CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 120


__ADS_3

Seorang pria berlari dengan tatapan sedih, syok dan hancur. Ia saat itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Namun, kakak iparnya baru saja mengabari kalau mami'nya meninggal. Di sepanjang koridor rumah sakit ia terus saja menangis, tak perduli dengan tatapan para perawat, dokter dan para pasien. Baginya itu tidak penting yang terpenting sekarang adalah ia ingin melihat kondisi sang mami.


Saat ia melihat seluruh Keluarga'nya sedang berkumpul di depan ruangan, ia berteriak dengan sangat kencang memanggil nama mami'nya.


"MAMIIIII!!!" teriak Axel yang sangat menggema di penjuru koridor rumah sakit.


Ia lalu masuk kedalam kamar yang menjadi perawatan sang mami. Namun, saat dirinya membuka pintu ia tidak mendapati sang mami di dalam kamarnya. Varisa, yang melihat itu juga merasa sedih dengan rasa memperihatinkan ia memeluk tubuh Axel dengan sangat erat. Ia, menenangkan hati Axel agar tetap tenang.


"Sayang, kamu yang sabar ya?"


"Enggak Bun, pasti kalian ngeprank aku kan?" ucap Axel dengan suara lemah. Ia tak percaya kalau mami'nya pergi meninggalkan dirinya.


Varisa menggelengkan kepala. "Kami tidak ngeprank kamu sayang. Kami, juga sangat terkejut dan terpukul atas kematian sonya." ucap varisa.


Axel pun terjatuh karena kakinya tak bisa menopang lagi, ia sudah terlalu lemas mendengar berita mengejutkan ini. Varisa yang memeluk axel pun juga ikut terjatuh. Dan, Axel pun menangis di pelukan sang varisa.


Hal itu pun membuat mereka yang melihat merasa sedih karena, mereka tak pernah melihat axel menangis, bahkan yang mereka lihat Axel adalah seorang pria yang kuat dan tangguh. Tapi, saat ini mereka melihat seorang Axel yang sangat rapuh.


"Memang, sakit hati seorang lelaki adalah di tinggal sosok seorang ibu, kita melihat Axel adalah seorang pria kuat dan tangguh tapi Axel yang di tinggal ibunya merasa rapuh dan hatinya hancur." gumam vanandya. Yang, masih bisa di denger oleh keluarga dan suaminya.


Valdes yang melihat itu, tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Ia tak menyangka kalau Axel mengalami hal seperti itu. Ia, yang melihat Axel menjadi teringat akan sosok ibunya.


"Belajar lah menerima keadaan, kamu harusnya bersyukur kalau kamu masih bisa melihat ibu."ucap vanandya kepada Valdes.


Lagi-lagi perkataan istrinya mampu menggores hatinya, ia sangat menyesal akan apa yang sudah ia lakukan terhadap ibunya.

__ADS_1


Para petugas yang memandikan dan memberikan kain kapan kepada Sonya pun sudah siap. Dan peti mati sudah disiapkan, saat ini tugas terakhir mengebumikan jenazah sonya, tentunya dengan persetujuan dari keluarga mereka.


***


Semua keluarga saat ini sudah berada di pemakaman, yang menemani sonya pulang ke rumah sesungguhnya.


Mavin dari tadi termenung di hadapan gundukan tanah yang banyak taburan bunga di pusaran sang istri. Ia ingin sekali menyusul sang istri, jujur saat ini dirinya sangat kesepian tanpa sosok seorang istri. Ia di temani kedua anaknya, yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing.


Hujan, tiba-tiba saja turun membasahi bumi dan kuburan sonya. Mavin yang masih disitu pun kehujanan.


"Sayang, kenapa kamu pergi meninggalkan aku. Kita sudah berjanji akan menemani satu sama lain. Tapi kamu melanggar janji itu untuk menemani sampai akhir hayat." batin mavin.


Dirinya sangat hancur saat sang tulang rusuknya pergi dari sisinya. ia benar-benar kehilangan cahaya hidupnya, dengan kepergian sang istri.


