Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 65


__ADS_3

"Selamat pagi, Ly."


Jika sudah takdir, maka semuanya akan kembali pada tempatnya semula.


Sejauh apapun dia pergi, seberapa sering pun ia melarikan diri, sesering apapun mereka pergi, pada akhirnya ada waktu di mana semuanya harus dan pasti akan kembali.


Penantian Ily terbayarkan sudah ketika ia membuka gerbang rumahnya dan disambut Yohan dengan senyum yang tak pernah tampak selebar dan seringan itu. Ily balas tersenyum haru, Yohan bahkan tak memberitahukannya bahwa ia sudah pulang. Diberi ucapan selamat pagi tiba-tiba seperti ini membuat perasaan Ily menjadi tak keruan.


"Ini ... bukan mimpi, kan?" Ily bertanya pelan sekali, tenaga seperti sudah dihabiskan karena terkejut sampai bahkan tak bisa bersuara jelas.


Yohan tersenyum dan saat tangannya menyentuh bahu Ily untuk selanjutnya dibawa dalam sebuah pelukan erat sarat kerinduan, Ily sudah yakin bahwa pada detik ini, dia tak bermimpi.


Laki-laki ini benar-benar kembali.


Hangat dan wangi. Ily benar-benar rindu dengannya. Ily memejamkan matanya dalam pelukan erat itu.


"Kamu ... nggak akan pergi lagi, kan?" Ily bertanya begitu saat membalas pelukan Yohan dengan erat, seolah tak mau lepas.


Yohan tertawa kecil sebelum membalas. "Nggak, Ly. Aku nggak akan pergi lagi."

__ADS_1


"Cius?" tanya Ily dengan nada yang diimut-imutkan supaya Yohan tak main-main lagi dengan kata-kata. "Aku sedih kalau kamu berbohong."


"Sekarang aku berani berjanji sepenuh hati kalau aku nggak akan pergi lagi." Yohan melepas pelukan mereka dan hal itu membuat wajah Ily sedikit sedih sebab harus melepaskan kehangatan yang membuatnya nyaman sebelumnya. Yohan melakukan itu untuk menatap mata Ily lurus-lurus, menandakan seberapa seriusnya ia sekarang. "Cius, Ly."


Mendengar betapa imut dan lucunya Yohan sekarang, Ily benar-benar berusaha kuat untuk tak tertawa dalam suasana serius yang Yohan ciptakan. Yohan memang serius, namun kata-kata yang laki-laki itu pakai justru sebaliknya.


Jelas, semula Ily kira Yohan bercanda membalasnya, namun ketika melihat wajahnya masih serius dan mata penuh kebulatan tekad, Ily paham Yohan tak sedang bercanda kini.


"Waktu aku liat kamu, aku gakuna, Ly," kata Yohan kemudian. Membuat Ily mengerjapkan matanya dengan bingung atas tafsiran dari kata-kata yang dikeluarkannya.


Dari mana Yohan tahu singkatan kata dari 'nggak kuat nahan'? Jika bukan Elvan, maka kemungkinannya Eza yang memberitahu.


"Aku gakuna buat," Yohan mengambil kedua tangan Ily untuk digenggam erat hingga membuat jantung Ily berdegup kencang dengan pikiran mulai berkeliaran liar. Yohan tersenyum manis, sangat manis hingga membuat Ily bisa diabetes di tempat. "Halalin kamu, Ly."


Tahu-tahu, Yohan mengambil dua benda berbentuk lingkaran berwarna perak seukuran jari dari saku celananya. Ily membulatkan matanya, menarik salah satu tangannya untuk menutup mulut yang menganga karena sangat terkejut.


"Yohan...."


"Kenapa, Ly?" Tanpa meminta persetujuan atau berkata apa-apa lagi, Yohan memakaikan salah satu cincinnya pada jari manis tangan kiri Ily. Cincin itu pas di jarinya. Tampak cantik dengan sederhana karena cincin yang dipilih Yohan hanya miliki satu permata kecil di atasnya.

__ADS_1


"Yohan...," kata Ily, tak sanggup berkata-kata lagi.  Melihat jari di salah satu tangannya kini terdapat hiasan yang bukan hanya sekedar hiasan, itu adalah sebuah tanda bahwa ia memiliki seseorang di sisinya.


Memiliki seseorang yang akan melalui kehidupan ke depannya.


Yohan mengembuskan napas kecil, menatap Ily dengan lembut. "Kenapa Ly?" tanyanya lagi. Kemudian mengambil tangan kanan Ily untuk ia taruh satu cincin lagu di atas telapak tangannya.


"Kalau kamu menerima, pasangkan cincinnya pada jariku," kata Yohan kemudian, menyerahkan tangan kirinya pada Ily.


Sebenarnya, seharusnya, Yohan tak perlu merasa cemas Ily akan menolaknya. Namun, pikiran untuk tak diterima dan rasa gugup masih menyerangnya kini. Yohan semakin frustasi kala Ily sangat lama untuk berpikir.


"Ly," tegur Yohan kala Ily tak kunjung melakukan apa yang diharapkan.


Ily menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya pelan-pelan. Dengan tangan bergetar gugup, Ily memasangkan cincin yang semua diberikan oleh Yohan pada jari manis tangan kiri laki-laki itu.


Senyum Yohan tertarik lebar, tanpa basa-basi, ia memeluk Ily erat sekali.


Tanpa dua insan itu sadari, dari depan rumahnya, ibu Yohan melihatnya dengan air mata haru dan hati yang membuncah bahagia. Sementara di seberang itu, di depan rumahnya pula, ayah dan ibu Ily saling merangkul sebab bangga melihat pemandangan di depannya.


Anak mereka telah tumbuh besar dan menjadi kekuatan bagi masing-masing untuk saling melengkapi.

__ADS_1


***


__ADS_2