CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 105


__ADS_3

"Jadi selama ini. Ayah kandungku adalah Victor? Tapi kenapa mama menyembunyikan semua ini? Dan kenapa mama bisa menikah dengan Daddy vanton?" batin Valdes yang terus bertanya-tanya tentang kebenaran yang yang. selama ini mereka sembunyikan.


Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia ingin sampai di rumah sakit tempat mama'nya di rawat. Ia ingin menanyakan semua ini kepada Victor, vinton atau faisal. Karena, hanya dia yang mengetahui tentang semua ini.


Saat sampai di depan rumah sakit, ia keluar dari mobil dan ia melemparkan kunci mobil kepada satpam. Ia pun langsung berlari ke arah lift, ia lalu menekan tombol angka 8. Pikirannya terus berkecamuk ia takut kebenaran akan menyakitinya,


Saat sudah sampai lantai atas, ia berjalan menemui Keluarga'nya yang lengkap ada di situ. "Kakek." panggil Valdes kepada kakeknya yang sedang duduk termenung.


"Valdes!" satu kata yang bisa mereka ucapkan saat kedatangan Valdes dengan aura yang sangat berbeda-beda dari biasanya.


"Ada yang harus aku tanyakan pada kalian," ucap valdes kepada keluarganya.


"Apa itu.?" ujar kakek vinton.


"Kakak! Jika kau ingin membicarakan masalah tadi lebih baik pergi saja, karena saat ini kami sedang berduka.!" usir amira yang masih kesal akan apa yang terlah kakak'nya lakukan dengan cara membawa vanandya.


"Diam! kamu Amira Briana Marquez." bentak Valdes.


"Ini rumah sakit kalian tidak boleh teriak-teriak. Dan kamu Valdes bisa tidak kamu jangan seperti itu kepada adikmu?" ujar Viktor yang merasa marah karena kedua anaknya selalu saja berantem.


"Kenapa tuan? Apa kamu ingin membela putrimu itu. Putri yang sudah berhasil membuat anak yang belum di lahirkan tiada.!"


"Apa maksudmu Valdes?" ucap vinton.


"Karena ulah dia Vanandya mengalami keguguran. Dan itu semua karena Amira wanita yang mendorong Vanandya di pemakaman tadi." ucap valdes kepada kakek dan yang lain sambil menatap tajam kearah Amira.


"APA!" pekik seorang yang baru saja datang. Dengan muka yang masih pucat, karena setelah sadar dia ingin segera pulang dan ia ingin sekali menemui ibu mertuanya.


"Vanandya?" gumam mereka saat melihat Vanandya ada di hadapan mereka dengan tatapan yang sangat pucat masi.


Valdes lalu mendekati istrinya kenapa dia sampai di sini. Dan, kapan dia sadar. Lantas ia menatap ke arah kakak dan kakak ipar, dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Maaf vald, Vanandya terus meminta untuk menemui mama jadi mau tidak mau kita harus menujui'nya. Dari pada dia berbuat nekad," jelas Grey's.


"Jawab aku sayang! Apa benar aku keguguran?" tanya vanandya kepada suami'nya. Namun, Valdes hanya mengangguk kepala tanda apa yang terlah di katakan memang benar.


Air mata vanandya keluar begitu saja, ia tak percaya kalau dirinya harus kehilangan seorang anak yang belum ia ketahui dan ini semua ini di lakukan oleh adik iparnya sendiri. Bugh, tubuh vanandya jatuh di dada valdes.


"Hai sayang.. hai, come on jangan bercanda, sayang!" ucap valdes terus memukul-mukul pipi vanandya dengan pelan agar istrinya tersadar.


Hazel pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya yang pingsan. Para perawan pun menyuruh valdes membaringkan tubuh vanandya di brangker.


Sang dokter lalu memeriksa vanandya. Setelah di priksa ia keluar dan memberi tau kepada valdes bahwa, nona Vanandya hanya mengalami syok berat.


"Puas kalian! Membuat istriku jadi begitu?" bentak valdes kepada keluarganya.. "Dan untuk kau tuan Victor terima kasih karena kau pernah pergi dari kehidupan mama jadi mama bisa menikah dengan Daddy vanton." sambung'nya.


DEGHH!


