Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 55


__ADS_3

siap-siap ya, soalnya ke depannya bakal banyak emosi hahahaha


****


"Yohan ...."


"Yohan .... Aduh, ini anak kok tidurnya bisa nyenyak begini? Padahal satu-dua jam yang lalu udah dibangunin."


"Yohan .... Bangun, Yohan."


Sentuhan lembut di pipinya membuat Yohan perlahan membuka matanya. Mengernyit sesaat kala sinar mentari menyorot matanya. Wajah cantik Ily menyapa pandangannya kala Yohan menoleh ke arah kiri. Melihat bagaimana rapinya Ily kini, Yohan yakin perempuan itu telah mandi.


Senyum lega Ily mengembang  saat melihat kesadaran Yohan.


"Pagi, Ly." Yohan tersenyum, senyumnya lebar dan sarat rasa senang. Tanpa bisa ditahan, tangannya bergerak meraih tangan Ily.


Kepala Ily ikut menoleh pada bagaimana tangannya diperlakukan oleh Yohan. Keningnya mengernyit. Tangannya digenggam erat, kemudian Yohan semakin dekat mengarahkannya ke wajahnya sendiri. Ily tak mau menduga-duga kalau Yohan akan mencium punggung tangannya, namun gerakan laki-laki itu kini memang mengarah pada hal itu.


Ily bahkan sampai memejamkan matanya.


Jam delapan pagi. Yohan melihat itu dari jam yang terlingkar di pergelangan tangan Ily Yang tengah ia genggam. Meski sudah selesai urusannya, Yohan tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Ily.


Merasa nyaman lagi dan ingin waktu menjadi beku.


Menyadari tak ada respon yang signifikan dari Ily, membuat kening Yohan mengernyit dan akhirnya mendongak untuk menatapnya. Yohan dibuat semakin bingung saat Ily tengah memejamkan matanya.


"Kamu ngapain, Ly?"


Saat Ily membuka matanya dan tahu-tahu Yohan sudah bangkit untuk duduk dari tidurnya, kini mendongak menatapnya yang berdiri. Ily mengerjap, salah tingkah. Tangannya yang bebas menyentuh tengkuknya dengan kikuk. "Ha ... ah, emang aku ngapain?"


Ily tak berani menatap Yohan, kini ia malu sekali.


"Tadi kamu merem," balas Yohan polos. "Kenapa?"


"Ha? Kapan, sih?" Ily tertawa hambar, menutupi kebohongannya dengan pura-pura polos. "Kamu salah lihat kali. Kan baru bangun juga. Masih belum terkumpul tuh nyawanya."


"Eh? Tapi tadi aku melihat kamu merem. Serius."


"Nggak, Yohan. Aku nggak merem. Kamu salah lihat."


"Ah, masa iya?" Yohan jadi bingung. "Tadi sumpah aku melihatnya."


"Kamu salah lihat, Yohan," tegas Ily terkesan memaksa.


Yohan tampak berpikir. Menatap Ily dengan mata yang menyipit curiga. "Atau jangan-jangan ... kamu ...."


"Ya, kamu yang pertama ngapain?! Kenapa ngambil tangan aku dan bikin gerakan kayak kamu mau cium tangan aku?!" Ily berseru cepat dengan nada tinggi yang menandakan dia terpaksa mengatakannya dengan malu dan harga diri yang turun. "Aku baper, Yohan! Aku baper!"


Yohan mengerjapkan matanya dengan lamban. Awalnya tak mengerti apa yang dimaksud Ily, sampai akhirnya ia tertawa beberapa saat kemudian. Tawa renyah yang terdengar manis dan Ily ingin terus mendengarkan.


Tak peduli bahwa alasannya tertawa adalah sikap bodohnya sendiri.


"Aku cuma mau lihat jam, Ly," jelas Yohan. "Aku biasanya bangun jam tiga pagi. Rasanya masih mimpi saat nyatanya aku bangun jam delapan pagi."


"Ooh," tukas Ily cepat. Merasa malu sekali. "Aku kira apa. Kamu nggak bilang-bilang, sih."


"Kamu lucu banget, sih, Ly. Gemes aku," kata Yohan dengan tawa yang masih mengudara. Kemudian, tiba-tiba ia mengangkat tangan Ily untuk selanjutnya ia tempelkan bibirnya di punggung tangan itu dalam tempo yang amat singkat. Setelahnya, Yohan mendongak lagi dengan senyum lebar. "Kamu inginnya begitu?"


