Dari Korea

Dari Korea
LSF - 5


__ADS_3

"Aku mau ngomong sesuatu."


"Tumben nih izin dulu. Mau ngomong apa?" tanya Luhan, berusaha santai dan biasa saja meski perasaannya kini tak enak karena Clara berlaku tak seperti biasanya.


Clara membuang napas kecil sebelum bertanya dengan nada yang berubah tegas dan dingin. "Kamu inget kapan kita jadian?"


Luhan jadi agak kikuk. Dia tak ingat kapan tepatnya Clara dan dirinya jadian. "Hm ... satu bulan yang lalu?"


Clara mengangguk. Membuat Luhan sangat-sangat bersyukur karena dia tak salah. "Kamu inget kamu ngomong apa ke aku?"


"Kamu satu-satunya buat aku. Jadi pacarku mau, ya?" Luhan langsung menjawab. Tentu saja dia ingat senjata rahasia untuknya mendapatkan seseorang. Selepas itu, Luhan ketawa kecil karena dia jadi ingat hari di mana dia nembak Clara. "Aduh, jadi malu. Aku inget banget waktu itu. Kamu pake baju merah. Pake bando. Lucu banget. Kayak boneka Barbie. Cantik banget. Pengen aku karungin jadinya buat diumpetin di kamar."


"Aku seneng kalau kamu ingat." Clara tersenyum lebar. Namun, tak sampai ke matanya. Matanya masih tampak dingin dan beda dari biasanya.


Kening Luhan mengerut samar. "Emang kenapa sih? Kok jadi ngomongin itu?"


"Aku mau putus."


"Eh? Hah?" Perkataan Clara barusan seperti sebuah suara yang amat nyaring dan menulikan telinga Luhan sesaat. Terlalu tiba-tiba untuk Luhan mendengarnya.


Clara menatap Luhan dengan mantap, kemudian mengulang kembali perkataan yang disuarakannya tadi, "aku mau putus dari kamu. Aku mau berhenti jadi pacar kamu."


Luhan tertawa tak percaya. Dia segera mengambilnya tangan Clara untuk digenggam erat-erat. Wajahnya memelas dan tampak menyedihkan bagi Clara. "Clara sayang, kok kamu jadi gini? Kamu capek? Nggak enak badan? Ada yang ganggu di kelas? Ada yang bikin kamu nggak suka dari aku? Aku bikin kesalahan?"


Clara berdecak keras. Kemudian menarik tangannya dari genggaman Luhan dengan cepat. Hal yang membuat mata Luhan membulat karena selama ini, dia tak pernah bayangkan ada sisi keras seperti ini dalam pribadi Clara yang biasanya lembut dan manis. Tangan itu Clara gunakan untuk mengambil ponsel di saku roknya dan menyentuh-nyentuh layarnya untuk sesuatu.


"Ini, Han." Clara menunjukkan sebuah foto di depan Luhan. Itu foto di mana Luhan dan seseorang berpelukan. Dipost disebuah akun Instagram, akun siapa lagi kalau bukan milik Luhan. "Ini. Ini siapa?"


Mata Luhan membulat. Itu Titi. Temannya dari kecil. Baru-baru ini perempuan yang beda tiga tahun di atas Luhan pulang dari tempat kuliahnya dan Luhan kangen hingga nggak sengaja pelukan. Waktu pelukan, dia difoto sama Lili, kakak perempuannya.


Karena bagus, Luhan menaruhnya di feeds akun Instagram miliknya.


Luhan menatap Clara lurus-lurus. "Ini temen aku, Sayang."


"Temen apa temen?! Kok pelukan gini?" tanya Clara muak.


"Kan aku kangen. Temen aku itu baru pulang kuliah. Aku kangen banget, jadi peluk dong."


"Terus caption-nya kenapa 'sayangku akhirnya kembali! <3' harus banget kayak begitu?!?!?!" Clara amat emosi. Sampai menjerit suaranya dan napasnya memburu hingga kemudian, suara selanjutnya hanya terdengar lirih dan seperti bisikan. Clara sakit hati. "Terus aku siapa kalau aku dipanggil sayang? Terus dia siapa kok dipanggil sayang juga?"


Luhan berdecak. Jadi gemas sendiri. Dia sudah jujur, tapi relasi Clara terlalu berlebihan. "Udah aku jelasin kan. Itu cuma temen aku. T e m e n. Dia cuma temen, Clara." "Percaya sama aku. Aku nggak menjalin hubungan sama siapa-siapa selain kamu sekarang ini."


"Inginnya aku percaya." Clara menitikkan air matanya satu kali. Membuat hati Luhan terasa tersayat. "Tapi nggak bisa."


"Kok gitu?" Alis Luhan bertaut. Tangannya bergerak mengusap air mata yang dikeluarkan Clara.


"Ini udah kamu post seminggu yang lalu, tapi aku nggak tau. Aku tau ini dari temen aku yang kebetulan temen deketnya temen deket kamu." Clara membalas dengan suara yang amat rendah dan amat lelah. Dia menatap Luhan dengan pandangan terluka. "Aku baru tahu ini baru-baru ini. Kamu tau kenapa?"


