CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 159


__ADS_3

Saat, ini Pitaloka sedang menikmati sarapan paginya, dengan muka cemberut akan perkataan dari orangtuanya itu. Dirinya, merasa sakit hati dengan perkataan mama dan papa'nya itu.


Josh dan shanty membujuk anak tunggalnya itu yang kesal kemana mereka. Bahkan, Josh akan melakukan apapun agar sang putri mau memaafkan dirinya ini. Apa, lagi dirinya tidak bisa di diamin oleh sang putri itu. Walaupun, sifat putrinya di luar nalar. Tapi, dia tetap menyayanginya.


Begitupun, dengan shanty dia akan menuruti semua kemauan dari putrinya. Jika, putrinya menginginkan mobil, maka dia akan memberikan. Jika, putrinya menginginkan kapal pesiar, ruang pribadi, jatt pribadi, bahkan sampai pulau pribadi sekalipun dia bakalan membeli semua'nya asalkan putrinya tidak diam begitu.


Pitaloka, mendengar hal itu tersenyum misterius, sepertinya ini adalah kesempatan yang bagus buat dirinya untuk membatalkan semua perjanjian yang orangtuanya minta itu.


"Beneran, kalian ingin mengabulkan semua yang aku minta?" tanya Pitaloka.


"Benar, sayang apapun yang kamu minta papa dan mama aku menurutinya." jawab Josh dengan tegas.


"Aku, meminta kalian untuk membatalkan perjodohan gila ini. Apa, lagi dengan pria yang tidak aku kenali.!" ucap Pitaloka, yang membuat kedua orang tua pitaloka merasa syok sekaligus terkejut akan permintaan itu.


"Ta-tapi..Sayang,?" ucap Shanty terbata-bata. Dia, tidak bisa mengabulkan masalah ini, apa lagi ini sudah tertulis kalau ke-dua nya harus berjodoh.


"Tapi, kenapa hah?" ucap Pitaloka, yang penasaran akan perkataan mama'nya itu.


Shanty, langsung pergi dari hadapan putrinya itu, dia enggan menjelaskan kenapa dirinya tidak mengatakan yang sebenarnya. Karena, ini sudah perintah jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktunya tiba.


"Em..Papa, akan berangkat ke kantor karena ada meeting penting dengan perusahaan besar." ucap Josh, guna menghindari pertanyaan itu. Apa, lagi Putrinya sudah mulai lirik-lirik kepada dirinya.


"Terus, saja menghindar. Kalian, memang benar-benar tidak menyayangiku. Dan, kalian ingin membuat aku mati penasaran." teriak Pitaloka, yang membuat seluruh mansion kembali menggema.

__ADS_1


"Sayang, pamali ngomong begitu. Jangan pernah kau ulangi lagi. Mama, tidak ingin mendengar lagi kamu mengatakan itu." teriak Shanti kepada Pitaloka, karena dia sangat tidak menyukai anak'nya mengatakan seperti itu.


"Sudahlah, sebaiknya aku pergi mau berkencan.!!" teriak Pitaloka yang langsung lari keluar mansion, dia pun menyambar kunci yang di gantung di tempa perkuncian.


"PITALOKA..!! APA, KAMU BILANGGG?" teriak Shanti tapi tidak di gubris oleh pitaloka.


***


Saat, ini Keluarga. Marquez sudah sampai di kediamannya. Dan, bisa membawa Feria pulang. Walaupun, harus rawat jalan karena luka yang di akibatkan oleh Feria.


"Sebaiknya, mulai sekarang kamu tidak perlu melakukan hal aneh lagi. Karena, percuma saja kamu melakukannya aku tidak bakalan menuruti kemauan kamu..?" ucap Faisal, yang sangat tidak menyukai tindakan putrinya itu. Yang, semua kemauan ingin di turutin,


Agni, membentak keras putranya. Karena, terlah berperilaku kasar terhadap cucu perempuannya. Bahkan, dia sampai menampar pipi Faisal. Karena, terlah Membuat dia menangis.


Dia, lalu berjalan mendekati Yulia dengan aura yang sangat dingin. Bahkan, aura yang di keluarkan oleh Faisal membuat mereka merasa cemas dan takut. Mereka, sadar selama ini Faisal hanya diam saja karena perintah dari ibunya itu. Tapi, sekarang tidak lagi Faisal dengan tanpa perasaan mencengkram, leher Yulia, sampai Yulia tersengal-sengal.


