
"Jadi, lombanya besok, ya?" tanya Luhan setelah Reisya turun dari motor dan mengembalikan helm-nya.
"Iya." Reisya mengangguk kecil. "Di SMA 1. Tau kan?"
"Ya, tau dong!" seru Luhan. "Jam berapa?"
Reisya menipiskan bibirnya. "Mulainya jam delapan, tapi kalau waktu buat aku tampil kayaknya agak siangan."
"Yaudah, aku datang jam delapan aja." Luhan memutuskan dengan sebuah senyum lembut. "Kamu semangat. Oke?"
"Sip!" Reisya mengacungkan jari jempol tangannya dengan semangat.
"Yaudah, aku pamit kalau gitu." Luhan menepuk kecil lengan Reisya. "Salam ke Kakak kamu."
"Oke." Reisya membalas sekedarnya. "Hati-hati."
"Iya." Luhan tersenyum kecil, kemudian melambaikan tangan kanannya pada Reisya. "Dadah!"
"Dah!"
***
Hari perlombaan Reisya tiba. Luhan sudah datang dan duduk di kursi penonton bersama orang-orang lainnya yang juga menonton. Agak lama untuk Luhan menunggu penampilan Reisya tiba.
Sampai akhirnya, dia melihat Reisya di panggung di depan sana. Dengan busana cantik dan riasan wajah yang semakin membuat wajahnya bersinar.
"Wedah buset, cantik bener dahh pacar gue." Luhan berbicara sendiri. Tersenyum-senyum sendiri dan bahagia-bahagia sendiri. Secara reflek, ia merapikan rambutnya. "Berasa makin ganteng aja gue. Ha ha ha. Ekhm."
Ketika musik tradisional pengiring tarian Reisya dan tim-nya, Luhan langsung berdiri dengan semangat dan senyum lebar di wajah bahagianya.
"SEMANGAT BABY! AKU SELALU MENDUKUNG KAMU! WUUUUUU!" seru Luhan tanpa malu-malu. Meski ada beberapa penonton yang menatapnya, Luhan tak peduli.
Mata Luhan kini terpusat hanya pada Reisya. Bagaimana perempuan itu meliuk-liukkan tangannya, menggerak-gerakkan tubuhnya dan memainkan matanya hingga menyatu sedemikian rupa dengan tarian lincah dan cantiknya.
Penampilan Reisya keren pokoknya.
Tak terasa waktu seperti berjalan sangat cepat. Semua peserta telah tampil dan Luhan serta Reisya sudah dalam perjalanan pulang saat ini. Berjalan bersisian dengan senyum bahagia di wajah masing-masing.
"Gimana tarian aku?" tanya Reisya seraya menyedot minuman di tangannya. Dia terlalu gugup dan malu untuk bicara lagi. Jadi, kesampaian sekarang, di akhir-akhir.
Luhan menikah dengan wajah semangat dan penuh keyakinan. "1000 pangkat satu miliar triliun dari 100!"
"Apa sih ngaco." Reisya tertawa renyah.
"Dibilang ngaco, tapi ketawa sendiri." Luhan mencibir pura-pura tidak suka.
Reisya tertawa lagi. Dia tak menyangka Luhan akan membalas seperti itu."Soalnya entah kenapa lucu aja."
"Penampilan kamu tadi luar biasa bagus." Luhan kembali menegaskan. Dia tak mau Reisya stress atau tertekan lagi karena perlombaan tari tradisional ini. "Aku sampai lupa ngedip bahkan."
Reisya mengangguk. Merasa ada seseorang yang memeluk punggungnya, mendukungnya. "Bagus lah kalau begitu."
"Iya."
__ADS_1
Reisya tersenyum puas. Kemudian, ia memejamkan matanya dan membuang napas panjang-panjang. "Haaaah, capek."
Luhan turut tersenyum saat dia melihat wajah Reisya yang lebih cerah dari sebelum lomba ini dimulai. "Pengumumannya kapan?"
"Besok, Senin." Reisya menjawab dengan antusias sekaligus khawatir. "Deg-degan banget, sih. Soalnya yang ada hadiahnya cuma juara satu aja. Juara dua sampai harapan satu nggak dapat uang hadiah. Cuma piagam doang."