Mereka sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh valdes. Jadi valdes sudah mengetahui kalau Victor adalah ayah kandungnya, tapi kenapa saat mengetahui kebenaran masih menyebutnya tuan.


"Kenapa memangnya? Bukannya aku harus mengetahuinya, kalau seorang Victor anak kedua dari tuan vinton dan nyonya meneer adalah seorang pria brengsek yang. meninggalkan nyonya Rebecca dengan keadaan hamil." ucap valdes.


"Apa maksud kamu val?" tanya Grey's. Memang selama ini ia tak pernah mengetahuinya, bahkan dulu saat mama. Menikah dengan papa Victor ia masa bodo, tapi ia masih menghormatinya. Walaupun hatinya kecewa.


Saat Valdes akan menjelaskan kepada kakak'nya seorang perawat berteriak memanggil sang dokter. " Dokter, dokter!" kata suster saat melihat dokter yang baru saja menangani nona Vanandya.


"Ada apa sus?" tanya dokter kepada suster.


"Dok, nyonya Rebecca anfal."


Dokter pun langsung masuk ke arah ruangan yang di mana Rebecca di tangani. Semua keluarga terkejut dengan apa yang di denger, Victor pun langsung bertanya apa istrinya baik-baik saja. Karena ia belum sanggup harus kehilangan istrinya,


Valdes yang mendengar itu merasa sedih, ia terus berdoa agar mama'nya baik-baik saja. " ma, maafkan valdes ma.. Aku mohon bertahanlah ma, biarkan aku membalas kebaikan mu dan izinkan aku menyayangimu. Ya Tuhan ku mohon, selamatkan mamaku." batin Valdes.

__ADS_1


"Kita berdoa saja semoga mama baik-baik saja. Kamu ingin kan mama selamat? maka berdoalah." ucap Grey's yang melihat valdes.


"Kak?"


"Aku tau kamu pasti sangat menyesal? Apapun itu kebeneran nya, aku sangat nyalin kalau kamu menyesali perbuatan kamu kepada mama."


"Hm!"


Valdes, memang dekat dengan Grey's dari kecil karena saat dirinya sedih dia selalu menghibur dan mengerti akan. apa yang. sedang dirinya alami. Grey's, juga sama dia juga sangat menyayangi adik-adiknya, entah itu valdes, virendra, amira, vernon semua di mata dia sama ga ada yang di duakan.


"Kak. Aku yakin doa kakak akan terkabul, dengan menyebut mama." ujar Vernon yang dari tadi diam saja tanpa berkomentar.


Valdes hanya mengangguk kepala saja, jujur saat ini ia sedang bimbang. Hati dan pikiran saling bertolak belakang, hatinya ingin sekali mengucapkan kata 'Mama' Namu, di sisi lain pikirannya tidak ingin karena apa yang terlah mereka lakukan kepadanya sampai ia seperti ini.


Sementara itu, hazel yang sedang menemani adiknya, mendengar kalau saat ini nyonya Rebecca sedang Anfal. Ia hanya berdoa kalau nyonya Rebecca selamat dari masa kritisnya.


"Kak." panggil vanandya kepada kakak'nya.


"Kamu sudah sadar?" tanya hazel.


Vanandya menganggukkan kepala, setelah itu ia meminta air kepada kakak'nya. Dengan, telaten ia memberikan air minum kepada adiknya dengan hati-hati.


"Kak, dimana valdes?"


"Dia sedang. Di, luar karena saat ini nyonya Rebecca sedang kritis."


Vanandya terkejut dengan apa yang di katakan oleh kakak'nya, ia pun meminta kepada kakak'nya untuk mengantarkan ke tempat dimana suaminya berada. Namun, hazel meminta Vanandya tetap di sini karena kondisinya masih sangat lemah.


Namun, perkataan Hazel tidak di denger oleh vanandya. Karena, dia adalah orang yang keras kepala yang tidak gampang menuruti perkataan orang.


Mau tidak mau hazel mengambil kursi roda agar dirinya bisa membawa vanandya dengan mudah. Setelah mengambil kursi roda, ia menyuruhnya vanandya duduk. Lalu ia pun mendorong kursi roda ke ruangan dimana Keluarga'nya sedang kumpul.

__ADS_1


"Sayang..."


__ADS_2