CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
Bab 6


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu semenjak kejadian yang Vanadya sering di siksa oleh sang suami, pun berubah menjadi wanita yang sangat dingin. Bahkan ia tidak akan memaafkan orang yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.


Saat ini Vanandya sedang menikmati sarapan pagi, tentunya dengan kedua lalat yang sedang bermesraan di depannya, karena muak dengan keromantisan mereka. Vanandya pun pergi dari meja makan, tanpa menghiraukan tatapan mata kedua lalat itu.


"Cih, lama-lama aku jiji melihat mereka. Awas aja jika kau sudah mencintai ku, akan aku buat kau mandi lumpur."Gumamnya, yang merasa jiji dengan kedua pasangan gila' itu.


Karena malas di rumah ia pun pergi, dari rumah ia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Tentunya dengan kedua pelayan yang selalu mengikuti dirinya, sebenarnya ia tak membutuhkan pelayan untuk ikut dengan dirinya, tapi kedua pelayan itu ingin ikut dengannya,. akhirnya ia mengijinkan mereka ikut.


Saat ini mereka sedang di sebuah taman, sambil menikmati cemilan yang mereka beli sebelum datang ke taman.


"Naya?"Panggil seseorang dengan ragu-ragu.


Vanandya yang merasa familiar dengan panggilan ' Naya ' pun menoleh ke sumber suara, ia sangat terkejut mendapati temannya ada di tempat yang sama dengan dirinya. "Jayden."


"Iya ini saya Jayden, senang bisa bertemu kamu lagi."Jayden pun memeluk temannya itu dengan sangat bahagia.


Saat pelukan terlepas ia pun bertanya kepada sahabatnya itu, kemana saja dia pergi. Kenapa tidak memberitahu dirinya kalau saat ini sahabatnya berada di Indonesia.


Vanandya pun menjawab dengan simpel. Bahwa dirinya sedang kangen dengan tanah air, kenapa ia tidak memberi tahu temennya itu, karena ponselnya pernah hilang jadi ia tidak bisa ngabari temen-temen lamanya.


Jayden lalu melihat kesamping yang teryata ia baru menyadari ada seseorang selain dirinya dan Vanandya. Ia lalu bertanya kepada Vanandya siapa kedua wanita disampingnya.


Vanandya lalu mengenalkan indah dan Astuti kepada Jayden, "Mereka adalah sahabat baru Jay saat aku berada di tanah air."


Jayden pun bersalaman kepada indah dan Astuti. "Senang berkenalan dengan kalian."


Kedua wanita itu pun hanya tersenyum dengan canggung ia tak menyangka kalau nyonya'nya akan memperkenalkan dirinya sebagai sahabat, kepada orang lain.


"Hm, gimana kalau aku traktir kalian di restoran depan sana. yang katanya restoran itu baru bukan berapa Minggu yang lalu."


"Hm boleh juga."Vanandya pun berdiri dari tempat duduknya, lalu menyeret kedua sahabatnya itu agar ikut dengan dirinya.


Lima menit berjalan, pun mereka sudah sampai di restoran yang bernuansa modern, bahkan tempatnya sangat bagus.

__ADS_1



Restoran yang di kunjungi oleh Jayden dan Vanandya, tak lupa juga kedua pelayan Vanadya. Lalu mereka pun memilih tempat yang cocok buat mereka, duduk. Tak jauh dari mereka pun Vanandya melihat tempat yang menurutnya sangat bagus.


"Kalian tunggu disini sebentar ya? Aku akan kebelakang dulu."Ucap Jayden kepada temennya.


Mereka bertiga pun menganggukkan kepala saja. Dengan senang mereka pun berfoto bersama buat kenang-kenangan. Tak berapa lama Jayden pun kembali dengan senyum-senyum sendiri seperti seseorang kesurupan.


"Kenapa, kau senyum-senyum sendiri?"Kata Vanandya kepada Jayden.


Saat Jayden akan berbicara. Sudah ada berapa pelayan yang berjejer memberikan hidangan yang menurutnya sangat banyak.


Vanandya pun menatap wajah Jayden penuh curiga, ia sudah tau kelakuan temennya itu kalau setiap pesan makanan tidak pernah bilang-bilang.


"Teryata kebiasaan kamu dari SMA gak pernah hilang ya dari mu."Ucap Vanandya sambil mencibir temennya.


