
Saat ini kediaman Marquez sedang tegang. Pasalnya seorang wanita tak lain adalah astuti mengatakan kalau mansion ini terlalu kecil, apa dia tak membuka matanya jelas-jelas mansion ini sangat besar bahkan jauh lebih besar dari istana presiden.
Cakra. Yang saat ini menatap tajam astuti karena perkataannya yang di luar nalar, bahkan ia sendiri sangat mengagumi mansion ini, bisa-bisanya dia mengatakan kalau mansion ini terlalu kecil.
"Apa kau sadar dengan ucapan kamu barusan?"
"Iya. Saya sangat sadar asisten cakra,. makanya aku bertanya kepada anda asisten.. Hm soalnya nyonya muda yang bilang kalau mansion ini terlalu kecil, katanya dia ingin menambah bangunan lagi."
"Serious. Nyonya muda berkata seperti itu?"
Astuti pun menganggukkan kepala, karena apa yang dia katakan adalah bener, dan indah juga membenarkan perkataan yang di lontarkan oleh astuti itu.
Saat astuti akan berkata lagi. Sudah lebih dulu suara yang membuatnya takut. Memanggil dirinya dan juga indah, karena tak ingin mendapatkan semprotan dari sang nyonya mereka pun berjalan menghampiri nyonya'nya.
'Jika mansion ini terlalu kecil? Lantas mansion besar seperti apa? 'Batin Cakra bermonolog. Ia merasa aneh dengan tingkah laku nyonya'nya, yang kadang dingin, kadang cerewet, bahkan kadang dia seperti seekor singa betina.
Ia jadi melupakan tujuannya datang ke mansion adalah mengambil berkas yang tertinggal, ia pun bergegas menuju halaman depan dimana ia memarkirkan mobilnya. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena waktunya sudah tidak lama lagi, bisa-bisa tuannya akan marah kepada dirinya.
***
Sementara itu di kamar mandi ada seseorang yang sedang berendam air panas dengan bunga tujuh rupa. Ia ingin merilekskan tubuh dan pikirannya.
"Nyo.."Belum astuti menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh sang majikan. Siapa lagi kalau bukan Vanandya yang sedang menikmati berendam bunga tujuh rupa.
"Diam lah. Aku sedang tidak ingin di ganggu."Nada suara vanandya berubah menjadi dingin, karena ia tidak suka aktivitas berendam nya di ganggu seseorang. "Bilang pada. Ondel-ondel jika ingin. Cari ribut entar aja jika pria bodoh itu udah pulang dari kantor, biar si ondel-ondel cari muka."Sambungnya.
Astuti dan Indah pun menganggukkan kepala, lalu keluar dari kamar mandinya yang sedang di jaga oleh para maid, yang di suruh Vanandya untuk menjaga agar tidak ada seseorang yang mengganggunya.
Kini. Astuti dan juga Indah sudah berada di depan kamarnya, yang sudah ada si ondel-ondel.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Suruh para bodyguard kalian untuk minggir aku ingin bertemu dengan Vanadya."Ucap Tanu dengan suara menjijikkan.
Mereka pun berkata kepada Tanu, kalau saat ini nyonya muda tidak bisa di ganggu karena dia sedang berendam. mereka juga mengatakan kalau ingin cari ribut entar saat tuan virendra sudah pulang.
Setelah mengatakan itu mereka masuk kedalam kamar Vanandya, untuk mempersiapkan pakean yang akan. di pake oleh sang nyonya. Tepat saat nyonya Vanandya keluar semua persiapan sudah selesai.
Vanandya. Pun, memakai pakaian yang di siapkan oleh sang sahabat. Ia memakai dress, berwarna merah, sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Tak lupa juga ia memakai polesan make up. Yang menambah kecantikan.
Tok Tok Tok. seorang mengetuk pintu kamar Vanandya, lalu indah pun membuka pintu kamarnya guna melihat siapa yang datang. "Ada apa kepala pelayan?"
"Maaf mengganggu neng. Semua makan malam sudah siap, dan nyonya muda di panggil oleh nona Tanu ust makan malam."
"Baiklah pergilah, nanti kamu akan turun."
Indah lalu berbalik arah. Berjalan mendekati sang nyonya, saat akan bersuara, untuk menyampaikan apa yang tadi kepala pelayan bilang, sudah lebih dulu di potong oleh Vanandya.