Mata Ily melotot, refleks menarik tangannya dari genggaman Yohan yang sebenarnya sangat membuatnya nyaman itu karena terkejut sekaligus tak percaya pada tingkah Yohan barusan.


"Kamu gila, ya, Yohan?!" teriak Ily tak terima. "Kenapa bisa semudah itu?!"


"Iya, aku gila, Ly," tukas Yohan seraya berdiri, menampilkan postur tubuhnya yang tinggi dan kini lumayan berotot. Berkatnya, Ily mundur takut-takut. Rambutnya yang acak-acakan membuat Yohan tiga kali lipat lebih tampan daripada biasanya.


"Yohan .... Yohan, tenang, kamu mau apa?"


"Grawr!" Yohan menirukan seekor harimau yang hendak memangsa daging  di  hadapannya, kemudian kakinya bergerak cepat, mengarah pada Ily.

__ADS_1


"AAAAAAA!" Ily sontak berteriak seraya berlari kencang untuk menghindari kejaran Yohan.


"Grawr! Grawr!" Yohan terus bersuara seperti itu dan makin membuat takut hingga Ily ingin menangis rasanya.


"Yohan, kamu ngapain, sih?!" Ily bertanya frustasi saat ia dan Yohan hanya dibatasi oleh sofa. Keduanya kini seperti dua anak yang sedang bermain kejar-kejaran.


Yohan justru tersenyum miring melihat wajah ketakutan Ily. "Mau ke mana kamu, hah? Grawr!"


"Yohan sadar! Yohan, hei, aku capek!" seru Ily saat ia sekuat tenaga berlari mengelilingi ruang tengah untuk menghindari cakaran Yohan. Serius, selain menggeram seperti hewan buas, Yohan juga memasang jari-jarinya seperti akan merobek kulit Ily jika ia mendapat Ily.


Yohan tertawa iblis. Senang sekali bisa bermain dan menjahili Ily. "Kamu nggak bisa lari ke mana-mana lagi. Hahahaha."


"Yohan, berhenti! Yohan berhenti, hei!" Ily semakin frustasi saat ia sampai di dapur, kini hanya terhalang meja makan yang kosong. Ayah dan ibunya sudah pergi bekerja dan Ily tak bisa minta tolong siapapun untuk menghentikan Yohan yang kini sedang gila. "Kamu kenapa, sih, Yohan?!"


"Grawr!" Semakin Ily ketakutan, semakin gencar Yohan menggodanya. "Kamu lari ke mana kamu, Ily? Wahaha."


"Yohan," kata Ily dengan kedua tangan terangkat ke atas, dengan gerakan pelan-pelan ia mencoba untuk mendekatkan diri pada Yohan. "Tenang, Yohan, tenang. Mari kita selesai permainan ini. Kamu harus mandi, terus sarapan dan aku akan--AAAAA YOHAN, APA YANG KAMU LAKUKAN?! AAA!"


Perkataan Ily yang ditujukan untuk menenangkan Yohan terpotong karena setelah dekat, Yohan langsung menghambur memeluk leher Ily dan menggigit pundak Ily tanpa main-main. Yohan benar-benar seperti harimau kelaparan.


Ily meringis, menepuk-nepuk lengan Yohan yang melingkar di lehernya. Ily bergerak ke sana ke mari, berusaha melepaskan diri. "Yohan, berhenti! Sakit!"


Ketika Ily berseru seperti orang yang hendak menangis, Yohan menghentikan aksinya. Wajahnya langsung ditimpa rasa bersalah yang kenyal kala melepaskan diri dari Ily.


Melihat wajah marah Ily, Yohan menunduk. Ily hanya sebatas bahu Yohan, jelas kini ia melihat wajah penuh penyesalan itu. 


"Maaf, Ly."


"Nggak ada maaf buat kamu," tukas Ily kejam. Napasnya masih terengah-engah dan kesal atas cara bercanda Yohan yang berlebihan.


"Ly, aku cuma bercanda," jelas Yohan seraya mengangkat kepalanya dan menatap Ily tepat di mana. "Kamu kok baperan? Aku cuma mau senang-senang, cuma mau main-main."


"Bercanda kamu kelewatan! Paket gigit-gigit segala, lagi!" Ily melipat kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya dari Yohan dengan pipi mengembung.


Marahnya Ily lucu, namun Yohan harus menahan tawanya sekarang. Bisa jadi Ily makin marah kalau Yohan tertawa.


