Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 07


__ADS_3

"Ke Ricis dulu, dong, Za," pinta Ily ketika mereka berada di tengah perjalanan.


"Ngapain?" Eza baru membalas ketika motornya berhenti saat lampu merah. Pertanyaan bodoh itu membuat Ily tertawa.


"Ya, beli ayah dong, apa lagi," balas Ily agak jengkel.


"Ya, maksud gue kenapa tiba-tiba, *****," decak Eza terpancing untuk kesal juga.


"Ya, sekalian dong. Masa cuma nganter gue doang? Nggak ada kerjaan banget," kesal Ily. Ingin sekali Eza menuruti keinginannya tanpa banyak basa-basi.


"Ya, gue disuruh ibu lo buat jemput, gimana sih, nggak bersyukur banget," balas Eza makin kesal. Ia melajukan motornya kembali karena lampu sudah mengisyaratkan untuknya seperti itu. "Lo kenapa sih sensi gini?"


"Ya, gue mau makan ayam pake keju item itu," rengek Ily, berubah begitu saja. "Kemarin lo sama Elvan makan itu nggak anak-anak. Gue juga mau, dong."


"Siapa suruh lo tidur kemarin," balas Eza sambil tertawa. Membelokkan motornya ke arah restoran ayam langganannya.


"Ya, kan tidur siang itu udah jadi kebutuhan gue. Nggak bisa dihilangkan, apalagi waktu liburan gini," kata Ily sambil cengengesan. Kini, dirinya senang karena Eza menuruti keinginannya pada akhirnya.


Eza balas tertawa. "Mau makan di sini sama bawa ke rumah?"


"Di sini ajalah, ribet kalau dibawa."


"Ribet gimana? Tinggal tenteng," tanya Eza tak paham.


"Za," kata Ily, mulai kesal kembali.


"Apa?"


"Bisa nggak lo diem aja dan ikutin kata gue?" pinta Ily hampir memelas.


"Nggak." Eza menjawab cepat dan membuat Ily membelalakkan matanya terkejut. "Emang gue babu lo? Dih, najis."


Tangan Ily terpaksa memukul punggung Eza dengan kesal dan itu membuat motor yang dikendarai Eza oleng sesaat. Eza langsung memekik kaget, kembali menyeimbangkan motornya.

__ADS_1


"Lo gila, ya, Ly?" kesal Eza tak habis pikir. "Gimana kalau tadi kita jatoh?"


"Ya, makanya diem!" seru Ily tak mau kalah.


"Pulang, nih," ancam Eza dengan senyum miring.


"Lo kok nyebelin, sih, Za?" protes Ily dengan alis menukik tajam. Jelas, dia akan marah habis-habisan jika motor Eza tak berhenti di sebuah restoran ayam sesuai keinginannya. Sibuk kesal dan marah, Ily jadi tak menyadari bahwa inginnya diterima oleh Eza untuk dijadikan kenyataan.


Eza memarkirkan motornya, kemudian turun setelah Ily turun dengan gerakan canggung, sebenarnya malu pada dirinya sendiri yang emosian ini.


Ketika Eza telah membuka helmnya, begitupula dengan Ily, laki-laki itu menatap Ily dengan wajah datar.


"Gue nyebelin gimana?"


Ily langsung tertawa cantik. "Eh, nggak. Lo sama sekali nggak nyebelin, Za. Lo adalah temen terbaik gue malah. Baik hati, dermawan dan rendah hati. Mantul!"


Eza hanya menatap tanpa minat ketika Ily mengacungkan kedua jemputnya dengan senyum sangat lebar. Kemudian, dengan gerakan cool, ia berbalik untuk mendahului masuk ke dalam Ricis.


Sesampainya di dalam dan duduk di salah satu meja, Eza segera memesan dua porsi sayap pedas dan pada akhirnya mereka tinggal menunggu. Ily dan Eza duduk di dekat jendela, dengan begitu keduanya menatap jalanan alih-alih membuka pembicaraan.


Suasana sore itu berada di pertengahan. Tak gelap, tak juga terang. Tak panas, tak juga dingin. Tak banyak orang, sepi juga tidak. Ily selalu suka suasana sore, rasanya damai sekali.


