Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 32


__ADS_3

Pulau Jeju, Korea Selatan


22:00 KST


"Kapan aku bisa pulang dan ketemu kakak aku?"


Seorang perempuan dengan rambut pirang dan baju terusan selutut bertanya dalam bahasa Korea yang kental dengan nada memelas. Sebab sudah bertahun-tahun ia bertanya, dirinya tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti mengenai itu. Ayahnya selalu saja menjawab dengan pertanyaan lain yang tentu saja ditujukan agar topik dapat berbelok.


"Kamu harus sabar." Ayahnya menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari laptop, sedang membuat laporan yang harus diserahkan besok. "Sekarang, lebih baik kamu fokus belajar sana. Jadi orang sukses. Baru melakukan semua keinginanmu, Lee Joe Hee."


Joehee cemberut, menekuk lututnya dan memeluknya. Posisinya persis seperti anak yang kesepian.


"Aku sudah hampir berumur 19 tahun dan belum bertemu ibu serta kakakku. Aku kesepian, yah," kata Joehee dengan nada sedih. "Kapan ayah akan memleetemukanku dengan mereka?"


"Semuanya ada waktunya, Joehe," balas ayah tegas seperti biasanya. "Kamu dan mereka nanti juga akan bertemu."


"Kapan, ayah?" Joehee terkesan memaksa. "Kemarin-kemarin juga ayah bilang begitu. Mereka ada di Indonesia, kan?"


"Iya," balas ayah. "Mereka ada di Indonesia. Besok ayah akan merencanakan perjalanan kita untuk ke sana bulan depan."


"Woah?" Joehee tampak sangat terkejut. Pasalnya, jawaban ayah seperti direncanakan menjadi plot twist yang epik. "Ayah serius?"


"Kamu tidak mau?" Ayah balik bertanya dengan nada bercanda.


"Mau dong, ayah! Aku senang sekali!" Joehee memeluk ayahnya dengan erat dan senyuman lebar yang sarat kebahagiaan. "Terimakasih, ayah!"


Ayah balas memeluk dan menepuk-nepuk punggung Joehee. "Sama-sama. Ayah senang kamu semangat seperti ini."


"Ya, masa aku tak semangat?"


"Soalnya kamu tidak berpikir akan ditolak oleh ibumu dan saudaramu di sana."


Jeohee terdiam. Baru memikirkan apa yang ayahnya cetuskan. "Benar juga. Bagaimana kalau mereka menolakku? Sudah hampir tujuh belas tahun tidak bertemu. Tapi, ada juga kemungkinan mereka excited untuk bertemu, sih."


"Ayah juga berpikir akan hal yang sama. Istri ayah di sana juga mungkin sekarang sudah menikah lagi."


Senyum penuh harap Joehee tergantikan oleh cemberut. "Meski begitu, harusnya istri ayah tetap jadi ibu aku, kan?"


Ayah mengelus rambut Joehee dengan sayang. "Jelas. Meskipun terpisah jarak, kalian tetap punya ikatan yang kuat. Selalu ingat itu."


"Ayah selalu mengingat hal itu, karenanya ayah tak pernah berpikir buat menikah lagi meskipun sudah bercerai?" Joehee menyimpulkan dengan lancarnya.


Jelas, sebab itu adalah penjelasan yang diutarakan ayah setiap kali Joehee menginginkan kehadiran seorang ibu. Sejak dirinya dilahirkan, rasanya ia tak pernah melihat wajah ibunya selain yang berada di foto.


Ayah dan ibunya adalah dua insan yang dipertemukan dalam acara pertukaran pelajar. Ibu yang ke Korea. Seperti cerita cinta pada umumnya, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.


Ibu tak sengaja menjatuhkan buku-buku paket berat yang dipeluknya waktu musim dingin di depan kampus. Ayah yang kebetulan lewat naik sepeda, tak sampai tega meninggalkan ibu kesusahan memungut buku-bukunya lagi.


Kemudian terjadilah adegan saling pungut buku dan lempar senyum berterimakasih-sama-sama. Ibu sangat bersyukur bertemu ayah dan kebaikan ayah tak sampai di sana. Laki-laki jantan itu mengajak ibu untuk turut serat naik di sepedanya dan mengantarkannya ke tujuan.


Awalnya, ibu menolaknya karena asas 'jangan percaya pada orang asing', namun ayah membujuknya begitu kuat karena kasian jika ibu berjalan di atas jalan berlapis salju yang licin dengan buku-buku paket yang banyak itu di pelukannya.


