
Pagi, terlah tiba. Saat ini, keluarga Kavita Adhikara, sedang sarapan bersama dengan anak-anaknya. Kavita, menatap sang putra dirinya ingin berbicara dengan serius karena ini menyangkut tentang wasiat yang pernah sahabatnya katakan.
"Nando, bolehkah ibu berbicara?" ucap Kavita dengan lembut. Karena, dia tidak ingin. Membuat, vernando marah karena tentang semua ini.
"Memang, ibu. Mau, berbicara apa denganku hm? Tidak, biasanya ibu seperti ini." tanya vernando. Yang, langsung menghentikan makannya lalu dia meletakan sendok dan garpu di piring.
"Ini, tentang wasiat bunda kamu?" ucap Kavita yang sedikit pelan.
"Bu, aku mohon aku belum siap membaca wasiat dari bunda. Apa lagi itu tentang pernikahan. Sampai, kapan pun aku tidak akan menikah dengan siapapun. Dan, ibu tau kan kalau aku belum bisa menemukan makam bunda dan keluarga ayah. Jadi, aku tidak akan menikah." ucap vernando. Langsung berdiri dari kursi makanya. Dia, pergi meninggalkan ruang makan dengan kekesalan.
Saat, ini yang dia pikirkan adalah berkerja agar perusahaan bunda'nya mengembang pesat. Dan, dia juga sedang berusaha menemuka keberadaan keluarga bunda dan keluarga ayah. Yang, selama puluhan tahun dia tidak menemukan keberadaan sang bunda.
Tujuannya, saat ini pergi ke kantor yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan, kecepatan penuh dia melajukan mobilnya, hal itu adalah kebiasaan vernando saat dia sedang merasa kesal, marah dan kecewa.
Hanya membutuhkan waktu 5 menit vernando sampai ke perusahaannya. Saat, dia sudah sampai di depan perusahaan dia langsung keluar dari mobil dan melangkah masuk kedalam perusahaan. Banyak, para karyawan yang menatap kagum ke arah vernando. Bagi, para wanita itu adalah rintangan ekstrim untuk mendapatkan hati seorang vernando Adhikara. Karena, vernando sangat sulit di dekati oleh para wanita manapun, bahkan mereka sempat beranggapan kalau vernando nyimpang dengan asistennya karena mereka selalu bersama. Dimana, ada vernando di situlah ada Dika.
Seperti, sekarang saat vernando masuk, Dika langsung menghampirinya dan. Itu tidak di tolak oleh vernando karena mendekatinya.
Kedua, pria itu pun berjalan ke arah lift. Namun, sebelum mereka Sampat di lift, ada seorang wanita jatuh tepat di hadapan vernando. Dan, hal itu sontak langsung di tangkap oleh vernando agar wanita itu tidak jatuh ke lantai.
Berapa, saat mereka saling bertatapan bahkan lensa mata mereka tidak lepas dari pandangan satu sama lain.
"Ehmm..!!" Dika berdehem, karena saat ini keduanya sedang menjadi pusat perhatian para karyawan.
__ADS_1
Mendengar, deheman Dika. Vernando, langsung tersadar lalu dia tidak sengaja melepaskan pelukannya kepada wanita yang terjatuh. Wanita, itu yang belum melakukan persiapan pun tubuh'nya jatuh ke lantai, yang membuat semua badan'nya merasakan sakit.
"Akhhh.!! Dasar, pria tidak punya perasaan." ucap wanita itu dengan lirih, tapi masih bisa di dengar oleh vernando.
" Apa kamu bilang?" ucap vernando.
"Aku, bilang. Pria, tidak punya perasaan, tidak punya hati yang tega menjatuhkan princes Pitaloka yang cantik ini ke lantai." ucap wanita itu yang bernama Pitaloka.
"Ohh..Jadi, kamu bilang aku tidak punya perasaan. Harusnya, kamu berterima kasih karena, aku sudah menangkap tubuh kamu yang kurang gizi." ucap vernando dengan sinis. Lalu, dia meninggalkan Pitaloka, yang masih mengoceh tidak jelas.
"Apa, maksud kamu kurang gizi hah?" teriak Pitaloka denan keras. Tapi, tidak di dengar oleh vernando. Dia, sudah keburu masuk kedalam lift. Pitaloka, lalu berdiri dan menatap sekelilingnya yang sedang menjadi tontonan oleh para karyawan. "APA.. Kalian lihat-lihat? Bubar.!" ucap Pitaloka dengan tegas. Dia, lalu pergi dari perusahaan itu dengan wajah yang kesal. Karena, hari ini dirinya mendapatkan kesialan dari pria yang bernama vernando.
