Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 61


__ADS_3

Ily menatap langit malam yang cerah dengan taburan ribuan bintang di atasnya dengan senyum senang. Angin lembut membuat pipinya dingin, namun itu tak membuat Ily menutup jendela kamarnya dengan segera. Apalagi ketika melihat dinding di depannya, di mana bunga rambat tumbuh dan di sana pula Yohan muncul dengan ajaibnya.


Rasanya sudah sangat lama sejak Yohan pergi dari rumah Ily pagi ini setelah menginap dua hari satu malam. Ily menikmati kebersamaan mereka, namun tak suka saat ia harus mengalami perpisahan.


Kali, ini Yohan meninggalkannya bukan untuk memenuhi panggilan ayahnya, melainkan untuk hadir di mana ayahnya kini sudah tak lagi ada. Ily tak pernah menyangka jika ada hari di mana Yohan harus pergi lagi setelah kembali.


Maksudnya, Ily benar-benar tak mau ditinggal lagi.


"Aku pergi, Ly," pamit Yohan pagi itu. Dengan berbekal baju ayah dan beberapa makanan dari ibu serta peluk Ily, Yohan berpamitan. Tiket pesawatnya sudah dipesan ibu Yohan, berangkat pagi ini, jam 11.


"Yohan," tahan Ily ketika Yohan benar-benar berbalik untuk meninggalkannya. Yohan berbalik dengan wajah yang telah amat sedih, seolah tak bertenaga untuk tersenyum bahkan setipis apapun.


"Kenapa, Ly?" tanya Yohan begitu ia sudah benar-benar berhadapan dengan Ily.


Ily menahan tangisnya supaya tak pecah lagi. "Jangan banyak nangis lagi di perjalanan. Kamu jadi jelek. Hati-hati. "


Yohan mengangguk. "Pasti."


"Kamu ... mau kembali, kan?"


Yohan mengangguk lagi. "Pasti." Kemudian mengucapkan kata dengan nada yang sama. Saat ini perasannya sangat sedih hingga hati perasaan sedihnya mati rasa sebagai terlalu banyak dipakai.


Ily merasa seperti tengah bicara dengan robot tanpa emosi. "Kalau begitu, aku akan menunggumu lagi."


"Terimakasih. Aku pasti akan kembali secepatnya."


Ily mengangguk, menyemangati dirinya sendiri. "Hati-hati." Ily mengatakan kata itu lagi.


Dan Yohan mengangguk menanggapinya. "Pasti."


Ily tertawa kecil. "Ya udah."


"Iya," balas Yohan. Namun, laki-laki itu tak langsung berbalik untuk pergi. Agak lama jeda terjadi, hingga akhirnya Yohan melangkah mendekati Ily untuk mengangkat kedua tangannya dan membawa kepala Ily untuk ia peluk di dadanya dengan erat.


Tangannya mengusap rambut lembut Ily dengan mata terpejam. "Maaf, aku membuat kamu terus menunggu, membuatmu terus menangis dan membuatmu menderita," bisik Yohan penuh rasa. Memeluk Ily lebih erat seolah dirinya juga tak mau pergi.


Ily termenung, kemudian memejamkan matanya dengan tulus. Perlahan, Ily membalas pelukan Yohan dengan penuh rindu supaya rindunya nanti tak terlalu banyak.


"Makanya, kamu jangan pergi-pergi terus." Ily ingin bersikap egois satu kali saja. Meski ia paham Yohan baru saja kehilangan ayahnya, Ily masih ingin Yohan memikirkannya dibandingkan ayahnya sendiri.


Sesaat, Ily merasa dirinya menjadi orang jahat.


Yohan bergumam kecil menanggapinya, ingin sekali tersenyum karena Ily sangat lucu di matanya, namun hatinya tak mau menuruti. "Aku akan tinggal bersama kamu, Ly. Aku nggak akan pergi ke mana-mana setelah ini."


Tak lama, pelukan mereka terlepas dan Yohan menatap Ily dengan lekat. Ily mendongak, menatap Yohan sama dalamnya. Waktu mereka seolah berhenti sesaat, kemudian berjalan sangat lambat ketika Yohan mendekatkan wajahnya pada Ily.

__ADS_1


Entah dirasuki setan dari mana, Ily memejamkan matanya. Mungkin, ia sudah siap jika kemungkinan Yohan melakukan apa yang ia pikirkan sekarang. Jantung Ily rasanya akan meledak saat merasakan napas Yohan begitu dekat di wajahnya.


Napas lembut Yohan menyapu hidupnya, kemudian tak lama, ada sesuatu yang hangat dan lembut menempel pada keningnya.


Ily bisa langsung menempatkan bahwa hari ini, pagi ini, detik ini, adalah saat di mana sesuatu paling berarti dan membahagiakan terjadi. Ily tak pernah menyangka bahwa perasaan kelewat bahagia ini akan dirasakan secepat ini.