"Ini, semua karena ulah kamu. Andaikan, kamu tidak hadir di kehidupan ku, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Dan, karena ulah kamu istri dsn anakku haru pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Bahkan, aku kehilangan jejak keluarganya. Maka, saat ini juga kamu harus mati di tangan ku Yulia Rachman.!!" ucap Faisal berapi-api. Seperti seorang iblis berdarah dingin.


"Le-pas-kan, A-ku.?" ucap Yulia. Yang sudah mulai kehabisan nafas.


Agni, dan yang lain meminta kepada Faisal untuk melepaskan cengkraman Faisal. Karena jika, seperti itu Yulia bakalan mati, dan keluarga mereka yang akan di salahkan.


Feria, mulai kesal karena kelakuan papa'nya yang ingin membunuh tantenya. Yang, sudah merawat dirinya sejak masih kecil. Feria, lalu menggigit lengan tangan Faisal agar dia melepaskan cengkraman kepada leher tantenya.

__ADS_1


"Akgghhh..!!" teriak Faisal yang kesakitan karena gigitan dari Feria. Lalu, dia menatap ke arah feria dia sangat tajam.


"Beraninya, kamu menggigit ku? Memangnya, siapa kamu hah," bentak Faisal.


PLAKK..! Agni, kembali menampar pipi Faisal, karena berani berkata seperti itu kepada Cucunya. Dia, merasa heran karena, sebelumnya Faisal tidak pernah membantah sedikitpun kepada dirinya atau melakukan hal gila seperti itu.


"Cukup, Sal..! Cukup, berulang kali aku mengatakan kalau dia itu adalah putri kamu? Putri kamu? Tidak sepantasnya kamu berkata kasar kepada'nya. Jika, kamu seperti ini perasaan Feria bakalan hancur." bentak Agni.


Yulia, yang sedang mengatur nafasnya karena, cengkraman Faisal begitu kuat membuat dia ingin kehilangan nyawanya. Tapi, anak, yang dia besarkan sudah berhasil menyelamatkan dirinya dari kemurkaan Kaka ipar'nya.


Dengan, lemah Yulia bangkit dari duduknya. Dan, berdiri lalu berjalan ke arah agni. Yang, sedang memarahi Faisal. Dia, mulai bersedih.


"Tante, sebaiknya aku dan Feria kembali lagi ke rumahku. Karena, percuma juga aku membawa Feria kemari. Karena, itu akan membuat kalian terus bertengkar." ucap Yulia.


"Tidak, sayang. Kamu dan Feria akan tetap di sini jika Faisal tidak menyukai hal itu dia bisa angkat kaki dari rumah ini, karena ibu tidak ingin jauh dari cucu perempuan ibu." ucap agni.


Faisal, yang mendengar hal itu pun bersuara, kalau dia akan pergi dari kediaman ini atas perintah dari ibu kandungnya sendiri. Bahkan, dia tidak akan kembali sebelum Yulia lenyap dari dunia ini. Karena, ulah dia kepada istrinya.


Dengan, di selimuti kemarahan Faisal berjalan ke lift, dia akan membereskan barang-barangnya yang akan dia bawa.


Victor, yang mendengar kakak'nya ingin pergi langsung mencegah agar tidak pergi dari mansion Marquez. Karena, jika Faisal pergi maka mansion ini akan tak bernyawa lagi. Dia, sudah kehilangan ibu meneer, kehilangan kakak laki-lakinya karena ulah dirinya. Dan, kehilangan ketiga putranya yang entah ada di mana sekarang. Bahkan, sampai saat ini dirinya tidak mengetahui keberadaan putri tunggalnya itu. Maka, Victor dan Rebecca akan mencegah kepergian Faisal dari mansion Marquez.


Karen, mereka sudah keduluan Faisal naik lift. Viktor langsung berlari menaiki tangga menuju ke lantai empat. Tempat di mana kamar kakak'nya berada. Kamar Faisal bersebelahan dengan kamar milik kakak'nya Venton. Pria yang sudah tiada puluhan tahun silam.

__ADS_1


"Aku, merindukan kamu...?"


__ADS_2