
"Tapi ayah.. Itu sangat mustahil aku lakukan dalam satu malam."Valdes sangat tidak bisa menerima permintaan ini tapi kalau yang lain bisa.. Belum lagi ia harus mencari tanah yang luas belum lagi harus membeli materialnya, itu saja mungkin memakan waktu satu bulan.
Hendrik tertawa terbahak-bahak karena mantu'nya tak bisa menuruti permintaan dirinya yang membuat seribu piramida. Ia pun kembali berkata setelah tawanya reda.
"Baiklah dengan terpaksa aku..."Ucapan Hendrik terhenti saat mendengar pekikan Valdes. "JANGAN KATAKAN YAH, AKU TIDAK AKAN AYAH MENGATAKAN TIDAK MERESTUI HUBUNGAN KITA.!"
"Hey anak muda kok anda membentak saya si? Apa anda tak mau restu ayah."
"Aku mau yah, tapi jangan katakan kalau ayah tidak akan mengizinkan kami bersama.. Aku sanggup menuruti permintaan ayah asalkan jangan memangun seribu piramida dalam satu malam."Ucap Valdes yang sudah di selimuti rasa keputus asaan.
Melihat itu Hendrik merasa iba, ia pun kembali bersuara. "Baiklah ada satu cara agar kamu bisa bersama dengan putriku."
"Apa itu yah?"
Hendri lalu mengambil senjata api yang berada di bawah meja, ia pun menyerahkan kepada Valdes. "Nih!"
Valdes menerima dengan tangan gemetar ia tau apa yang akan ayah'nya minta, pasti ayahnya ingin dirinya menembakan peluru pada dirinya sendiri.
Valdes pun mengangkat pistol itu lalu ia arahkan kepada pelipisnya.
"Tunggu sebentar?"Hendrik menyuruh mantu'nya untuk tidak melakukan dulu sebelum ada aba-aba dari dirinya.
"KALIAN SEMUA KELUAR LAHHH!!"Ucap Hendrik menggema di ruangan itu.
Sebenarnya Hendrik sudah mengetahui sejak awal kalau Keluarga'nya yang sangat kepo sedang mengintip perbuatannya yang menjadi hakim buat mantu mereka.
Satu persatu muncul mulai dari Oma Eleanor lalu opa rudra, bunda varisa, Tante Sonya, om mevin dan Vanandya. tak lupa ketiga kurcaci ikut keluar ke dalam ruangan itu.
Mereka pun terkejut satu sama lain, karena mereka tak mengetahui kalau mereka saling ngintip.
"Istriku kamu ngintip? Dan kalian kenapa pada ngintip?"Ucap Rudra saat melihat istri, mantu dan cucunya.
"Kau juga ngintip?"
"Ayah juga ngintip?"
"Opa juga ngintip?"
Ucap mereka bersamaan kepada tuan utama di rumah ini, karena mereka tak terima dengan perkataan tuan Rudra.
Rudra yang mendengar itu hanya cengengesan saja. Namun ia langsung ngeles. "Aku melakukan itu agar jadi saksi siapa tau mereka berantem terus polisi datang.. Jadi aku bisa jadi saksi mereka di persidangan."
"Kami juga melakukan ini biar bisa menjadi saksi mereka."
Mereka tak mau ngalah satu sama lain, bahkan mereka tak menyadari kalau Hendrik membawa pergi mantu'nya agar tidak tergantung dengan mereka.
tiga kurcaci yang hanya mempertontonkan para orang tua debat hanya dia saja, sampai salah satu mereka berkata.
__ADS_1
"Mam.. Opa dan suami mam pergi.!"
Ucapan Alvagas membuat mereka berhenti berdebat dan melihat ke arah di mana tuan Hendrik dan Valdes berdiri. Dan bener saja di tempat itu sudah kosong tak ada seorangpun,
Mereka pun bertanya kepada anak-anak kemana perginya Hendrik dan Valdes,
Alvagas menunjuk ke arah kolam, di mana Hendrik akan melakukan aksinya kepada Valdes.
Mereka pun langsung berlari mendekati mereka, mereka tak ingin terjadi sesuatu kepada valdes apa lagi dengan mengorbankan nyawanya demi dirinya.
...Kembali ke arah hendrik dan Valdes....
