Dari Korea

Dari Korea
LSF - 6


__ADS_3

Waktu terakhir kali Luhan masuk ke ruangan seni untuk menguncinya setelah bersih-bersih bersama Langit, Lingga juga Lethan, dia melihat seseorang yang duduk di depan piano di pojokan sana.


Kening Luhan mengerut dalam.


Kalau bukan perempuan, Luhan nggak bakal melangkah mendekati orang tersebut. Awalnya Luhan kira orang itu bukan orang. Maksudnya, dia kira hantu gitu, penampakan alias kuntilanak.


Ternyata beneran perempuan dong. Anak sekolah sini. Tapi, Luhan kayaknya nggak pernah lihat. Hidungnya mancung, rambutnya sebahu, lurus, hitam dan kelihatan lembut. Tipe Luhan banget, nih.


Jadi anaknya lagi tutup mata, di telinganya tersumpal sebuah earphone yang pastinya menyalurkan sebuah lagu ke indra pendengarannya.


Tanpa basa-basi, Luhan duduk di sebelah perempuan itu. Soalnya ada dua kursi di depan piano itu. Terus, tanpa izin-izin lagi, dengan kurang ajarnya, Luhan ngambil satu earphone di telinga kanan perempuan tersebut untuk dia pasang ke telinga sendiri.


Luhan buru-buru menutup matanya. Mendengarkan dengan khidmat dan berharap perempuan ini nggak marah atau langsung pergi setelah lihat Luhan.


Apa yang terjadi selanjutnya sesuai dengan harapan Luhan. Perempuan ini sama sekali nggak pergi. Luhan merasakan pergerakan perempuan itu menoleh, namun selanjutnya tak ada gerakan signifikan lainnya.


Ketika Luhan membuka matanya dan menatap perempuan di sampingnya, perempuan itu masih menutup matanya. Wajahnya tenang. Tampak menyelami lagu dan tenggelam dengan pikirannya sendiri.


Luhan jadi penasaran, jadi dia konsentrasi betulan untuk mendengarkan lagunya.


Ketika selesai, perempuan itu segera menarik earphone di telinganya dan telinga Luhan. Dia mematikan lagunya dan menatap Luhan dengan datar.


Luhan langsung tersenyum lebar. Sok polos dan sok ganteng. Ya, meski memang ganteng, sih.


"Pokoknya ini lagunya sad dan sedih banget gitu." Luhan segera mengeluarkan suaranya. Sok kenal dan sok dekat. Matanya berbinar saat ini, seolah sangat menyukai lagunya. "Tapi bikin nagih dan addictive banget!"


"Itu dua-duanya artinya sama, lho." Perempuan itu menukas. Ada tawa kecil setelahnya.


"Oh, ya?" Luhan pura-pura polos dengan menggaruk pelipisnya.


"Iya."


Luhan menahan senyumnya. Sepertinya perempuan ini adalah tangkapan yang bagus untuknya. "Lo tau nggak siapa gue?"


"Baru aja mau tanya."


"Yaudah, kalau gitu." Luhan menoleh sepenuhnya pada perempuan ini. Kemudian mengulurkan tangannya dengan senyuman lebar yang penuh pesona. "Gue Luhan kelas XI IPA 5. Lo sendiri?"


"Gue Reisya." Reisya segera menyambut uluran tangan Luhan dengan senyuman serupa. "IPS 3."


"Wah, nama yang cantik." Luhan memuji dengan lembut. "Kayak orangnya."


Reisya tersenyum malu-malu. "Bisa aja."


"Kelas XI kan?" tanya Luhan.


"Kelihatannya?"


"Hm ... gue sih firasatnya lo kelas XI, tapi kalau dilihat-lihat dari kemudaan wajahnya nih, ... hm, kelas X ya?"

__ADS_1


Reisya tertawa. "Gue kelas XII."


"W a o w." Luhan sangat terkejoet mendengar jawaban berupa fakta tentang jelas Reisya.


"Harus sopan, nih." Reisya tertawa songong. Menatap Luhan dengan mata khas kakak kelas. "Lo adek kelas gue."


"Aduh, maaf-maaf. Nggak tau." Luhan menipiskan bibirnya.


Terakhir kali dia berhubungan dengan kakak kelas, pipinya selalu jadi sasaran lembut. Kayak Laura. Luhan langsung mengalihkan pandangannya dari Reisya, takut sendiri. "Gue kurang ajar, ya?"


"Kalau dibilang kurang ajar ya jelas, dong. Lo tiba-tiba ngambil earphone gue terus sok akrab gitu ujungnya ngajak kenalan." Reisya menjelaskan dengan santa dan suara rendah. "Tapi, kalau sama gue, santai aja. Gue bukan senior yang gila hormat. Asal ya, jangan kelewat batas aja."


"Oh ... gitu." Luhan mengangguk-angguk. Mulai merasa tenang dan santai, dia juga bisa tersenyum lagi. "Sip, Kak."


"Nggak usah pake Kak juga. Aneh gue dengernya." Reisya berdecak kecil. Membuat Luhan menatapnya dengan bingung, tadi katanya harus sopan. "Sebenarnya gue satu umur sama lo karena gue loncat kelas waktu SD."