Mata Ily melotot. "Kamu ngapain lagi, sih?!"


"Kalau masalahnya tentang gigit-gigit itu, kamu bisa membalasnya sekarang! Nih, tanganku bebas buat kamu gigit!" seru Yohan tanpa malu.


Ily memutar bola matanya. Sebenarnya masalahnya bulat tentang gigitan Yohan, sebab gigitan Yohan tak terasa sakit sama sekali. Justru geli dan aneh. Tetapi tetap saja, Ily tak suka bercanda dalam konteks ini.


Rasa takut dan menegangkan yang ditimbun karena wajah dan suara Yohan ketika menggeram adalah yang Ily tak suka.


"Kamu bercanda, ya?" tanya Ily sarkas.


"Nggak, tuh. Aku serius sekarang."


"Udahlah!" seru Ily seraya berdecak dan menatap Yohan dengan kesal. "Sekarang kamu mandi dulu. Bau tau."


Yohan menurunkan lengan baju panjangnya dengan perlahan. "Aku dimaafkan, Ly?"


"Y."


"Yes!" Yohan hendak maju memeluk Ily saat tangan Ily langsung terangkat menahan gerakannya.


"Kamu bau, Yohan. Jangan dekat-dekat. Mandi dulu."


Yohan cemberut, dengan kuping memanas, laki-laki berbalik untuk pergi membersihkan diri.


***


Bang Jefri menunggu, duduk di kursi yang berada di pinggir bangsal di mana Elvan yang masih belum sadarkan diri terbaring. Bang Jefri memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal di atas keningnya; khawatir, takut dan berdoa.


Dua orang dari timnya yang terluka di bagian kaki sudah mendingan dan mereka tak pernah memejamkan matanya tak sadarkan diri seperti Elvan. Sudah 24 jam berlalu, Elvan sudah dioperasi hingga peluru yang menembus perutnya dikeluarkan, namun Elvan belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk sadarkan diri. Membuka matanya dan melihat Bang Jefri dengan senyum bodoh seperti biasanya.


Jika Bang Jefri kehilangan orang timnya yang lebih tua, mungkin perasaannya tak akan sekalut ini. Elvan masih muda, masih punya masa depan yang cerah, namun dia harus mengalami kejadian pahit yang mengancam nyawa serta masa depannya.

__ADS_1


Laporan mengenai hilangnya jejak Yohan di sebuah perumahan sudah Bang Jefri sampaikan pada Kim Sungjun. Ajaibnya, ia tidak marah kala mendapatkan kabar yang menurut Bang Jefri sangat buruk itu.


Dua orang di timnya terluka dan satu orang lainnya terluka parah hingga tak sadarkan diri serta target berhasil kabur.


Harusnya, kenyataan itu dapat membuat Bang Jefri terkena cambukan atas kelalaiannya menjalankan tugas. Namun, Kim Sungjun justru menepuk pundaknya, mengatakan terimakasih bahwa ia sudah melakukan yang terbaik.


Ketika Bang Jefri bertanya kenapa Kim Sungjun bersikap sedemikian rupa, Kim Sungjun membalas dengan senyuman. Dari sana, Bang Jefri tahu bahwa Kim Sungjun sudah mengatasi masalahnya dengan Kim Yongjun hingga Bang Jefri tak perlu lagi mencari Yohan.


Mungkin, masalah mereka sudah benar-benar selesai dan Bang Jefri bersyukur karenanya.


Air mata Bang Jefri hampir menetes kala memberikan waktu istirahat satu bulan untuk tim Bang Jefri. Bang Jefri bersyukur karena berkat itu, ia dapat merawat Elvan sebaik mungkin.


Bang Jefri tahu Elvan masih punya keluarga, namun tak mungkin juga ia mengabarkannya. Yang ada, Kim Sungjun dan dirinya akan terseret masalah dan dunia underground mereka akan terkuak. Jadi, sebisa mungkin, Bang Jefri menyembunyikan kabar tentang terlukanya Elvan, dari siapapun.


"Van, woi, bangun dong," lirih Bang Jefri kala matahari sudah tampak akan kembali pada peraduannya. "Lo hutang banyak penjelasan ke gue. Kenapa lo biarin dia nembak lo? Kenapa lo biarin dia lari? Kenapa, Van? Apa dia seseorang yang pernah menyelamatkan hidup lo?"


