CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 196


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari istrinya, membuat Hendrik salut Kepada, karena, istrinya bilang kalau keluarga lacerta, tidak perlu membalas kepada keluarga Marquez. Hal, itu akan memicu kebencian terhadap kedua keluarga. Dan, itu tidak akan pernah mengakhiri konflik kedua keluarga.


Setelah, menunggu lama Artamevin, datang dengan wibawanya. Dia, sangat mencemaskan putranya, yang masuk rumah sakit. Karena, dia tidak ingin Putranya mengalami sama seperti putri dan istrinya. ia sudah banyak kehilangan orang-orang tersayangnya. Dan, sekarang dia tidak ingin lagi kehilangan.


"Kakak, gimana kondisi axel? Apa, dia baik-baik saja atau dia..?" kata Mevin yang langsung di potong oleh Hendrik, dia mengatakan kalau Axel tidak kenapa-kenapa dia hanya kekurangan cairan dan nutrisi jadi Axel menjadi sangat lemas.


Mendengar, itu mevin sangat marah dia ingin membalaskan rasa sakit hatinya kepada keluarga Marquez, karena mereka keluarga dirinya hancur. Bahkan, dia harus melihat anak-anaknya hancur seperti ini.


Namun, Hendrik menenangkan adik iparnya. Jika, adik iparnya melakukan dengan balas dendam maka semua permasalahan tidak ada ujungnya. ia meminta kepada mevin untuk berusaha tenang, menyuruh menghadapi masalah dengan kepala dingin..


Lantas mevin terdiam mendengar perkataan dari Hendrik, memang benar apa yang terlah di katakan oleh Hendrik benar apa adanya jika mereka melakukan pembalasan dengan cara yang sama. Maka, permasalahan tidak akan pernah selesai.


"Apa, yang kakak katakan benar, memang aku harus menghadapi masalah dengan kepala dingin, agar semua tidak berdampak kepada masa depan cucu-cucu ku." ujar mevin, yang sudah tenang dari kemarahan. Dia, lalu duduk di kursi penunggu. Karena, hari sudah sangat malam, ruangan itu sudah sangat sepi. Bahkan, sudah tidak ada orang yang berlalu lalang. Mereka, susah berada di ruang perawatan masing-masing.


Karena, sedikit tidak nyaman, mereka pun langsung masuk kedalam kamar perawatan Axel. Yang, sangat luas bahkan ada sofa nya.


"sayang, sebaiknya. Kamu tidur karena hari sudah sangat larut, tidak baik buat kesehatan. Dan, Axel biar kami yang menjaga " kata Hendrik meminta varisa untuk tidur di sofa panjang, kira-kira, sofa itu sangat pas buat varisa istirahat,


"Tapi, kalian?" tanya varisa.


"Kakak, tidak perlu memikirkan kamu karena kami bisa begadang sambil minum kopi agar tidak mengantuk. Dan, kami juga yang akan menjaga Axel. Jadi, kakak tak perlu khawatir." ucap mevin. Tadinya, mevin menyuruh kakak iparnya untuk pulang saja karena sudah malam. Tapi, mereka tidak ingin pulang, mereka ingin menemani Axel di rumah sakit.


Mereka, belum mengabari orang tua mereka bahwa Axel masuk rumah sakit, karena mereka tidak ingin mengganggu tidur mereka, jadi mereka biarkan saja. Toh, besok juga mereka akan memberi tau mereka.


"Bagaimana, putraku bisa di tangkap oleh mereka? Dan, masalah apa yang mereka lakukan kepada axel?" tanya mevin, dengan pelan takut membangunkan kakak iparnya.


Hendrik menjelaskan kepada mevin kalau Axel di tuduh sebagai pria yang menghancurkan cucu perempuan keluarga Marquez, Amira menyalahkan Axel karena Axel terlah menyekap Amira dengan sadis sampai Amira tidak makan dan minum selama berhari-hari.


Dan, hal itu lah vinton melakukan hal yang sama terhadap Axel. Mereka menggunakan cara yang di gunakan Axel menyekap Amira. Padahal selama ini Axel tak pernah mengusik ketenangan keluarga mereka.


Mendengar, penjelasan dari Hendrik mevin. Terdiam, jadi keluarga Marquez menuduh Axel karena terlah menyekap Amira, padahal itu tidak sama sekali.

__ADS_1


"Sepertinya, Axel mempunyai rahasia besar terhadap keluarga Marquez?" ujar hendrik kepada mevin.


