
Seorang wanita yang baru saja datang dari taman belakang bersama dengan Tanu dan baby Va, yang di gendong oleh hazel. Ya, wanita itu adalah hazel. Dia, terlah mendengar semua apa yang terlah di katakan oleh suami'nya.
Dia, sedikit kesal, karena suaminya berkata seperti itu kepada orang tuanya. Walau bagaimanapun juga dia juga mertua dari Grey's, tidak sepantasnya dia mengatakan itu.
"Grey's, bisa tidak kamu pelan kan suara kamu kepada orangtua ku? Kamu, tidak berhak berkata seperti itu kepada ayah dan bunda." ucap hazel dengan tegas.
"Lalu, aku harus diam saja saat orangtuaku di rendahkan oleh orangtua mu? Mereka, juga berhak atas cucu-cucu mereka, jadi tidak sepatutnya orang tua kamu melarang anak-anak menemui orangtuaku.!" kata Grey's yang tidak kalah tegas.
"Aku, mengerti tapi. Ini semua karena perbuatan kakek karena dia menyekap adik ku. Tidak, puaskan dia sudah menghajar habis-habisan Hayden. Orang, kepercayaan kami sekaligus orang yang sudah kami anggap saudara kami sendiri?" kata, hazel dengan suara datar.
Suara, hazel membuat baby Va, yang berada di gendongan hazel menjadi menangis karena suara yang sangat keras dari hazel
Tangisan baby Va, memicu perhatian dari semua orang. Bahkan varisa yang sejak tadi diam langsung bertanya kepada Putrinya.
"Sayang, bayi siapa yang kamu gendong? Bukannya, lahiran kamu masih sekitar lima bulan lagi?" tanya varisa. Yang, berjalan mendekati putrinya karena, dia sangat penasaran, karena anak-anak tidak ada yang memiliki anak yang baru lahir.
Hazel, tersenyum ke arah bunda'nya, sambil menenangkan baby Va agar tenang dan tidak menangis lagi. Setelah, baby Va. Diam, hazel menjawab pertanyaan dari bunda'nya.
"Bun, ini adalah baby Va. Anak, dari Vanandya dan Valdes, dia mengadopsi anak ini saat mereka akan menjenguk Hayden..." Hazel, lalu menceritakan semuanya tentang asal usul dari bayi ini. karena, saat itu baby Va baru lahir dan di tinggal oleh kedua orangtuanya untuk selama-lamanya. Jadi, vanandya merawatnya.
__ADS_1
Mendengar, semua penjelasan dari hazel putrinya. Varisa menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangannya. Dia, tidak percaya kalau putrinya memiliki hati yang sangat baik sebaik malaikat. Varisa, lalu berkata kepada hazel kalau dia ingin menggendong baby va. Dan, saat baby Va di gendong oleh varisa, dia tersenyum.
Begitupun, dengan Twins dia yang mendengar kalau dia adalah anak dari mommy mereka langsung mendekatinya dan berkata kepada hazel apakah dia benar adiknya. Dan, hazel pun menjawab kalau baby Va. Benar-benar adalah adik mereka. Mendengar hal itu twins merasa bahagia. Dan, meminta kepada Oma, untuk berjongkok karena mereka ingin mencium adik mereka.
"Ya, Tuhan. Anak, ini sangat imut, dan sangat cantik. Beruntung, banget putriku membawa pulang malaikat kecil, di tengah keluarga yang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, ada sosok penjaga yang melindungi bayi ini dari mata sinis sang kakek tua. Apa, kamu tau dek ada seorang kakek yang tidak mau mengalah dengan generasi muda dan dia sudah tua tapi masih saja angkuh, apa kamu tau siapa? Dia, seperti sosok khodam yang melindungi keluarganya, tapi menghancurkan keluarga lain." kata varisa. Sambil melirik vinton.
"Benar, Oma dedek bayi sangat imut dan cantik." ucap kedua Twins.
