CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 138


__ADS_3

Vanandya, segera melaksanakan perintah dari Oma, Eleanor. Ia lalu ke dapur untuk melakukan perendaman kalung ke air minum. Setelah, di rendam selama satu jam, vanandya membawanya ke kamarnya, vanandya melihat Valdes sedang tertidur dengan kaki dan tangan terikat, dia lalu mendekati Valdes,


Valdes, merasakan ada seseorang mendekati, pun membuka matanya dia mendapati istrinya sedang duduk di sebelahnya. Dan, Valdes berteriak kepada vanandya untuk menjauh dirinya, karena dia hanya boleh di dekati oleh Yolanda wanita di dalam ingatannya.


Vanandya, merasakan sesak di bagian hatinya. Karena mendengar perkataan dari suaminya, walaupun dia sedang dalam pengaruh pelet, tapi itu menyakitkan baginya. Tanpa, berlama-lama, vanandya menyuruh Valdes meminum air rendaman kalung.


Awalnya Valdes menolak, tapi karena perkataan vanandya bahwa air itu di berikan oleh Yolanda, mau tidak mau Valdes menerima air minum itu. Setelah tandas tidak ada air di dalam gelas, pengaruh obat itu mulai beraksi. Bahkan Valdes merasakan kepala'nya berdenyut hebat.


Eleanor,yang melihat Valdes sudah meminum. Langsung menyuruh Vanandya untuk segera memandikan Valdes, karena ini waktu yang tepat untuk memandikan Valdes menggunakan kalung itu.


Vanandya, pun membawa Valdes kedalam kamar mandi dan membuka pakaian yang di kenakan oleh Valdes. Lagi-lagi Valdes menolak. Namun, vanandya tak kehabisan akal ia mengatakan kalau Valdes harus segera mandi agar wanita pujaannya tak merasakan bau.


Valdes, kembali menurut saat vanandya menyebut nama Yolanda, Valdes langsung melepaskan pakaiannya dan ia pun memasukkan tubuh'nya ke bathtub, tanpa di sadari oleh Valdes. Vanandya terlah memasukan kalung pemberian dari kakek itu. Dan satu jam pun sudah Valdes lakukan di dalam bathtub, dan ia merasakan tubuhnya panas dingin. "Vanandya." Satu kata yang di ucapkan oleh Valdes saat kepalanya sudah tak merasa nyeri.


Vanandya, yang mendengar namanya di panggil oleh Valdes merasa senang. Seulas senyum di bibir Vanandya mengembang. Ia sangat bahagia, suaminya kembali mengingat namanya.


**


Sementara di kediaman dukun hitam.


Seorang pria sedang terbatuk-batuk mengeluarkan darah, karena ada seorang yang melawan kekuatan hitamnya.


"Brengsek, siapa orang yang mematahkan pelet Sakti Mandra uga ku?" ucap dukun, berteriak marah karena ada seseorang yang berani mematahkan pelet yang selama ini menjadi kebanggaannya.

__ADS_1


Ia, pun langsung membaca mantra, agar pelet yang dia pasang ke tubuh Valdes tidak pudar, jika sampai terlepas maka, Valdes akan gagal menikahi wanita penyalur birahi pria. Jika, sampai itu gagal dirinya tidak akan mendapatkan lagi. Dengan, semua ilmu hitam yang dia punya, ia pun mulai membaca ritual kembali.


**


Setelah mandi, Valdes pun berpakaian menggunakan pakaian santai. Namun, sebelum ia berpakaian, vanandya menyuruhnya memakai kalung entah kalung apa yang jelas dia tidak mengetahuinya. Tapi, karena pemberian dari istrinya dia pun memakai kalung itu, yang membuat tubuhnya merasakan berkeringat dingin, bahkan sampai mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.


Vanandya, merasakan kekhawatiran yang sangat besar, kepada Valdes,karena terus saja mengeluarkan darah dan bahkan tubuh'nya mengeluarkan keringat yang sangat panas.


Eleanor, dan yang lain langsung masuk kedalam kamar mereka, mereka mendapati kalau Valdes mengeluarkan darah yang berwarna sedikit hitam. Mereka sangat khawatir dengan keadaan Valdes, tapi semua itu terlah di patahkan saat seseorang berbicara dari Belakang mereka.