Pada akhirnya, ibu mengiyakan ajakan ayah dan di sanalah semuanya berawal. Mulai dari pertemuan-pertemuan untuk belajar bersama, makan ramyeon di minimarket saat hujan tiba, berbagi cokelat saat Valentine bahkan merayakan natal bersama-sama.


Ayah dan ibu jatuh cinta sesingkat itu. Sesederhana itu.


Tahun ke tahun berlalu, keduanya memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Dengan beberapa pertimbangan dan ada sedikit gesekan dan kedua belah pihak keluarga, akhirnya pernikahan pun dilangsungkan.


Mereka dikaruniai anak dan semuanya berjalan lancar di mana keluarga kecil itu tinggal di Indonesia. Namun, di tahun berikutnya saat satu anak lain telah lahir, kedua orang tua ayah ingin ayah beserta anak yang menjadi cucu mereka itu tinggal bersama mereka.


Karena tuntutan orang tua, ayah tak mau mengabaikannya. Sayangnya, kedua orang tua ibu juga menginginkan hal yang sama. Mereka ingin ibu tinggal di Indonesia bersama anaknya.


Ayah dan ibu saling mencintai, masih sangat saling mencintai.


Namun, berkat pertentangan yang kadang membuat keduanya bertengkar, membuat keduanya memutuskan untuk berpisah saja.


Dengan begitu, keduanya bisa hidup damai tanpa saling mengkhawatirkan atau menganggu.


Takdir sangat kejam, namun ayah percaya pada cinta sejati hingga sampai saat ini, dirinya tak bisa menemukan pengganti tempat ibu di hatinya.


Padahal Joehee sudah mengijinkan ayah untuk menikah asal dengan perempuan yang baik dan sehati dengannya.

__ADS_1


"Kamu sekarang udah pintar, ya, udah mengerti dan mengingat hal yang sejak kecil ayah tanamkan," puji ayah dengan senyuman bangga.


"Kan keturunan ayah," balas Joehee tak kalah memuji.


"Baiklah, ayah sudah mendapatkan pekerjaan baru dari teman lama ayah. Besok kita akan bersiap-siap untuk pergi ke Indonesia."


"Serius, yah?" Mata Joehee amat berbinar.


Ayah tertawa gemas seraya mengacak-acak rambut Joehee dengan sayang. "Iya, sayang. Kamu sekarang tidur aja. Siap-siap besok kan masih berangkat sekolah."


"Eh, nanti aku sekolah di Indonesia, dong?" tanya Joehee baru sadar.


"Tentu saja. Masa kamu di sana jadi anak putus sekolah?" Ayah tertawa geli karena anaknya ini rupanya masih sangat polos. Ayah jadi tak rela jika Joehee bergaul dengan salah di sana. Sebab di sini, Joehee sudah sangat baik dengan lingkungannya.


Bertemu lingkungan baru, ayah mengkhawatirkan banyak hal.


"Aku sedikit takut... tapi semangatku untuk bertemu ibu serta kakakku mengalahkan rasa takut itu!" seru Joehee berapi-api.


Ayah dibuat tergelak lagi. "Oke, oke. Ayah mengerti. Sekarang tidur, oke? Udah hampir tengah malam."


"Ah, aku nggak sabar untuk bertemu ibu," balas Joehee seolah tak bisa. "Kakakku juga."


"Ayah juga nggak sabar."


Joehee tertawa riang. "Yaudah, kalau begitu Joehee ke kamar, ya. Selamat malam, ayah. Mimpi yang indah!"


"Selamat malam juga, Joehee. Mimpi yang indah!"


Sepeninggal Joehee, air mata ayah menitik perlahan. Sebab rindu yang sudah tak bisa dibendung lagi. Kata-kata itu selalu ia ucapkan pada mantan istrinya tiap malam, sekarang harus luntur dimakan jarak.


Semoga nanti di sana, ayah bisa bertemu dengannya lagi.


Sebab sampai detik ini, ayah masih belum mendapatkan alamat pasti dari perempuan yang masih mencuri separuh hatinya itu.


Dan Joehee tak mengetahuinya.


***


Elvan sudah melihat foto Bang Jefri dan dirinya ketakutan setelahnya. Bang Jefri itu memiliki otot seperti Ade Rai alias besar-besar, tatapan matanya juga sangat tajam dengan kumis tipis menghiasi ruang antara bibir dan hidup mancungnya sudah lengkap membuat Elvan bisa kencing di celana.