"Kenapa?"


"YA KARENA KAMU NYEMBUNYIIN FOTO INI DARI AKU!!!!" Clara tak percaya Luhan akan sebodoh dan bersikap sepolos ini terhadap dirinya. Clara jadi meledak, kemudian dia menatap Luhan dengan pandangan meremehkan. "Kamu takut atau gimana maksudnya?"


Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tak bersalah. "Aku nggak inget aku nyembunyiin foto itu dari kamu."


"Luhan." Clara mengeraskan rahangnya, kemudian mengangkat tangannya yang kemudian hanya mengacungkan jari tengahnya. "**** you man. Go to hell, you jerk!"


Mata Luhan membulat, merasa sakit hati. "Sayang ...."

__ADS_1


"Jangan panggil gue sayang." Clara berdecak keras. Matanya menyorot tajam dan penuh kebencian pada Luhan yang memandangnya dengan pandangan terluka. "Jangan manggil gue lagi. Jangan sok kenal sama gue lagi. Jangan ganggu gue lagi. Jangan ... deket-deket sama gue lagi kalau nggak mau gue karate tuh badan kerempeng lo."


***


Paginya Luhan segera menceritakan bahwa dia putus dari Clara setelah Lethan yang duduk satu meja dengannya melihat Luhan sedang chat-an dengan perempuan bernama Adinda, alias perempuan baru yang bukan pacarnya.


Lethan memasang wajah bosan atas kelakuan Luhan yang sangat tidak terpuji itu. Langit hanya berdecak tak percaya. Sementara Lingga malah membara dan ingin memaki-maki Luhan.


"Anjuir, jadi diputusin gara-gara liat foto pelukan lo sama Mbak Titi?" tanya Lethan menyimpulkan.


Luhan mengangguk samar. Lagipula, rasa sukanya pada Clara tak sebanyak itu hingga dia akan galau tujuh hari tujuh malam. "Dia salah paham aja."


"Lo kena tamparan nggak?" Kini, giliran Langit yang bertanya. Soalnya, diantara yang lain, Langit itu paking jahil dan selalu ingin melihat yang lainnya kesusahan atau mendapatkan penderitaan.


"Nggaklah. Clara anaknya lembut, nggak garang kayak Laura atau Pinka."


"Nggak mau tobat, bos?" tanya Lingga dengan senyum miring. Kalau dibandingkan dengan Luhan, Lingga itu berkebalikan tentang pandangannya pada perempuan.


Lingga hanya akan setia pada satu orang. Tak akan pernah seperti Luhan.


"Sorry, tobat itu apa?" Luhan bertanya polos. Lebih tepatnya, meledek.


"****!" Lingga seperti baru saja tersambar petir.


"Waw." Langit bertepuk tangan, takjub sekali.


Lethan berdecak kecil, kemudian menepuk-nepuk pundak Luhan sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Lo adalah deskripsi dari pemimpinnya semua pemimpin setan."


"Sa ae lo." Luhan tertawa pura-pura terhibur atas perkataan Lethan. Kemudian dia melotot pada Lethan."Mau modar, hah?"


"Kasian lah, Han. Anak orang lo bikin nangis mulu." Lingga mulai menceramahi.


"Dia salah paham, anjuir. Harus berapa kali gue jelasin ke kalian?" tanya Luhan agak tak suka. "Kalian kan tau sendiri gue sama Mbak Titi itu hubungannya gimana?"


"Iya, iya." Lingga mengangguk-angguk saja. "Biar cepet."


"Ck, ah." Luhan merasa dipermainkan dan disalahkan. Padahal jelas-jelas Clara hanya salah paham.


***


Bel istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Waktu Lethan, Lingga dan Langit bangkit dari kursi masing-masing, Luhan masih ada di kursinya dengan ponsel di tangan, dimainkan sambil senyum-senyum bak orang gila.


Lethan langsung menendang paha Luhan dengan lututnya. Membuat Luhan tersentak kecil, namun tak mengalihkan perhatiannya daeu ponselnya.


"Woi, lo lagi ngapain? Anteng amat. Nggak kantin langsung?" tanya Lethan.


"Duluan aja. Ntar gue susul."


Lethan saling tatap dengan Langit dan Lingga. Langit berdecak dan menggerakkan dagunya, tanda 'yok dah, kita cabut aja.' Lingga turut mengangguk. Namun, Lethan justru melihat Luhan lagi.


"Cewek baru?" tanya Lethan curiga.


"Anak sebelah. Seru banget, anjuir. Jago gombal balik." Luhan menjawab tanpa menghentikan jari-jarinya untuk mengetik di atas keyboard ponsel. "Hahaha, menantang."


"Gila. Hobi banget begituan." Lethan bergedik ngeri. Masih tak percaya Luhan bisa seperti ini.


"Ya, mending lah dia hobi modusin cewek. Daripada Rio, dia bayangin cewek sambil raba-raba anu." Langit membalas dengan jijik.

