
"Bukannya dia..."Vanandya termenung melihat wanita yang sekilas mirip dengan seseorang namun ia lupa siapa wanita itu, dan apa hubungannya dengan semua ini. Dia mengulangi lagi videonya namun tetap sama dia adalah dia.
Valdes yang memang sejak tadi fokus untuk menonton pun bertanya kepada Vanandya apakah dia mengenalnya atau tidak, karena di lihat dari raut wajahnya Vanandya seperti seorang terkejut.
Seluruh keluarga yang mendengar Valdes berbicara kepada Vanandya pun mengalihkan pandangannya dari video itu dan menatap ke arah Vanandya.
Vanandya yang di tatap oleh pasang mata pun merasa salah tingkah, ia pun berkata dengan gugup. "Se-sepertinya aku salah lihat. Ahh ya salah lihat."Ia merasa gugup di tatap seperti itu jadi ia salah tingkah.
Varisa yang melihat cucunya di culik, bangkit dari duduknya dengan aura menyeramkan bangkit dari dalam jiwa varisa yang sudah lama tertidur. Apa lagi dulu ia pernah mengalami hal seperti itu.
Pupil mata yang semula berwarna biru laut sekarang berubah menjadi warna hitam pekat, jiwa yang terlah terkubur bangkit, apa lagi ia sangat jelas mendengar teriakkan memohon anak remaja itu,
Semua yang berada di situ merasa terkejut dengan perubahan mata yang di alami varisa mereka baru mengetahui kalau varisa bisa mengalami perubahan di pupil matanya, namun tidak dengan rebecca dan Hendrik.. Karena mereka mengetahui aura dan perubahan yang di alami varisa akan berdampak buruk kepada musuh-musuh dan dirinya sendiri.
Hendrik menyuruh istrinya tenang jangan gegabah, dan memohon kepada pemilik pupil mata itu untuk jangan menunjukkan sekarang.
"Verossa tenangkan dirimu! Ini bukan waktunya yang tepat untuk kamu muncul, kau ingin bagian yang mengasikkan?"Bisik Hendrik kepada Rossa agar kembali karena belum saatnya untuk keluar.
Vanandya merasa curiga dengan kelakuan bunda'nya dan ia juga merasakan aura yang mencengkram apa lagi dengan perubahan pupil mata sang bunda.
Verossa yang mendengar suara Hendrik pun memejamkan matanya lalu menetralkan hati dan pikiran lalu menenangkannya, perlahan demi perlahan ia membuka matanya, pupil yang semula hitam kembali ke pupil biru.. Setelah cukup tenang ia pun kembali duduk,
Hendrik dan Rebecca kembali tenang karena verossa terlah pergi, karena ia takut jika dia benar-benar bangkit.. Maka itu akan membahayakan keselamatan semua orang,
"Terus sekarang kita harus gimana aku tidak ingin cucuku kenapa-kenapa di tangan mereka, jika lecet sedikit saja aku akan hancurkan semua orang."Ucap varissa kepada orang yang ada di depannya,
Rebecca merasa tak terima kalau green di aku varisa dengan sendirian. "Hai nyonya dia juga cucuku, "Ucap Rebecca.
"Oh tidak bisa dia cucuku. Bukan Cucumu."
Perdebatan kedua wanita membuat yang ada di situ merasa kesal, karena saat ini suasa sedang tegang karena kehilangan seorang putra.. Tapi mereka masih saja berdebat.
Namun ada sedikit rasa bahagia karena kedua wanita itu dekat kembali setelah sekian lama karena masalah yang mereka alami.
__ADS_1
Saat sedang menikmati pemandangan mereka mendengar teriakan seseorang.
"MOMMY! DADDY!"Teriak kedua anak kecil kepada orangtuanya, saat melihat mommy mereka, mereka pun lari. Mereka pun memeluk tubuh mommynya dan Daddy.
Valdes yang melihat anaknya ada di depannya merasa bahagia karena bisa melihat lagi tubuh kedua anaknya, ia pun tersenyum hangat kepada kedua putranya.
"Kenapa kalian bisa kesini baby?"Tanya Valdes kepada Vegas dan vagas.
"Eyang yang mengajak kami."Ucap vagas.
Interaksi antara Daddy dan putra, yang sedang tersenyum hangat tak luput dari penglihatan keluarga Marquez, mereka sangat terkejut dengan twins yang sangat mirip dengan Valdes waktu kecil.
