
Kelas XI IPA 3, mari kita sambut!"
Suara dari MC perlombaan fashion show di lapangan terdengar begitu tiba-tiba. Memang, jika mengikuti lomba, waktu terasa berjalan amat cepat.
Lili dan Theo langsung bertatapan dengan wajah gugup yang terlihat nyata.
"Ayo, maju! Good luck!" seru Mila menyemangati.
"Jangan gugup, Li! Lo cantik! Harus percaya diri!" sambung Gema.
Lili membuang gugupnya dengan embusan napas panjang. "Ayo, Yo." Kemudian dia memegang lengan Theo seperti saat mereka latihan.
Ya, seperti mau foto prewedding kalau kata Mila.
Lili tersenyum lebar saat mulai berjalan di karpet merah yang tersedia. Lili tak pernah merasa jantungnya seberdebar ini. Namun, bukan debaran yang membuatnya super gugup. Tepatnya, jenis debaran yang menyenangkan.
Suara musik yang mengiringi saat setiap model berjalan dengan aura masing-masing terdengar. Hal itu mendorong diri Lili untuk turut berganti gaya di setiap langkahnya berhenti.
Theo pun sama menakjubkannya. Dia tak tampak kaku. Justru menatap ke setiap sisi secara berurutan dengan sorot mata penuh kharisma.
Ketika Lili mencangklokkan tangannya di pinggang, Theo menatapnya penuh arti. Lili seperti menerima sinyal, kemudian dia menoleh dan bertatapan dengan Theo.
Mata mereka penuh sorot seperti model profesional dan itu membuat banyak orang yang melihat mereka berseru keras tak karuan.
Mereka benar-benar seperti melihat fashion show berkelas.
Waktu seperti berjalan cepat sekali. Hal yang sedikit Theo sayangkan karena rupanya dia senang saat bersama Lili menjadi pusat perhatian. Mereka telah menyelesaikan sesi fashion show itu dan hendak turun dari lapangan.
Gema dan Mila berserta asistennya sudah menunggu di sana. Lili yang merasa jiwanya telah hilang hampir kehilangan keseimbangan saat akan turun, Theo menangkap sinyal Lili akan jatuh itu dan segera menangkap tubuhnya.
Ya, taulah posisinya jadi bagaimana. Kayak di drama-drama gitu. Lili dan Theo jadi saling bertatap-tatapan.
"A!" Lili berseru tertahan. Dia pikir akan jatuh ke semen yang keras. Bahkan bajunya jadi sobek karena dia jatuh ke tangkapan Theo begitu tiba-tiba.
Lili benar-benar lega melihat wajah Theo. Dia agak pusing. Kemudian bangkit secara perlahan dengan bergantung pada lengan Theo.
"Li!" seru Mila langsung menghampiri dengan wajah khawatir. "Lo nggak apa-apa kan?"
"Li, ayo ke UKS dulu!" seru Gema sama khawatirnya.
Lili terlalu linglung dan seperti berada di dalam mimpi untuk bicara. Jadinya, ia hanya pasrah mengikuti arahan teman-temannya.
***
"Laper, Gem," rengek Lili saat dia dan Gema berjalan untuk melakukan perjalanan pulang.
Gema tertawa tak percaya sambil melihat Lili. Gema teringat kejadian sebelumnya. Saat Lili terbaring lemah di UKS.
__ADS_1
Lili hanya diberi obat penambah darah karena anemia-nya tadi di UKS. Rupanya Lili melewatkan jam makan siangnya dan pusing karena terlalu banyak berdiri.
Mila langsung merasa bersalah karena dia salah taktik tadi. Harusnya dia merias wajah Lili dulu sambil duduk, lalu memakaikannya baju. Bukannya memakainya baju dulu hingga Lili harus terpaksa dirias sambil berdiri.
Mila terlalu berambisi.
Namun, Lili bilang tak apa-apa. Dia begini juga demi kelas, demi kemenangan. Bukan hanya Mila yang ingin kelasnya menang.
Yang lucu lagi, Theo menemani Lili tanpa mengucapkan apa-apa sampai akhirnya mereka terpisah karena bel pulang sekolah. Lili senang melihatnya. Khususnya karena gaya rambut baru Theo yang gue benar-benar membuatnya tampak berbeda.
Lebih tampan dan lebih berkharisma.
"Makanya sarapan dulu kalau mau sekolah," kata Gema memberi pepatah. "Sesibuk apapun lo di sekolah, jangan lupain makan. Jajan roti dulu, kek. Bilang aja, gue beliin kalau nggak ada halangan."
"Gue nggak mau repotin. Nggak mau bikin lukisan Mila di wajah gue rusak juga. Kasian," balas Lili sedih.
"Ya, pokoknya, jaga diri lo sendiri juga."
"Iya, iya," balas Lili dengan tawa kecil. "Gimana kalau seblak Bu Ikah?"
Gema tersenyum lebar. "Gas!"
"Yeay!"
