
"Huaaaaaaa." Tangis Reisya semakin keras. Kepalanya kini terangkat dan perempuan itu tak sungkan-sungkan memperlihatkan wajah menangisinya dengan bibir lengkap melengkung ke bawah.
Bukannya jelek, justru Reisya masih cantik. Luhan sangat terpesona sekarang ini.
Ketika Luhan mau membuka mulutnya untuk mengatakan bahwa apa yang dilihat Reisya tadi di kantin tak seperti bayangannya hingga membuatnya menangis. Meski sangat disayangkan, Luhan memanfaatkan momen ini. Reisya menangis karena dia cemburu pada Clara dan cemburu artinya cinta.
Luhan bisa bahagia karena ternyata perasaannya pada Reisya berbalas.
Ketika akhirnya Reisya bukan suara. Menjelaskan apa yang membuatnya menangis kejer seperti sekarang ini.
"Awalnya ... awalnya aku sedih karena aku .... nggak ... ada uang ... buat lomba. Buat make-up ... dan sewa bajunya." Reisya bersuara tersendat-sendat karena isakan tangisnya. "Tapi ... waktu aku liat kamu ... sama cewek lain ... dan bilang sayang juga, .... aku .... aku ... makin sedih. Jadi ... nggak tahan ... buat nangis. Huaaaa."
"Aduh," keluh Luhan merasa lucu. Dia menciptakan sebuah senyum lembut pada Reisya. Dengan kedua tangannya, Luhan mengusap semua air mata di pipi Reisya. Berkatnya, tangis Reisya mereda. "Itu salah paham, Sya. Aku sama sekali nggak bilang sayang ke dia."
Dengan mata berair dan sisa tangisnya, Reisya menatap Luhan dengan pandangan penuh tuntutan. "Terus gimana?"
"Aku cuma bilang sayang banget kalau dia jadi kasar setelah jadi mantan aku." Luhan menjelaskan dengan suara pelan. Tatapannya mendalam dan wajahnya mendekat pada Reisya dengan sebuah senyum tipis. "Jadi, bukan sayang dalam artian cinta gitu. Cuma, sayang banget, aduh gimana ya jelasinnya ... em ... menyedihkan? sedihnya? ya ... pokoknya kayak gitu, deh."
Reisya menyipitkan matanya, mencoba mencari-cari kebohongan yang siapa tau tercetak di mata Luhan. Namun, beberapa saat ia mencari, apa yang dicarinya tak kunjung ditemukan.
"Iya, iya. Aku ngerti sekarang." Akhirnya Reisya mengalah. Dia akan memahami Luhan dan berdamai dengan apa-apa yang membuatnya marah dan sedih.
Luhan tersenyum senang.
"Oh, dia mantan kamu, ya?"
"Iya." Luhan mengangguk tanpa ragu. "Dia mantan aku."
"Mantan kamu ada berapa?" tanya Reisya karena dia tiba-tiba penasaran. Selama sekolah, ia tak pernah melihat keberadaan Luhan sampai anak itu memunculkan diri padanya.
"Yang aku inget ya cuma satu." Luhan menjawab dengan nada yang entah mengapa terdengar menyebalkan di telinga Reisya. Namun, senyum manisnya mengalahkan segalanya. "Dia yang kamu lihat tadi di kantin."
__ADS_1
Reisya cemberut. Menaut-nautkan jari-jari tangannya dengan gugup. "Yang nggak kamu inget ada berapa kira-kira?"
"Kenapa jadi nanyain itu, deh?" tanya Luhan tak suka. Dia juga sebenarnya tak ingat berapa mantan yang dia punya. "Yang penting kan masa depan. Siapa yang ada di samping aku sekarang. Itu kamu."
"Soalnya kamu kayaknya punya mantan banyak." Reisya membalas dengan nada tegas dan sedih. "Jadi takut aku."
"Emang mantan kamu ada berapa?" Luhan malah bertanya balik. Penasaran juga.
Reisya sedikit berpikir. Kemudian mengangkat bahunya dengan ringan saat menjawab, "Tiga doang."
"O ... h." Luhan tak bisa berkata-kata. Keningnya mengerut samar. "Padahal kamu cantik, kok dikit mantannya?"