Seolah Yohan benar-benar akan membuatnya bahagia setelah menunggu.


Kecupan sekilas di keningnya menjadi tanda bahwa Yohan akan kembali, karenanya kini, malam ini, Ily sama sekali tak merasa begitu rindu seperti saat pertama kali Yohan pergi ke Korea.


Justru, kini, Ily mendoakan Yohan.


Semoga dia baik-baik saja di sana. Semoga dia tak terlalu sedih di sana. Dan semoga ia cepat-cepat kembali untuk utuhkan bahagia Ily.


Ily baru saja menutup jendela kamarnya saat ponselnya berdering, tanda ada seseorang yang memanggilnya. Ily segera melihat ponselnya, melihat nama Raihan di sana dan tak berpikir lama untuk menjawabnya.


"Apa kabar?" Raihan bertanya begitu ketika sambungan teleponnya telah diangkat Ily.


"Baik, Han. Lo sendiri gimana? Udah ada pengganti gue?"


"Ck, malah nanya gitu. Bete gue."


"Ya, kan, gue khawatir, Han."


"Gue baik-baik aja, Ly. Meski udah ditolak pujaan hati setengah mati, gue baik-baik aja."


"Makasih ya, Ly," kata Raihan tiba-tiba melembutkan dan sepertinya akan bicara serius. "Udah ada di dunia ini. Udah pernah ngisi hati gue dan menyadarkan pada gue apa arti kata sayang yang sesungguhnya. Gue sangat berhutang sama lo yang udah bersedia gue pepet-pepet dan gue gombal-gombalin sampai jadi lahan curhat gue selama ini."


"Santai kali." Ily tertawa, mendudukkan diri di atas ranjangnya sambil mengenang masa-masa kuliahnya bersama Raihan. "Gue juga berhutang sama lo yang mau aja selalu ada waktu gue butuh ataupun nggak butuh."


Kini, giliran Raihan yang tertawa. "Ya, intinya kita saling menguntungkan, ya, kan?"


"Iya."


"..."


"Han?"


"Eh, iya?"


"Lo ada sesuatu yang harus diomonginkah?" Ily bertanya heran setelah sepanjang ini Raihan berkata, namun seperti tak ada tujuannya.


Dan Raihan bukan tipe orang yang seperti itu apalagi sejak dirinya menolak lamaran dari Raihan. Pastinya Raihan sudah sadar dan tahu diri untuk tak menggombal pada Ily atau menggodanya.


"Kenapa emangnya? Lo sibuk, ya?"

__ADS_1


Ily mengerjap tak enak. "Eh, nggak. Maksudnya gue bukan gitu, Han. Cuma ya ... buat mempersingkat waktu aja. Gue tau lo ada sesuatu yang mau lo omongin."


"Hm ... ketahuan, ya?"


"Iya."


"Hahaha, yaudah deh, gue langsung ke intinya aja. Tapi, lo jangan kaget, oke?"


Ily terdiam sebentar untuk memantapkan dirinya untuk tidak kaget atas perkataan yang akan Raihan sampaikan. Kemudian ia mengangguk ketika sudah siap, meski yakin Raihan tak akan pernah bisa melihatnya.


"Oke, gue janji nggak bakal kaget."


"Kalau kaget traktir gue pizza, ya."


"Hng ... oke."


"Hahaha, nggak biasanya lo oke kalau masalah traktir-traktiran."


"Kalau gue nggak kaget, lo yang traktir."


Tawa Raihan makin keras. "Oke, oke. Gue sanggupi."


Ily tersenyum lega. "Jadi, apa yang mau lo sampaikan?"


"Dua minggu lagi gue menikah, Ly. Datang, ya."


Ada jeda sebentar sebelum Ily berdiri dengan mata melotot super lebar. "HAH KOK BISA?!"


"Nah, kan lo kaget. Janji traktir, ya, pizza satu box, kirim aja ke resepsi pernikahan gue nanti."


Ily cemberut. "Raihan ... lo bikin gue kaget super asli. Lo nikah sama siapa?" tanya Ily penasaran.


"Kalau lo mau tau banget, datang aja. Nanti juga lo tau setelah liat sendiri siapa yang jadi istri gue."


Senyum penuh siasat Ily tercipta di wajahnya. "Gue kasih tau Elvan sama Eza juga, ah!"


"Gue udah kasih tau mereka duluan. Lo adalah ... teman yang terakhir yang gue kasih tau."


"Jahat!" seru Ily kesal.


***


**oke, udah hampir selesai nih ceritanya


siap-siap mengucapkan selamat tinggal dan terimakasih**

__ADS_1



Yohan - Eza - Raihan - Elvan


__ADS_2