
"Sayang, Sebenarnya kamu ingin kemana?"Oma bertanya dengan suara lembutnya, Dan kenapa tangannya bisa terluka seperti ini.
Valdes pun tersadar dari lamunannya, ia langsung mengeluarkan saura dingin. Ia lalu pergi dari tempat dengan terburu-buru, ia ingin segera menemui kekasihnya. Bahkan ia sudah menutup telinganya,
Oma meneer terus saja memanggil cucunya tapi tak di denger olehnya.
Suaminya pun menenangkan istrinya, agar tetap bersabar. mungkin Valdes masih marah tentang apa yang terjadi, mereka juga tak ingin seperti ini namun kondisi yang merubah semuanya.
"Mahh, maafkan aku mungkin semua ini salah aku.. Sampai Valdes membenciku,"Kata Rebecca
"Kamu tak salah sayang? Ini semua sudah takdir.. Kita jalanin saja siapa tau di balik semua ini ada keindahan."Ucap Oma meneer. Setelah Oma mengatakan itu ia pergi meninggalkan ruang keluarga,
**
Sementara di kediaman lacerta, keluarga lacerta sedang duduk di ruang keluarga.
"Sayang, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Oma tak melarang kamu untuk berhubungan dengan keluarga mereka,"Ucap Oma Eleanor dengan nada kelembutan, ia sangat mengetahui sifat-sifat cucu-cucunya itu.
Vanandya juga tak yakin, apakah dirinya mampu berjauhan dengan Valdes. Dan apa lagi besok adalah persidangan perceraian dirinya dengan Virendra.
Saat mereka sedang termenung, mereka di kejutkan dengan teriak seorang laki-laki menyebut-nyebut nama Vanandya. mereka pun langsung keluar ingin melihat siapa orang yang teriak-teriak.
Saat sudah sampai di teras rumah mereka terkejut dengan kedatangan Valdes yang penuh darah yang keluar dari dahinya.
"Buat apa kamu kesini? Tidak cukup kah keluarga menghancurkan keluargaku?"Bentak tuan rudra Eufrat.
"Opa, izinkan aku bersama dengan Vanandya?"Ucapnya memohon kepada opa Rudra.
Namun semua itu di tolak mentah-mentah oleh tuan Hendrik. Ia tidak mengijinkan anaknya kembali berhubungan dengan keluarga yang terlah membunuh anak-anaknya.
Tapi, Valdes tidak menyerah begitu saja ia terus memohon agar orang tua Vanandya mengijinkan untuk memilikinya. Ia terus saja berlutut di depan Keluarga'nya saat ini ia tak mementingkan egonya, yang saat ini ia penting kan adalah agar bisa bersama dengan Vanandya dan anak yang sedang Vanandya kandung.
Vanandya yang melihat ketulusan hati Valdes sedikit luluh, ia tak menyangka kalau Valdes mampu merendahkan martabatnya di depan Keluarga'nya agar bisa bersama dengan dirinya.
__ADS_1
Lantas Hendrik menari tangan putrinya untuk masuk kedalam mansion'nya, mereka sudah sangat muak dengan wajah-wajah pembunuh di depannya.
"Om, tante.. Saya tidak akan pergi sebelum kalian merestui hubungan ku dengan Vanandya, dan saya juga tidak perduli kalau Vanandya adalah istri adikku."Teriak Valdes, yang tak di denger oleh mereka.
Saat ini awan sudah mendung bahkan petir sudah bersaut-sautan, pertanda akan turun hujan. Namun tekat Valdes tak berubah sedikit pun, ia masih saja setia dengan berlututnya yang sudah berdarah.
Benar saja berapa saat kemudian hujan turun dengan deras, darah yang tadi mengering kembali basah terkena air hujan.
**
Seorang wanita yang sedang tertidur kembali bangun, ia pun berjalan ke arah jendela.. Ia terkejut ternyata Valdes masih setia di situ. Ia pun mengabaikan semua itu, namun semakin lama ia mengabaikan semakin besar pula rasa kekhawatirannya. Ia pun keluar dari kamarnya ia ingin menemuinya. Saat sudah di lantai dasar ia berpapasan dengan Oma'nya.
"Apa kamu ingin menemuinya?"Tebak sang Oma, seakan-akan bisa membaca pikirannya.