"Rahasia, apa yang di miliki oleh axel? Selama kami tinggal bersama Axel tak pernah cerita." tanya mevin, yang tak mengerti akan apa yang terlah di sembunyikan dari dirinya.


"Axel, mengetahui kalau Amira bukan anak dari keluarga Marquez, " ucap Hendrik.


"Kenapa, kamu bisa yakin kalau Amira bukan anak dari Rebecca dan Victor?" tanya mevin.


"Axel, sendiri yang cerita. Namun, sebelum Axel menceritakan semuanya kalau dia mempunyai bukti kuat untuk membuktikan semuanya, dia sudah pingsan, terlebih dulu." ujar Hendrik.


Jam, demi jam. Sudah tak terasa hari sudah pulai pagi. Dan, Axel sudah memulai membuka matanya. Dia, melihat papi, ayah dan bundanya berada di depannya,


"Papi?" panggil Axel dengan lirih.


Mevin, yang sedikit kelelahan karena tidak tidur langsung terbangun mendengar suara anaknya memanggil dirinya, ia pun mendekati putranya.


"Son, gimana keadaan kamu apa kamu merasakan sakit?" tanya mevin, lalu mevin memberikan air minum kepada Axel. Dan, Axel pun meminumnya.


"Aku, tidak apa-apa Pih. Aku, kan anak kuat jadi aku tidak akan kenapa-kenapa." ujar Axel.


**


Sementara di perkampungan, sepasang suami-isteri sedang melakukan olahraga pagi, mereka berlari dari kampung ke kampung, karena tempat yang sangat menyejukkan membuat mereka betah berada di situ.


Saat, merek sedang berjoging, mereka bertemu sepasang suami-isteri yang juga sedang berjoging. Dengan, seorang anak perempuan.


"Eh, ada warga baru." ujar seorang wanita, kepada vanandya, yang sedang berjoging.


"Iya, nih. kenalkan saya Vanandya dan ini suami saya Valdes." ujar vanandya, memperkenalkan diri.


"Dan, kenalkan juga saya..."

__ADS_1


***


Di kediaman marquez, mereka sedang menikmati sarapan paginya dengan diam, tanpa ada yang berbicara sedikitpun kepada satu sama lain. Bahkan, mereka masih sangat kesal kepada keluarganya, karena prihal kemarin malam.


Twins dan anak-anak yang lain, merasa kesal karena keluarga mereka selalu berdiam'an seperti tidak ada nyawa.


Hiks..Hikss..Hikss.! Seorang, anak laki-laki sedang menangis, karena merindukan Daddy'nya. Karena, tempat ini sangat membosankan mereka seperti patung hidup.


Rebecca, yang sedang makan terkejut mendengar cucunya menangis, ia pun bertanya kepada vagas. Yang, menangis tanpa sebab.


"Son, kamu kenapa menangis hm?" tanya Rebecca, yang membuat keluarga menatap ke arah vagas.


"Aku, merindukan Daddy dan mommy. Pasti saat ini mereka sedang liburan dan aku di sini seperti di rumah hantu." ujar vagas, kepada keluarganya.


Seluruh, keluarga melihat kearah vagas, mereka tak mengerti apa yang terlah di ucapkan oleh vagas. Yang, mengatakan seperti rumah hantu. Lalu, vinton menimpali pembicaraan Rebecca dengan vagas.


"Vagas, kenapa kamu berkata kalau disini seperti rumah hantu?" tanya vinton kepada vagas.


"Karena, kalian selalu diam-diaman, jadi rumah'nya terlihat seperti rumah hantu. Sangat sepi," ujar vagas.


Mereka, lalu mengganggu kan kepala mereka mendengar apa yang terlah di ucapkan oleh vagas.


"Bocil, gimana kalau kalian Ikut om saja," ujar Vernon menimpali pembicaraan mereka.


"Kemana om?" tanya vagas.


"Hm kemana yaaa? Gimana, kalau kalian ikut om ke markas om di sana ada banyak anggota om yang akan balapan." ucap Vernon.


Vagas, yang sedang bersedih seketika langsung bergas. Karena, ia akan di ajak ke markasnya om Vernon. Ia, pun langsung mengiyakan ajakan Vernon.


***

__ADS_1


Di satu sisi. Seorang pria sangat terkejut melihat sebuah bingkai. yang sangat usang.


"Ibu, jawab aku siapa orang...?"


__ADS_2