"Kamu kaya gak tau aku aja nay?"


Mereka lalu memakan-makanan yang di pesan oleh Jayden, sampai tandas tak tersisa sedikit pun. Cuma tinggal piring kosongnya aja.


"Wah kak Jay, makanan disini sangat enak-enak."Ucap astuti kepadanya.


"Bener apa kata Astuti makanan disini sangat lezat- lezat."Timpal indah.


"Ya, udah kalau gitu kita pulang yu? Udah mau sore juga."


Saat mereka akan pergi sudah di cegah oleh Jayden. Lalu Jayden meminta kontak Vanandya, vanandya pun memberikan kontaknya kepada jayden. Setelah mendapat kontak nomer sahabatnya jayden ingin mengantarkan mereka untuk pulang, namun vanandya menolak untuk di antarkan karena mereka juga membawa mobil sendiri. Jayden pun merasa kecewa karena tidak bisa mengantarkan Vanandya.


Vanandya yang melihat raut wajah kekecewaan Jayden. Pun memberikan pengertian agar Jay mengerti, Jayden yang mengerti pun menganggukkan kepala, lalu pergi dari meninggalkan mereka.


Setelah kepergian Jayden lalu mereka. Berjalan ke arah mobilnya, lalu menjalankan mobil itu ke kediaman mansion, vanandya membawa mobil itu dengan kecepatan sedang.


Mobil yang di tumpangi oleh Vanadya pun terlah sampai di halaman mansion'nya.

__ADS_1



Vanandya yang masih di dalam mobil bersama sahabatnya pun berkata kepada mereka. Karena ia merasa ada yang salah pada bangunan mansion'nya.


"Apa kalian merasa mansion ini terlalu kecil? Karena aku merasa kalau mansion ini terlalu kecil. Aku ingin menambahkan berapa bangunan di belakangnya."


Astuti dan indah merasa cengo, bahkan bola mata mereka hampir keluar dari tempatnya setelah mendengar perkataan dari sang nyonya. Bagi mereka bangunan segitu udah besar banget, tapi nyonya dengan gampangnya berkata kalau bangunan di depannya merasa kecil.


' Nyonya, dimana letak otak anda. Apa anda gak pikir kalau bangunan ini besar banget.'Batin mereka bermonolog, mereka merasa kesel pada nyonya'nya yang gampang mengatakan itu.


"Udah jangan mengumpat diriku di dalam pikiran kalian? Sebaiknya kita masuk, aku ingin mandi kembang karena pasti setelah ini tubuhku akan di sentuh oleh syetan terkutuk."Lalu Vanandya pun. keluar dari mobil ia berjalan memasuki mansion'nya tanpa menghiraukan pasang mata yang melihatnya.


"Astut. Mungkin otak nyonya kita sudah geser."


"Kau beneh. Indah, masa mansion sebesar ini di bilang kecil?"


"Hufftt. Orang kaya memang beda. Ayok kita masuk."


Kedua pelayan itu pun masuk dengan lesu, karena terbayang perkataan sang nyonya yang mengatakan. 'Mansion ini terlalu kecil.' Kata-kata itu masih berputar-putar di otaknya, kalau mansion ini terlalu kecil, coba bayangkan mansion besarnya seperti apa.


Dughh. Astuti bertabrakan dengan tubuh kokoh di hadapannya, karena ia tak menjaga keseimbangan ia pun hampir jatuh ke tanah, kalau saja tubuh'nya ga di tangkap oleh sosok pria itu.


"Ya ampun astut. Kamu gak papa kan? Apa kamu terluka?"Ucap indah, yang baru menyadari kalau sahabatnya itu hampir terjatuh.


"TELAT.!"Ujar astuti dengan ketus. Sambil menjauh dari pelukan itu.


"Maaf asisten cakra. Saya gak melihat anda ada di depan saya."Ucapnya.


"Kalau jalan lihat-lihat jangan sambil melamun."Cakra berkata dengan dingin, yang notabelnya sebelas dua belas dengan tuannya.


"Cakra. Apa mansion ini terlalu kecil?"Astuti pun bertanya kepada cakra, karena perkataan Vanandya selalu ada di pikirannya.


"APA!!!"

__ADS_1


__ADS_2