Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 65


__ADS_3

Theo sudah berkonsultasi ke Bu Mentari, guru BK. Theo sedikit curhat tentang kepergian kakaknya dan betapa Theo mengagumi kakaknya sampai menuruti jejaknya untuk masuk SMA Aksara Nusa, padahal Theo tak punya ketertarikan sama sekali untuk sekolah di sini.


Theo lebih suka bermusik dan berseni. Namun, segalanya tak lagi sama karena dia terus dipaksa ayahnya untuk menjadi politikus saja. Theo bilang tidak mau begitu pada Bu Mentari, Theo ingin mencari jati dirinya.


Seperti sudah berpengalaman, Bu Mentari menjelaskan beberapa profesi pada Theo. Mulai dari cara mencapainya, susah-senangnya, sampai orang-orang yang telah terkenal di bidangnya.


Ada satu pekerjaan yang membuat Theo tertarik dan menjadikannya sebagai cita-cita tanpa pikir panjang.


Theo ingin menjadi seseorang guru.


Theo ingin menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain pintar. Theo ingin menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain tergugah kreatifitasnya. Theo juga ingin menjadi seseorang yang membimbing orang lain untuk merubah hidup buruknya menjadi baik.


Theo ingin seseorang tak menjadi sepertinya. Theo tak ingin seseorang tak punya arah tujuan seperti dirinya yang sebelumnya.


Theo paham bagaimana rasanya tak punya tujuan. Theo paham bagaimana rasanya tak memiliki panutan. Dan Theo paham bagaimana rasanya terbelakang saat teman-teman memiliki cita-cita yang dikejarnya tanpa kenal putus asa.


Baiklah, sebuah langkah bagus untuk perubahan. Theo sudah memiliki cita-cita.


Sampai di kelas, Theo dihadiahi oleh Fahmi, si ketua kelas yang siap mengumumkan sesuatu di depan kelas. Theo berjalan santai saja untuk kemudian duduk kembali di kursinya.


Seperti menunggunya, setelah Theo benar-benar duduk, Fahmi membuka suaranya.


"Gue barusan rapat kan, ya," kata Fahmi mulai menjelaskan dengan satu lembar kertas HVS di tangannya. "Nah, satu minggu lagi kan hati Kartini. OSIS kamu ngadain lomba. Lombanya ada apa aja? Nih, ya, gue sebutin satu-satu. Pidato, debat, futsal, bakiak, tarik tambang sama fashion show dari barang bekas. Semuanya bebas diikuti sama siapa aja."


Anak kelas mendengarkan dengan baik-baik. Lili tertarik karena ada lomba pidato. Tahun kemarin Lili juga ikutan pidato, namun sayang tak membuahkan hasil. Tahun ini Lili ingin mencoba lagi. Sementara yang lainnya tampak biasa saja.


Sebab tahun kemarin, kelasnya tidak juara apa-apa.


Sedihnya.


Mungkin karena itu, kebanyakan anak kelas tak semangat untuk ikut berpartisipasi.


"Oke, deh, jadi siapa yang mau ikutan?" tanya Fahmi kemudian. "Datanya paling lambat besok."

__ADS_1


Tak ada respon siginifikan dari anak kelas XI IPA 3 selain Lili dan Gema yang kompak segera mengacungkan tangannya.


"Gue mau ikutan pidato!" seru Lili semangat. Theo yang melihatnya dari samping kontan membuang napas kecil karena melihat Lili terlalu ambisius.


"Gue juga!" sambung Gema. Membuat Lili menatapnya dengan mata membulat terkejut.


"Oke," tukas Fahmi dengan senyum tipis. Kemudian dia membaca kembali kertas di hadapannya. "Pidato ada dua bidang kok, Li. Jangan kaget gitu atau takut direbut Gema. Kalian kan sahabatan."


Fahmi tersenyum lebar. Membuat Lili tenang sekaligus lega. Ya, sama aja artinya. Tapi Lili memang merasakan keduanya, kok.


"Baguslah!"


