
Yohan, Ily, Luhan dan Titi sudah tidur sejak dua jam yang lalu saat Lili selesai menulis di laptopnya. Lili sudah mematikan laptopnya itu saat ponselnya bergetar dan layarnya mengedip, menandakan ada sesuatu yang masuk ke dalam ponselnya itu.
Tanpa lama, Lili mengambil ponsel itu dan memeriksa apa yang masuk.
Theo: kata siapa lo boleh bawa Titi ke rumah lo?
Theo: alamat rumah lo di mana?
Lili mendengus kecil. Dia mengirim pesan pada Theo hampir dua belas jam yang lalu dan Theo baru saja membalasnya.
Lili: yakin mau ke rumah gue? Ini udah malem banget, Theo. Titi udah tidur juga
Theo: gue mau Titi pulang malam ini
Lili menipiskan bibirnya. Langsung saja mengirim alamat rumahnya pada Theo. Jika Lili mendebat lagi, kemungkinan besar Theo akan marah. Sebab dari awal saja, Theo tidak suka dengan kenyataan bahwa Lili membawa Titi ke rumahnya.
"Lah, belum tidur, Li?" Tahu-tahu Ily dan Yohan muncul di ambang pintu kamarnya.
"Belum, nih." Lili menaikkan kedua alisnya. "Ayah sama Ibu juga kok belum tidur?"
Ily tersenyum geli, menunjuk perut Yohan dengan telunjuknya. "Katanya Ayah kamu laper lagi."
Yohan hanya tertawa polos.
"Terus Ibu mau masak?" tanya Lili seraya mengerjapkan matanya tak percaya.
"Ya, mau gimana lagi? Ayah kamu ngedengerin terus, bikin Ibu nggak bisa tidur," kata Ily seraya mendorong Yohan dan selanjutnya keduanya ada di dapur.
Lili hanya tertawa menyaksikan keromantisan Ayah dan Ibunya yang manis itu. Lili jadi membayangkan, jika dia ada suami nanti. Akan bagaimana jadinya?
Lili juga ingin punya suami seperti Ayahnya yang peduli dan pengertian.
Tanpa bisa ditahan, wajah Jae justru yang muncul dengan senyum lebar dan lesung di kedua pipinya yang manis. Membuat rona di pipi Lili tercipta dan berkat itu Lili memekik senang, namun malu-malu yang tertahan.
Ya, masa Lili memekik di malam sepi ini?
"Lili!" suara Ily yang memanggil namanya secara tak pelan membuat Lili langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Ily.
"Ada temen kamu kata Ayah di depan," kata Ily memberitahu, namun keningnya mengerut bingung. "Kok semalam ini temen kamu nyemper?"
"Dia Kakaknya Titi, Bu," balas Lili singkat, untuk setelahnya berjalan ke ruang tamu di depan dan menatap Theo dengan wajah terkejut. "Kok cepet?"
Yohan ada di dekatnya. Memberi Theo beberapa pertanyaan mengenai nama, hubungannya dengan Lili dan alasan kedatangannya ke sini. Setelahnya, Yohan menatap Lili dengan pandangan kecewa saat Theo mengatakan, "adik saya dibawa anak Om tanpa izin. Sekarang, saya mau bawa adik saya, Om."
"Kamu kok nggak bilang-bilang dulu mau bawa adiknya?" tanya Yohan agak tegas karena merasa bersalah.
"Ih, Ayah," gerutu Lili merasa disalahkan. "Aku udah bilang sejak Titi tiba di rumah. Cuma Theo aja nggak bales langsung. Theo baru balas sepuluh menit yang lalu, Yah."
Theo menatap Lili datar, seperti tak terima, namun tak mendebat karena ada Yohan.
Yohan membuang napas panjang, kemudian menutup pintu rumah dan tanpa sengaja melihat motor yang Theo kendarai sebelumnya.
"Yaudah, kamu masuk dulu aja." Yohan berkata pada Theo. "Adik kamu pastinya bakal kedinginan kalau pulang sekarang pakai motor. Titi udah tidur juga, kasian kalau harus dibangunkan. Sebaiknya kamu bawa dia besok, pagi-pagi."
Kedua bahu Theo langsung lemas. Dia juga tak punya rencana lain, akhirnya mengikuti langkah Yohan dan Lili untuk masuk ke rumah lebih dalam.
"Karena nggak mungkin kamu tidur di kamar Lili, kamu tidur di sofa ruang tengah aja, ya," kata Yohan memberi arahan. Theo hanya mampu mengangguk pasrah, tak mungkin juga dia pulang langsung tanpa hasil setelah berusaha keras sampai ke sini. "Kamu udah makan?"
