bersama denganmu," Valdes pun memeluk istrinya. Dengan, tubuh istrinya yang bergetar hebat karena ketakutan.


Saat istrinya sudah tenang ia merebahkan Vanandya di kasur. Tapi ia tak tinggal diam saja di mansion ini, karena Valdes tidak ingin berita itu semakin membesar. Tapi, jika ia tinggal istrinya akan sendirian.


Saat sedang berkecamuk dalam pikirannya, ia teringat kedua sahabat sekaligus mantan pelayan istrinya. Lantas, ia menghubungi asisten pribadi untuk menjemput kedua sahabatnya,


****


Saat ini kedua asisten pribadi Mrs Vanandya dan Valdes, sedang menjemput sahabat vanandya. Karena, saat ini nyonya mereka sedang membutuhkan dukungan. Apa lagi berita yang beredar di seluruh dunia,


Tok


Tok


Tok! Hayden mengetuk pintu rumah seorang wanita, dengan tatapan garang tanpa ekspresi wajah.


"Jika tampangmu seperti itu itu seperti seorang debt collector saja, bisa-bisa nanti wanita merasa takut." ejek Kairo yang melihat tampang wajah Hayden.


"Husstt. Diam!" bentak Hayden.


Saat mereka sedang berdebat. Suara pintu di buka dan menampilkan seorang gadis cantik yang membuat kedua pria itu terpanah di buatnya karena saat ini gadis itu hanya menggunakan kimono dan rambutnya di balut oleh handuk.


"Siapa ya?" tanya gadis itu dengan lembut. Namu, ada sedikit rasa takut saat melihat wajah sangar pria di depannya. Tapi, ia mencoba merilekskan rasa ketakutannya.


"Rubah lah wajah kamu? Dia ketakutan jamet.!" ucap Kairo. Namun, Hayden hanya berdecak sebel karena perkataan asisten dari Valdes.


"Hmm.! Nona, kedatangan kami kesini untuk menjemput anda nona," ucap Hayden.


"Maaf, tapi siapa ya? Soalnya kita tidak kenal, dan apa tujuan anda untuk menjemput'ku?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Maafkan aku. Sebelumnya kenalkan aku adalah Hayden dan di sampingku Pororo eh Kairo. Kedatanganku, kesini atas suruhan dari tuan valdes untuk menemani nona Vanandya."


"What.!" pekik gadis itu sampai membuat kedua pria menutup rapat-rapat kupingnya.


"Bisa tidak suara kamu di kecilkan?" ujar kairo.


"Sorry, sorry. Aku terkejut, jadi vanandya tapi siapa valdes?"


Karena males menjelaskan, mereka menunjukkan tampang garang dan membawa indah secara paksa masa bodo dirinya di sebut penculik. Karena, membawa gadis yang baru selesai mandi


Hayden menaruh tubuh gadis mungil itu, di kursi belakang. Dan, sekarang dirinya akan berlabuh di kediaman sahabat selanjutnya yaitu. Astuti,


Mulut indah terus saja berkomat-kamit. Karena, mereka membawa paksa dirinya sebelum ia melakukan merias wajah dan berpakaian.


Saat sudah sampai di kediaman Astuti Kairo juga melakukan hal sama. Dengan, cara menculik Astuti secara paksa Tanpa kesetujuan belah pihak. Karena, mereka sudah kehabisan waktu.


"Lho dah kok ku disini?" tanya Astuti saat melihat Indah ada di mobil penculik.


"Iya, aku di culik, apa lagi dengan pakaian aku yang masih pakai kimono lagi." Indah mulai dramatis agar Astuti semakin khawatir.


"Aduh ndah kita harus segera lapor presiden kalau kita di culik. Dan, jangan-jangan kita akan di perk*sa, terus kita di jual." ucap astuti yang merasa ketakutan.


"Ndah, sepertinya dia debt collector berwujud penculik. Karena, tampang dia sama, penculik ia debt collector ia." bisik Astuti kepada indah. Yang, membuat Kairo dan indah ingin tertawa karena mendengar perkataan sang gadis polos.


Karena merasa kesal Hayden melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan dalam waktu limat menit mereka terlah sampai di kediaman Miharjo.


Huek!


Huek!


Huek!


Huek!


Huek!


Saat mereka turun isi dalam perutnya keluar semua karen kelakuan Hayden yang membawa mobil seperti membawa setan. Mereka pun tepar karena kelelahan mengeluarkan isi dalam perut,


"Hayden gila.! Kamu ingin membunuhku hah?"


"Siapa yang ingin membunuhmu sayang.?" ucap Hayden dengan meledeknya dengan kata sayang. Yang, membuat kedua gadis itu tercengang habis.

__ADS_1


"Hiii.. Kalian, kok main sayang-sayangan sih?"


"Kenapa? Bukan wanita doangkan yang main. sayang-sayangan?" ucap Hayden kepada Astuti


"Cih, menjijikan."


Tanpa menanggapi suara radio butut astuti, hayden menyuruh mereka untuk segera masuk kedalam mansion, lebih tepatnya si seperti keraton.


Kedua gadis sangat terkagum-kagum dengan interior rumah yang sangat besar ini. Tapi anehnya rumah'nya tak sama seperti rumah pada umumnya, karena di rumah ini memiliki berapa ruangan dengan pintu terpisah.


Mereka berjalan melewati lorong mansion itu. Dengan sangat bersemangat karena ada kolam ikan dan taman, mereka berpikir-pikir mansion yang mereka tempati seperti sebuah kerajaan Majapahit.


"Ndah. Kamu kan orang indo asli'kan?" tanya Astuti.


"Lah bukannya kamu juga orang indo?" indah balik tanya kepada Astuti.


"Ia, aku orang indo. Tapi gak pernah di indo. Secara aku di Amrik terus." ucap astuti.


"Cih.. Memangnya kenapa si tanya seperti itu?" ujar indah.


"Bangunan ini kok seperti bangunan para penjajah ya?" ucap astuti.


"Ini tuh, bukan seperti bangunan penjajah. Tapi, ini adalah keraton modern." ucap Hayden menimpali obrolan mereka,


Dan tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di ruangan mawar, yaitu tempat tinggal Vanandya. Saat mereka terlah sampai, kedua hadir itu terkejut melihat seorang pangeran sedang berada di samping sahabatnya.


"Astoge. Pangerannya Sangat tampan dan dia pasti pangeran yang akan mencium putri salju yang sedang tertidur karena racun dari penyihir." Astuti dan indah bercerita tentang pangeran tampan dan putri salju.


Hayden dan Kairo hanya menggelengkan kepala, karena mendengar mulut mereka yang terus berceloteh tanpa henti. Apa kedua gadis itu tidak lelah berbicara terus, pikir mereka.


"Tuan mereka sudah datang." ucap Kairo kepada Valdes.


Valdes pun langsung beranjak dari tempat tidur karen dirinya habis menemani istrinya yang terus ketakutan, apa lagi saat itu vanandya terus di lempari tomat, kertas dan batu sampai membuat Vanandya kesakitan.


"Kamu mantan pelayan vanandya?" tanya Valdes dengan tanpa ekspresi,


"Ia kami mantan pelayan nona vanandya saat di kediaman Marquez." ujar mereka terbata-bata.


"Bisa kamu menjaga istriku? Karena saat ini para wartawan sedang mengincarnya."


"Oh jadi..."

__ADS_1


__ADS_2