"Bang ...." Suara lemah itu membuat mata Bang Jefri terbuka pada bukaan maksimal. Elvan tak membuka matanya di sana, namun tampak sekali laki-laki itu susah payah untuk membuka suara. "Membantu lo itu nggak perlu ada alasan. Nggak perlu untuk seseorang menyelamatkan hidup kita dahulu, baru kita balas menyelamatkannya kemudian."


Elvan mengerang, sempat membuat Bang Jefri khawatir. "Woi, jangan dipaksain."


"Kita mahkluk sosial, Bang. Harus saling tolong menolong," lanjut Elvan sempat-sempatnya.


Bang Jefri membuang napas kesal. "Lo keras kepala, Van."


"Nggak, Bang."


"Ck. Udah, simpen aja energi lo. Gue mau panggil dokter," pesan Bang Jefri seraya bangkit. Jatuhnya ia terdengar jutek dan marah, namun sebenarnya ia sangat bahagia karena Elvan bisa sadarkan diri.


Konon, orang yang tidur dalam sakitnya, remang-remang mendengar apa yang dikatakan orang-orang di dekatnya. Mengingat itu, Bang Jefri malu karena pernah berkata-kata sesuai apa yang dirasakan.


Bahwa Elvan adalah teman berharganya, sudah seperti adik yang ingin terus ia jaga. Bahwa kehadiran Elvan bagai cahaya bagi Bang Jefri untuk dapatkan cita-cita. Bahwa ketidakadaan Elvan atau kesakitan Elvan adalah derita nyata bagi Bang Jefri juga.


"Bang," tahan Elvan, membuat langkah Bang Jefri terhenti pada langkah kedua yang ia ambil.


Bang Jefri berbalik. "Apa?"


"Ada orang yang jenguk selain lo nggak?" Mata Elvan berharap tinggi, seolah ingin ada seseorang lain yang peduli padanya saat ini.


"Gue belum kasih tau siapa-siapa," balas Bang Jefri tanpa ragu dan itu cukup bagi Elvan untuk mengetahui bahwa tak ada orang lain lagi selain Bang Jefri yang menunggu kesadarannya.


Elvan menerima jika itu karena Bang Jefri tak menghubungi siapapun tentang keadaannya, namun ia tak terima jika dirinya dibiarkan sendiri menghadapi rasa sakit ini.


Padahal ... bukannya Yohan tahu keadaannya?


Namun, Elvan tak mau memikirkan lebih lanjut hanya untuk berspekulasi hingga buat hatinya sakit.


"Oh, oke, Bang. Makasih udah temenin gue."


Setidaknya, ada Bang Jefri di sisinya. Meski tak terlalu dekat seperti Eza dan Ily, Bang Jefri sudah seperti temannya sendiri. Ah, Elvan jadi rindu Eza dan Ily.


"Yoi."


Sepeninggalan Bang Jefri, Elvan mengela napas kecil. Kemudian hendak bangun, namun tak itu terjadi karena ada sakit yang luar biasa di bagian perut kirinya, yang menjadi sumber luka beberapa waktu lalu. Karena terhunus peluru panas.


Elvan tak sedih saat ini. Elvan kuat. Elvan terbiasa. Elvan tak butuh teman. Elvan berani. Elvan bisa sembuh sendiri.


Kata-kata itu terus ia rapalkan, berharap bisa menjadi nyata. Di sebuah kamar serba putih, bau antiseptik yang pertama kali Elvan rasakan, sepi, dingin dan minimalis, Elvan ingin menenangkan dirinya.


Bahwa dia bisa baik-baik saja sekarang.


Sayangnya, tak lama, ada sesuatu yang mencekik dan susah untuk Elvan hilangkan hingga ia tak kuasa bahkan hanya untuk menelan ludahnya sendiri. Tak lama dari itu, air matanya mengalir perlahan dari kedua matanya.


Elvan menangis sedih, Elvan menangis kesepian, Elvan menangis kesakitan dan Elvan menangis penuh ratapan.


Di balik pintu kamarnya Elvan, Bang Jefri tak jadi masuk saat melihat Elvan menangis. Bang Jefri paham betul kalau laki-laki tak mau terlihat menangis di depan siapapun, apalagi laki-laki yang statusnya seperti Bang Jefri; orang tegar yang pantang menangis.


Maka dari itu, Bang Jefri membiarkan, setidaknya waktu satu jam untuk Elvan begitu; untuk meluapkan seluruh air matanya yang membuat sesak.

__ADS_1


***


__ADS_2