"Val apa dia..."Ucapan Rebecca terlah di potong oleh Valdes. "Ya dia adalah putraku cucu dari Daddy ku."
Ucapan yang sangat memohok hati Victor dan Rebecca, dia tak menyangka kalau dia akan sangat membenci mereka sampai-sampai dia tak mau mengakuinya.
Twins yang merasa aneh pun bertanya kepada daddy'nya siapa kedua orang yang bertanya tadi. "Daddy, mereka siapa?"
Vanandya hanya bisa diam saja, ia tidak ingin ikut campur biarkanlah semua ini berjalan sesuai rencana. Valdes mengajak Vanandya dan kedua putranya, ia pun pergi meninggalkan mansion Marquez.
Kesedihan Rebecca kembali datang, ia sangat sakit saat anaknya tidak mengenalkan mereka kepada cucunya. Victor hanya bisa menenangkan walau bagaimanapun juga ia juga merasa sedih.
"Sebaiknya kesampingkan dulu masalah keluarga kalian, karena Waktu kita tidak banyak lagi karena green akan menjadi penentu."Ucap Rudra dan sang istri.
"Apa maksud kamu?"
Rudra menceritakan kalau anak buah dari Cahyani akan membuat green menjadi korban jika dia tidak menyerahkan dokumen yang Lian berikan kepada vinton, karena bagai mana dokumen itu adalah hal yang sangat penting untuk mereka menguasai THOLENSE GROUP.
"Selamat siang tuan nyonya."
"Hm"
"Nyonya di luar ada yang ingin bertemu dengan mrs Vanandya karena ini sangat penting."Ujar satpam kepada majikannya.
__ADS_1
Naum Hendrik yang berbicara dengan satpam, dia menyuruh agar pria yang mencari putrinya untuk masuk kedalam, karena sebelumnya Vanandya sudah memberi tau kalau asisten pribadinya akan datang.
Satpam itu pun keluar dan memanggil pria itu untuk masuk ke dalam karena sudah di tunggu.
Pria itu pun datang dan memberikan hormat kepada keluarganya Mrs'nya.
"Ada masalah apa? Sampai seorang seperti dirimu mau berkunjung."Hendrik mengejek asisten dari putrinya yang super duper sibuk.
"Apa kamu mendapatkan petunjuk tentang putriku?"Hazel dan Grey's bertanya secara bersamaan dan mendekati Hayden.
Hayden.. Menjelaskan kalau saat ini mereka sedang berada di gedung kosong, yang berada di pinggiran kota, bahkan mereka melakukan green dengan kasar.
Hazel yang mendengar kala putranya tidak di perlakuan dengan layak pun pingsan, namun Grey's dengan sigap menangkap tubuh hazel, ia lalu membawanya ke sofa.
Varisa lalu mendekati hazel.. Dan berusaha membangunkan, ia juga meminta untuk di ambilkan minyak telon.
"Cara, satu-satunya adalah berkerja sama karena dengan kerja sama kubu kita akan semakin kuat, namun yang utama kita harus menggunakan kecerdasan,"Rudra kembali berkata.
"Apa kamu tau dimana titik dan tempatnya?"Vinton bersuara. Asisten pribadi Vanandya hanya bisa mengangguk kepala.
Kimberly berjalan mendekati varisa ia lalu memberikan apa yang varisa butuhkan, namun saat tangan mereka bersentuhan dan melihat senyum varisa, tiba-tiba saja kepalanya merasakan sakit, kejadian masa lalu kembali berputar seperti CD.
"AKGHHHH!" Teriak Kimberly sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut-denyut.
Aghi yang melihat mantu'nya merasakan kesakitan bertanya, apa yang terjadi kenapa sampai seperti ini. Karena mereka sangat khawatir akan mantu'nya.
"AKGHHH! KENAPA-KENAPA BAYANGAN ITU MUNCUL LAGI,"
Pelayan pribadi Kim yang sudah siap siaga kalau nyonya'nya merasakan sakit kepala langsung memberikan obat itu kepada sang nyonya.
Setelah minum obat yang di berikan oleh pelayannya, Kim kembali seperti semula karena sakit kepalanya sudah mereda.
"Apa kamu pernah terjadi sesuatu?"
__ADS_1