Kemarin malam Bang Jefri senggang dan Elvan tak sempat menemuinya karena larangan Alina serta neneknya sebab malam sudah terlalu larut untuk Elvan keluar.


Kini, Bang Jefri kembali senggang waktu sore di mana Elvan juga tak ada hal mendesak yang perlu dilaksanakan.


Juna sebelumnya sudah menjelaskan bahwa Elvan akan pulang sebulan sekali pada Alina dan nenek. Selanjutnya, Elvan akan tinggal di asrama khusus untuk bagian pegawai lapangan bisnis keluarga Juna.


"Jun, gue takut," ceplos Elvan pada Juna yang hari ini dengan baik hati menemaninya untuk turut serta bertemu Bang Jefri.


Sebenarnya Juna juga punya urusan lain dengan Bang Jefri. Dipikir-pikir kembali, Juna mana mau menemani Elvan secara sukarela seperti ini. Waktunya lebih berharga dibanding dihabiskan untuk seseorang seperti Elvan.


Hahaha.


"Itu Bang Jefri." Juna membalas santai. Niatnya hanyalah bercanda, namun Bang Jefri betulan muncul beberapa saat sebelumnya.


Elvan inginnya kata-kata penenang dari Juna, justru diberi pemberitahuan yang jelas-jelas membuat buku kuduknya merinding bukan main. Punggungnya ikut tegap saat Bang Jefri perlahan duduk di seberangnya, tepatnya di depan Juna.


Dilihat dari dekat, Bang Jefri lebih menakutkan lagi. Meski dandanannya sudah seperti boyband Korea dengan sunglasses bertengger di batang hidung mancungnya, jelas aura preman itu keluar dengan pekat di sekitarnya. Jika Elvan tebak, usianya mungkin tak lebih dari tiga puluh, meningkatkan kulitnya masih kencang walaupun sudah cokelat karena paparan sinar matahari yang terlalu sering.


"Ada perlu apa, Bos?" Bang Jefri langsung bertanya sewaktu tatapan Juna terarah padanya dengan penuh arti.


"Ini ada anak baru. Ajarin yang bener. Udah legal, kok, asal jangan mati," lapor Juna begitu saja, seolah hal itu amat biasa baginya. Beda lagi dengan Elvan yang dibuat melongo tak karuan karena takut terlibat perdagangan tak sehat.


"Maksudnya legal itu apa, ya, tuan Juna?" Elvan bertanya karena kelewat penasaran. "Gue nggak akan dijual ginjalnya kan?"


Juna berdecak, menatap Elvan dengan remeh untuk setelahnya kembali fokus pada Bang Jefri. "Anaknya agak ****, jadi ajarin juga bahasa Inggris kalau sewaktu-waktu dia ada urusan sama kaum sana."


"Hah?" Elvan jadi tampak lebih bodoh lagi.


"Pokoknya, sabar aja, Bang, buat urus dia." Juna memberikan saran pada Bang Jefri tanpa memperhatikan Elvan.


Bang Jefri mengernyit, kemudian membuka sunglasses miliknya untuk mengekspos mata setajam elang yang membuat Elvan membatu. Mata itu menilik Elvan lamat-lamat, sungguh-sungguh, sementara Elvan dibuat gemetar tak karuan.

__ADS_1


Decakan Bang Jefri keluar sesaat setelah ia kembali menatap Juna. "Kalau akhirnya nyusahin, kenapa diangkat? Pasukan kita sama sekali nggak membutuhkan orang baru, Bos."


Suaranya yang tajam dan tegas itu membuat Elvan ngeri dan ingin rasanya segera lari supaya tak berhadapan lebih lama.


"Ini anak bisa berguna suatu hari nanti," balas Juna tak kalah tegas. "Hanya perlu diasah aja sebentar."


"Hm, baiklah. Saya akan usahakan itu, Bos."


"Oh iya, gue minta lo awasin siapapun yang deket sama dia," kata Juna menambahkan. Dirinya menekankan kata dia yang mungkin hanya Bang Jefri yang mengerti. "Jangan sampai ada bahaya ataupun masalah yang membuat dia sedih. Ngerti?"


Bang Jefri mengangguk. "Siap, Bos."


"Oke." Juna berdiri dan bersamaan dengan itu, Bang Jefri ikut berdiri untuk memberi salam hormat.


Sekilas, Juna melirik Elvan dan hanya tersenyum miring untuk setelahnya pergi meninggalkan Elvan yang langsung dibuat berkeringat dingin karena membayangkan dirinya ada di satu ruangan yang hanya terdapat dirinya serta Bang Jefri.