"Harus, itu karena anak perempuan harus cantik. Dan, buat kalian sebagai laki-laki dan sebagai kakak buat baby Va, harus menjaganya dan melindunginya jangan sampai membuat baby va menangis, apa lagi kalian harus melindungi dari seorang kakek yang sangat jahat."
Vinton, yang tersindir akan perkataan dari varisa langsung menatap tajam ke arah varisa dengan mata elangnya. Lalu, dia berkata yang sangat dingin, angkuh dan datar.
"Lancang, kamu mengatakan itu, jangan membuat telinga cicit-cicitku tercemar dengan perkataan, mulut beracun mu itu.! Dan, aku bukan orang yang kau tuduhkan seperti itu. Walau, begini aku sangat menyayangi cicit-cicitku dari orang-orang jahat."
"Kakek, buyut kenapa kakek memarahi oma? Kan, Oma tidak bersalah sama kakek buyut, lagian Oma mengatakan kalau kami harus menjaga dedek bayi. Memangnya, tidak boleh ya kakek buyut?" tanya vagas dengan polos.
Deg..! Perkataan, vagas menusuk relung hati vinton. Harusnya dia tidak marah kepada varisa. Tapi, perkataan varisa seakan-akan menyindir dirinya. Karena, tersinggung reflek vinton memarahi varisa.
Mendengar, perkataan itu Hendrik dan varisa tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari cucu-cucunya yang sangat pandai berbicara seperti mommy mereka.
__ADS_1
Rebecca, yang merasakan situasi yang sudah tidak nyaman langsung mendekati twins lalu dia berkata kepada twins. "Sayang, bukan maksud kakek buyut memarahi oma varisa. Tapi, kakek buyut
mengatakan kalau dia tidak keberatan kalau kalian menjaga baby Va. Dan, kakek buyut tidak ingin di samakan dengan sosok khodam yang menjaga dedek bayi. Jadi, kenapa kakek buyut kesal sama Oma varisa." Rebecca menjelaskan kepada twins.
"Khodam? Apa itu grandma, kenapa vagas dan vegas baru mendengar nama itu." tanya twins kepada rebecca, karena ke-dua nya baru mendengar Rebecca mengatakan itu.
Sekarang, giliran Rebecca yang terdiam, karena dia terjebak akan ucapannya sendiri. Jika, saja dia tidak mengatakan itu kepada twins, yang masih sangat kecil dia tidak akan mengatakan itu kepada dirinya.
"Dia...?" Rebecca, bingung ingin memberi tau seperti apa lagi. Karena, dia tidak mungkin menjelaskan secara detil, yang pasti itu tidak akan di pahami oleh seorang anak. Apa, meraka adalah lahir di jaman modern, yang tidak mengetahui akan kehidupan masa lampau.
"Sayang, apa kamu tau malaikat?" tanya varisa.
"Oh malaikat. mommy pernah berkata kalau malaikat itu tidak terlihat kerja mereka selalu menjaga anak kecil, agar anak kecil tidak di culik." kata vagas.
"Nah, khodam itu, tidak terlihat tapi dia akan menjaga dedek bayi dari hal jahat." ujar varisa.
"Oh, jadi itu namanya khodam." Gumam vagas menganggukkan kepala. Yang, sudah paham akan itu. Lalu, dia kembali bermain dengan baby va.
Hal, itu membuat Rebecca dan yang lain menghela nafas lega. Karena, twins tidak bertanya lebih jauh lagi. Karena, dia sudah di jelaskan lebih dulu oleh vanandya.
__ADS_1
Setelah, kembali tenang, Hendrik menatap ke arah vinton. Untuk segera membebaskan Axel dari ruang bawah tanah. Karena, keluar merek tidak akan terima jika Axel terus-menerus di sekap. Dengan, kesalahan yang tidak di buat oleh Axel.
"Saya, peringatkan segera bebaskan Axel atau..."