CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 189


__ADS_3

Valdes dan Grey's baru saja sampai di restoran yang di janjikan oleh tuan Bart, rekan kerja keluarga Marquez. Mereka sudah saling berkerja sama dalam bisnis. Sampai, perusahaan mereka melejit menjadi perusahaan ternama. Setelah, menunggu sekian lama akhirnya orang yang akan mereka temui sudah berada di depan mata mereka.


adalar bart. Pria pengusaha sukses di negara Turki. Dia, adalah pemilik perusahaan property yang berkerja sama dengan perusahaan Marquez. kedua perusahaan itu sudah saling kerja sama saat perusahaan di pegang oleh generasi pertama.


Karena, Bart, adalah anak tunggal dari keluarga Bart, dia yang meneruskan perusahaan milik kakeknya. Namun, perusahaan itu belum berpindah tangan dari Bart. Karena, saat ini dia belum menikah alis masih single.


Ketiga, pria itu pun saling memperkenalkan satu sama lain. Karena, mereka baru pertama kali bertemu, sebagai seorang pemimpin. Dan, setelah memperkenalkan satu sama lain. Mereka, langsung membahas tentang perusahaan. Dan tuan Bart ingin membangun sebuah proyek besar yang akan mereka buat di Tengah-tengah kota.


Valdes dan Grey's pun langsung menyetujui permintaan dari tuan Bart untuk membangun sebuah apartemen di tengah-tengah kota. Setelah menyetujui hal itu bart, berpamitan kepada valdes karena masih ada urusan penting yang harus segera mereka selesaikan. Begitupun dengan valdes mereka kembali ke perusahaan, karena mereka juga akan ada meeting penting dengan investor dari Bali.


***


Sementara, di kediaman Marquez, saat ini vanandya baru saja bangun dari tidurnya. Dan, dia melihat jam sudah angka 12 siang. Dan, dia pun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dia, lalu ke walk in closet. Dia, berpakaian menggunakan dress berwarna putih dan dia juga memakai kalung yang di kasih oleh mama Rebecca.


Setelah, Semua'nya sudah siap dia keluar dari kamar lalu masuk ke dalam lift, karena kamarnya berada di lantai tiga, jadi vanandya menggunakan lift. untuk Ke lantai dasar.


Ting..! Vanandya, keluar dari dalam lift, lalu dia berjalan dengan anggun ke ruang makan. Namun, belum sampai ke ruang makan dia berpapasan dengan Amira, wanita yang sangat membenci dirinya.


"Wahh. Kebetulan, sekali kita bertemu disni?" ucap Amira dengan sinis.


"Lalu, aku harus apa? Sudah, hal biasa jika kita saling bertemu, secara kita tinggal satu atap," ujar vanandya tidak kalah sinis.

__ADS_1


"Aku, peringatkan kepada kamu jangan pernah mencampuri keluarga Marquez lagi, karena jika sampai mencampuri aku akan buat kamu menyesal seumur hidupmu?" kata Amira tepat di depan telinga Vanandya.


"Kenapa kamu melarang'ku untuk mencampuri urusan keluarga Marquez, secara aku menantu keluarga Marquez. Jadi, aku berhak mencampurinya.. Dan, ya aku cuma memberikan saran kepadamu sebaiknya kau urusi saja dirimu. bersama dengan Axel. Apa, lagi ada anak kalian yang harus kalian jaga." kata Vanandya. Yang, tidak kalah Engan Amira.


"Kau?" ucap Amira geram dengan perkataan dari Vanandya.


"Kenapa, adik ipar hm? Kamu, menginginkan sesuatu? Atau kamu menginginkan aku untuk membantu kamu menyatukan kamu dengan axel?" ucap vanandya.


"Vanandya, jaga batasan kamu di rumahku, karena kamu tidak berhak mencampuri urusan ku atau urusan keluarga Marquez. Karena kamu disini sebagai menantu bukan lebih sebagai putri kau paham?" bentak Amira. Yang, sudah sarasa kesal dengan perkataan yang terus saja di lontarkan oleh vanandya. karena dia tidak ingi. kalau vanandya menguasai kekayaan Marquez group.


