
"Udah cantik, Ly," puji ibu saat lagi-lagi Ily bercermin di kaca kamarnya.
Perias yang disewanya sudah pergi setengah jam yang lalu, namun Ily merasa risi dengan matanya yang terlihat terlalu bold seiring cahaya masuk lewat jendelanya. Mendengar pujian ibu yang menenangkan, membuat Ily mengela napas dan pasrah saja dengan keadaan. Mungkin, Ily terlalu berlebihan.
Ily tersenyum pada ibunya. "Iya, Bu."
"Ayah sama ibu datangnya jam 11, ya. Jangan ngeluh. Ini masih banyak kerjaan rumah," balas ibu seraya meniup dan menepuk-nepuk pundak Ily yang brukatnya terlihat agak berdebu.
"Iya, Bu. Nggak apa-apa. Maaf Ily nggak bisa bantu buat beresin rumah Minggu ini." Ily menunduk malu. Suaranya lebih lirih dan merasa rendah diri.
Ibu membuang napas kecil. "Nggak apa-apa, Ly. Sekarang kamu seneng-seneng aja di sana. Udah takdirnya ayah dan ibu jadi pendukung kamu. Kamu jangan terlalu banyak mikirin perjuangan ayah sama ibu, nanti cepet tua."
Ily mendongak, kemudian tersenyum sedih saat menatap wajah bahagia Ibu dengan senyum lebar.
"Tapi Ily pengen jadi anak yang berbakti, Bu," keluh Ily dengan wajah putus asa. "Ily pengen bahagiain ayah sama ibu."
Ibu berdecak, kemudian mencubit kecil hidung mancung Ily dengan gemas. "Ish! Kamu udah gede, sehat dan bisa lulus SMA aja ibu udah seneng bukan kepalang!"
"Seriusan, Bu?" Ily masih tak merasa puas.
"Iya, seriusan!"
"Ih, ibu, Ily serius," gemas Ily seraya mengentak-hentakkan kakinya yang masih tanpa alas.
"Idih, emang ibu nggak serius?"
"Muka ibu nggak meyakinkan." Ily cemberut.
Melihat wajah dengan cemberut itu membuat Ibu gemas, lantas tangan perempuan berumur hampir setengah abad itu menepuk pelan bibir anaknya.
"Udah napa, jangan cemberut mulu, senyum dong!" Ibu mencubit pipi Ily, tak melepaskannya sampai bibir Ily tertarik dan seolah sedang tersenyum.
"Aaaaa, ibu, sakit," keluh Ily seraya meringis dan menepuk-nepuk tengan ibu yang jahil itu dengan pelan.
"Jangan cemberut dulu. Baru ini lepas," kata ibu seraya menyeringai lebar. Kadang, ibu bisa menyeramkan di mata Ily.
Pada akhirnya, Ily tersenyum. Lebih lebar seiring waktu, sampai pada matanya. Mata Ily membentuk bulan sabit saat ibu melepas tangannya dari pipi Ily.
"Nah, kan, cantik," puji ibu lagi-lagi.
"Iya kan mirip ibu," balas Ily dengan senyum malu-malu. Ibu menatapnya sedemikian rupa, sebab Ily tak pernah sekalipun memuji cantiknya. Ditatap seperti itu, Ily merasa amat malu dan akhirnya memeluk ibunya dengan erat.
"Ibu, ih, malu," rengek Ily seperti seorang bayi. "Jangan diliatin gitu."
"Ih, kamu ini kenapa--"
"ILY INI EZA UDAH DATENG NIH, BURUAN TURUN!"
Pertanyaan ibu harus terinterupsi oleh suara ayah tak tak kalah dari jeritan anak baru gede yang nonton konser idolanya. Suara ayah juga membuat Ily melepas pelukannya dari ibu dan salim dengan hormat.
"Ibu, Ily mau berangkat dulu."
__ADS_1
"Hati-hati."
"Iya."
Ketika Ily turun, dia disambut oleh pandangan penuh kagum dari ayah dan Eza. Membuat Ily sangat malu dan hampir terjatuh karena menginjak gaunnya sendiri. Beruntung ada sofa yang menjadi penyelamatnya dari jatuh.
Ayah menghampirinya langsung. Menantang Ily dari atas sampai bawah. "So beautiful."
Ily tersenyum kecil. Kemudian melihat Eza yang tampak masih mematung di sana.
"Eza. Woi."
"Eh," gagap Eza seraya menggaruk tengkuknya. Perlahan, langkahnya menuju Ily. "The power of make up."
Ily langsung memukul bisep laki-laki itu. Wajahnya segera berubah menjadi ketus dan cemberut.
"Emang," balas ayah untuk komentar Eza. Sesaat, membuat Ily memasang wajah melongo, tak percaya. "Kayak bukan kamu, Ly."
"Iya, gimana aja deh." Ily mengangguk kecil, tak peduli begitu banyak. "Cuma sehari ini, kok. Lagipula aku juga nggak begitu nyaman pake bajunya sama make-upnya juga. Berat, gerah."
Ayah tersenyum. "Tapi kalau kamu senyum, cantiknya ngalahin bidadari."