Theo mengangguk, hatinya terasa mendeskripsikan karena mendapat pertanyaan yang langka itu. Dia melihat-lihat Rumah Lili.
Banyak sekali foto-foto keluarga yang bahagia, mainan-mainan dan suasananya hangat. Sesaat, ada iri dalam dada Theo yang menjalar. Apalagi Lili punya Ayah yang perhatian dan hangat bahkan pada dirinya yang bukan siapa-siapa, yang hanya teman sekelas Lili.
__ADS_1
Theo yang lebih diam dari biasanya membuat Lili heran karena beda ketika dengannya yang dingin dan egois karena tak mau kalah, Theo sangat penurut pada Yohan.
"Omong-omong, kamu minum?" Yohan bertanya begitu saat lebih dekat kepada Theo untuk mencium bau laki-laki itu lebih jelasnya.
Wajah Theo langsung tampak salah tingkah. Ah, lebih tepatnya tak suka saat ditanya begitu oleh Yohan.
Theo memilih tak menjawabnya dan membuat Lili semakin tertarik. Lili turut mendekat, mencium bau Theo dengan gaya seperti kelinci yang jelas saja membuat Theo langsung menjauh dengan wajah terganggu.
"Lili," tegur Yohan dengan mata memancarkan sorot penuh peringatan. "Nggak sopan."
"Oops, maaf," kata Lili dengan tawa kecil.
Theo berdecak, menahan kesal. Kalau tak ada Yohan, sudah pasti dia akan menjitak Lili kuat-kuat.
"Sekarang kalian tidur aja." Yohan menepuk pundak Lili berikut pundak Theo dengan senyuman tipis. "Ayah mau makan dulu, hehehe."
Setelah berkata demikian, Yohan berlalu ke arah dapur dan meninggalkan Lili serta Theo yang terdiam dengan bertukar pandang penuh arti.
Theo dengan pandangan penuh marah tertahan, sementara Lili dengan pandangan polos yang bingung.
"Kenapa?" Lili akhirnya bersuara karena tak tahan dengan tatapan Theo.
"Besok." Theo menunjuk Lili dengan telunjuknya, menatapnya penuh perhitungan. "Lo dapet besok."
"Eh, dapet apa besok?" tanya Lili tak mengerti.
"Balasan dari gue." Theo mengeraskan rahangnya, kemudian berbalik untuk membaringkan badannya di sofa, bersiap tidur.
Lili mengembungkan pipinya, langsung menghampiri Theo yang sudah memejamkan matanya dengan wajah kesal dan penuh hujatan. "Lo ke mana aja seharian ini? Sampai minum segala? Oh iya, gue lupa. Lo kan Bad Boy, hahaha."
Mata Theo langsung terbuka, menyorot tajam. "Lo ngejek gue?"
"Lo nggak makasih gitu?" Lili membalas tatapannya dengan berani. Mungkin karena sedang berada di rumahnya dan Yohan serta Ily berada tak jauh darinya jika Theo berlaku radikal. "Gue udah kaga Titi seharian ini."
"Lo nggak minta maaf gitu?" Theo selalu punya jawaban untuk membalas kata-kata Lili. "Lo bawa Titi tanpa sepengetahuan gue."
"Gue udah ngasih tau, tapi Kakaknya Titi yang super peduli ini terlalu sibuk sama alkoholnya sampai jam sebelas malem." Lili membalas super kesal. "Bisa nggak sih, lo baik dikit dan nggak menyebalkan?"
"Lo yang bikin gue kayak gini," tukas Theo hampir kehabisan kata-kata. "Gue nyuruh lo jaga Titi, bukan bawa dia ke rumah lo."
"Sampai kapan gue harus jagain dia? Gue juga punya kesibukan, Theo."
"Kesibukan apa?" Theo tertawa, terdengar meremehkan Lili. "Halu?"
Mata Lili langsung berkaca-kaca. Tidak, dia bukan sakit hati. Dia marah dan kebiasannya jika marah adalah menangis.
"Lo ...."
Theo tampak tak bersalah sama sekali. "Kenapa?"
"Besok," kata Lili dengan helaan napas berat. "Lo harus cerita semuanya. Gue butuh bahan buat tulisan gue. Semoga kita bisa bekerja sama."
Lili memilih untuk menyerah. Lili memilih untuk mengalah. Lili memilih untuk pasrah.
Bahkan tersenyum pada Theo yang langsung tampak bingung. "Oke, Theo?"
Theo tak bisa berkata-kata lagi. Dia paham dirinya telah membuat Lili marah dan kecewa, namun kini dia juga merasa marah dan kecewa pada Lili. Merasa keduanya merasakan hal yang sama, Theo mengangguk kecil.
"Oke."