"Kalian, tak perlu khawatir karena itu, adalah efek dari hatinya yang terlah menghitam ulah dukun itu. Menjadikan hati Valdes menghitam." ucap kakek tua yang mereka tau adalah orang yang memberikan kalung itu kepada Valdes.


Kakek tua, lalu berjalan mendekati Valdes, dan ia membacakan mantra agar mantra kedua dari dukun hitam itu tak kembali masuk kedalam tubuh Valdes.


"Kamu, sudah bangun sayang?" ucap vanandya kepada suami'nya.


"Memangnya, aku kenapa sayang? Apa aku melewatkan kejadian yang menimpa diriku?" tanya Valdes. Sambil memegang kepalanya.


Di tempat itu, sudah tidak ada kakek yang menyembuhkan Valdes. Karena setelah membaca mantra dan kalung yang di pakai oleh Valdes menghilang kakek itu pergi dengan hilangnya kalung itu. Namun, keluarga tak mempermasalahkan hal itu, mungkin dia adalah seorang penyelamat buat Keluarga'nya. Mereka, cuma mengatakan terima kasih kepada sang kakek tua itu.


"Tidak, kenapa-kenapa sayang. Mungkin kamu kelelahan saja jadi pingsan seperti ini." ucap vanandya.


"Kelelahan.? Apa, jangan-jangan setelah aku menggempur'mu. Aku, pingsan." ucap Valdes.

__ADS_1


Karena, perkataan itu pun mendapatkan tatapan dari anggota keluarga, yang mendengar apa yang terlah di katakan oleh Valdes,


Kedua pipi, vanandya memerah menahan rasa malu karena perkataan dari suaminya itu, "Sayang, bisa tidak kamu berhenti untuk tidak mengatakan berbau seperti itu?"


"Tidak, bisa sayang. Karena, bagiku lubangmu sangat candu buat Valdes junior. Apa, kamu ingin mengulangi kembali pergulatan panas itu sayang," ucap Valdes menggoda. Istrinya, tanpa dia ketahui kalau di kamar masih ada keluarga yang menyaksikan dan mendengar setiap perkataan yang terlah di keluarkan oleh Valdes.


"Valdes, bisa tidak diam.. Di sini masih ada keluarga kita," teriak Vanandya, yang sudah tidak bisa menahan malu, atas perbuatan suaminya itu.


Valdes, langsung melihat ke sisi sebelah kamarnya, ia sangat terkejut mendapati seluruh keluarga besarnya berada di hadapan mereka. Ia menjadi kikuk tak berdaya. Ia pun, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sayang, sebaiknya kita menghilang saja yuk?" kata Valdes dengan lirih, pasalnya saat ini dia sedang di tatap tajam oleh Keluarga'nya, bahkan ia mendapatkan tatapan tajam dari ayah mertuanya itu. Tatapan garang, membunuh mengarah kepada dirinya.


"Ayah, bunda, kakek, nenek, mama, tuan Victor, Oma, opa, papi Faisal, mami Kim, kakak, kakak ipar, vire, Tanu, Laksh, Vernon. Sejak kapan kalian berada di sini? Bukannya di tempatku cuma ada aku, istriku dan twins?" ucap Valdes. Mengabsen nama keluarganya,


"Sejak kamu berkata kotor kepada putriku dan kamu juga menyakiti putriku.!" ucap hendrik.


"Sayang, aku mengatakan hal kotor kepadamu?" tanya Valdes kepada Vanandya. Karena, setahu dirinya dia tak pernah mengatakan hal kotor ataupun menyakitinya.


Vanandya, diam saja, dia merasakan bingung harus menjawab apa, apa lagi dia masih merasakan malu atas perbuatan Valdes yang sangat ambigu. Prihal masalah ranjang,


"Sayang, ayok jawab. Aku tidak pernah menyakiti hati kamu dan berkata kotor kan? Jika benar iya, tolong maafkan aku. Aku gak tau kamu tersakiti oleh perkataan ku." ucap valdes, dirinya sangat gelisa karena vanandya terus diam. Bahkan tidak mau mengatakan sesuatu agar dirinya tenang.


Vanandya, mendengar suaminya meracau, dan terus saja meminta maaf. Vanandya, pun langsung menenangkan Valdes, kalau dia tidak bersalah dia tak pernah mengatakan hal apapun untuk menyakiti dirinya.

__ADS_1


"VALDESSSS...!!"


__ADS_2