
"Tanu.."Gumam seseorang yang tak lain adalah Vanandya. Vanandya yang melihat Tanu, meminta izin kepada Jayden untuk pergi ke toilet, setelah sampai di toilet ia mengabari seseorang untuk mengikuti ke mana Tanu pergi.
Vanandya pergi dari toilet setelah selesai bertelepon dengan seseorang.
"Maaf lama."
"It's okay."
Mereka pun pergi dari caffe. Mereka ingin menghabiskan waktunya bersama dengan menonton film. Mereka pun memasuki mall dan masuk ke bioskop,
Dua jam mereka menonton akhirnya selesai. Mereka lalu pulang ke kediamannya masing-masing.
Saat Vanandya baru masuk ke pintu utama ia melihat adik iparnya bersama dengan agra. Pria yang tadi pagi memberikan hadiah berupa berlian.
"Hai adik ipar."Sapa Vanandya kepada Amora.
Amora yang melihat kedatangan kakak'iparnya merasa kesel. Yang selalu saja mengacaukan hidupnya, namun ia mengacuhkan saja ia lebih fokus ke kekasih barunya yang baru jadian berapa jam yang lalu. Sebenarnya Amora ingin sekali mengusir kakak iparnya itu yang sok berkuasa dalam keluarganya.
Vanandya. Yang diacuhkan oleh Amora pun mengangkat bahunya tidak peduli, ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya dan ia menaiki anak-anak tangga yang sangat panjang dan ia lalu masuk ke dalam kamarnya.
Vanandya lalu membersihkan badannya yang terasa lengket. Selesai mandi ia berpakaian menggunakan dress berwarna biru Dongker. Tak lupa ia memoles sedikit polesan kepada wajah'nya.
Ia lalu menuruni anak tangga. Ia ingin memasak makanan untuk Keluarga'nya, entah lah ia lagi kerasukan apa sampai ingin membuat makan malam buat keluarga.
Saat sudah sampai di dapur Vanandya melihat para maid yang sedang mondar-mandir menyiapkan bahan makanan. Karena sebentar lagi akan tiba waktunya makan malam, namun mereka Langsung berhenti saat nyonya'nya masuk ke dalam dapur.
"Nyonya ada apa nyonya ke dapur? Apa nyonya butuh sesuatu?"Tanya kepala pelayan. Kepada nyonya'nya.
"Aku ingin memasak. Jadi biarkan aku yang memasak kalian mengerjakan pekerjaan lain."
Namun saat kepala pelayan akan membantah. Nyonya'nya menatap tajam kepadanya jadi kepala pelayan itu pun menurut, lalu memerintahkan semua koki untuk keluar dari dapur. Karena nyonya mereka ingin memasak. Sang maid koki hanya bisa mengangguk setuju, mereka tak berani membantah perintah dari majikannya.
__ADS_1
Setelah para maid sudah keluar. Vanandya memulai aktraksi nya untuk memasak. masakan yang akan di buat olehnya. Tanpa ia sadari ada pasang mata yang melihatnya, bahkan orang itu sedikit mengangkat bibirnya.
Waktu 10 menit ia habiskan untuk memasak berbagai menu makanan. mulai dari sayur-sayuran sampai ke daging. Lalu ia menyuruh semua pelayan menyiapkan hidangan ke meja makan.
Bahkan, para koki dan maid sangat terkejut. Kalau nyonya'nya bisa memasak dalam hitungan menit dengan berapa hidangan, mereka sangat kagum dengan nyonya'nya yang semua bisa.
Sementara itu kedua pria juga tercengang dengan yang ia lihat. Bahkan dia memasak berapa hidangan dalam waktu 10 menit.
"Tuan lihatlah istrimu? Dia bisa memasak dalam waktu cepat.. Sedangkan nona Tanu tak bisa apa-apa."
"Sialan kau!"
