
"Sayang apa kamu sudah siap. Bikin, dedek bayi lagi?" ucap valdes kepada vanandya sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengar itu pun Hayden dan Kairo menjadi salah tingkah. Karena, tidak ingin mengganggu mereka Hayden menarik Kairo untuk keluar dari ruangan tuan valdes. Bisa gawat jika mereka masih berada di tempat itu,
Kairo yang tidak siap pun menubruk Munggu Hayden, membuat dia meringis kesakitan. "Bisa tidak kalau mau menarik bilang-bilang.?" tanya kairo kepada Hayden.
"Tidak bisa sayang, karena nanti kamu akan ternodai." goda Hayden sambil berjalan, keluar dari perusahaan.
Degh, raut wajah Kairo menjadi menegang saat mendengar kalau Hayden memanggil dirinya dengan sebutan sayang. Entah, obat apa yang dia makan sampai membuat dia memanggil dirinya dengan sebutan itu.
Kembali ke valdes dan Vanandya, saat ini mereka sedang melakukan ciuman dengan sangat panas. Bahkan, sampai sepuluh menit, lalu mereka melepaskan ciuman mereka pun menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dan mereka melanjutkan lagi aksi mel*mat, bahkan tidak ada yang menyadari kalau mereka sudah tidak menggunakan apa-apa tak ada penghalang yang menghalangi benda berharga mereka satu sama lain.
Lantas Valdes menunduk mencium buah kedua buah melon, dan melahapnya dengan sangat rakus membuat Vanandya mendesah.
"Akkhhh....ohhhh..aaahhh...terus val..aaahhhh," ******* Vanandya keluar begitu saja saat melonnya di hisap oleh Valdes dan gua keramatnya di mainkan oleh tangan Valdes. Membuat ia merasakan kenikmatan tiada duanya.
"Terus sayang, mendesah lah memanggil namaku." pinta Valdes.
***
Saat ini keluarga Marquez sudah sampai di depan pintu masuk ke dalam makam. Mereka terus bertanya-tanya kenapa vinton membawa mereka ke makam, dan makam itu tertulis makam family wangsami.
"Suamiku tempat pemakaman siapa ini?" tanya Agni kepada vinton.
"Iya yah tempat makam siapa ini?" ucap rebecca.
"Ini adalah tempat pemakaman keluarga besar Wangsami Harjo. Kakek buyut'ku." ucap Kimberly.
__ADS_1
Perkataan Kimberly membuat mereka terdiam, tapi pikirannya terus saja melayang hal-hal negatif. Harap-harap, yang mereka pikirkan tidak lah benar. Namun, saat mereka memasuki kawasan itu tidak jauh dari jalan ia melihat batu nisan yang seperti baru, tapi mereka masih tidak jelas nama yang tertera di batu nisan.
Saat sudah sampai, kaki mereka lemas. Saat, membaca nama batu nisan. Mereka, benar-benar tak menyangka kalau meneer pergi menghadap sang khalik dengan secepat ini.
Kimberly, Rebecca dan Agni menangis di depan pusaran sang meneer, "Ibu, kenapa kamu meninggalkan kami bu? Andaikan waktu itu aku tak mengajak ibu dan yang lain pergi mungkin saat ini kami masih lengkap," gumam rebecca dengan air mata yang terus bercucuran.
Dan, agni juga merasa sedih melihat istri kedua suami'nya. Ia tak menyangka kalau meneer pergi secepat ini. Jika saja ia mengetahuinya dari awal mungkin ia akan menyusulnya.
Begitu juga Kimberly dia juga merasa sedih, karen kehilangan ibu mertua, walaupun tiri tapi kasih sayang meneer tak pernah membedakan, dia bahkan membagi kasih sayangnya dengan sama rata.
Mereka terus menangis di hadapan pusaran meneer sampai tak terasa kalau hari sudah semakin sore. Faisal lalu mengajak istri dan keluarganya untuk pulang apa lagi saat ini Kimberly gampang lelah, jadi ia tidak ingin membahayakan kesehatan istrinya,
Mereka pun menyetujui perkataan faisal, lalu mereka pun pergi dari pemakaman keluarga Miharjo. Dengan, perasaan sedih.
