Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 28


__ADS_3

"Udah selesai?"


Lili berdecak saat ditanya Theo begitu. Gema sudah bersiap-siap untuk pulang, sementara Lili masih menuliskan tugas Theo di bukunya dan baru saja Theo bangun dari tidurnya setelah guru yang mengajar telah pergi.


"Liat aja, nggak usah pake nanya. Bikin kesel aja."


Gema masih terkejut Lili bisa berkata sejutek itu. Secara, Theo adalah Singa-nya sekolah. Alias raja rimba. Gema saja kini merasa ketakutan dan terancam.


"Li, gue balik duluan, ya. Ibu marah kalau gue pulang telat," pamit Gema.


"Iya, hati-hati," balas Lili.


Setelahnya, Gema pergi menyusul anak kesal lainnya yang telah keluar kelas lebih dulu sejak bel pulang berbunyi.


"Cepetan. Gue mau pulang."


"Bentar napa. Dikit lagi." Lili fokus menulis lagi, agar bisa lebih cepat selesai.


Tak butuh waktu lama, lima menit kemudian, Lili selesai melakukan dua rangkuman dari dua materi berbeda di dua buku tugas Theo. Lili menyerahkan dua buku itu pada Theo dengan wajah lelah.


"Nih, udah beres dua. Tiga lagi besok, ya. Pegel gue."


Lili langsung bangkit dan memakai tasnya. Ketika dia akan pergi, Theo bersuara.


"Lo nggak mau denger cerita gue?"


Lili langsung berbalik, menepuk keningnya pelan. "Ajig, gue lupa." Lili membuang napas panjang. "Tapi hari gue gue capek banget. Besok bisa, ya?"


"Besok udah kedaluwarsa."


"Mulai lagi lo," decal Lili tak suka. Dia kembali duduk dan membuka tasnya, mengambil sebuah buku catatan yang berisi tentang kebutuhannya dalam menulis. "Aduh, emang, ya--"

__ADS_1


"Kalau lo capek banget, kita pulang aja."


"Lah?" Lili dibuat kebingungan, menatap Theo dengan mata membulat. "Kita?"


"Gue anterin ke rumah lo dan gue ceritanya di sana."


"Hah?"


"Ayo."


"Heh, he, he, he, Theo!" seru Lili secara dengan cepat memasukkan kembali buku catatan ceritanya dan menggendong tasnya untuk berlari menyusul langkah Theo yang sudah duluan. "Theo, heh, jelasin dulu napa!"


Di koridor, Lili berlari cepat dan menepuk pundak Theo hingga laki-laki menoleh tanpa menghentikan langkahnya.


"Kok baik?" tanya Lili dengan senyuman senang. Meski masih bingung dalam benaknya.


"Gue jahat dikatain, gue baik ditanyain," balas Theo malas.


Theo tampaknya terganggu, dia balas menyenggol tubuh Lili tanpa ragu dan membuat tubuh Lili terpental hingga jatuh karena tak kuat menyeimbangkan badannya.


"Aduh! Heh, Theo!" seru Lili kesal. "Heh!"


Theo berjalan tak peduli, memasukkan tangannya ke kedua saku celananya. Meninggalkan Lili yang jatuh terduduk.


"Ish," gerutu Lili seraya bangkit berdiri lagi. Sebenarnya tak sakit, namun Lili terkejut. Dia disenggol Theo sampai kaca matanya hampir jatuh dan laki-laki itu sama sekali tidak meminta maaf. "Baru aja gue anggap dia baik hati, taunya masih sama aja. Jahat sadis."


Lili baru bisa menyusul langkah Theo ketika telah tiba di parkiran. Theo menaikki motornya dan menyalakan mesinnya. Dia mengambil satu-satunya helm yang dia punya dan menyodorkannya pada Lili ketika perempuan itu sudah berada di dekatnya.


"Lo nggak pake?" tanya Lili setelah mengambil helm itu. "Punya nyawa sembilan, emangnya? Sok heroik banget."


"Kalau nggak mau pake, balikin, nggak usah pake hina-hinaan," balas Theo jadi kesal karena niat baiknya dianggap buruk dan dicaci oleh Lili. "Sini helm-nya."

__ADS_1


"Nih." Tanpa diduga, Lili langsung menyodorkan helm-nya.


Kening Theo berkerut.


"Nih, kenapa nggak diambil?" tanya Lili heran karena Theo tak kunjung mengambil helm ini dari tangannya. Lili tak mengatakannya secara gamblang, namun dia khawatir pada Theo, dia tak mau Theo berkorban untuk dirinya seperti ini.


"Lo punya sembilan nyawa? Buruan naik," kata Theo dengan nada yang tak lagi mau dibantah. Laki-laki itu melakukan starter pada motornya dan membalikkan kepalanya ke depan, membelakangi Lili yang cemberut. "Katanya, yang duduk di belakang itu lebih tinggi resiko cedera parahnya saat kecelakaan daripada yang di depan."


Lili mendengus kecil, akhirnya memakaikan helm di kepalanya dan mengunci tali pengamannya. "Bisa aja ngomong begitu. Untung inget Kak Jae."


Setelahnya, Lili naik ke motor Theo dan kendaraan beroda dua itu melaju membelah jalanan.


Untuk pertama kalinya, Lili berboncengan dengan laki-laki selain Ayahnya. Iya, itu kenyataannya.


Selama itu, Lili tidak memerhatikan jalanan, justru memerhatikan tubuh bagian belakang Theo. Laki-laki itu punya tubuh tegap dengan bahu yang lebar. Wanginya yang terbawa angin tercium asing di hidung Lili, tapi membuat jantungnya berdebar lebih dari biasanya.


Tau kan ya kenapa.


Theo itu ganteng, terlepas dari kebodohan dan kenakalannya, Theo sangat mempesona.


Lagi pula, Lili memerhatikannya untuk bahas cerita karangannya.


Selain itu, ada yang lebih menarik dari Theo. Rambutnya. Rambut yang agak kecokelatan itu tampak panjang hingga menyentuh keras seragam dan menutupi seluruh bagian leher belakangnya. Lili tak tahu kenapa Theo tidak ditegur karena rambutnya.


"Theo!" panggil Lili akhirnya.


Theo tak membalasnya, namun ia yakin Theo mendengarnya.


"Rambut lo panjang banget," kata Lili jujur. "Risi gue liatnya. Coba kayak Ayah gue. Pasti keliatan rapi dan tambah ganteng."


***

__ADS_1


__ADS_2