"Haha.. Ingat, Amira kau disini juga sebagai tamu, karena seorang wanita yang sudah bersuami. Dia, akan seperti seorang tamu di keluarganya. Dan, begitu sebaliknya, aku adalah seorang menantu akan seperti seorang putri di kediaman mertuanya. Dan, mansion ini juga akan jatuh juga ke tangan mantu'nya. Bukan ke putrinya." kata Vanandya. Yang, membuat Amira marah padam, saat dia akan menampar pipi Vanandya sebuah suara mengejutkan mereka. Yang, membuat Amira mengurungkan niatnya.


"Amira..! Apa-apaan, kamu. Kenapa, kamu menampar pipi Vanandya? Ingat Amira, vanandya adalah ipar kamu istri dari kakak kamu valdes.".kata Rebecca, memberikan pengertian kepada putrinya, yang hampir menampar vanandya.


"Ma, kenapa mama membela wanita itu, dia itu adalah dalang yang sudah menghancurkan masa depan Amira ma." teriak Amira.


"Sudah, berapa kali mama bilang kalau Vanandya tidak bersalah dan bukti juga sangat kuat, kalau vanandya tidak bersalah tapi teman kamu yang selalu membuat kamu dalam bahaya." kata Rebecca.


"Amira, sekarang kamu minta maaf kepada vanandya. Jika, kamu tidak minta maaf mama akan hukum kamu untuk tidak keluar." sambungnya.


"Aku, meminta maaf kepada dia? Cih, aku tidak Sudi meminta maaf kepada wanita rendahan seperti dia." ucap Amira dengan sinis. Bahkan, dia sampai menunjuk ke arah Vanandya menggunakan jarinya.

__ADS_1


PLAKK..! Satu, tamparan mendarat di pipi Amira dengan sangat keras. Teryata yang menampar pipi Amira adalah Rebecca, dia merasa malah kepada putrinya. Yang, selalu membangkang terhadap perkataan dari dirinya.


"Mama, tidak pernah mengajari kamu berbuat tidak sopan kepada yang lebih tua Amira. Kenapa, sekaramg kamu selalu melawan perkataan mama dan yang lain." bentak Rebecca.


"Itu, semua karena mama. Karena mama yang terlah mengizinkan wanita rendahan itu masuk kedalam keluarga kami." teriak Amira, yang langsung pergi dari hadapan mama'nya. Dengan, memegang bekas tamparan dari mama'nya.


"Amira, kembali kamu..!" teriak rebecca kepada Amira. Namun, tidak di gubris oleh Amira, karena dia sudah terlanjur sakit. Karana, mama'nya lebih membela vanandya di bandingkan putrinya.


Rebecca, lalu menatap ke arah mantu'nya, dia memegang pipi Vanandya yang membengkak karena tamparan dari putrinya. Rebecca, lalu memanggil pelayan untuk mengambilkan kompres, karena dia tidak ingin ada pertengkaran lagi. Jika, Valdes mengetahui kalau adiknya terlah menampar istri tercintanya.


Vanandya, ingin sekali menolak, tapi Rebecca menatap tajam ke arah Vanandya untuk tidak perlu banyak bicara dan cukup diam saja.


Dengan, telaten Rebecca mengompres'i pipi Vanandya yang bengkak karena tamparan. Bahkan, Rebecca melakukanya dengan pelan-pelan tanpa membuat mantunya kesakitan.


"Hm, sayang maafkan Amira ya. Mama, tau Amira melakukan itu, karena Amira masih belum menyetujui hubungan kalian Karena, sejak awal kamu menikah dengan virendra, Amira tidak menyukai kehadiran kamu.".kata Rebecca dengan hati-hati.


"Iya, ma. Vanandya, juga banyak salah sama mama. Karena, Vanda terlah membuat keluarga kalia. jadi seperti ini, "ucap Vanandya, yang membuat keluarga Marquez.


"Sudah-sudah sebaiknya kita lupakan masalah yang ada di dalam rumah. karena, jika saling kita mengingat kembali, maka masalah tak akan pernah selesai. Dan, lebih baik kita pergi healing saja Gimana?" ucap Rebecca, dia ingin. Mengajak mantu'nya pergi berbelanja, ke mall. Karena, kebahagiaan wanita ada di mall, karena di mall bisa melupakan waktu mereka. Untuk, berbelanja apa saja dan bisa menghabiskan uang suami mereka.


"Mama, bukannya dia...?"

__ADS_1


__ADS_2