Setelahnya, Theo kembali tidur. Untuk pertama kalinya, Theo tidur di tempat asing yang pada kenyataannya membuatnya lebih nyaman dari pada di rumahnya sendiri yang sepi dan dingin.
__ADS_1
Meski sepi, rumah Lili terasa hangat.
Lili membuang napas kecil, kemudian pergi meninggalkan Theo yang telah memejamkan matanya. Lili mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Itu orang emang sumpah ya, nyebelinnya tiada tara. Apa katanya? Dia bakal bales besok? Kalau dibalesnya lake cokelat atau roti ya nggak masalah, gimana kalau dia bawa Ten sama Lucas buat bully gue?" Lili meracau saat telah tiba di kamarnya, melepas kacamata mata bulatnya untuk disimpan di meja kecil sebelah kasur tidurnya itu dan menjatuhkan diri di kasur tidurnya yang empuk, kemudian meringis khawatir untuk menyambut hari esok.
Lili berusaha memejamkan matanya. Lili berusaha berdoa dan tidur, namun pada setelah beberapa saat berlalu, Lili bangkit dari tidurnya.
Lili mengacak rambut panjangnya, mengambil kaca mata bulatnya lagi dan memakainya. Lili membuka lemari dan mengambil selimut simpanan di paling bawah untuk setelahnya membuka pintu kamar.
"Aduh, Ayah, Ibu, bikin kaget aja," kata Lili seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang saat berhadapan langsung dengan Yohan dan Ily sesaat setelah dia membuka pintu kamarnya.
Yohan mengerutkan keningnya. "Mau ke mana kamu?"
"Itu pasti selimut buat temennya, ya?" tanya Ily menggoda. "Tadi dia udah tidur, kamu langsung selimutin aja. Aduh, so sweet-nya. Namanya siapa tadi? Ibu lupa."
"Theo," balas Lili singkat, memeluk lebih erat selimut yang ada di dekapannya karena malu.
"Oh, Theo." Ily mengangguk-angguk. "Anaknya ganteng, Li."
"Tapi dia minum." Yohan langsung menambahkan. "Tadi aku cium bau alkohol, tapi dianya nggak mau ngaku."
"Lah? Serius--",
"Yaudah, Lili mau kasih selimut dulu ke Theo." Lili tak mau lama-lama lagi mendengar perkataan kedua orang tuanya tentang Theo yang bisa saja membuat Theo sakit hati dan tidak nyaman.
Tadi saja, ketika ditanya Yohan, wajah Theo sudah menyiratkan, "ini hidup gue, lo nggak perlu ikut campur atau besok lo tinggal nama."
Lili menggeleng-gelengkan kepalanya, mengenyangkan pikiran tentang Theo dan berjalan cepat menuju sofa ruang tengah. Setelah tiba, dia membentangkan selimut lembut itu dan menaruhnya di atas tubuh Theo yang seperti kata Ily, telah tidur.
Lili tak tahu mengapa bisa secepat ini untuk Theo tidur, namun dia menciptakan senyum tipis di wajahnya.
Garis wajah Theo sangat lembut ketika dia tidur. Tak ada kerutan tajam di dahinya, sorot mata mengancam atau bibir tipis yang menyiratkan kekejaman yang nyata. Kini, hanya ada Theo yang tertidur seperti anak kecil yang polos.
Tanpa sadar, waktu berlalu signifikan saat Lili memerhatikannya.
"Bayar lo." Mata Theo tiba-tiba terbuka. "Liat gue nggak gratis."
Lili langsung mendengus, dibuat salah tingkah dengan cara yang mengesalkan. "Ge-er banget. Gue nggak liatin lo. Gue cuma riset."
"Sama aja, bege."
"Nggak bisa lebih halus apa?" Lili bertanya sarkas. "Kayak, 'makasih, Lili, gue jadi anget nih berkat selimut lo'."
"Mimpi." Theo mendengus kecil.
Lili menipiskan bibirnya, menahan diri untuk mengumpat pada Theo. Setelahnya, ia berbalik pergi untuk kembali ke kamarnya jika Theo tidak menahan pergelangan tangannya.
Sontak, Lili berbalik lagi dengan wajah malas. "Apa, sih? Bayar lo. Pegang-pegang gue nggak gratis."
Theo berdeham. Langsung melepas tangannya dari pergelangan tangan Lili. "Makasih."
"Eh, apa?"
"Makasih."
"Buat?" Lili mulai mengembangkan senyum penuh arti.
"Ck. Bodo amat." Theo langsung dibuat bete dan akhirnya mengubah posisi tidurnya membelakangi Lili yang sudah tersenyum lebar dengan wajah puas.
***
__ADS_1