"Emangnya banyaknya mantan itu harus sesuai dengan kadar kecantikan atau ketampanan seseorang?" tanya Reisya dengan wajah agak kesal. Dia menatap Luhan lurus-lurus. "Menurut aku sih nggak. Justru orang yang banyak mantan itu kayak sesuatu yang buruk."
"Aduh, sakit." Luhan menyentuh dadanya dengan wajah pura-pura kesakitan.
"Hm?"
"Kenapa gitu?" tanya Reisya polos. Menganggapi anak seperti Luhan benar-benar baru baginya.
"Soalnya aku merasa orang yang aku sayang nggak balik sayang sama aku." Luhan menjawab lugas. Tanpa malu dan tanpa ragu. Matanya menyorot serius pada Reisya. "Kayaknya kamu nggak sayang sama aku, ya?"
Reisya menelan ludahnya kesar. Jadi canggung dan salah tingkah. Perempuan itu berdeham dan mengalihkan pandangannya dari Luhan, tak bisa me jawab pertanyaan itu.
Entah kenapa ... Reisya merasa ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Padahal kalau sayang, bisa langsung jadi pacar, nih." Luhan bersuara lagi. Dengan keberanian luar biasa dan kepercayadirian yang hanya dimiliki oleh kaum laki-laki sejati. "Aku bakal telepon kamu setiap malam lebih lama, temenin kamu ke mana-mana, anterin kamu selalu, bahkan aku bisa lakuin apapun yang lainnya."
Reisya membuang napas panjang. Setelah lama berpikir, akhirnya dia menoleh pada Luhan dan menatap matanya. "Aku ragu."
Mata Luhan membulat. Tak bisa berkata-kata. Meski suka berkenalan dan mendekati banyak perempuan sekaligus, Luhan bukan tipe pemaksa. Luhan bukan tipe orang yang ingin orang yang disukainya jadi miliknya bagaimana kondisi dan situasinya.
__ADS_1
Luhan bisa menerima penolakan, tetapi ya ... agak sulit baginya untuk menerima degan lapang dada.
Kini, giliran Luhan yang mengalihkan pandangannya dari Reisya. Luhan sedih, jelas itu.
"Kalau aku terima kamu, apa aku bakal menyesal?" Reisya bertanya. Sebenarnya bukan pada Luhan, tetapi pada dirinya sendiri. Pada hatinya.
Namun, yang ada di sini hanya dirinya dan Luhan. Jelas, yang menjawab pertanyaannya itu Luhan.
"Jadi, kamu ada rencana buat terima aku?" Luhan terlihat agak senang, sebab dia merasa punya sebuah harapan yang bisa membuatnya tak menerima penolakan.
"Iya." Reisya memberikan jawaban tanpa lama. Membuat Luhan menoleh dan menatap tepat di matanya dengan senyum lebar. Reisya turut tersenyum. Matanya menatap lembut pada Luhan. "Aku juga sayang sama kamu."
"Kenapa harus ragu lagi kalau begitu?" tanya Luhan dengan mata membulat penuh binar dan tekad. Senyumnya makin lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya.
Tanpa izin, Luhan mengambil kedua tangan Reisya dan menggenggamnya dengan erat. "Kita cocok, lho!"
Reisya terdiam agak lama, namun tak mengalihkan pandangannya atau melepas tangannya dari genggaman Luhan. Dia menatap Luhan, mencari keseriusannya.
Hingga kemudian, Reisya memutuskan, "Kalau gitu, coba bikin ragu aku hilang."
"Aku harus gimana biar ragu kamu hilang?" tanya Luhan cepat.
"Aku mau kamu biayain sewa baju sama make-up aku buat lomba."
Luhan sedikit terkejut. Membuat Reisya tersinggung karena Luhan menatapnya seperti perempuan matre yang harus dijauhi.
Namun, balasan Luhan selanjutnya mengejutkan Reisya, "Be-berapa emangnya?"
Meski terdengar ragu, tapi Luhan menyuarakannya. Bahwa dia bisa sanggup untuk melakukan apapun untuk Reisya.
Jadi, Reisya menjawab, "Tujuh ratus ribu."
__ADS_1
***