"Heh," tegur Eza tiba-tiba, membuat Ily mengalihkan pandangannya ke arah Eza.


"Apa?" Ily langsung bertanya.


"Si Raihan," balas Eza malu-malu, entah mengapa suaranya jadi lebih pelan dari biasanya. "Gue jadi kepikiran dia."


"Lah? Emang dia kenapa?" tanya Ily tak mengerti. "Menurut gue, biasa aja dia. Cuma tadi gue kesel sama sifat sombongnya. Pake lupain kita-kita lagi. Kayaknya dia udah berubah, deh."


Eza menjentrikkan jarinya dengan mata terpancar seperti menemukan sebongkah berlian. "Nah, kan? Udah gue duga ada yang beda dari dia."


Ily mengangguk-angguk. "Dulu dia sopan banget, ****. Kayak malu-malu gitu, lucu jadinya. Tapi, sekarang kayaknya kelakuannya nggak jauh beda dari lo Sama Elvan, deh."

__ADS_1


Mata Eza langsung membulat sempurna. "Lah? Emang gue gimana, ****? Kok gue merasa terhina, ya?"


"Ya, gitu," balas Ily seraya mengangkat kedua bahunya. "Pecicilan, nggak tau malu, banyak omong, nyebelin dan..."


Alis Eza seperti saling bertaut karena bingung dengan penggalan kalimat yang dikatakan Ily. "Dan...? Dan apa?"


Ily menggigit bibirnya. Ingin mengatakan, namun ia malu dan mungkin Eza akan sangat tersanjung jika ia mengatakannya. Hendak sekali Ily mengatakannya, saat pesanannya telah tiba dan membuat perhatian keduanya teralih.


"Woah," kagum Ily ketika melihat saus keju hitam yang sangat ia cicipi dari kemarin. "Enak nggak sih?"


Eza mengangkat jempolnya sebagai jawaban. Tangannya kemudian sibuk membuat box berisi sayap pedas dan mulai memakannya tanpa basa-basi. Jika soal makanan, memang dia seperti itu.


Ily juga tak jauh beda. Ia tersenyum lebar sepanjang makan. Ketika sampai pada bagian dirinya menuangkan saus keju hitam itu ke sayap pedasnya dan memakannya, ekspresi wajahnya itu mirip-mirip dengan orang dalam acara makan di televisi. Berlebihan saat mendeskripsikan betapa enaknya makanan yang dikunyah ini.


Eza bahkan sampai menahan tawanya kuat-kuat karena takut keselek jika ia mengudarakan tawanya ini.


Keduanya makan sampai habis tanpa suara. Saling menikmati dengan gaya masing-masing. Ily dengan gaya berlebihannya dan Eza memerhatikannya selama itu.


"Enak banget," kata Ily senang. Begitu makannya habis, ia tersenyum lebyseraya menjilati jari-jarinya. "Selera gue."


"Bagus, deh," balas Eza dengan anggukan kecil. Sebenarnya agak jijik karena Ily makannya belepotan sampai di luar garis bibirnya ada saus merah dari sayap pedas. "Itu mulut apa tempat buang sampah? Jijik banget."


Ily mengangkat kedua alisnya dengan wajah polos. Kemudian merongoh ponsel untuk ia jadikan cermin, tangannya telaten membersihkan bekas makan di bibirnya.


"Lo mau kuliah di mana, Ly?" Eza tiba-tiba bertanya, membuat gerakan tangan Ily terhenti. Suara Eza berubah serius dan membuatnya ikut serius juga.


Dengan gerakan cepat dan terkesan asal-asalan, Ily menghapus bekas saus yang masih di bibirnya itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Matanya menatap Eza lurus-lurus.


"Gue juga belum tau pasti, belum yakin juga," balas Ily pelan, penuh keraguan dan rendah diri. "Tapi target gue sekarang itu Sastra Inggris UI."


"Oh, bagus." Eza tersenyum lega. "Setidaknya lo punya tujuan yang jelas."


Ily mengangguk, kemudian menatap Eza dengan hati-hati. "Lo sendiri... gimana?"

__ADS_1


__ADS_2