Luhan mengulas sebuah senyum teduh. "Mau juara berapapun, aku tetap bangga."
"Masalahnya aku pengen juara satu biar bisa ganti uang kamu, tau."
"Yaudah, kira berdoa aja semoga kamu dan tim dari sekolah jadi juara satunya." Luhan menepuk pundak Reisya, sekaligus merangkul bahunya dengan cara yang alami.
Secara otomatis pula, Reisya menyenderkan kepalanya pada dada kiri Luhan. "Iya, semoga aja."
***
Hari Senin tiba.
Dan, Reisya dan timnya juara dua.
Artinya, tak mendapat hadiah.
Reisya frustasi. Semuanya ini tak bisa Reisya terima. Dia sudah berlatih banyak, mengorbankan waktu dan tenaganya, bahkan sampai meminjam uang dari seseorang yang entah bisa Reisya lunasi atau tidak.
Untuk makan sehari-hari saja dia kekurangan.
Karenanya, Reisya memilih menjauh dari Luhan dan mengabaikan semua pesan Luhan berhari-hari. Bahkan saat laki-laki itu nekat ke kelasnya, Reisya memilih kabur dan mengada-adakan alasan untuk tak berhadapan langsung dengan Luhan.
Karena perubahan sikap Reisya itu, Luhan jadi bingung. Dia ingin menagih janji bahwa Reisya akan menjadi pacarnya jika Luhan sudah membiayai lombanya. Luhan benar-benar suka pada Reisya dan tak masalah baginya untuk Reisya tak meraih juara pertama sehingga mendapatkan uang untuk menggantikan uang Luhan sendiri.
Jika itu masalah yang membuat Reisya menjauhinya tanpa alasan dan tak mau menjelaskan, maka Luhan benar-benar tak merasa apa-apa.
Jadinya, laki-laki itu kini melamun. Bahkan saat jam pelajaran sedang berlangsung saat ini.
Beruntung gurunya keluar dulu dan anak-anak kelas mengerjakan tugas kelompok secara mandiri. Jadi, kepala Luhan tak menjadi sasaran empuk lemparan penghapus karena melamun saja saat anggota kelompoknya yang lain sibuk mengerjakan tugas.
Gantinya, kening Luhan diketok secara tidak etis oleh pensil yang dipegang oleh tangan Sari hingga membuat Luhan kaget dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Detik selanjutnya, dia meringis dan menatap Sari dengan tatapan tak suka.
"Woi, kerjain, dong." Sari membalas menatap Luhan dengan tak suka. Dia menunjuk-nunjuk sebuah kertas berisi soal dengan pensil di tangannya. "Itu kan bagian lo."
"Oh, iya." Luhan benar-benar baru sadar dengan soal itu. Dia meringis kecil dan tersenyum tipis, menyesal karena sebelumnya malah melamun. "Sori gue kurang oskadon aduh. Agak pusing. Izin ke UKS bentar, yak!"
Luhan langsung berdiri dan mau pergi keluar kelas saat Sari menahan langkahnya dengan berdiri dari duduknya, berseru dan menatapnya dengan mata melotot, memperingati.
"Heh, ini kan dikumpulin secepatnya!"
"Bentar doang, kok." Luhan menjawab santai. Dia memegang pelipisnya sambil meringis, biar menyakinkan. "Minta obat migrain doang."
Sari tak punya pilihan lagi kalau Luhan benar-benar sakit. Namun, dia tak sebodoh itu untuk melepaskan Luhan. Sari menatap Lethan pada detik selanjutnya. "Than, temenin."
"Lah, kok gue?" Lethan yang sedang mencatat jawaban langsung menggerutu tak terima. "Belum selesai nyatet, nih."
"Jaga-jaga kalau itu anak kabur. Kalau dia kabur, nilai kita bobrok dong? Di sini apa ada lagi yang jago fisika?" tanya Sari dengan nada kesal.
__ADS_1
"Ck." Luhan berdecak keras, kemudian dia duduk lagi di kursinya. "Udah lah. Gue nggak aja aja."
Sari menatapnya dengan mata yang sangat-sangat kesal. "Bohong berarti."
"Apa?" tanya Luhan, merasa terusik
"Lo bohong soal kepala lo migrain dan mau minta obat."
