
Seorang, pria memasuki mansion dengan wibawanya, dia akan menjelaskan semuanya kepada orang yang terlah memfitnah dirinya, padahal dia tidak pernah melakukan itu kepada siapapun. Tapi, kenapa Amira mengatakan kalau dirinya adalah orang yang tengah memfitnah.
Dan, kedatangan Axel di sambut dengan pukulan yang sangat keras. Yang, di dapat dari tuan vinton. Karena, yang berada di situ hanya tuan vinton dan para mantu'nya. Karena, saat ini para pria sedang berkerja. Jadi, mereka tak bisa menghentikan perbuatan dari vinton ke Axel.
Rebecca dan Tanu memanggil bodyguard'nya untuk menghentikan perkelahian antar vinton dan Axel. Walaupun, Axel tak melawan perbuatan vinton. Tapi, mereka kasian Kepada'nya.
Para bodyguard pun datang menghentikan pukulan yang di layangkan ke wajah Axel, sampai dia babak belur.
"Lepas.!" bentak vinton kepada bodyguardnya. Dan, bodyguard pun dengan sigap melepaskan vinton karena mereka masih menyayangi nyawa mereka.
Saat, vinton akan memukul Axel sebuah suara mengejutkan mereka. "Kakek, berhenti. Jika, kakek menyentuh Axel maka aku pastikan kalau kakek tak akan pernah melihat kami semua." suara bariton menggema di ruangan itu.
Vinton, pun mengurungkan niatnya untuk tidak memukul Axel. Namun, bukan berarti dia akan memaafkan Axel dengan mudah.
"Valdes!"
Vanandya!"
Gumam, mereka bernafas lega karena Valdes datang tepat waktu sebelum vinton memukul Axel lagi. Karena, kondisi Axel sudah sangat buruk. Tapi, Axel masih kuat berdiri dari duduk'nya. Hazel, dengan sigap membantu adik sepupunya itu. Tidak, lupa juga dia meminta kepada pembantu untuk mengambilkan air hangat dan handuk. Untuk, mengompres wajah Axel yang babak belur.
Mereka, semua menatap ke arah Vanandya yang sedang menggendong bayi, entah bayi siapa yang vanandya bawa. Karena, pagi tadi Vanandya tak membawa bayi, tapi kenapa tiba-tiba vanandya pulang-pulang membawa sebuah bayi.
Banyak pertanyaan yang menjalar di otak mereka karena kedatangan vanandya membawa seorang anak kecil, yang perkiraannya seperti anak yang baru lahir.
"Sayang, bayi siapa yang kamu bawa?" tanya Rebecca kepada Vanandya. Yang, sudah duduk di ruang keluarga. Yang, sudah berkumpul. Bahkan, saat ini hazel sudah mulai mengompres wajah lebam adiknya.
__ADS_1
"Ini, adalah bayi Vanda ma.." kata vanandya kepada, Rebecca. Hal itu membuat mereka semakin bingung dengan apa yang terlah di katakan oleh Vanandya.
Melihat, kebingungan keluarganya Valdes, menjelaskan secara detil kepada keluarganya, tentang siapa bayi itu dan dari mana dia berasal, karena dia sudah mengetahui dari informasi dan data-data yang dia dapat barusan.
Mendengar, hal itu Rebecca merasa iba, dia pun berdiri lalu berjalan mendekati mantu'nya, dia ingin menggendong bayi yang di gendong oleh Vanandya.
"Sayang, boleh mama gendong?" tanya Rebecca.
"Boleh kok ma," jawab vanandya, yang langsung memberikan anak itu kepada Rebecca.
"Siapa, nama anak ini vanda?" Rebecca, kembali bertanya kepada mantu ke-duanya.
Nama, dia adalah. "VALEEQA NAYESHA MARQUEZ.!" nama, anak yang di berikan oleh pasangan Valdes dan vanandya.
"Nama, yang cantik. Mama, sangat jatuh cinta kepada Valle." ujar Rebecca dengan sangat senang bisa menggendong seorang anak lagi.
"Saya,. bersumpah tidak pernah melakukan itu kepada Amira. bahkan, aku saja tidak pernah melukai atau melihatnya." kata Axel.
"Bohong dia, kek. Jelas-jelas dia yang sudah menyekap dan menyiksa'ku." ucap seorang wanita yang menuruni anak tangga. Siapa, lagi kalau bukan Amira.
