Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 73


__ADS_3

Lomba untuk memeringati hari Kartini semakin dekat.


Berhari-hari Lili sibuk menyiapkan pidato, begitu pula dengan Gema. Mereka jadi jarang bicara karena memakai banyak waktunya untuk latihan.


Anak-anak kelas juga ikut membantu dengan latihan di bidang lombanya masing-masing. Seperti anggota OSIS yang memang tidak ikut lomba apa-apa, membantu Mila serta asistennya menyelesaikan baju dari barang bekas.


Hari ini, jam pelajaran terakhir kelas XI IPA 3 kosong karena gurunya sedang ada urusan. Anak-anak kelas jadi pada sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Gema sedang latihan pidato di ujung kelas sana dan tak mau diganggu. Lili sendiri sudah berlatih dan merasa bosan di kelas. Beberapa anak justru ada yang berkeliaran. Namun, Lili memilih untuk melihat baju dari barang bekas karya kelasnya yang digantung di sisi samping lemari kelas.


Lili benar-benar takjub ketika melihat baju dari barang bekasnya yang sudah jadi ini. Baju itu dilapisi kantong plastik hitam bekas untuk atasannya, di bagian bahunya ada koran yang dibentuk seperti tiram, diperutnya ada bulatan koran yang sebelumnya digulung-gulung sepele rolade, pokoknya bagus banget, dah.


Roknya itu pakai rok hitam panjang bekas yang ditempeli potongan CD bekas berbentuk segitiga yang membuat roknya berkilau seperti berlian. Tak hanya CD, di belakangnya ada juga tempelan dari koran sedemikian rupa hingga baju itu tampak seperti gaun princess dalam karton.


Jika harus menilai, maka Lili memberi seribu dari seratus poin.


Mantul, daebak.


Hari ini adalah satu hari sebelum besoknya ia lomba. Lili membayangkan besok dia akan memakai baju ini.


"Kayaknya ribet ya pakenya," keluh Lili pelan.


"Ribet, pastinya. Tapi harus hati-hati juga. Soalnya ini mahakarya kelas kita tahun ini."


Tahu-tahu Mila ada di sebelahnya. Perempuan berambut sebahu itu turut memandangi hasil karyanya dengan senyuman bangga untuk yang mungkin sudah yang ke-9876554 kali.


Memang cantik, sih.


Sementara itu, baju Theo yang tersusun atas kantung plastik hitam bekas dan beberapa bunga dari sedotan yang disusun dan ditempel di bagian dadanya tampak seperti jas hitam. Theo hanya memakai jas itu.


Kening Lili mengerut saat satu pikiran terlintas di benaknya. "Kok baju Theo simpel banget?"


"Lo kagak tahu aja. Tenang, tingkat kerumitan baju kalian itu hampir setara. Gue bikinnya adil dan penuh perhitungan sama temen-temen," jelas Mila dengan wajah kalem. Beda dengan Lili yang sejak hari pertama dia ditunjuk menjadi model untuk perwakilan kelasnya, tak pernah bisa tenang. Yang ada Lili terus khawatir dan gugup. "Pokoknya besok harus lancar. Apapun hambatannya. Ya, semoga nggak ada, deh."


"Ya, semoga."


"Oke!" Mila menepuk tangannya dengan wajah penuh tekad. "Kenapa sekarang kita nggak latihan jalan catwalk?"


Lili langsung berkeringat gugup. Beberapa hari ini dia tak bicara dengan Theo sepatah katapun. Lili sengaja menghindarinya karena mau bicara pun ia sangsi.


"Li?" tegur Mila karena Lili hanya diam saja, bahkan tampak seperti sedang melamun.


Lili langsung terkaget-kaget. "Eh, iya?"


"Ck. Mikirin apaan, sih?" Mila memutar bola matanya. "Ayo, hubungin Theo. Kayaknya tadi dia keluar, deh. Tapi nggak tau ke mana males nyariin juga gue."

__ADS_1


"Sama lo aja, Mil." Lili mengalihkan pandangannya dengan kikuk.


"WA-nya itu suka nggak aktif," keluh Mila seraya mengeluarkan ponselnya dengan wajah pesimis.


"Telepon biasa aja. Nomornya sama kok," kata Lili memberi saran.


Mila memandangnya penuh curiga. "Kok lo tau? Suka teleponan nih pasti."


"Ish, apa sih." Lili jadi salah tingkah.


Mila tertawa kecil. Langsung menyentuh opsi panggilan untuk nomor Theo. Lama nada tunggu berbunyi, sampai akhirnya ada suara operator beserta terputusnya panggilan Mila untuk Theo.


"Yah, anjuir ditolak," keluh Mila kecewa. "Coba lo telepon, deh. Kalau pulang sekolah, takutnya kita pulang kesorean lagi. Males gue. Ayo, harus sekarang latihannya. Pokoknya harus menang!"


Lili cemberut. "Kalau lo ditolak, gue juga udah pasti, dong. Kayaknya dia lagi ada urusan, Mil."


"Ye, siapa tau sama calon pacar itu langsung diangkat."


"Ih, kata siapa calon pacar?"


