CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 142


__ADS_3

Semua, orang terdiam saja mendengar semua penjelasan yang di lontarkan oleh Victor dan Valdes. Walaupun, saat itu Victor masih kecil tapi ingatan dia sangat tajam. Mengalahkan ingatan dari yang lain.


Faisal, kembali marah mendengar semuanya itu. Dia, ingin menghajar Victor kembali. Namun, tangannya di pegang oleh anak-anak. Jadi, dia hanya bisa memberontak saja, melampiaskan kemarahannya.


Vanandya, yang sejak tadi terdiam. Pun, angkat bicara, karena dirinya merasa tidak asing dengan cerita yang di ucapkan oleh suaminya. Apa, lagi dia menyebutkan kalau, ada seorang yang terlah menyelamatkan dia dan Daddy Venton.


"Sepertinya, aku tidak asing dengan cerita ini." gumam, vanandya. Namun, masih bisa di denger oleh keluarga. Mereka, pun Menanyakan kepada Vanandya, tentang apa yang terlah di katakan oleh vanandya.


Namun, saat vanandya akan mengatakan, ada sebuah cahaya yang menyilaukan hadir di depan mana mereka. Saat, cahaya itu meredup nampak lah seorang pria yang sedang berdiri tegang dengan memakai pakaian berwarna putih bercahaya.


"Victor..!!" ucap pria bercahaya itu memanggil nama Victor. Dengan, wibawanya yang sangat lekat.


"Daddy."


"Kakak."


"Venton."


"Putraku."


"Paman Arez."


"Arez."


Semua, Keluarga sangat terkejut dengan kehadiran dari seorang pria yang bernama lengkap Venton Hutabarat Marquez. Anak pertama dari meneer dan anak kedua dari vinton. Dia, datang dengan wajah yang bercahaya.

__ADS_1


Venton, berjalan mendekati Keluarga'nya, lalu membangunkan adiknya itu. Yang, sudah tak berdaya bahkan wajah'nya sangat babak belur. Venton lalu mengusap wajah adiknya itu dengan lembut. Mendapatkan, perlakuan seperti itu dari kakak'nya membuat rasa bersalah Victor semakin besar, bahkan dia hanya mampu mengucapkan kata maaf dari mulutnya.


"Berhentilah, menyalahkan diri kamu sendiri Victor, kakak sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf. Karena, aku sangat menyayangi kamu adik kakak satu-satunya. Walaupun kamu terlah melakukan banyak kejahatan, tapi kakak tak mempermasalahkan hal itu. Sekarang, hidup kakak dengan kalian sudah berubah, aku sudah tidak memilik beban yang ada. Jadi maafkan kesalahan Victor yang terlah dia perbuat, karena semua ini bukan sepenuhnya salah Victor." ucap Venton.


"Sekarang, aku sudah bahagia, jadi aku mohon pada kalian jangan permasalahan yang sudah berlalu, kalian harus fokus menata masa depan agar kejadian yang menimpa kami tak terulang kembali." ucap Venton. Yang, membuat mereka semua terdiam tak bisa berkata-kata sedikit pun.


Venton, lalu mendekati sang putra yang sedang bersedih menatap dirinya. "Putraku, aku yakin kamu memiliki hati nurani yang sangat besar. Daddy, sangat yakin kalau kamu bisa memaafkan semua kesalahan papa kandung kamu? Bukannya, Daddy mengajarkan kamu untuk tidak menjadi seorang pendendam atau pemarah kepada orang?" ucap Venton membelai wajah sang putra. Dia, lalu mengelap air mata yang menetes di pipi putranya. "Putraku, ikhlaskan masa lalu yang terjadi. Bukannya kamu sudah menikahi gadis yang kamu janjikan? Jika, kamu hilangkan perasaan dendam. Daddy yakin kalau hidup kamu akan jauh bahagia nantinya. Pesan Daddy cuma itu, karena Daddy tidak ingin putra Daddy memiliki hati yang sangat kejam dan penuh pendendam." sambung'nya kembali kepada putranya itu.


