CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 230


__ADS_3

Semua orang yang mendengar perkataan sang direktur merasa terkejut karena dia berani berkata seperti itu kepada CEO mereka. Bahkan dia terang-terangan meminta jabatan sebagai seorang CEO di perusahaan VND GROUP.


Valdes dan Vanandya tertawa sinis dengan apa yang di katakan oleh direktur mereka. Dia tidak setuju kalau vanandya di jadikan CEO tapi setelah vanandya mengatakan kalau direktur akan di angkat menjadi CEO dia langsung terlihat sangat bahagia.


Valdes pun menyela pembicaraan mereka, karena posisi Valdes xi perusahaan VND GROUP tidak kalah penting karena dia juga memiliki saham terbesar di perusahaan VND GROUP. Jadi ia berhak menentukan siapa yang menjadi pemimpin.


"Cih, tidak segampang Ferguson karena perusahaan ini di dirikan oleh istriku dan eyang wangsami Harjo jadi, yang berhak atas singgasana VND GROUP adalah Vanandya bukan dirimu, kau hanya tikus jalanan yang berkerja di perusahaan ini!" ucap Valdes menekan setiap perkataannya.


"Brengsek! Siapa anda berani ikut campur dalam masalah perusahaan VND GROUP?" tanya sang direktur. Yang tidak menyukai dengan apa yang di katakan oleh Valdes.


" Siapa aku? Aku adalah pemegang saham terbesar di sini setelah istriku," ucap Valdes.


"Cih teryata hanya suami yang berada di bawah kekuasaan sang istri," ejek direktur utama.


Yang mengetahui kalau Valdes hanya berlindung di bawah kekuasaan Vanandya, apa lagi yang tau kalau vanandya adalah pemilik dari perusahaan VND GROUP.


"Dan, sebaiknya kamu pulang saja urusi pekerjaan rumah, karena suami yang tidak memiliki jabatan lebih baik mengurus kebun dan kau wanita tidak pantas menjadi seorang CEO kamu lebih pantas di rumah." sambung sang direktur.


"Hai tuan, apa anda tidak memiliki televisi di rumah sampai-sampai anda tidak mengetahui siapa kami? Oh jangan bilang anda tinggal di kolong jembatan yang tidak memiliki listrik sampai tidak mengetahui siapa kami?" ucap Valdes walau terkesan santai tapi memiliki perkataan yang mengejek.


Tanpa di sadari direktur utama mengepalkan tangannya dengan kuat ia tidak terima jika dirinya di rendahkan oleh Valdes di depan orang banyak apa lagi di tempat itu banyak petinggi Perusahaan dan berapa staf lain'nya.


"Anda punya ponsel kan? Sebaiknya anda ketik nama Valdes Hutabarat Marquez dan vanandya nayesha lacerta, karena di situ kau bisa tau siapa kami sebenarnya." sambung Valdes.


Ia tidak akan membiarkan istri dan keluarganya di hina oleh direktur di perusahaan VND GROUP.


Dan benar setelah Valdes mengatakan itu sang direktur langsung merogoh kantong celana dan mengambil ponsel yang berada di dalam saku celana.


Sesuai arahan dari Valdes ia mengetik nama yang di sebutkan oleh Valdes, dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui nama tersebut adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia. Karena keluarga Marquez adalah keluarga nomer satu di dunia dan keluarga lacerta adalah keluarga nomer dua.

__ADS_1


Ponsel yang semula di pegang erat oleh direktur langsung terjatuh saat mendapati kebenaran tentang siapa sebenarnya mereka.


"Ja-jadi mereka adalah putra mahkota dari Marquez dan putri mahkota dari lacerta?" gumam direktur.


Namun, ia langsung mengembalikan ekspresi terkejutnya menjadi datar dan arogan. Walaupun mereka adalah putra dan putri mahkota tapi dirinya tidak akan pernah bersujud di kaki mereka.


"Cih, hanya berita hoax saja bangga. Dan kau nona sebaiknya kau serahkan saja jabatan CEO mu kepadaku karena seorang wanita tidak pantas menjadi CEO." ucap direktur.