Vanandya hanya diam saja mendengar pertanyaan dari oma'nya, jujur ia merasa kasian dengan Valdes.
"Jika kau menemui pria itu jangan salahkan ayah berbuat jahat kepada-nya?"Ucap tuan Hendrik yang sedang menuruni anak tangga.
"Benar kata ayah kamu? Bunda juga tidak akan mengizinkan kamu bertemu dengan valdes."Ucap varisa datang dari arah dapur.
Setelah menulis sesuatu ia mengambil payung yang ada di kamarnya, lalu ia berjalan ke arah jendela, lalu ia membukanya.
"Aku harap kamu bisa mengerti keadaan ku Aldebarat."Setelah Vanandya bergumam seperti itu ia lemparkan payung keluar yang sudah terselit surat yang ia tulis.
BRUKK!!
Sebuah payung jatuh tepat di depan Valdes, Valdes pun menengok kanan dan kiri namun tak ada seorangpun ia lalu melihat ke atas, senyum Valdes mengembang saat melihat bayangan Vanandya. ia sangat yakin bahwa Vanandya juga sangat merindukan dirinya.
Valdes lalu mengambil payung yang di lemparkan oleh vanandya saat dirinya membuka payungnya ada sebuah surat yang terselip di dalam payung.
...ISI SURAT DARI VANANDYA....
TERUNTUK ALDEBARAT, PRIA YANG PERTAMA MENYENTUHKU TANPA BERTERIMA KASIH SEDIKIT PUN. TERNYATA AKU SUDAH TERLALU DALAM MENCINTAI MU NAMUN KARENA PERSELISIHAN ANTARA KEDUA KELUARGA MEMBUAT KITA TAK BISA BERSAMA..
__ADS_1
AKU MEMOHON DEMI ANAK KITA PERGILAH, JANGAN PERNAH DATANG KESINI LAGI. KEMBALI LAH LAIN WAKTU, DAN BUAT MEREKA MAU MENERIMA KAMU KEMBALI,
DAN JANGAN PERNAH KAU TUNJUKKAN RASA CINTAMU DI PENGADILAN NANTI.
AKU AKAN MENJAGA BAIK-BAIK ANAK KITA SAMPAI KAMU DATANG KEMBALI MENEMUIKU, SEKARANG PULANGLAH KARENA SAAT INI SUASA MASIH SANGAT PANAS.
AKU MOHON JAGA DIRI KAMU BAIK-BAIK, KARENA DI DALAM TUBUHMU ADA JANTUNG KAKAKKU YANG TERUS BERDETAK.
I LOVE YOU SO MUCH UNTIL MEETING ANOTHER TIME PRIA CULUNKU.
****
Valdes langsung bahagia setelah membaca isi surat dari wanitanya walaupun dia menyuruh dirinya agar menjauhinya sementara waktu.
Ia lalu bangkit, walaupun lututnya terasa sakit karena terus saja berlutut.
"Tunggu aku datang sayang, aku akan membuat kedua keluarga ini bersatu kembali dengan ikatan yang lebih kuat."Gumamnya, Valdes pun meninggalkan kediaman lacerta dengan berat hati.
**
Valdes kembali kediaman Keluarga'nya dengan sangat berantakan, bahkan auratnya lebih sangat dingin dari sebelumnya.
"Sayang kamu dari mana saja? Mama sangat mengkhawatirkan kamu?"Rebecca yang berada di ruang makan, langsung menghampiri putranya dengan keadaan kacau.
"Apa urusannya dengan mu? Aku mau pergi kemana pun tak ada urusannya dengan anda?!"Ucapnya dengan dingin.
Rebecca yang melihat dahi putranya terluka ingin sekali mengobatinya. Saat ia akan memegang dahi putranya sudah di tepis dengan kasar oleh Valdes, sampai membuat Rebecca terhuyung.
Victor yang melihat itu sangat marah dengan marah ia memukul Valdes.
"Dasar anak tak tau diri? Apa kau tak memiliki hati nurani kepada ibu yang sudah melahirkan mu?"
Perkataan Victor tak di gubris oleh Valdes, baginya perkataan itu hanya angin berlalu. Ia dengan males pergi dari hadapan papanya.
__ADS_1
***
"Apa... Jadi mereka sudah sadar?"