
Satu bulan setelah mereka berada di mansion baru. Saat ini ada seseorang yang sedang memuntahkan cairan dari dalam perut, sang mama merasa aneh kenapa putranya yang sering sehat tanpa ada penyakit, sekarang palah anak keduanya malah sering mual-mual di pagih hari.
Valdes, yang semakin hari semakin lengket kepada Vanandya tanpa sepengetahuan keluarga dan adiknya itu. Karena ia tak akan membiarkan cintanya kepada siapapun, dan mereka juga setiap ada saat sering melakukan hubungan.
Saat ini Valdes sedang di priksa oleh para dokter, karena jarang seorang pemimpin dari semua aset Marquez jatuh sakit. Dan itu menjadi fenomena yang sangat langka.
Para dokter dan profesor sedang memeriksa tuan muda Valdes Hutabarat Marquez. Yang tiba-tiba mual-mual.
Vernon dan Green berdesak sebel karena melihat seluruh dokter dan profesor sedang memeriksa kondisi Valdes.
"Sialan. Aku itu cuma mual-mual. Bukan terkena rabies!! Segitunya kalian memeriksa diriku?"
"Maaf tuan, ini adalah perintah dari nyonya meneer dan tuan Vinton."Ujar para pemimpin dari mereka.
Setelah satu jam memeriksa keadaan Valdes, semua dokter dan profesor keluar dari kamar tuan Valdes.
Semua keluarga sedang menunggu apa yang terjadi, kenapa Valdes tiba-tiba mual. Itu semua menjadi pertanyaan besar bagi seluruh keluarga.
"Apa yang terjadi dengan cucuku?"
Para dokter dan profesor pun tersenyum mengembang, keluarga ini sepertinya akan mendapatkan generasi baru setelah Green.
"Tak perlu di cemaskan tuan, nyonya karena saat ini tuan Valdes sedang mengalami sindrom simpatik. Kemungkinan besar tuan Valdes terlah menghamili seorang, dan memicunya adalah tuan Valdes yang merasakannya."
DEGH... DEGH... DEGH... DEGH... DEGH... DEGH..
Suara detak jantung mereka yang terus berdebar-debar dengan kencang, mereka mematung mendengar perkataan para dokter yang mengatakan kalau Valdes sedang mengalami sindrom simpatik. Mereka jelas tau itu itu adalah kehamilan simpatik.. Dimana seorang pria yang merasakan semua'nya.
Tapi mereka bertanya-tanya siapakah wanita yang sudah meluluhkan hati pria Neptunus yang sangat dingin. Bahkan dia dekat dengan wanita saja jarang,
Rebecca jelas tau semua anaknya memiliki sifat yang berbeda-beda. karena ia yang melahirkan. Contohnya adalah putra sulungnya yang hanya mencintai satu wanita.
Kalau Valdes. Mereka tak bisa menebak karena pria itu sangat tertutup dan pendiam, apa lagi dari yang Rebecca tau Valdes gila kerja. Untuk dekat dengan wanita saja dia merasa jijik, bahkan dulu ada seseorang wanita yang memegang tubuhnya dia merasakan jijik saat itu juga dia sering mandi dan menghabiskan waktu 3 jam untuk mandi agar kotoran di tubuhnya merasa bersih.
Jika Virendra dia adalah sosok pria dingin namun sifat dia seperti kakeknya yang sangat menyukai seorang wanita yang lugu dan polos.
__ADS_1
Mereka pun kembali seperti semula, sudah hilang rasa keterkejutannya, karena mereka akan menanyakan kepada Valdes, siapa orang yang terlah mengambil hatinya.
Namun, ada seseorang yang sejak tadi diam saja, entah kenapa perasaannya sangat tidak enak. Lalu ia pun mengikuti Keluarga'nya yang sedang menunju ke arah kamar Valdes.
Saat Mereka sudah sampai di depan kamarnya, sang Oma pembuka pintu kamar cucunya. pemandangan yang mereka lihat adalah Valdes yang sedang terbaring, sedangkan asistennya sedang melakukan pengecekan di berkas-berkas aset Marquez.
"Sayang siapa wanita yang kamu hamili?"Ucap Nyonya Rebecca langsung to the point, karena ia tidak suka basa-basi.
