
Sebuah tempat yang tidak kalah besar dengan mansion-mansion yang lain. Sekarang, seorang wanita baru saja sampai di tempat itu dengan di antarkan oleh supir mertuanya.
Ia sangat berharap kalau keputusannya pergi dari suaminya adalah hal yang sangat tepat ia ingin sekali agar suami'nya mau memaafkan dirinya.
Setelah, kepergian sang supir, varisa langsung masuk kedalam mansion ia mengitari rumah itu dengan teliti. Bangunan, mansion yang sangat modern membuat ia menyukai desaign mansion itu.
huhhhh..
Helaan nafas keluar dari mulut varisa ia akan tinggal di sini sementara waktu karena suaminya sudah tidak menginginkan dirinya. Jadi, ia hidup sendirian di mansion itu sendirian.
"Maafkan, aku mas aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini dari kamu mas? karena aku sendiri tidak kuat untuk mengatakan yang sebenarnya." ucap varisa terduduk lemah karena meratapi nasibnya.
"Pa, ma kakak. Saat ini aku sendirian di sini andaikan saja papa tah kalau Putrimu yang sudah tua ini sangat merindukan kalian." sambung varisa.
Semenjak kematian keluarga karena pembantaian keluarga satu sama lain yang menginginkan kekuasaan nama Adiwilaga, apa lagi pada saat itu Adiwilaga adalah kesultanan ningrat yang sangat di segani. Namun, karena kejadian itu membuat nama Adiwilaga hilang dari peradaban.
Tapi, sekarang ia akan membuat nama Adiwilaga kembali dengan wajah dan cerita yang baru. Jika, dulu Adiwilaga hanya mementingkan kekuasaan maka yang sekarang ia tidak akan pernah hal itu sampai terjadi.
Tanpa, sadar vaira terlelap dari tidurnya sampai ia tidak menyadari hari sudah mulai malam.
Tapi dilain sisi lebih tepatnya di kediaman Marquez..
Seorang wanita menghapus air matanya karena kedatangan sang suami yang berjalan mendekati mereka. Lalu, hazel berdiri dari duduknya.
"Sayang, aku boleh minta tolong tidak? kamu mau kan menemani Gisel di kamar karena sekarang dia sedang sakit?" ucap Grey's.
Plakk...
Bukannya mendapatkan jawaban dari hazel ia malah mendapatkan tamparan dari Rebecca karena perkataan Grey's membuat hazel sakit hati karena harus menjaga Gisel, sedangkan saat ini hazel tengah hamil.
"Grey's, kamu ini mikir tidak sih? Saat, ini hazel sedang hamil dan dia harus membutuhkan banyak istirahat dan kamu dengan gampangnya meminta hazel untuk menjaga Gisel? dimana hati nurani kamu Grey's? dan bukan berarti hazel mengizinkan Gisel tinggal disini dia menjadi seenaknya memerintahkan hazel untuk menjaganya." bentak Rebecca kepada putranya.
"Aku, hanya meminta tolong kepada hazel untuk menjaganya karena Gisel takut kalau dia bakalan di lukai lagi oleh vanandya dan Valdes."
Saat Rebecca akan menjawab pertanyaan Grey's sudah lebih dulu di potong oleh hazel.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menemani Gisel." ucap hazel yang langsung pergi dari hadapan mereka. Bahkan, ia meminta kepada pelayan untuk mengantar makan siang buat Gisel.
Melihat, kepergian hazel ke kamar Gisel membuat Rebecca marah ingin sekali ia membunuh wanita ular itu. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat buat melakukan itu.
Rebecca pun pergi dari tempat itu sebelum Grey's mengucapkan kalimat yang akan membuat ia tambah marah. Kepada Grey's.
Setelah kepergian Rebecca di susul oleh Valdes bersama dengan istri dan anaknya.
Keluarga yang lain juga ikut pergi karena mereka males dengan cara Grey's yang selalu menyakiti hati hazel jadi mereka semua pergi ke tempat mereka masing-masing.
"Mommy, mommy dari mana saja? kami mencari mommy," ujar seorang anak kepada orangtuanya.
Vanandya dan Valdes saling bertatap mereka lalu tersenyum ke arah kedua putranya. "Kami, habis bukan madu lagi." ujar Valdes. Yang, langsung mendapatkan cubitan dari istrinya.
