
"Dia adalah istri Valdes dan adik dari mama kamu," ucap Faisal kepada putranya yang bertanya mengenai Vanandya.
Laksh terkejut dengan perkataan papanya yang mengatakan bahwa wanita tersebut adalah istri dari kakaknya dan adik dari Kimberly. Padahal, menurut pengetahuannya, Kimberly tidak pernah memiliki adik.
Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya. Ia menatap sang papa untuk menjawab apa yang terjadi, karena selama ini dirinya tidak pernah mengetahui masalah keluarganya.
Faisal mengatakan bahwa Kimberly adalah anak kandung dari Nyonya Sonya, wanita yang sedang tertidur di samping Kimberly yang mengalami luka cukup parah.
Sekarang Laksh paham dengan semua itu, dan ia hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja. Mereka pun keluar dari ruangan karena tidak bisa lama-lama di dalam ICU.
Victor yang melihat kakaknya keluar pun bertanya apakah ada perkembangan tentang keluarganya. Namun, Faisal menggelengkan kepala karena kondisinya masih sama, belum ada perkembangan.
Faisal sangat khawatir dengan keadaan Kimberly yang terus memburuk, apalagi ia sedang mengandung. Para dokter pun sudah berusaha dengan sekuat tenaga mereka untuk merawat keluarga Marquez.
Tidak ada cara lain selain Faisal menelpon para dokter di luar negeri untuk datang ke Indonesia, karena mengandalkan dokter di sana masih belum ada perkembangan, walaupun para dokter di rumah sakit ini adalah dokter jenius, tapi mereka tidak tinggal diam. Bahkan, ia meminta perusahaan luar untuk mengirimkan alat-alat canggih untuk membantu mereka cepat sadar.
Saat ini Vanandya sudah dipindahkan ke ruang rawat, namun mereka masih memantau perkembangan Vanandya. Valdes dengan setia duduk di samping brankernya, terus mengusap-usap perut rata istrinya. Ia terus saja meminta maaf kepada istrinya karena ia kehilangan janin di dalam perut Vanandya.
"Maafkan aku sayang, andaikan aku melerai kalian, pasti keadaan tidak seperti ini," ucap Valdes.
"Apa kamu akan terus-terusan menyalahkan dirimu atas yang terjadi?" tanya seseorang yang baru datang.
"Kak?" kata Valdes terkejut dengan apa yang ia lihat.
Yang datang adalah Greys dan Hazel. Mereka sudah memutuskan untuk kembali bersama, namun mereka masih takut memberitahu kepada keluarganya, apa lagi saat ini keadaannya tidak tepat.
"Pulanglah dan ganti pakaian kamu karena aku paling benci melihat muka kucel kamu. Dan temui lah anakmu karena dia terus menanyakan keberadaan kalian sejak semalam," ucap Greys.
Saat Valdes akan menolak ucapan kakaknya, langsung di tatap dengan tajam, akhirnya Valdes memenuhi permintaan kakaknya untuk pulang. Sebenarnya ia juga merindukan kedua anak kembar tersebut.
"Sayang, aku akan pulang sebentar. Kamu tinggal di sini sama kakakmu dulu ya?" ucap Valdes sebelum meninggalkan istrinya.
__ADS_1
"Kakak! Aku titip Vanandya ya?" sambungnya kepada kedua kakaknya.
Hazel kesal dengan perkataan adik iparnya yang bilang menitipkan Vanandya kepada dirinya, memangnya adiknya siapa sehingga harus di titipkan kepadanya.
Sebuah bangunan yang sangat besar dan megah, dengan lahan yang cukup luas. Seorang pria menginjakkan kakinya kembali ke dalam rumah, setelah sekian lama tidak berkunjung.
Valdes yang baru saja sampai di kediaman Marquez berpapasan dengan seseorang yang selalu ia kenali, karena ia juga mengenal arti kata teman.
"Laksh?"
"Valdes?"