"Ya jelas dong! Pacar gue sekarang lagi ada masalah dan gue nggak tau apa masalahnya! Jelas gue frustasi, dong!" seru Luhan akhirnya, meledak juga tentang apa yang membuatnya melamun seharian ini. Seruannya lantang, membuat anak-anak kelas memerhatikannya dengan penasaran dan rasa tertarik. "Apa salah buat khawatirin pacar sendiri?!"
Mata Sari mengejap tak percaya saat dibentak seperti itu oleh Luhan.
"Weh ... kok nge-gas, Anjuir." Lethan yang ada di sebelahnya jelas kaget. Laki-laki itu langsung menunduk dan menulis lagi dengan tekun. "Malu-maluin. Pura-pura nggak liat, pura-pura nggak liat."
"Eh, eh, dia bukan temen gue, ya. Maaf-maaf nih. He he he." Langit menjelaskan pada teman satu tim-nya. Kebetulan, dia dan Lingga pisah kelompok dengan Luhan kali ini.
"Waktunya yang salah!" Sari balas nge-gas setelah lama berpikir dan merasa sikap Luhan saat ini salah. "Lo boleh aja pikirin pacar lo dan khawatirin dia sampai migrain lah, mingron lah, gue nggak peduli. Tapi kalau lo sampai bawa-bawa masalah itu waktu kita lagi kerja kelompok, jelas-jelas itu salah!"
Luhan mendecih tak suka. Dia tertawa hambar dan mata Sari dengan mata melotot, emosi tingkat dewa. "Lo merasa benar, hah?!"
"Emangnya gue salah di bagian mananya, hah?!" balas Sari tak kalah emosi.
Luhan tak bisa menjawab. Dia sudah pusing memikirkan tentang Reisya dan memikirkan tentang balasan untuk debat dengan Sari hanya membuatnya lebih pusing.
Dua orang yang emosi dan menciptakan perdebatan seru ini jelas-jelas menjadi hiburan anak-anak kelas disela mengerjakan soal fisika yang membuat otak pusing.
"Setelah dipikir-pikir lo nggak salah, sih." Luhan mengangguk-angguk, menyerah dan mengakui kesalahannya. Dia menatap Sari selanjutnya dengan sorot mata berubah lembut dan ramah. "Ah, iya. Maaf-maaf. Gue yang salah. Maaf, sayang, jangan bentak-bentak dong, Ayah jadi takut."
Sari hanya mampu memutar bola matanya karena tak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi spesies seperti Luhan yang satu ini.
Ketika hendak mengerjakan soal miliknya, Luhan merasa suasana kelas jadi sangat hening. Saat dia berbalik, dia langsung di hadapkan pada anak-anak kelas yang menatapnya tanpa berkedip.
"Waduh!" seru Luhan tak habis pikir. "Weiyo! Lo pada gue sama Sari ini pertunjukan Opera apa? Pada melongo gitu kayak lihat Tom and Jerry lagi berantem. Udah sono-sono kerjain dah soal-soal lo pada. Hush-hush, berhenti liatin Romeo dan Juliet!"
"Yeeeeee." Anak-anak kelas menyoraki Luhan dan kembali lagi pada pekerjaan mereka masing-masing.
"Bukan temen gue ya, sekali lagi." Kali ini Lingga yang duluan menjelaskan pada teman-teman satu tim-nya.
"Nggak tau siapa itu orang." Langit menimpali dengan ringan. "Gue nggak kenal sebenarnya."
Di sisi lain, Lethan menatap Luhan dengan sorot mata tak percaya.
"Han, lo sebenarnya waras apa nggak?" tanya Lethan pelan.
"Oh, tentu gue waras." Luhan menjawab dengan santai seraya mengerjakan soal fisika di depannya dengan mudah. "Dan gue ganteng."
"Huekkkkk!"
"Sok nggak suka gitu." Luhan mencibir dengan nada meremehkan. "Dalam hati pasti angguk-angguk setuju karena gue emang betulan cakep. Ya kan, ya kan?"
"Aduh, beneran deh, gue butuh kantong kresek nih." Lethan mengusap-usap perutnya. "Mual banget, anjuir."
***
__ADS_1