Ia lalu pergi pergi ke atas untuk membersihkan diri. Ia terus saja memikirkan perkataan Cakra. bahkan bayangan Vanandya yang sedang memasak terus saja berputar di kepalanya.
"Akhhh. Brengsek kenapa dia Mulu si yang muncul."Gumam virendra yang sedang berada di bawah guyuran shower.
Ia pun langsung menyudahi mandinya. Lalu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di bagian bawah.
Viren. Lalu keluar dari kamar dan berlari menuruni anak tangga.
Degh ia melihat kedua orang tuanya ada di depannya Dengan tatapan tajam setajam silet, ia menundukkan badan'nya pasti sang mama bakal marah besar kepadanya.
"Dasar anak syetan. Di telponin gak di angkat-angkat, lama-lama mama kutuk kamu.!"
"Kalau aku anak syatan berarti mama syetannya."
Wanita paruh baya itu membulatkan matanya kepada sang anak. Bisa-bisanya dia menyebut dirinya sebagai mama syetan, tapi berapa detik ia baru menyadari akan Ucapnya yang mengatakan virendra anak syetan. Oh itu tidak bisa, seorang wanita tidak akan pernah salah.
Wanita yang memiliki nama Josephine Rebecca Marquez istri dari Victor Austin Marquez.
"Tuan. Nyonya makanan sudah siap."Ujar kepala pelayan kepada semua majikannya.
__ADS_1
Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka yang di meja makan memiliki ekspresi yang berbeda-beda.
Nyonya besar Josephine. Menatap tajam ke arah mantu'nya itu, ia sangat tidak suka wanita di depannya, jika bukan karena dia orang yang di jodohin mamanya. Sudah ia pastikan hidupnya sangat menderita.
Vanandya yang di tatap seperti itu pun menunjukkan sifat dingin dan datarnya. Ia tau apa yang ada di pikiran wanita paruh baya itu.
Hufftt. Hembusan nafas dari tuan Victor. Ia tau pasti istrinya akan membuat kekacauan kepada mantunya itu. Karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan, Victor pun bersuara dengan dingin untuk memulai makan malamnya.
Mereka pun makan dengan diam. Di tempat itu terdiri dari tuan Victor, nyonya Josephine, Virendra, Vanandya, Agra, Amora. Tidak lupa Dangan si ondel-ondel Tanu.
Nyonya Josephine. Yang sedang menikmati makanan tercengang, ia baru makan makanan seenak ini, bahkan makanan restoran kalah dengan makanan yang ia tidak tau siapa yang buat.
"Pelayan.!!!"Teriak nyonya Josephine menggema di mansion.
Semua yang ada di situ pun merasa tegang dengan suara yang berasal dari nyonya Josephine, tapi tidak dengan Vanandya ia rasa aura yang di keluarkan oleh mamah mertuanya sangat unik.
Berapa orang pelayan pun bergegas keluar setelah suara nyonya Josephine menggelegar di ruangan.
"I-iya nyo-nyonya."Ujar kepala pelayan terbata-bata.
"Siapa orang yang masak makanan ini.?"Tanya nyonya Josephine dengan dingin dan datar.
Semua orang terdiam. Para pelayan tidak ada yang berani mengatakan sesuatu, mereka takut jika nyonya mereka di marahin oleh sang nyonya besar.
Amora dan Tanu yang belum makanan itu tersenyum sinis.Karena mereka tau pasti ini masakan dari Vanandya musuh mereka.
' Tamatlah riwayat kamu Vanandya.. Pasti setelah ini kamu akan di depak dari keluarga Marquez. ' Batin Tanu dan Amora.
Tuan besar Victor. Merasa aneh perasaan makannya enak-enak aja bahkan ini lebih enak dari masakan para koki. ' Pasti istri nakal'ku akan berulah kepada'nya. ' Batin tuan Victor.
SRETTT. Bunyi sebuah bangku yang bergesekan dengan marmer, membuat berapa orang menoleh ke sumber suaranya.
__ADS_1
"Aku yang bikin...