"Ya, cobain aja dulu. Apa ruginya, sih?" tanya Mila gemas. Kalau Lili itu boneka, udah Mila remas-remas saking gemasnya.


Lili tak mampu mendebat lagi. Kalau dia menolak, akan kelihatan kalau Lili naksir Theo. Akhirnya, ia mengeluarkan ponselnya dari saku to dan menelepon nomor Theo.


"Payah banget sih jaman gini nggak ada pulsa," ledek Mila.


"Ya ini juga gara-gara telepon Theo waktu itu--oops ...." Lili tak mau meneruskan perkataannya lagi karena wajah Mila sudah berubah sangat semangat dan tertarik luar bisa. Seperti predator yang melihat banyak mangsanya.


"Wah, bener kan! Lo sama Theo itu suka teleponan!" Mila berseru riang. "Hei, guys! Lili sama Theo itu suka--"


Lili langsung membekap mulut Mila sampai lupa pada ponselnya yang jadi jatuh begitu saja saat perempuan itu berseru pada anak-anak di kelas. Mila bergerak-gerak seperti ikan yang dilempar ke daratan di dalam bekapan tangan Lili.


Tanpa Lili tau, ponselnya bergetar di lantai sana.


Saat anak-anak sedang melihat Lili dan Mila dengan pandangan tanya, Theo tiba-tiba muncul di ambang pintu kelas. Wajahnya tampak kelelahan sekaligus khawatir.


"Lili!" serunya di antara napas yang satu-satunya. "Lili lo di--"


Suara khawatir Theo langsung lenyap saat dilihatnya Lili berada tepat tiga meter di depannya. Sedang terlihat bergelut dengan Mila yang memelototinya matanya saat melihat kedatangan Theo.


Theo berdeham saat semua orang menatapnya dengan pandangan tanya. Laki-laki itu berjalan mendekati Kok dengan wajah datar. "Lo ngapain telepon gue? Gue telepon balik kok nggak diangkat?"


Lili langsung gugup. Tak tahu harus menjawab apa.


"Ah!" Mila berseru cepat saat Lili lengah. Dia segera menjauh dari Lili. "Bagus lo dateng, Yo. Ayo, sekarang lo sama Lili latihan jalan kayak model. Cepet, mulainya dari luar kelas sana."

__ADS_1


Theo mengerjap kebingungan.


Beda dengan Lili yang sibuk menaut-nautkan jari-jari tangannya karena gugup. Ketika menunduk, Lili melihat ponselnya dan langsung memungutnya dengan wajah panik.


"HP gue!" seru Lili sedih. "Mil, gara-gara lo, ya!"


"Peace." Mila membentuk huruf V dengan dua jari tangannya dan tersenyum sok polos. "Maaf."


Lili membuang napas tak suka. Kemudian memasukkan kembali ponselnya ke saku roknya. Setelahnya, tanpa meminta persetujuan, Mila mendorong punggung Theo dan Lili untuk keluar kelas.


"Nah, pokoknya kalian harus bagus. Ini cuma latihan, lho. Jangan sampai kelihatan jelek." Mila tiba-tiba terlihat sangat mengintimidasi. Lili sekarang paham kenapa Felli dan Bima yang dulunya menjadi model perwakilan kelas menolak keras-keras untuk ikutan lagi. Pasti dulu Mila keras begini.


Mila menutup pintu kelas. Namun, sebelum itu dia menatap Theo dan Lili dengan penuh arti. "Jangan main-main, oke? Se. Ri. Us."


Lili tersenyum kikuk. Kepalanya mengangguk kaku. "O. Oke."


Setelahnya, pintu kelas ditutup Mila. Hanya ditinggal berdua begini membuat Lili gugup luar biasa. Theo hanya diam saja. Dasar cowok. Emangnya selalu mau enaknya saja. Pasti harus perempuan yang berpikir dan mencari ide.


Baiklah. Lili menarik napas panjang. Kemudian membuangnya pelan-pelan. Lili belum pernah mengikuti fashion show. Berpikir untuk menjadi model saja Lili tak pernah. Kini, Lili harus berlatih untuk menjadi model dan ikut lomba fashion show.


Ini benar-benar gila!


Setelahnya dirasa cukup untuk membuang gugupnya, Lili tersenyum percaya diri.


"Senyum, Yo," katanya Lili seraya mendongak dan menatap wajah datar Theo. "Senyum."


Theo sedikit menggerakkan mulutnya. Membentuk senyuman tipis.


Lili sedikit lega. "Oke. Ayo, go!"


Dan pintu kelas pun dibuka oleh Theo.


Lili tersenyum anggun dan berjalan seperti model saat masuk. Membuat beberapa pasang mata menatapnya takjub. Tak mau kalah dari Lili, Theo pun menghiasi wajah tampan yang biasanya datar dengan senyum tipis dan tatapan mata yang penuh pesona.


Kedua anak kelas itu mendapatkan respon positif dari anak kelas yang lainnya.


Sayangnya, tidak bagi Mila.


"Hei, pegangan dong! Kayak pengantin baru mau foto prewedding gitu!"


Mata Lili membulat. Beda dengan Theo yang tersedak kecil oleh ludahnya sendiri.


Mila itu udah gila, ya?


***

__ADS_1


__ADS_2