Kedua pria itu pun berpelukan melepaskan rindu, karena sudah lama tidak berjumpa dengan satu sama lain setelah Valdes memutuskan mengambil alih perusahaan keluarga.
Sedangkan Laksh, ia lebih suka di bangku perkuliahan sampai ia benar-benar menyelesaikan. Sebenarnya umur Laksh dan Valdes tidak beda jauh, cuma saja Laksh masih betah di bangku perkuliahan, dan mulai besok ia akan terjun ke dunia bisnis.
Mereka lalu masuk ke dalam mansion yang terasa sepi seolah tidak ada kehidupan di dalamnya, entah kenapa setelah kepergian nenek Meneer, rumah ini sangat berbeda dari sebelumnya.
Laksh yang melihat itu sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat. Lalu ia menatap ke arah Valdes untuk menjelaskan siapa anak kembar itu dan mengapa dirinya tidak mengetahui bahwa ada anak kecil di sana.
"Valdes, bisa kau jelaskan?"
"Ok, ok. Mereka adalah kedua putraku dengan Vanandya, wanita yang ribut dengan Amira," ucap Valdes menjelaskan kepada sepupunya.
Laksh pun berkenalan dengan kedua anak Valdes yang sangat tampan seperti dirinya, melebihi sepupunya yang lain.
Valdes yang melihat sepupunya dan anaknya sedang bermain ia pun meninggalkan mereka karena saat ini ia harus segera mandi dan mengganti baju.
"Hai boy, apa kalian ingin ikut bersama om?"
"Kemana, om?"
__ADS_1
"Hm, kemana ya? Nanti om kasih tau. Sebaiknya kita pergi untuk bermain," ucap Laksh. Ia lalu berpesan kepada pelayan rumah untuk memberi tahu Valdes kalau dirinya ingin membawa jalan-jalan kedua anak kembar tersebut.
Para pelayan yang mengetahui bahwa itu adalah tuan muda Laksh pun mengiyakan permintaan Laksh. Namun, saat Laksh akan pergi, langsung di cegah oleh seorang wanita dengan tatapan sangar.
"Tunggu!"
"Apa?"
"Karena saya adalah pelayan yang ditugaskan oleh Nyonya Besar Lacerta untuk menjaga dan melindungi tuan muda. Aku harus ikut,"
"Cih, siapa kau yang ingin ikut? Kami hanya pergi untuk bersenang-senang antara om dan keponakan. Paham kamu?"
"Tapi aku tidak paham! Yang aku paham aku harus ikut bersama dengan kalian karena Nyonya Lacerta sudah mempercayakan aku untuk menjaga."
Saat Laksh akan menjawab pertanyaan pelayan tersebut, langsung dihentikan oleh kedua anak kembar tersebut yang tidak keberatan pelayannya ikut, bahkan mereka senang.
"Bibi Leksa boleh ikut kok," ucap Vagas kepada Bibi Leksa.
Leksa yang diperbolehkan ikut bersama dengan mereka pun merasa senang, lalu ia menjulurkan lidahnya kepada Laksh bahwa dirinya menang. Laksh yang melihat itu hanya menggeleng dengan jengah.
Sementara Valdes baru saja selesai mandi, ia langsung menuju ke walk-in closet untuk mencari pakaiannya. Ternyata semua pakaiannya tertata rapi di tempatnya. Ketika sedang memilih baju, ia melihat sebuah buku diary yang sangat indah. Karena penasaran, Valdes mengambil buku diary itu dan mulai membacanya.
Tes!
Tes!
Tes!
Air mata terus berjatuhan saat membaca buku diary itu. Ia tidak menyadari bahwa selama ini... Ia pun kembali membaca lembaran demi lembaran yang ada, dan di buku itu sudah terdapat bekas-bekas air mata.
Setelah membaca semua halaman, Valdes buru-buru mengambil kemeja dan celana Chino. Setelah beres, ia berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Jadi selama ini..."