Faisal yang hujan turun membasahi bumi menyuruh istrinya untuk segera pulang, karena gak baik buat kesehatan anaknya. Kimberly pun menurut saja, ia juga mengajak ayahnya untuk ikut pulang, tapi dia menolak,


***


Saat ini rumah keluarga lacerta terasa sangat sepi. Ada sebagian hilang salah satu anggota mereka, Eleanor hanya diam ia masih merasakan kesedihan yang mendalam.


Saat mereka sedang terduduk dengan perasaan terpukul datanglah seorang pria memasuki mansion dengan lemah, seperti tak ada semangat hidup.


"Papa, opa.!!" teriak gadis kecil dengan riang, gadis kecil itu pun berlari ke arah papinya dengan senyum yang mengembang.


Axel dan mavin yang mendengar suara teriakan seorang gadis kecil pun melihatnya dengan sedikit tersenyum. Axel lalu memeluk tubuh anaknya.

__ADS_1


"Papi dari mana saja? ala melindukan papi." ucap gadis kecil di pelukan sang papinya.


"Papi, juga sangat merindukan putri papi." ucap Axel.


"Papi tau.." ucap ara terpotong oleh suara sang Axel, dengan menggendong putrinya untuk duduk di ruang keluarga. "Papi gak tau sayang,"


"Dengelin dulu papi." ucap ara dengan nada cemberut karena perkataannya di potong oleh papinya. Dan, dengan ekspresi ara, membuat keluarga tersenyum akan tingkah ara. Mereka merasa bahagia sejenak karena ada ara di samping mereka.


Mavin yang ingin sekali menggendong cucunya pun meminta kepada putranya. "Xel, boleh papi gendongan?" ucap mavin. Lalu di angguki oleh Axel, ia pun menyerahkan Ara kepada papinya.


Setelah ara berada di pangkuan mavin ia bertanya kepada cucunya, karena dirinya ingin mendengarkan cerita dari sang cucu.


Ara, menceritakan kalau tadi malam ia bermimpi dengan seorang wanita yang sangat cantik menggunakan baju berwarna putih, dia tersenyum kepada ara, dan wanita yang berada di mimpi ara mengatakan kepada ara. 'Ara, kamu sangat cantik sayang.. Oma senang memiliki seorang cucu seperti kamu? Jika saja waktu Oma di dunia masih banyak pasti Oma ingin bermain dengan kamu sepuas Oma. Oma harap kamu menjadi wanita yang sangat hebat saat besar nanti.' Itu adalah perkataan dari wanita Ang tak lain adalah sonya dia mendatangi mimpi cucunya.


Di mimpi itu, Ara merasa sedih lalu memeluk oma'nya dengan tangan mungilnya. 'Oma gak perlu sedih, pasti kita akan bertemu lagi.' ucap ara yang membuat wanita itu tersenyum, lalu ia melepaskan pelukannya dari Ara dan perlahan demi perlahan sosok wanita itu menghilang di makan cahaya.


Mendengar cerita dari Ara membuat mereka termenung, mereka sangat yakin kalau sonya mendatangi mimpi ara. Karena sonya sangat mengharapkan memiliki seorang cucu. Tapi, saat keinginan sonya terwujud dia sudah terlebih dulu di panggil sang maha kuasa.


Karena hari sudah semakin sore, vanandya dan hazel menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Dan, memasak bersama, sampai tidak terasa malam tiba.


Karena sudah waktunya makan malam, Vanandya dan hazel menyajikan hidangan yang mereka masak ke meja makan, dengan di bantu oleh para pelayan. Satu persatu pun keluarga berkumpul di meja makan, tapi tidak dengan mavin dia masih berada di kamarnya.


Eleanor lalu menyuruh ara untuk memanggil opa mavin untuk turun dari kamar. Ara pun mematuhi perintah dari eyang Eleanor,


Setelah mereka turun mereka pun menikmati makan malam dengan tenang tanpa ada yang bersuara sedikit pun.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku salah.."


__ADS_2