Saat ini Valdes siap menerima kematiannya, agar ia bisa membuktikan kalau dirinya memang mencintai Vanandya dengan setulus hati. Bukanya cinta butuh pengorbanan, jadi saat ini valdes akan mengorbankan nyawa demi cintanya.
Hendrik sudah bersiap melihat apa yang akan terjadi di depannya walaupun dirinya akan di benci oleh sang putri, tapi memang ini tujuannya. Hendrik pun menghitung mundur.
"10"
"9"
"8"
"7"
"6"
"4"
"3"
"2"
"1"
BYURRR!!
"Tepat sasaran!"Gumam Hendrik saat melihat anak dan mantu'nya tercebur ke kolam renang.
...FLASHBACK ONN....
Karena tak ingin terjadi sesuatu Vanandya lari dengan sekencang-kencangnya sebelum Valdes menarik pelatuknya saat sudah hampir Deket dengan Valdes ia berteriak.
"VALDES HUTABARAT MARQUEZ! JANGAN LAKUKAN," Teriak Vanandya tapi tak di dengar oleh Valdes, karena dia sedang Kosen dengan yang akan dia lakukan.
"Valdes"Vanandya merangkul tubuh valdes lalu melompat ke kolam renang. Dan
BYURRR!!
__ADS_1
...FLASHBACK OFF...
Semua keluarga tercengang dengan apa yang di lakukan oleh Hendrik, mereka lalu menatap tajam kearah hendrik.
Valdes yang tersadar kalau dirinya tidak mati dan pun terkejut kalau dirinya dan Vanandya sedang berada di dalam kolam.
"Vanandya apa yang kau lakukan disini?"Tanya Valdes kepada Vanandya.
"Dasar goblok, tolol, bego.. Apa kau ingin mati demi cinta? apa kau tidak kasihan sama aku dan anak-anak."Vanandya sangat marah akan kegoblokan suaminya yang demi cinta mau mempertaruhkan nyawanya.
"Kau tau kan aku melakukan ini agar bisa bersama dengan kamu? Dan aku lebih baik mati dari pada harus mendengar ayah mengatakan yang membuat kita tidak bisa bersama."
Vanandya dengan marah pun mengobrak-abrik isi kolam itu sampai airnya berkurang.
Varisa yang tidak tega pun menyuruh anak dan mantu untuk naik ke atas, lalu menyuruhnya ganti baju, mereka akan menunggu di meja makan.
***
Sementara itu seorang wanita yang baru saja keluar dari restoran karena habis menemui Klien untuk membicarakan tentang pembangunan yang akan mereka kerjakan.
Saat akan masuk kedalam mobil sebuah tangan kekar mencengkram pergelangan tangan wanita itu. Pria yang menarik wanita itu pun memasukkan ke dalam mobilnya lalu menutup kembali pintu mobil.
Wanita itu pun terus memberontak dan minta tolong, karena ada seorang pria yang tidak ia kenali menculik dirinya. Ia pun merasa ketakutan saat pria itu masuk kedalam mobil.
"Diam atau aku akan membunuhmu!"Ancam pria bertopeng itu, lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Wanita itu pun merasa ketakutan karena ia pernah trauma akan kejadian masa lalu yang mengakibatkan mengalami kecelakaan.
Pria bertopeng itu pun menghentikan mobilnya tempat di depan hotel termewah, pria bertopeng pun keluar dari mobilnya lalu ia membuka pintu sebelah dan ia menyeret wanita itu.
Semua karyawan hanya bisa diam saja saat sang pemilik hotel membawa seorang wanita dengan paksa. Mereka hanya menatap dengan iba, tanpa menolong walau wanita itu sudah berteriak minta tolong.
Saat sudah sampai di kamar hotel pria bertopeng itu mengunci pintu hotel, lalu melemparkan wanita itu ke kasur.
"HAZEL MARBELLA LACERTA!! KENAPA KAU PERGI MENINGGALKANKU HAH?"
Wanita yang tak lain adalah hazel merasa terkejut dan mematung, ia pun berbicara dengan terbata-bata. "Si-siapa ka-kamu?"
Pria itu lalu membuka topengnya dan menunjukkan siapa sebenarnya dia.
DEGHH!
"Ka-Kau..."
***
"Jadi apa keputusan mu?"Oma Eleanor berkata kepada putranya, yang saat ini mereka semua sedang berada di meja makan sambil menikmati makanan yang di buat oleh Sonya dan varisa.
__ADS_1
"Maaf aku..."