
Semua orang terkejut saat di ruang makan, mereka terkejut dengan pekikan dari seorang wanita yang tak lain adalah Vanandya. Mereka tidak tau apa yang terjadi sampai membuat Vanandya seperti itu,
Vanandya setelah menerima telpon dari seseorang langsung merubah ekspresinya menjadi sangat dingin bahkan ada rasa kekhawatiran dari tatapan matanya.
"Sayang ada apa? Apa yang terjadi?"Tanya Rebecca dengan lembut.
"Hm. Aku harus pergi, bunda membutuhkan aku."
Ia berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke Eropa, saat di kamar ia memasukkan baju kedalam koper. Ia lalu mengambil tas dan memasukkan berapa keperluan seperti tanda pengenal,. paspor, dompet dan lip tint dan ponselnya.
Setelah semuanya selesai ia turun kebawah sambil menyeret koper yang ia bawa. saat di di ruang keluarga, semua anggota berdiri dari duduknya. Tak kala melihat Vanandya berjalan ke arah mereka,
"Sayang?"
"Mama, maaf aku harus pergi karena saat ini bunda sangat membutuhkan diriku."
"Biarkan suamimu menemani dirimu."
Vanandya menatap lekat ke arah kedua pria itu, yang tak lain adalah suami'nya dan juga kakak ipar'nya. Lalu Vanandya menjawab dengan gelengan kepala.
"Maaf mah, bunda saat ini Hanya membutuhkan aku dan ayah.. Dan mama tau kan kalau kita tak saling mencintai satu sama lain, lagian vir harus menemani kakak ipar, apa lagi dia juga memiliki kekasih."
Mereka terdiam sejenak, mereka tau kalau pernikahan mereka di jodohkan. Dan tak saling mencintai apa lagi virendra dengan terang-terangan berhubungan dengan kekasihnya.
"Tapi, apa kamu ga mau pergi dengan suamimu? Mama sudah berjanji sama bunda kamu, buat jaga kamu."
"Untuk saat ini tidak ma,"Ia sudah final, dengan tidak mengajak suami'nya jika ia membawa suami'nya sudah jelas peryakit Mamahnya akan kambuh lagi,
Lalu ia berpamitan kepada keluarganya untuk pergi sebentar, dan mereka pun berpesan kepada mantu'nya agar menjaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa kabarin Keluarga'nya.
Rebecca juga menitip salam kepada mantu'nya, untuk di sampaikan kepada sahabatnya. Ia sebenarnya merasa khawatir akan apa yang di alami sahabat, namun saat ini ia tak banyak bicara, ia akan menanyakan kepada mantu'nya setelah dia pulang.
Setelah kepergian vanandya, mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Grey's, gimana dengan wanita itu. Apa sudah ketemu?"Ucap Rebecca kepada putra sulungnya dengan hati-hati.
Grey's, yang tadi terdiam sambil memainkan ponselnya. Pun menatap ke arah mamahnya.
"Kenapa mama tiba-tiba nanya begitu? Bukannya mama sendiri yang meminta untuk meninggalkan dia karena terlah.."Grey's tak melanjutkan perkataannya, ia Langsung termenung membayangkan kejadian berapa tahun yang lalu. Dia mana itu adalah menjadi tragedi yang membuat dirinya terjun ke dunia bawah tanpa seorang ketahui.
Grey's lalu bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan ruangan itu, sebelum benar-benar pergi. Ia berkata kepada adiknya untuk menemui dirinya.
__ADS_1
Mereka yang melihat kepergian Grey's, terdiam mereka tak menyangka kalau Grey's yang dulu hangat berubah menjadi dingin dan bengis terhadap orang yang mengusiknya.
***
"Jadi. Apa yang kau dapat?"Grey's berkata kepada adiknya virendra, ia menanyakan apa adiknya sudah menemukan siapa dalang di balik semua ini
"Aku tidak dapat apa-apa."Virendra berkata dengan dingin. Namun, terdapat raut wajah lesu. Karena tidak mendapatkan apa yang dia mau.
"Sepertinya orang itu sangat cerdik. Akan aku ungkap siapa dalang di balik semua ini? Karena saya tidak suka penghianat ataupun mengusik ketenangannya."Ucap Grey's.