"Idih, emang ayah pernah liat bidadari?" Ily bertanya dengan senyum geli. Ayahnya memang punya selera humor yang pas untuknya.
"Ibu kamu."
"EKHM." Ibu tiba-tiba datang dan berdeham, membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana. Ia menatap Ily dan Eza khawatir. "Kok masih di sini?"
Sepertinya ini tak mendengar percakapan Ily dan Ayah karena perempuan dengan senyum hangat itu langsung bertanya pada hal lain.
"Oh gitu," tukas ibu baru paham. Kemudian ia melangkah ke arah Eza.
"Tante," sapa Eza, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan ibu dan mengarahkannya pada kening. "Sehat, Tan?"
Ibu tersenyum sampai matanya sedikit menyipit. "Sehat. Kamu sendiri gimana?"
"Eza sehat, Tan," jawab Eza mantap.
"Sini," kata ibu untuk setelahnya merapikan dasi dan jas hitam yang dikenakannya Eza. Setelahnya, ia merapikan rambutnya dan beberapa kali menepuk-nepuk pundak serta lengan jas Eza yang dirasa agak berdebu dan tak rapi.
Perlakuannya membuat Eza teringat saat SD, bahkan SMP. Ibu Ily sampai kini pun masih sangat peduli padanya. Bagaimana Eza tak merasa sangat berhutang?
"Nah, udah ganteng banget sekarang," kata ibu dengan senyum bangga.
"Makasih, Tante," balas Eza dengan anggukan kecil. "Eza bakalan jaga Ily."
"Oh, yaudah, langsung berangkat aja. Harus jemput Elvan juga, kan? Itu anak belum kelihatan," sambung ibu heran.
"Iya, Tante," paham Eza. Ia salim lagi pada ibu Ily dan setelahnya pada ayah Ily. Kemudian menatap Ily. "Ayo, Ly."
Ily mengangguk. "Ibu, ayah, Ily berangkat dulu."
__ADS_1
"Hati-hati, babe."
Ily tertawa atas balasan ayahnya. Kemudian berjalan setelah memakai hills hitamnya. Karena tak terbiasa, beberapa kali ia harus berpegangan pada pundak Eza karena sepatu tingginya ini terlalu tinggi.
Eza menjemput Ily dengan mobil milik om Fadli, om dari Eza. Minggu kemarin, Eza baru saja mendapatkan SIM dan kini bisa bebas mengendarai tanpa perlu menghindari pantauan polisi di setiap pos. Ketika masuk, Ily langsung disambut wangi apel yang membuatnya nyaman.
"Wangi bener," puji Ily senang.
Eza menyisir rambutku ke belakang dengan gaya sombong. "Buat jemput lo mana boleh bau. Nanti dijulidin."
"Aduh, Eza pagi-pagi gini jangan bikin darting dong ah," keluh Ily agak kesal dengan nada bicara yang mulai tinggi.
"Ampun tuan Puteri," balas Eza sambil tertawa kecil, kemudian mulai menyalakan mobilnya. Kepalanya menoleh pada Ily dengan segaris senyum penuh arti. "Meluncur?"
"Tarik, bang!"
Seruan Ily menjadi patokan melajunya mobil om Fadli yang dikendarai Eza. Ily menatap panorama yang seolah saling mengejar di jendela. Pagi masih menyapa, cahaya matahari belum begitu terasa dan jalanan masih lenggang dengan hanya beberapa mobil melaju. Mobil inimasih punya kursi kosong di belakangnya. Tempat seharusnya Elvan duduk.
Ily mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi pesan dan mengela napas sedih kala pesannya pada Elvan masih belum juga dibalas.
Van
Dihubungi via WhatsApp juga, laki-laki tak aktif sejak hari di mana Ily bertemu, sore kemarin. Beberapa kali Ily meneleponnya, ponsel sepupunya itu tak kunjung aktif.
"Za," kata Ily pelan.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari depan, Eza menyahut. "Yoi."
"Lo udah ada hubungin Elvan?"
"Udah." Eza mengeratkan pegangannya pada stir, rahangnya mengeras dan garis wajahnya berubah tajam. "Mau gue sikat sekarang di rumahnya."
Ily tak diberi kesempatan untuk bersiap-siap untuk melaju dalam kecepatan super gila di jalanan lenggang menuju rumah Elvan.
"EZAAAAAAAAA!"
Dari kecil, Ily tak pernah suka dibawa dalam perjalanan yang memiliki kecepatan super sinting seperti ini. Erat sekali, Ily mencengkeram sabuk pengamannya dan lupa ponselnya kini sudah terjatuh ke bawah.
"WOI, PELANIN, ANJU! EZAAAAAAAAA!"
***
**hai semuanya. bagaimana kabarnya? semoga baik-baik aja ya.
jadi, di sini aku mau kasih tau sesuatu untuk kalian
ecie
karena ada suatu hal, Dari Korea 2 akan mulai produksi (ceileh produksi) lagi bulan Maret. gimana? pada setuju kan? kalau bulan Maret, aku usahakan update lebih rajin deh
oke deh gitu saja
__ADS_1
Babai
ohya, tapi Sabtu Minggu depan aku akan update chapter spesial, jadi ditunggu aja ya hehehehehe**