Venton, berjalan kepada ayahnya. Dia, meminta maaf karena tak bisa menemaninya sampai akhir waktunya. Dan, dirinya berada di bumi hanya di berikan waktu sebentar, jadi dia gunakan untuk menasehati Keluarga'nya.


Satu persatu Venton sudah di temui lalu dia mendekati Rebecca. Dan, ia mencium lembut tangan Rebecca untuk tanda kalau dia sudah memaafkan semua'nya yang terlah terjadi berapa tahun yang lalu. Dan, kedatangan dia kemari bukan hanya mendamaikan Keluarga'nya, melainkan menjemput seseorang.


Dia, lalu berjalan mendekati varisa dengan perlahan karena Varisa masih menyimpan jiwa seseorang yang harus dia jemput. Setelah itu ia berhenti di depan varisa. Hal itupun membuat kedua keluarga merasa terkejut dan heran dengan apa yang terlah di lakukan Venton.


Mereka lalu bergandengan tangan satu sama lain. Membuat mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya yang terjadi.


"Apa, kamu sudah siap untuk pergi?" tanya Venton.


"Aku, sudah siap pergi bersama dengan kamu Arez." jawab wanita itu tersenyum ke arah Venton.


Wanita, itu lalu menatap ke arah adiknya lalu dia tersenyum ke arah varisa dengan lembut. "Varisa, tugasku saat ini sudah selesai kamu bisa hidup damai bersama dengan keluargamu." ucap verossa kepada varisa.


Varisa, yang mendengar hal itu merasakan kesedihan yang begitu dalam saat kakak'nya mengatakan hal itu kepada dirinya. Karena, dirinya hidup sudah bersama dengan kakaknya sangat lama, bahkan apa-apa mereka selalu bersama. Dan, saat ini dirinya akan berpisah dengan kakak'nya.


Perlahan demi perlahan, verossa dan Venton berjalan menjauh dari keluarga mereka, lalu mereka berbalik arah menatap keluarga mereka satu persatu. Sambil, melambaikan tangan mereka ke arah keluarga.

__ADS_1


"Kak, rossa?" ucap varisa dengan sedih saat melihat kakak'nya pergi dari raganya.


Setelah dua sosok itu menghilang. Mereka, semua bersedih karena mereka kembali merasa kehilangan sosok yang begitu mereka rindukan. Bahkan, varisa sangat terpukul dan menangis histeris karena kepergian Rossa..


Hal, itu membuat Vanandya dan hazel menatap ke arah sang bunda. Mereka ingin menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, waktunya belum tepat, karena mereka harus segera pergi tidur. Karena, waktu menunjukkan pukul, satu dini hari. Jadi mereka akan menanyakan tentang hal itu kepada bunda'nya besok pagi.


***


Pagi, menerpa bumi, saat ini semua keluarga sudah hadir di meja makan untuk menikmati sarapan pagi. Namun, semua itu tak seperti biasanya, karena mereka saling berdiam tanpa ada yang membuka suara.


Faisal, masih sangat marah atas apa yang terjadi tadi malam sampai membuat dia tak bisa tidur. Dan, sama halnya dengan Valdes dia juga merasakan kegelisahan di dalam hatinya. Setelah Daddy'nya mengatakan hal itu.


Vanandya dan hazel saling berbisik satu sama lain. Karena, salah satu di antara mereka tidak ingi. menanyakan hal yang semalam kepada bunda'nya.


"Ayolah, kak katakan kepada bunda?" ucap, vanandya.


"Tidak, sebaiknya kamu aja. Karena kamu adalah anak bontot dan anak tersayang mereka." ucap hazel.


"Lah, apa hubungannya dengan hal itu? Kakak, kan yang lebih tua, jadi kakak yang katakan?" ucap Vanandya.


Mereka, pun terus beradu argumentasi. Karena salah satu di antara mereka tidak ingin ada yang mengalah untuk membicarakan tentang kejadian yang semalam kepada bunda'nya z sampai Oma Eleanor. Melihat, keduanya saling berbisik.


"Vanandya, hazel apa ada yang ingin di katakan?" ucap Eleanor kepada cucunya.


"Hm...Anu.. Sebenarnya, kamu ingin....."

__ADS_1


__ADS_2