Elkairo Abimanyu, yang sedang meminum kopi sambil membaca semua laporan yang ada di mejanya pun tersedak dengan apa yang terlah nyonya'nya katakan.
Valdes, yang baru saja memejamkan matanya pun membuka kembali, pupil mata berwarna abu-abu pun menatap sang mama. Dan berapa anggota lainnya.
"Apa?"
"Cak. Apa yang dokter itu katakan benar kalau kamu menghamili seorang?"Tanya mama Rebecca yang kesel akan tingkah anaknya.
"Kamu nanya?"Valdes berkata dengan dingin..
"CK. Kaka ini seperti kak Vanandya yang selalu mengucapkan kata-kata Kramat"Briana
"Kai, belikan makanan"
Elkairo, yang sedang berkutat di berkas-berkas pun langsung berdiri saat tuannya meminta dirinya membelikan sesuatu.
"Mau makanan apa tuan?"
Valdes tak menjawab, namun ia sudah mengirimkan pesan kepada asistennya itu.
Kling. Suara pesan masuk di dalam ponsel kai. Kai pun membulatkan matanya saat melihat menu makanan yang tuanya minta. Ia kembali terkejut saat ponselnya di rampas oleh sang nyonya.
"Val.. Ini benar kamu ingin makanan ini? Kamu tau kan kalau ini semua makanan yang sangat tidak di sukai olehmu"
"Apa urusanmu?"
"VALDES HUTABARAT MARQUEZ!! BICARALAH DENGAN SOPAN SAMA IBUMU?"
__ADS_1
Victor sangat tidak menyukai cara anak-anaknya yang semena-mena terhadap ibunya sendiri. Entah apa yang membuat dia benci sampai-sampai dia begitu membenci seseorang wanita yang terlah melahirkan anak-anaknya, bahkan dengan bertarung nyawa istrinya lakukan agar bisa buah hatinya terlahir kedunia.
"Kau ingin aku bicara sopan sama wanita itu? Ok saya akan berbicara dengan sopan kepadanya."Valdes sudah bangkit dari tempat tidurnya saat ini ia sedang berdiri menatap ke arah papahnya.
Kedua pupil mata yang sama pun saling menatap dengan tajam.
"Rebecca.. Lihat kan gara-gara kamu aku jadi seperti ini? Selamat ya Rebecca"Valdes berkata dengan dingin dan datar.
BUGH. Suara pukulan yang sangat keras mendarat di pipi Valdes, dan itu di kasih oleh Papahnya.
Grey's yang melihat situasi semakin panas, menyuruh si ketua geng motor yang kejam, siapa lagi kalau bukan adik laki-lakinya Vernon,
Vernon Australian Marquez, yang merasa kesal karena kakak tertuanya menyuruh dirinya membawa keponakannya sekaligus musuhnya itu. Karena mereka sering berantem saat bertemu satu sama lain,
"Pah.. Kau memukulku karena dia?"
PLAK. Tangan Victor menampar pipi anaknya dengan sangat keras, bahkan Valdes sampai mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
Grey's, maju untuk memisahkan adik dan papanya, jika tak di pisahkan mereka akan lebih parah. Bahkan ia sangat tau kemarahan adiknya itu, ia saja akan merasa takut kepadanya.
Semua orang di sini tidak berani memancing kemarahan Valdes, karena dia akan menjadi iblis jika dia marah.
"Val, kamu tenang ya? Ini semua tidak akan terjadi ok"
Valdes memejamkan matanya, lalu menghela nafas panjangnya Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Pergilah"
Mereka pun pergi, dari kamar Valdes. Dan mereka pun turun ke lantai dasar lalu mereka duduk di sofa ruang keluarga.
Rebecca, melihat kelakuan buruk dari sang putra hanya bisa menangis saja. Tak kusangka teryata dia begitu membencinya.
Victor pun menenangkan hati Istrinya yang terasa sakit akan perkataan putranya itu. Ia sangat paham pasti istrinya ingin memberikan kasih sayang yang lebih ingin memeluk anaknya tapi semua itu tak bisa.
"Ini semua gara-gara aku, andai aku tak...
__ADS_1