__ADS_1


***


"Bersihin ruang seni. Semuanya. Halaman depannya. Alat-alat musiknya. Karpetnya. Kaca jendelanya. Pokoknya semuanya."


Begitulah perkara Pak Abdul hari ini. Karenanya, Langit, Lingga, Luhan dan Lethan berada di depan ruangan seni yang kabarnya akan dipakai setengah jam untuk latihan vokal group mingguan.


Jadi, mereka harus bersih-bersih agak telat dari biasanya dan pulang agak telat dari biasanya pula. Meski begitu, jika bagian dalam ruangan seni dipakai dan tak bisa dibersihkan, ada bagian luarnya yang perlu dan bisa dibersihkan.


"******." Luhan tertawa puas karena dia adalah salah satu anggota vocal group yang akan latihan hari ini. Wajahnya penuh ekspresi ledekan untuk tiga temannya. "Kalian bersih-bersih, gue latihan. Wleee."


"Anjuir lo." Langit berdecak kesal, menyuarakan kekesalannya mewakili Lethan dan Lingga.


"Semangat temen-temen!" seru Luhan kegirangan sendiri. Wajahnya tampak sangat menyebalkan bagi Lethan, langit dan Lingga. "Nanti gue nyusul kalau udah selesai latihan vokal grup."


"Cot lo." Langit lagi-lagi memaki Luhan.


"Gue bilang Pak Abdul biar masa hukuman lo ditambahin." Lingga jadi mengancam.


Alis Luhan menukik tajam, menatap Lingga dengan rendah. "Gitu temen, Nyet?"


"Nggak usah pake nyet juga, B4bi!" balas Lingga jadi turut emosi.


"Woi!" Lethan menengahi. Membuat Lingga dan Luhan berhenti saling menatap penuh kebencian. "Harus banget perang kebun binatang di sini?"


Langit, Lingga dan Luhan tak bisa menjawab. Kalau ada keributan di antara mereka, pasti Lethan selalu bisa meredakannya.


"Anak-anak Vocal group di dalem pada keganggu juga kali!" seru Lethan menambahkan. Setelah dia berkata seperti itu, seseorang menubruk punggungnya hingga Lethan maju ke depan. "Aduh!"


Dia sudah mau memarahi anak yang berani mendorongnya saat sedang emosi seperti ini saat semuanya disihir oleh sosok mungil yang cantik tengah tersenyum tak enak padanya. Rambutnya hanya sebahu, sangat lurus dan hitam, membuatnya tampak imut sekali. Tingginya hanya sebatas dada Lethan, jadi laki-laki itu harus menunduk untuk menatapnya dan perempuan itu harus mendongak untuk balas menatap Lethan.


"Eh, maaf." Perempuan itu berkata penuh sesak seraya menatap Lethan dengan lembut. "Maaf, maaf. Ada yang sakit nggak?"


Lethan langsung berdeham. "Oh, iya, nggak apa-apa."


"Maaf, ya, tadi nggak liat-liat dulu." Perempuan yang tak diketahui namanya oleh Lethan itu meringis kecil. "Kirain tiang. Tinggi banget, sih."


"Anjuir, dikata tiang. Wkwkwkwk." Langit langsung angkat suara untuk meledek Lethan.


Namun Lethan masih tersenyum lebar hingga perempuan yang barusan menabraknya hilang di belokan pintu ruangan seni. Ternyata anaknya anggota vocal group juga.


Wajah Lethan yang sepertinya tengah kasmaran pada perempuan tadi membuat Langit, Lingga dan Luhan memerhatikannya dengan aneh. Tak biasanya Lethan menatap seorang cewek dengan hasrat membara begini.


"Anjuir, itu siapa?" tanya Lethan setelah tersadar dari lamunannya. Dia pikir, dia sedang jatuh hati sekarang ini.


"Mau gue tanyain namanya?" balas Luhan inisiatif. Senyumnya mengembang penuh rencana.


"Boleh, lah." Lethan langsung setuju, namun matanya menyorot penuh perhitungan pada detik selanjutnya. "Tapi jangan dulu dibilangin gue mau PDKT, ntar dia ilfeel duluan."


"Siap, bos." Luhan hormat bak tentara yang akan melaksanakan tugas negara. Membuat Lethan bahagia karena masalah cintanya dipermudah, namun rupanya tidak semudah itu ketika Luhan mengeluarkan suaranya lagi, "Bakso satu mangkok kalau lo nggak mau perasaan lo bocor ke dia. Dadah!"


"Emang sialan si Luhan itu." Lethan tak bisa menyuarakannya langsung pada Luhan karena anak itu sudah masuk ke ruangan. Bergabung dengan anggota vocal yang lain untuk berlatih.


"Udah gue bilangin dia itu bangs4t sejati." Langit segera menimpali dengan kata-kata khasnya yang tak kalah pedas dari ayam geprek. "Dia mata duitan."


Lingga menatap Langit dengan pandangan penuh caci maki. Kemudian menepuk kepalanya dengan decakan kecil. "Lah, lo juga sama!"


***

__ADS_1


__ADS_2