"Woi, bocah," kata Bang Jefri mengangguk Elvan supaya berbalik ke arahnya. Posisinya, kini Elvan memang membelakangi Bang Jefri karena takut.


Perlahan, dengan terpaksa, Elvan membalikkan badannya seraya menolehkan kepalanya untuk menatap Bang Jefri yang balas menatapnya dengan tajam.


"Lo bisa apa buat ada di sini?" tanya Bang Jefri langsung pada intinya. "Sekarang lo berdiri. Lawan gue. Kita lihat seberapa kuat lo bisa bertahan. Keluarin semua yang lo bisa. Seolah lo akan mati sekarang."


Elvan menenguk ludahnya kasar. "Sa-saya nggak bisa adu jotos, Bang. Nggak pernah lagi setelah kelas tiga SD. Itu juga cuma saling tarik baju seragam. Hehehe."


"Gue nggak peduli. Lo bisa atau nggak sekarang, pada akhirnya lo harus bisa ke depannya."


"Ta-tali nanti saya sakit, Bang."


"Lo kebanyakan omong, ya?" Bang Jefri maju selangkah. "Cepet pasang kuda-kuda!"


"Hap!" Elvan dengan kikuk meniru posisi Bang Jefri sekarang.


Senyum miring bang Jefri tercipta sesaat kemudian. Dia menunggu Elvan menyerang dengan masih memasang kuda-kuda.


Elvan melakukan hal yang sama. Melakukan posisi itu selama beberapa saat karena Bang Jefri pun seperti itu.


Bedanya, posisi badannya salah. Jika Bang Jefri menarik kaki kirinya di depan dan membuat kaki kanannya menyangga tubuhnya, Elvan lain lagi. Justru kedua kakinya itu ditekuk sedemikian rupa sehingga dirinya tak lama dari itu merasa pegal.


"Bang... boleh berdiri bentar, nggak?" Elvan ijin dengan takut-takut.


"Nggak!" bentak Bang Jefri tajam.


Elvan langsung menekuk kedua kakinya lagi. Memasang kedua tangannya yang dikeluarkan di depannya.


"Kalau kita nggak nyerang, kita bakalan gini selamanya," kata Bang Jefri tenang.


Elvan berdecak, ingin menyerah saja namun pada akhirnya dia akan mendapatkan amarah dari Bang Jefri. Memilih jalan yang benar, Elvan akhirnya menarik napasnya dalam-dalam, mengeratkan kepala tangannya dan menatap pada perut Bang Jefri untuk setelahnya meluncurkan sebuah pukulan dengan mengarahkan seluruh tenaganya.


Elvan kira tangannya akan mengenai perut Bang Jefri, namun justru tidak. Hal yang terjadi adalah tangan Bang Jefri mencengkram bahunya dengan erat sehingga Elvan merasa sakit dan lemah.


Kuda-kuda luntur seketika dan tangannya menahan dengan kiat tangan bang Jefri yang mencengkram bahunya kuat-kuat. Rasanya, Elvan seperti dijepit oleh tangan besi yang tak bisa lepas dengan kekuatan penuh.


"AAAAA, SAKIT, BANG, A! AMPUN, BANG! NYERAH, NYERAH! SAYA NYERAH!"


Tak beberapa lama kemudian, Bang Jefri melepas cengkeramannya dan membuat Elvan meringis seraya melangkah mundur. Tangannya memegangi bahunya yang luar biasa sakit.


"Cuma lima detik. Lemah."


"Sakit, Bang," keluh Elvan masih meringis.


"Besok jam 8. Gue tunggu lo di sini. Kita latihan pertahanan." Bang Jefri melangkah keluar dari ruangan itu, namun sebelum benar-benar hilang dari ambang pintu, ia berbalik lagi pada Elvan yang sudah memasang wajah terkejut atas perkataannya beberapa saat yang lalu. "Dasar pertahanan lo lumayan bagus. Kaki lo juga. Pasti suka main bola."


Elvan tersenyum kagum. "Woah, Abang tau dari mana?"


"Gue udah pengalaman analisis otot tubuh orang."


"Keren!"


"Ck. Jangan lupa besok. Ngaret satu menit, sepuluh kali push-up."


"Buset."

__ADS_1


Elvan tahu mulai dari sekarang, perjalanan hidupnya akan setingkat lebih rumit dari sebelumnya.


__ADS_2