"Jadi ada pidato Bahasa Indonesia sama Bahasa Inggris, nih. Siapa yang mau Indo, sapa yang mau Inggris?" tanya Fahmi setelah menjelaskan.


Lili dan Gema kompak berpandangan.


"Lo Inggris ya, Gem," cetus Lili cepat. "Lo kan lebih jago dari gue. Gue yakin lo bisa, Gem. Cius, deh, seratus persen yakin gue!"


Gema memasang wajah bete, namun mengangguk kecil setelah melihat betapa memelasnya wajah Lili. "Iya, deh, iya. Gue Inggris aja."


"Oke, diputuskan. Lili ikut pidato bahasa Indonesia, Gema bahasa Inggris." Fahmi menuliskan seraya berbicara apa yang dituliskannya pada kertas HVS yang berupa formulir itu. Kemudian Fahmi kembali mendongakkan kepalanya. "Yang lainnya? Masih ada debat, futsal, basket, bakal, tarik tambang sama fashion show dari barang bekas."


Tak ada respon yang siginifikan lagi.


"Ayo, dah, jangan malu-malu gitu." Fahmi berdecak. "Apa kayak kemarin aja list orang-orangnya?"


"Terserah, Mi. Gue rada-rada males juga soalnya."


"Jangan gitulah, kita berjuang sama-sama lagi." Fahmi tersenyum meyakinkan pada teman-temannya yang terlihat sudah putus asa duluan. "Siapa tau tahun ini kita bisa menang? Iya, kan Li?"


Ditanya tiba-tiba begitu, Lili langsung bersorak semangat. "Yoi!"


Hanya dirinya yang bersuara riang, karenanya Lili terbang sangat malu saat teman-temannya yang lain hanya melihatnya tanpa membalas sorakannya. Lili menunduk malu, memegang tangan Gema, meminta perlindungan dan kekuatan.

__ADS_1


Fahmi tertawa melihatnya. "Gimana kalau lo jadi model fashion show juga?"


Mata Lili langsung melotot. Dia dan Gema kompak berpandangan lagi dengan wajah yang jadi panik karena kini ia jadi pusat perhatian. "Kan tahun kemarin sama Fella. Kok jadi gue? Fella lagi aja, dong."


"Bosen gue, mau ikut futsal aja," balas Fella kemudian.


Lili jadi lemas.


"Fella udah jadi tomboi sekarang, nggak bisa model-modelan lagi," kata Fahmi dengan tawa geli.


"Kampret lo," balas Fella jadi kesal.


"Ikut aja, Li!" seru Mila yang sedari tadi menyimak. "Gue bakal rancang baju dari barang bekas dengan baik kali ini. Rambut lo juga panjang, jadi bagus buat diapa-apain. Oke, ya? Oke! Tulis aja, Mi!"


Fahmi tersenyum lebar. "Oke."


"Heh?!" Lili bersuara tak terima. Dia hendak berdiri dan protes saat tiba-tiba Fahmi menambahkan.


"Sama Theo aja, ya." Fahmi menatap Theo penuh arti. Aneh, Theo tak menolak dengan segera, hanya menatap Fahmi dengan datar. Theo hanya diam saja, namun Fahmi lanjut menulis karenanya. Sebab tak ada penolakan berarti dari Theo. "Oke, fashion show tahun ini jelas kita diwakili oleh Lili sama Theo. Gue liat baru-baru ini kalian suka berangkat dan pulang bareng. Pasti ada sesuatu, nih."


Mata Lili membulat kaget, jadi panik. Dia memegang tangan Gema dengan kuat-kuat seperti biasa saat merasa dalam bahaya. Gema hanya mampu meringis, menyerah saja menjadi pelampiasan Lili.


Berkat perkataan Fahmi, anak-anak kelas langsung menyuraki dan menggoda Lili serta Theo hingga pipi Lili dibuat kemerahan karenanya.


"Cieeeeeeeeee!"


"Ada traktir-traktiran nih!"


"Bau-bau bucin, nih!"


"Sebelahan gitu dong, jelas gampang buat mesra-mesraan manja tanpa terdeteksi!"


"Acikiwirrrrr!"

__ADS_1


***


__ADS_2