Mereka pun keluar dari kamar, mereka memasuki sebuah lift khusus buat tuan dan nyonya'nya.
Dengan elegan, dan anggun vanandya berjalan ke arah meja makan yang sudah di isi oleh pasangan menjijikan, sebenarnya ia sempat berpikir peran pel*kor dan peran istri sah, sebenernya siapa. Itu yang ia bingung kan.
Ia pun langsung membuang jauh-jauh pikirannya, karena ia paling tidak suka jika ad pikiran muncul di otaknya. Lalu ia pun duduk berhadapan dengan ondel-ondel kelas kakap.
' Sepertinya bermain-main dengan ondel-ondel ini enak kali ya.? 'Batin Vanandya dengan senyum iblis. walaupun senyuman itu tak terlihat oleh manusia.
"Hm.. Panu ini yang mau melayani pria di samping kita siapa?"
"Aku saja Vanandya. Kan aku calon istri dari viren... Dan ya nama aku bukan panu, tapi Tanu."Ucap Tanu dengan kesal karena namanya di ubah oleh wanita jal*Ng Vanadya.
__ADS_1
Virendra. Yang melihat itu pun hanya menatap kekasih dan istrinya yang sedang berdebat berebut siapa yang ingin meladeni dirinya.
"Udah. Panu mendingan aku aja? Kan aku istri sah'nya, sedangkan dirimu baru calon."Vanandya berbicara dengan sangat anggun tanpa ada kesalahan berucap sedikitpun, bahkan para maid yang sedang berdiri terkejut karena aura yang di pancarkan oleh nyonya nya sangat berbeda. Seperti memiliki kepribadian ganda.
"Tanu aja yang mengambil kan aku makan."Suara dingin dan datar dari sang virendra pun menghentikan perdebatan antara istri sah dan pel*kor.
Vanandya pun. Mengangkat bahunya, ia tidak perduli, ia pun langsung mengambil makanan untuk dirinya sendiri tanpa melihat sepasang kekasih menjijikan itu.
Setelah selesai makan malam. Vanandya pergi ruang keluarga, sedangkan virendra pergi ke ruang kerjaannya.
Astuti dan Indah, masih setia menemani sang nyonya'nya jaga-jaga kalau jal*Ng itu berulah.
Baru saja membicarakan jal*Ng. Tanu pun datang menghampiri dimana Vanandya berada.
Mulut Vanandya ber komat-kamit. Membacakan manyar agar syetan yang di kutuk jangan deket-deket, Naum doa'nya tidak manjur atau doa'nya ada yang kurang.
"Ada apa kau kesini?"
"anu. Aku pengen berteman denganmu."
"Ck. Lagu lama, kaum pel*kor itu tidak berteman dengan kaum istri sah. Jadi kau jangan berteman dengan istri sah.. Kalau tidak ingin kaum pel*kor musnah di tangan para istri sah."Vanandya pun berkata dengan dingin, tanpa melihat lawan bicaranya, Vanandya masih fokus terhadap laptopnya.
"Tapi aku cuma ingin berteman denganmu. Apa salah aku berteman denganmu.?"Ucap Tanu dengan bibir bergetar menahan tangisannya.
Vanandya lalu berdiri menghadap ke arah Tanu. "Tentu saja salah. Kau minta berteman dengan saya, ada maksud terselubung kan? Hahaha, aku tau seorang pel*kor licik seperti dirimu itu tidak membutuhkan temen.. Karena nanti kau akan menusuk dari belakang."Bentak Vanandya kepada Tanu.
"VANANDYA!!"Suara dingin pun menggelegar di mansion itu. Siapa lagi kalau bukan virendra, viren benar-benar sangat marah, saat mendengar kekasihnya di bentak oleh wanita bar-bar macam Vanandya.
Vanandya. Mengalihkan pandangannya ke arah virendra, lalu ia tersenyum sinis. Akhirnya ini yang ia tunggu-tunggu karena drama akan segera di mulai.
__ADS_1
Virendra berdiri di depan Vanandya lalu menampar pipi'nya, sampai mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Bukan hanya satu tamparan melainkan dua kali tamparan dari viren, buat vanandya.
"KAU...."