Tak terasa perjalan yang mereka lalui sudah sampai di kediaman Marquez, Mereka pun turun dari mobil masing-masing dan pergi ke kamar mereka, untuk membersihkan badannya.
***
Belum habis sampai di situ mereka harus membersihkan rumah mulai dari lantai satu sampai lantai 7. Dan mansion itu terdiri dari sembilan tempat, ruangan 1 adalah tempat berkumpul para keluarga dan bersantai, ruangan 2 tempat dapur dan ruang makan, ruangan 3 adalah kamar para tuan muda dan tempat musik dan ruangan lainnya, ruangan 4 adalah kamar vanandya dengan di hiasi taman dan ruangan kerja, ruangan 5 tempat area bermain, ruangan 6 adalah tempat untuk para pelayan dan bodyguard beristirahat, ruangan 7 adalah ruang tamu dan kamar tamu, ruangan 8 mereka gunakan untuk menjadi kantor saat mereka tidak ingin pergi ke perusahaan dan ruangan 9 adalah ruangan aula dan berapa ruangan lainnya.
Saat mereka baru sampai di kediaman, vanandya sangat terkejut melihat ruangan tertata rapih. Dan ia melihat tidak jauh dari ruang tamu ada para pelayan yang sangat kelelahan seperti habis lali daei Indonésia ke Eropa.
"Bi, ada apa ini? Kenapa kalian semua seperti kelelahan?" tanya vanandya menghampiri para pelayan.
Para pelayan yang mendengar suara nyonya vanandya pun langsung berdiri dengan tegap. Mereka, lalu menunjuk ekspresi biasa-biasa saja.
"Tidak ada nyonya, kami hanya kelelahan. Karena, membersihkan ruangan." ucap salah satu pelayan.
__ADS_1
Vanandya hanya mengangguk saja, lalu ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan badannya yang terasa lengket karena ulah dari suaminya itu, yang terus menggempur dirinya habis-habisan.
Valdes yang seperti seorang tak bersalah hanya menampilkan senyumnya. Karena dirinya habis di ces, jadi ia menjadi semangat.
Melihat kepergian mommy dan Daddy, vagas keluar dari persembunyiannya. Ia lalu menanyakan kepada para pelayan, "Apa paman dan bibi mengatakan kepada mommy?" tanya vagas.
Para pelayan dan bodyguard langsung menggelengkan kepala dengan cepat, baginya mereka merasa takut dengan tuan muda kecil yang satu ini.
Vagas lalu mengangguk kepala, ia memberikan dua jempol kepada paman dan bibi. Karena, tidak mengatakan kepada mommy kalau dirinya yang terlah mengerjai para pelayan.
Namun, saat sedang memberikan dua jempol telinganya di tarik oleh seseorang. Dan, saat vagas melihat siapa yang terlah menarik telinganya ia merasa menciut teryata yang menjewer telinga dirinya adalah mommynya.
"Heheh! Mommy?" ucap vagas cengengesan.
Vanandya menggelengkan kepala lalu melepaskan tangannya dari telinga anaknya, walaupun dirinya menjewer vagas dia sangat menyayanginya bahkan ia menjewer dengan sangat lembut.
"Jadi ulahnya adalah kamu? Yang, berani mengerjai pelayan habis-habisan." ucap vanandya.
"Tidak mommy, agas hanya melakukan tugas agas untuk membantu mengerjakan mansion." ucap vagas dengan air mata Bombay.
Para pelayan pun tidak tega melihat tuannya di marahi oleh nyonya'nya pun angkat bicara. Walaupun tuan muda kecil mengerjai mereka, tapi mereka sangat menyayanginya. Bahkan jika tidak ada vagas mansion akan terasa sepi. Dan, berkata tuan vagas mereka tidak malas-malasan berkerja, bahkan mereka bisa saling membantu satu sama lain.
Vanandya yang mendengar itu pun melepaskan jewerannya kepada sang putra lalu ia berkata.
"Sayang jika kamu melakukan lagi mommy bakalan menghukum'mu." ucap vanandya.
"Baik mommy tapi....?"
__ADS_1