Bisa-bisanya Valdes mengatakan hal itu kepada putranya.
Valdes, meringis kesakitan saat pinggangnya di cubit oleh istrinya. Entah, nyidam apa dulu ibu mertuanya sampai-sampai istrinya pandai mencubit.
"Sayang, ibu kamu nyidam kepiting ya?" tanya Valdes.
"Kok, kamu tau sayang? Memang benar si bunda dulu pas hamil aku dia sering banget makan kepiting. memangnya kenapa sayang?" ucap Vanandya.
"Pantesan vanandya pandai mencubit orang makanan di saat dalam perus kepiting terus," gumam Valdes sambil mengusap perutnya yang terkena cubitan dari istrinya.
Namun, gumam'nan Valdes masih bisa di denger oleh Twins. Hal, itu membuat mereka tersenyum jahil dengan tanpa rasa kasihan mereka memberi tau kepada sang mommy apa yang di katakan oleh Daddy barusan.
Vanandya, mendengar perkataan dari anaknya menatap tajam ke arah Valdes, ia sangat marah mendengar akan hal itu.
Valdes gelagapan saat istrinya sudah mengeluarkan hawa panas dari dalam tubuhnya bisa-bisa ia akan terkena amuk dari singa dangdut eh singa betina.
"Twins bantuin daddy? kenapa kalian mengatakan kepada mommy kalian sih?" ucap Valdes dengan kesal.
Hahaha..
Tawa twins menggema di kamar itu bahkan tawanya sampai keluar dari kamar yang membuat para pelayan dan bodyguard sedang berjaga meradang hangat karena mereka bisa mendengar tawa tuan muda mereka.
__ADS_1
"Haha.. Salah, siapa Daddy tidak mengajak kami liburan." ucap twins secara bersamaan.
Sebelum Valdes di amuk oleh istrinya ia segera meminta tolong kepada anak-anaknya untuk menyelamatkan dirinya.
"Sayang, Daddy mohon jika kalian menyelamatkan Daddy kalian akan Daddy keliling dunia bahkan apapun yang kalian minta akan Daddy penuhi." ujar Valdes bernegosiasi kepada anak-anaknya.
Keduanya, seperti yang seperti orang dewasa pun memikir pertimbangan dari Daddy mereka dengan jari telunjuk di ketuk-ketukan ke dagunya.
"Deal?"
Twins, pun berdiri di depan Daddy lalu mereka berdua menyeret ibunya untuk menjauh dari Daddy mereka berdua berbisik di telinga mommy mereka.
Mendengar bisikan dari twins membuat Vanandya tersenyum lalu menatap ke arah Valdes tapi tidak berapa lama vanandya langsung menatap ke arah lain.
Valdes, yang melihat interaksi mereka membuat sangat penasaran ingin sekali ia bertanya tapi sekarang bukan waktu yang tepat mengatakan itu.
"Baiklah, mommy bakalan maafkan Daddy kalian tapi dengan satu syarat?" ujar Vanandya.
"Apa, itu syaratnya mom?" tanya twins.
"Syaratnya Daddy kalian harus membawa kita jalan-jalan tapi dengan menggunakan kereta." ujar Vanandya.
Valdes, yang mendengar itu pun sumringah karena istrinya hanya ingin jalan-jalan menggunakan kereta, itu hal sangat mudah bagi sang pangeran adipati Marquez.
Karena apapun yang istrinya minta pasti para pangeran Marquez akan bisa mengabulkan dengan jentikan jari saja.
"Sayang kamu ingin naik kereta? Baiklah, aku akan siap melakukan apapun permintaan kamu karena cuma naik kerena saja itu hal yang sangat muda." ujar Valdes.
Ketiga orang di depan Valdes tersenyum mengejek ke arah Valdes. Memang, benar si mereka menginginkan naik kereta tapi mereka memintanya bukan kereta biasa.
"Daddy yakin bisa mengabulkan permintaan kami?" tanya twins yang meragukan kemampuan Daddy mereka.
"Kamu, meremehkan Daddy sayang?" balik tanya kepada twins.
"Tentu dad." ujar mereka secara bersamaan.
__ADS_1
"Memangnya kalian ingin naik kereta seperti apa?" tanya kembali kepada twins dan istrinya.
"Kami, menginginkan naik kereta listrik dan itu Daddy sendiri yang harus bawa.!"