Virendra menganggukkan kepalanya, ia mengerti akan kemarahan kakak'nya, yang tidak suka adiknya, perempuan satu-satunya di keluarga Marquez di lecehkan begitu saja.
Grey's saat ini sedang berkutat di depan komputer ia sedang mencari tau siapa orang yang terlah berani melecehkan adik perempuan satu-satunya. Ia lalu menelpon seseorang.
"..."
"Aku ingin kau kerahkan seluruh geng montor kamu."
"...."
"Untuk mencari orang yang terlah melecehkan Briana."
"......"
Tanpa mendengar jawaban seseorang itu grey mematikan sambungan teleponnya. Ia lalu kembali fokus kearah komputer. Saat ia akan mencapai tahap keberhasilan sebuah telepon mengganggu dirinya, dengan kesal ia mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
"...."
"Apa kau mengetahui sesuatu?"
"...."
"Brengsek!! Apa motif dia mem***kosa adikku?"
"...."
"Hanya, ingin bersenang-senang saja?"
"...."
__ADS_1
"Aku ingin kamu hancurkan orang itu."Ia Langsung menutup panggilannya.
Virendra yang sejak tadi dia menyaksikan kakak'nya telepon, pun bertanya siapa orang yang menelepon kakak'nya.
Grey's, mengatakan kalau ini Adalah hanya untuk bersenang-senang saja, tidak ada motif lain. Mereka melakukannya suka sama suka.
Namun virendra tak mempercayai semuanya. Ia mengetahui sifat adiknya itu, dia tidak mungkin melakukan itu karena adiknya bilang kalau dia akan menyerahkan kesuciannya kepada suaminya kelak.
Grey's. Menganggukkan kepalanya tanya ia setuju, benar apa kata virendra adiknya tidak mungkin melakukan itu.
***
Malam, berganti pagi, pagi berganti hari, lalu hari berganti Minggu.
Sudah satu minggu keadaan mansion Marquez terlihat sangat sepi. Namun ada seseorang wanita yang sedang memuntahkan isi perutnya. Tapi yang keluar hanya cairan kuning.
Sampai penghuni mansion datang ke asal suara orang yang sedang mual-mual di pagi hari.
Rebecca dengan telaten memijat tengkuk sang putri yang terus saja mengeluarkan cairan dari mulutnya.
"Sayang, sebaiknya kita panggilkan dokter pribadi kita untuk kemari."Ujar Rebecca kepada suaminya, yang tidak jauh dari mereka. Ia merasa kasihan dengan kondisi putrinya yang terus melemah, bahkan putrinya tidak makan apa-apa sejak kemarin.
Rebecca sangat khawatir, ia takut terjadi apa-apa sama sang putri satu-satunya itu.
Mereka pun sepakat memanggilkan dokter pribadi Keluarga'nya, yang sangat mereka percaya.
"Mah apa mungkin Briana.."Ucapannya terpotong saat mendapatkan geplakan dari sang isteri yang sangat kejam itu.
Memang perkataan suaminya aga benar, tapi ia tidak ingin kalau anak perempuan satu-satunya harus hamil di luar nikah. Apa kata orang nanti.
Saat asik dengan pikiran mereka masing-masing, seorang dokter datang menghampiri mereka.
"Permisi. Tuan, nyonya."
Tuan Victor menyuruh, dokter tanisha untuk masuk dan ia menyuruh agar tanisha cepat memeriksa anak perempuannya.
Tanisha, lalu menyuruh Briana berbaring di kasurnya agar ia mudah untuk memeriksa keponakannya itu.
Tanisha yang cuma miliki anak laki-laki, ia sudah menganggap briana seperti anak kandung ia sendiri. Apa lagi dari Rebecca mengandung dan melahirkan briana, ia yang mengurus semuanya.
Saat Briana sudah berbaring tanisha pun memeriksa perutnya, dan mengecek denyut nadinya. Ia terkejut saat merasakan ada senyawa yang tumbuh di dalam tubuh keponakannya.
__ADS_1
Ke-dua kakak Briana, yang dari tadi diam melihat interaksi sang Dokter memeriksa adik mereka, pun bertanya tentang apa yang terjadi kenapa adiknya bisa mual-mual begitu.
"Sebenarnya saat ini Briana...