Lili dan Gema akhirnya berjalan riang untuk menuju warung Bu Ikah yang menyediakan seblak di seberang sekolah mereka. Lili masih terkejut saat melihat Theo masih ada di gerbang sekolah. Lili masih tersentuh karena niat baik laki-laki itu.
"Gitu deh," balas Lili jadi malu. Enggan untuk menjelaskan lebih lanjut dan memilih untuk menghampirinya Theo dengan senyum kecil di wajahnya.
"Theo, lo boleh pulang duluan aja. HP gue batre-nya masih banyak, jadi pasti pulang pake ojol. Gue mau makan seblak dulu sama Gema dan kayaknya bakal lama." Lili menjelaskan panjang. "Lo masuk aja ke rumah gue. Bilang gue-nya lagi sama Gema. Ibu pasti paham, kok."
Theo tak menjawab, hanya mengangguk kecil. Dia memakai helm-nya dan langsung melesat pergi.
Setelah Theo benar-benar hilang dari pandangan, Gema menyenggol lengan Lili dengan gemas. "Maksudnya apa tuh? Pamit sama pacar?"
"Apa sih, Gem," kata Lili malu. "Gue sama Theo nggak pacaran, ish."
"Tapi kalian tuh kayak yang pacaran, tau." Gema menyusul Lili yang melangkah duluan untuk menyebrang ke warung Bu Ikah. "Mana ada cowok yang nunggu cewek di UKS kalau bukan pacaran? Mana ada juga cowok yang nunggu cewek waktu pulang?"
Lili berdecak. Kemudian duduk dan berkata pada Bu Ikah yang tengah memotong kol, "Bu, seblak super pedas dua!"
"Siap, Neng!"
"Heh!" tegur Gema gemas karena diabaikan setelah dia ikut duduk di sebelah Lili. "Lo ada apaan sama Theo?"
"Nggak ada, Gem, nggak ada, ish. Harus berapa kali gue bilang? Nih, cubit aja pipi gue kalau sekarang gue ada apa-apa sama Theo."
Lili paling tidak suka saat pipinya dicubit dan itu artinya dia mengatakan kejujuran.
__ADS_1
Akhirnya, Gema membuang napas pasrah, menyerah. "Yaudah, deh, gue percaya."
"Nah. Bagus. Kan gue juga tenang jadinya."
"Mau sampai kapan?!" Suara seorang laki-laki di samping Lili dan Gema membuat perhatian dua perempuan itu teralih padanya.
Ada seorang laki-laki berbaju hijau gelap dan jins hitam yang tengah berhadapan dengan seorang perempuan dengan rambut bergelombang. Semua orang yang satu angkatan dengan perempuan itu jelas kenal siapa dia.
"Sherin kan itu?" Gema berbisik hati-hati.
Lili mengangguk.
"Kayaknya dalam bahaya dia. Mau dibantu nggak?" Gema berbisik lagi.
"Tunggu, kayaknya nggak begitu bahaya," tahan Lili memberi instruksi. "Kita liat dulu aja. Jangan keliatan sok peduli banget. Kadang orang-orang nggak suka dicampuri tiba-tiba urusannya sama yang nggak dikenal."
Berkat itu, Gema dan Lili jadi hanya melihat pemandangan itu dengan harap-harap cemas.
"Tunggu ... tiga bulan lagi," pinta Sherin dengan wajah memelas. "Tiga minggu lagi, gue bakal jelasin semuanya ke lo."
Laki-laki itu tertawa hambar. "Lo diancam sama Theo?"
Mata Lili dan Gema kompak melebar.
"Kok bawa-bawa Theo?" tanya Gema langsung penasaran.
Lili tak menjawabnya. Memilih untuk fokus mendengarkan percakapan dua orang itu. Jika Lili tak salah mengira, bisa jadi laki-laki itu yang namanya Dika.
"Nggak, Dika. Theo sama-sama sekali nggak ngancam gue." Sherin akhirnya membuktikan dugaan Lili itu benar. "Lo sabar aja, oke? Cuma tiga minggu aja."
Dika menyeringai miring. Terlihat menyeramkan bahkan saat Lili melihatnya dari samping. "Gue nggak tau bisa tahan ini atau nggak."
Saat Dika mengatakan 'ini', dia mengangkat kepalkan tangannya ke wajah Sherin.
Sherin mengangguk penuh keyakinan. "Lo tunggu aja yang sabar, oke?"
"Neng Cantik, ini seblaknya!" seru Bu Ikah, disusul sajian seblak panas yang mengepulkan asap dan menggugah selera karena aromanya yang kuat.
"Hm, seger banget," kata Gema saat dia menyeruput kuahnya.
Seluruh perhatian Lili dan Gema jadi teralih untuk segera menyantap makanan pedas kesukaan mereka itu sehingga tak lagi mendengarkan percakapan Dika dan Sherin hingga mereka berdua pergi.
Meski begitu, Lili masih memikirkan pertemuan Dika dan Sherin yang mencurigakan karena melibatkan Theo.
Sebenarnya ada apa antara Theo, Sherin dan Dika?
Mengapa perasaan Lili tak enak begini?
__ADS_1
***