"Sepertinya tidak akan pernah terjadi. Dan bersiaplah keluar dari perusahaan ku sekarang.!" ucap vanandya dengan tegas.


Vanandya lalu memerintahkan sekertaris'nya memanggil satpam untuk mengeluarkan direktur utama dari perusahaan dirinya. Ia juga meminta membuat surat pemecatan terhadap direktur utama.


Sekertaris pun mengiyakan permintaan dari bos besarnya. Ia tidak ingin bernasib sama seperti direktur.


"Baiklah rapat kali ini sampai disini. Dan mulai sekarang aku lah yang akan menjadi pemimpin kalian lagi, setuju atau tidaknya itu terserah kalian semua, saya tidak perduli.!" ucap vanandya.


Setelah mengatakan itu Valdes membawa sang istri keluar dari ruang meeting dan mereka akan makan siang di luar.


"Sayang aku ingin makan ayam bakar di pinggir jalan?" ucap vanandya dengan manja.


"Tapi sayang itu tidak sehat sebaiknya kita makan di restoran saja ya?" ujar Valdes, yang tidak setuju jika makan di pinggir jalan.


Vanandya pun berubah menjadi cemberut karena Valdes tidak menuruti keinginannya untuk makan ayam bakar di pinggir jalan, padahal ia sangat menginginkan makan di tempat seperti itu.


Melihat istrinya yang cemberut Valdes hanya bisa menghela nafas panjang dan membuang nafas dengan kasar. Mau tidak mau valdes menuruti keinginan vanandya makan di pinggir jalan.


"Baiklah honey, jika kamu mau kita akan makan di tempat yang kamu mau," ucap pasrah Valdes.


Seketika itu juga vanandya langsung tersenyum saat suaminya menyetujui keinginan dirinya untuk makan di pinggir jalan.

__ADS_1


Mereka pun berkeliling mencari ayam bakar di pinggir jalan, sampai berapa saat mencari Valdes menemukan rumah makan tersebut. Dan keduanya pun turun dari mobil.


Tempat yang sangat sederhana. Namun terlihat sangat bersih tidak ada sampah atau kotoran di warung tersebut. Tapi kekurangannya hanya satu, tidak ada meja atau kursi di tempat itu.


Sampai Valdes menatap dengan kebingungan jika tidak ada kursi lalu mereka akan makan di mana?


"Sayang disini tidak ada meja makan? Lalu bagaimana kita bisa makan jika tidak ada kursi?" ucap Valdes yang masih bisa di dengar oleh pemilik warung tersebut.


"Tuan, kami memang tidak menyediakan kursi tapi kalian bisa duduk di lantai karena nama warung kami adalah warung lesehan jadi kalian duduk di lantai," ucap pemilik warung dengan ramah.


Valdes menganga lebar mendengar perkataan sang pemilik warung, jadi mereka tidak bisa makan di kursi? Valdes tidak bisa makan di lantai, ia meminta kepada Vanandya untuk tidak makan di tempat ini. Namun vanandya langsung menarik tangan Valdes ia membawa Valdes duduk di dekat kolam ikan.


"Buk, kami pesan ayam bakar dua porsi dan es teh dua kelas ya buk," ucap vanandya.


"Baik nyonya tunggu sebentar kami akan membutuhkan pesanan," ujar sang pemilik warung lesehan.


"Oh iya buk, sama mendoan hangatkan satu porsi." sambung Vanandya.


"Sayang, kenapa mau makan di tempat seperti ini?" tanya Valdes dengan lirih.


"Diam tinggal nikmati saja, karena makan di tempat seperti ini sangat nikmat," ucap Vanandya.


Setelah berapa lama menunggu, pesanan Vanandya pun sudah jadi dan para pelayan menyajikan pesanan Vanandya di meja.


Valdes yang memang kesal karena makan di tempat seperti itu pun meminum air yang berisi jeruk nipis di dalam mangkuk, sampai semua orang yang berada di tempat itu menatap heran ke arah Valdes.


"Sayang apa kamu tau apa yang kau minum?" tanya vanandya.


"Tidak" ucap Valdes dengan kesal.

__ADS_1


"Yang kau minum adalah air untuk cuci tangan." ucap vanandya dengan pelan.


BYURRR.


__ADS_2