Sang, supir yang melihat nona mudanya cemberut seperti itu hanya bisa menggelengkan kepala, dia sudah paham akan. sifat yang di miliki oleh nona mudanya itu. Jika, cemberut seperti itu pasti mendapatkan kesialan.
"Tau..Ahh, mang. Hari ini aku sedang kesal karena aku bertemu dengan cowo yang sangat menyebalkan dan sangat ngeselin." ucap pitaloka.
"Jangan-jangan, pria itu adalah jodoh nona princess Pitaloka. Seperti, orang dulu bilang, jangan terlalu benci atau kesal pada pria. Karena, itu bisa berubah menjadi rasa sayang." ucap mang Dadang,
"Wahh.. Mang Dadang, bisa aja. Tapi, aku tidak percaya hal begituan karena itu hanya cara orang kuno agar kita tidak saling benci. Iya kan? Karena, orang jaman dulu kan suka cinta damai tidak menginginkan keributan atau apalah itu." ucap pitaloka.
Mang, Dadang hanya diam saja. Karena, berdebat dengan nonanya membuat dia bingung ingin menjelaskan apa lagi. Entah apa yang tuan besarnya kasih ke nona. Sampai nona muda tidak menginginkan kekalahan dalam hal berdebat.
Tanpa, di sadari mereka sudah sampai di kediaman keluarga dari Pitaloka. Pitaloka, pun langsung turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam mansion.
__ADS_1
"MAMA.. PAPA, DIMANA KALIANNN. ANAK KAMU YANG CETAR MEMBAHANA. WANITA YANG PALING CANTIKK, INI SUDAH PULANGGG.!!" teriak pitaloka kepada orang tuannya. Bahkan, suaranya sampai terdengar ke penjuru mansion. Yang, membuat seluruh pelayan dan penjaga kebun menutup rapat-rapat kupingnya agar tidak mengalami kerusakan oleh suara Pitaloka.
"Astaga, sayang suara kamu seperti toa masjid tau gak yang membuat kuping mama berdenging." ucap seorang wanita setengah baya. Dia, datang dengan menggunakan penutup telinga.
"Ya..Tuhan, nyonya Shanty josha Pamungkas. Mengatai suara aku yang merdu ini seperti toa masjid? Ohh..Kamu sungguh tega nyonya." ucap pitaloka dengan lebay. Bahkan, dia sampai pura-pura kesal kepada mama'nya itu.
"Dih, dasar anak gak jelas. Dosa, apa aku saat mengandung kamu, yang terlalu bayak drama." ucap mama dengan sebel akan tingkah putrinya itu.
"Hiks...Hikss...Hikss..Hikss..! Papa, putrimu sedang di tindas oleh istri mu itu." ucap Pitaloka.
"Ada, apa sih pagi-pagi sudah ribut. Dan, kamu mulut petasan, sudah di bilang kalau masuk rumah itu harus mengucapkan salam. Bukan, seperti orang hutan." ucap seorang pria yang bernama josha pamungkas pemilik mal terbesar di asia.
JLEPPPP..!! Perkataan dari papanya membuat mood seorang Pitaloka menjadi cemberut bahkan dia memonyongkan bibirnya lima Senti. Dia, saat ini sangat kesal kepada papa dan mamanya.
"Hahah..!! Dikirim kan di marahin oleh papa, makanya kalau masuk itu mengucapkan salam bukan teriak-teriak tidak jelas." ucap Shanty.
"Kalau gitu, kita reka ulang adegan. Agar, aku tidak kena omel." ucap Pitaloka kepada orangtuanya, lalu dia berlari keluar mansion. Dia, akan mengulang adegan masuk rumah.
Saat, sudah sampai di luar rumah dan pintu sudah tertutup. Dia, langsung mengecek pita suaranya agar tidak mengalami masalah. Dan, setelah semua'nya sudah siap dia. Masuk, dan mengucapkan salam. "ASSALAMUALAIKUM.!!" teriak Pitaloka yang membuat kedua orang tua Pitaloka geleng kepala. Bahkan para pelayan juga menggelengkan kepala Mendapati tingkah laku nona mudanya.
"Pah, dia anak kita bukan sih?" bisik shanty kepada suaminya.
"Sepertinya, bukan mah. Jangan-jangan anak kita tertukar waktu di rumah sakit?" ucap Josh.
__ADS_1
"Aku dengar...?"