"Cih, dasar fitnah. Jelas-jelas aku tak pernah menyekap'mu. Makanya, mimpi jangan di siang bolong. Nanti jika kamu bohong anak jadi sundel bolong." kata Axel. Yang, tidak suka kalau dirinya di fitnah begitu saja.
Vanandya, dan yang lain hanya menyimak saja. Perdebatan, vinton dan Axel. Bahkan pemainnya tambah satu lagi. "Sepertinya, apa yang di katakan oleh Axel ada benarnya. Mana, mungkin kalau adiknya Melakukan hal kotor seperti itu kepada Amira." batin Vanandya kepada dirinya sendiri.
"Axel, aku sudah bilang jangan pernah berbohong. Aku, tau kamulah orang yang sudah melakukan itu, kepada aku." ucap Amira kepada Axel dengan ketakutan.
__ADS_1
"Amira, aku tak pernah melakukan hal itu. Aku, tau kamulah yang berbohong." kata Axel, sambil menggelengkan kepala. Dia, tidak pernah melakukan hal itu. Tapi, kenapa Amira menuduhnya kalau dirinya yang melakukan kekerasan kepada Amira.
"Beraninya kamu berbohong, kepada kami?" ucap vinton membentak keras Axel.
"Aku, percaya kalau axel tak berbohong, karena dari kecil Axel tak pernah melakukan kebohongan." timpal vanandya. Yang, tau persis kalau Axel tidak pernah bohong. Dia, akan berkata jujur jika dia salah dan. Sebaliknya dia akan menyangkal kalau dia tidak melakukan kesalahan.
"Jadi, maksud kamu aku berbohong hah? Ingat, aku disini korban dari kejahatan adik kamu. Oh.. Ya, aku tau pasti kamu membela adik kamu di depan keluarga, karena kamu ingin menutupi kejahatan Axel." bentak Amira dengan sinis, dia sangat membenci Vanandya. Yang, selalu saja merusaknya rencananya.
Vanandya, menggelengkan kepala. "Bukan, maksud aku menuduh mu berbohong. Tapi, ini benar kalau Axel tidak pernah berbohong." ucap vanandya dengan tegas.
"Sudah, kak. Jika mereka ingin menyiksa ku. Aku siap, aku juga akan terima semua konsekuensinya, tapi, jika tuduhan mereka salah mereka jangan pernah mengusikku dan mengusik anak aku lagi." kata Axel. Yang, siap untuk di hukum oleh keluarga Marquez.
"Baiklah, jika mau kamu begitu, aku akan hukum mati kamu agar cucu perempuanku dan cicit perempuanku bisa tenang tanpa ada kamu." ucap kakek vinton.
Axel, pun setuju dengan apa yang terlah di sepakati oleh kakek vinton. Yang, membuat semua wanita menatap sedih ke arah Axel. Mereka tidak menyangka kalah axel mau menerima semua itu dari kakek vinton.
Hazel dan Vanandya, berkata untuk tidak melakukan hal gila. Karena, mereka tidak ingin kehilangan lagi. Apa, lagi mereka akan membunuh Axel jika bersalah.
Amira, tersenyum jahat, karena rencananya untuk menghancurkan dua keluarga akan segera terlaksana. Apa, lagi mereka akan membunuh Axel tanpa sebab.
"Axel, kamu jangan gila. Kakak tidak akan setuju kalau kamu melakukan jal itu, di saat kamu tidak melakukan kesalahan." ujar hazel.
"Benar xel. Kakak, tidak akan rela kamu mengorbankan nyawa kamu, dengan kesalahan yang tidak kamu buat. Jika, kamu melakukan hal itu maka kami tidak akan pernah mengampuni mu.!" kata vanandya.
"Kalian, tidak perlu khawatir, karena aku yakin kalau kejujuran selalu menang. Jika, aku terbukti tidak bersalah. Aku, percaya pasti tuhan akan memberikan jalannya." ucap Axel menenangkan kedua kakak'nya.
__ADS_1
Valdes, merasa ada yang janggal dalam masalah ini. Di satu sisi dia tidak mempercayai adiknya yang berani'melakukan hal itu, padahal adik yang dulu dia kenal tidak pernah seperti ini. Bahkan, adiknya selalu tampil lemah lembut.
"Sepertinya...?"