
***Aku hanya melihat apa yang ingin kulihat
Aku hanya mendengar apa yang ingin kudengar
Jika kamu tak aku lihat dan tak aku dengar, maka kehadiranmu tak aku inginkan***
"Sadis betul Kak Vela," kata Lili ketika dia membaca kutipan novel terbaru dari Vela Novela. "Makin jatuh cinta, ish."
Gema yang sedari pagi sibuk menyusun puisi-puisi buatannya sendiri menatap Lili dengan heran. Tahu-tahu Lili duduk di sebelahnya dengan fokus ke ponsel di genggamannya. Theo yang datang bersamaan dengannya tampak tak peduli dan langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Lo kenapa, Li?" tanya Gema.
"Kenapa apanya?"
"Aneh lo." Gema tersenyum tipis. "Biasanya nggak main hp."
Lili pura-pura tak dengar, malah fokus membaca lagi di ponselnya. Menggulir postingan demi postingan terbaru di akun milik Vela Novela.
"Masih marahan lo sama Theo?" Gema berbisik.
Lili langsung terbatuk-batuk. "Aduh, lo kalau nanya disaring dulu napa."
"Disaring gimana maksudnya?"
"Ya, jangan tiba-tiba gitu," jawab Lili, namun jawabannya tak membuat kerut bingung di kening Gema hilang. Justru teman satu mejanya itu semakin tak mengerti apa-apa. "Emangnya kapan gue marahan sama Theo coba?"
"Kemarin kelihatannya kalian itu ada jaraknya, deh," kata Gema menjelaskan.
"Jutsru gara-gara itu, gue melakukan hal yang ... bikin gue malu sampai ke ubun-ubun sekarang!" seru Lili, namun dengan bisikan, takut Theo mendengarnya. "Gema, gue harus gimana, dong? Malu banget kalau ada liat Theo, makanya dari tadi gue fokus ke hp."
"Emangnya kemarin lo ngapan Theo?"
Lili menggigit bibirnya. "Gue meluk dia."
Gema cengo.
"Gimana dong ...."
"Terus lo ditendang, nggak?"
Lili menggeleng cepat, namun wajahnya semakin panik. "Justru Theo nggak ngapa-ngapain dan bikin gue malu setengah ******."
__ADS_1
***
"Ten."
Laki-laki yang dipanggil Pak Toyo itu tetap tidak menyahut, tetap fokus pada lamunan yang diciptakan dalam benaknya.
"Tendric."
Ten masih diam. Padahal kursinya ada paling depan dan langsung menghadap Pak Toto yang tengah menjelaskan. Anak-anak di kelasnya agak takut ketika Pak Toto akhirnya menghampiri meja Ten dan mengetuk pelan dengan penghapus papan tulis.
"Tendric Alfareska."
Ten langsung tersadar. "Eh, iya, Pak?"
"Kenapa bengong begitu?"
"Oh, nggak, Pak." Ten mengerjap-ngerjap, benar-benar sadar bahwa dirinya barusan melamun. "Maaf saya melamun."
Pak Toto membuang napas kecil. "Mending kamu ikut saya dulu sekarang."
Ketika akhirnya Ten bangkit dan mengikuti Pak Toto tanpa bisa membantah, ada beberapa anak di kelas itu yang senang, ada juga yang merasa Pak Toto kelewat pilih kasih pada Ten. Meski Ten sangat pintar dan berpengaruh besar pada rata-rata nilai akhir sekolah ini, tetap saja, kabel nakal dan tukang onar pada diri Ten tak pernah gagal membuat mereka kesal.
Ten sendiri sebenarnya tak nyaman diperlakukan spesial, khususnya oleh Pak Toto. Namun, apa daya, dia tak bisa melawan atau menolak karena sejak semester kemarin, Pak Toto turut memberi donasi untuk panti asuhan yang menanggung hidup Ten.
Tanpa disuruh, Ten langsung duduk di sofa begitu Pak Toyo berjalan untuk mengambil kopi dari mesinnya setelah mengoperasikannya. Pak Toto duduk di depan Ten seraya menaruh dua gelas kertas di atas meja.
"Minum dulu." Pak Toto memberi perintah.
Tak seperti dahulu di mana Ten kerap kali bertanya:
"Ini nggak diracun, kan, Pak?"
"Ini beneran kopi, Pak? Bukan larutan yang isinya rumus-rumus matematika, kan?"
"Bapak nggak ada niatan buat bikin saya pinter banget buat jadi alasan kenapa bapak baik sama saya, kan?"
Atau yang paling ekstrim, "Saya nggak terima kalau bapak ngasih kopi buat jadiin saya anak angkat. No, don't ever."
Kali ini, Ten tak punya lagi niat untuk begitu. Jadi, dia meminum cairan hangat yang manis itu, membiarkannya menyapa kerongkongan. Selepas itu, Ten tersenyum tipis.
"Bapak pasti mau saya cerita."
__ADS_1
Sudah jadi kebiasaan Pak Toto untuk selalu memerhatikan Ten. Sejak Ten juara satu OSN Matematika, Pak Toto seperti punya ikatan tak kasat mata dengan Ten. Setiap perilaku Ten, harus selalu dalam pengawasan Pak Toto.
"Kalau kamu mengerti, bicaralah. Jangan bikin waktu terbuang sia-sia apalagi kamu sampai melamun di kelas saya," balas Pak Toto terus terang. "Saya paling nggak suka nggak dihargai. Beruntung kamu itu Tendric Alfareska."
"Memangnya saya kenapa?"
"Kamu pengecualian bagi saya."
Ten tertawa geli. "Saya selalu ingin punya ayah."
"Dan saya tak pernah tertarik untuk tak punya anak yang tidak berprestasi," balas Pak Toto tenang.
Lagi-lagi, Ten tertawa geli. Jika pada situasi normal, Ten akan mencerca Pak Toto yang bahkan belum menikah di umurnya yang mungkin sudah berada di penghujung kepala tiga, sekarang Ten tak punya lagi semangat. Ten merasa saat ini dirinya berada di titik terbawah.
"Pak," kata Ten.
"Hm?"
"Apa berprestasi aja cukup buat hidup di dunia ini, Pak?"
"Kenapa harus ditanya lagi?" Pak Toto tersenyum miring. "Di dunia ini, kalau hidup tanpa otak, sama aja dengan mati."
"Tapi menurut saya, uang lebih berarti dari pada otak," balas Ten sambil menatap Pak Toto lurus-lurus.
Pak Toto menipiskan bibirnya. "Meski banyak uang, hidup nggak akan teratur kalau nggak punya otak."
Ten tak bisa berkata-kata lagi.
"Memangnya masalahmu apa, Ten?"
"Boleh saya cerita?"
"Silahkan. Kamu di sini untuk itu."
"Tapi saya takut bapak marah."
"Tergantung."
"Kan."
Pak Toto membuang napas pasrah. "Yah, apapun itu, saya akan mencoba untuk mengerti dulu sebelum marah. Kamu boleh memberitahu saya sekarang, Ten."
__ADS_1
"Serius, Pak?"
Ketika Pak Toto mengangguk, Ten menipiskan bibirnya, mengumpulkan tekad untuk bicara, "saya diancam, Pak. Ini berhubungan dengan dunia balapan ilegal."