"Wah." Luhan tertawa, merasa sangat tertarik. "Terlalu pinter, ya? Jadi minder."


"Nggak juga." Reisya membalas tak begitu semangat. Kemudian dia bangkit dan menenteng tasnya di satu bahu untuk kemudian pergi setelah bilang pada Luhan, "Udah jam enam. Gue pulang dulu. Bye."


"Eh, tunggu." Luhan cepet-cepet menyusul langkahnya. Membuat Reisya menatapnya. Luhan tersenyum saat itu. "Gue juga mau pulang. Bareng dong ke depannya."


"Oke."


Luhan mengangguk kecil. Kemudian, ia mengunci ruangan seni sebelum lanjut berjalan setelah keluar dari ruangan. Setelah menguncinya, Luhan menaruh kunci ruangan itu di saku celananya. Pak Abdul memberi kepercayaan untuk Luhan menyimpannya hari ini.


Luhan berjalan bersisian dengan Reisya dengan keheningan menyelimuti. Jarak ruangan seni dan parkiran lumayan jauh, namun terasa cepat karena langkah Reisya ternyata lumayan cepat dari rata-rata cewek kalau jalan.


"Ada ojol."


"Oh, udah pesen?"


Ketika tiba di parkiran, Luhan mendapatkan jawabannya. Ternyata Reisya sudah memesan ojek online dan Abang ojolnya udah nunggu di gerbang sekolah. Luhan yang menghadapi kenyataan itu tersenyum sedih.


Ada Langit, Lingga dan Lethan yang rupanya masih menunggunya di satu titik. Namun, Luhan pura-pura tak melihatnya dan hanya fokus pada Reisya saat ini.


"Harusnya bilang dulu. Gue bisa anterin."


Reisya tertawa meremehkan. "Rumah gue jauh."


"Mau sejauh apapun, selama masih daerah Jakarta ya gue siap." Luhan membalas dengan sorot mata penuh tekad.


Reisya terharu pada Luhan. Padahal baru kenal, tapi sikapnya sudah sangat-sangat baik. Bahkan berlebihan. "Yaudah, besok-besok deh."


"Wah, boleh nih?" Wajah Luhan menjadi lebih cerah.


"Kenapa nggak boleh?" Reisya mengulas sebuah senyum yang jika bisa, maka Luhan bisa mabuk karenanya.


"Eh, iya juga ya." Luhan tertawa bodoh, tepatnya, pura-pura bodoh. "Yaudah, oke. Besok gue tungguin di gerbang."

__ADS_1


"Besok gue pulangnya jam segini juga." Reisya memberitahu tanpa diminta. "Ada latihan."


"Latihan buat apa? Lomba?"


Reisya mengangguk kecil. "Minggu depan."


"Oh, oke." Luhan balas mengangguk. Dia juga masih harus melaksanakan hukuman dari Pak Abdul besok. "Gue juga ada urusan kok besok. Pulangnya jam segini juga."


"Oke."


"Hati-hati!" seru Luhan ketika Reisya hendak mendekati Abang ojolnya yang akan mengantarnya ke rumah.


"Sip."


Ketika akhirnya Reisya dan Abang ojolnya hilang di jalanan, Luhan berbalik. Kemudian berjalan menuju motor miliknya. Keberadaan Luhan menjadi pusat perhatian Langit, Lingga dan Lethan.


Namun, Luhan bersikap bodoh amat. Sebelum Luhan sampai di motornya, tiga anak itu gibah dulu.


"*****, itu cewek baru lagi?" tanya Lingga yang kebetulan kali ini motornya terparkir tepat di sebelah Luhan.


"Ya kalau bukan cewek baru siapa lagi? Masa dedemit?" Langit membalas dengan sewot. Maklum lah, udah sore. Kalau dihadapkan sama yang bloon, bawaannya ya nge-gas.


"Padahal cuma disuruh kunciin ruangan." Lingga bersuara meledek. "Gue kira ada apa karena dia lama banget. Taunya mancing dulu. Dapet ikan salmon lagi, *****."


"Emang jelmaan setan itu anak satu. Padahal baru kemarin kan diputusin?" Langit tak mau terlambat untuk menyahut dengan nada pedas.


"Iya, tuh." Lethan mengangguk-angguk.


"Ngomongin gue ya lo pada?" Luhan akhirnya sampai di motornya dan menatap tiga temannya dengan tak suka. Luhan tak bisa mendengar apa perbincangan tiga orang itu sebelumnya, namun jelas sekali dia melihat mulut anak-anak itu bergerak sambil menatapnya penuh arti.


"Kalau iya emangnya kenapa, Mujaer?" Lingga langsung membalas dengan sewot.


"Dapet dosa lo pada." Luhan menyahut santai sambil memakai helm-nya. "Soalnya kata salah tau dari ratusan mantan gue, kalau ada orang yang ngomongin kita, dosa yang kita punya bakal ditransfer ke orang yang ngomongin kita."


"Lah?" Lingga jadi bingung. Sebelumnya dia tak pernah mendengar hal semacam itu.


"****** lo pada ditransfer dosa-dosa gue." Luhan menyeringai puas. "Muahahaha."


Kemudian, tanpa mendengarkan balasan dari teman-temannya lagi, Luhan pergi dengan motornya.


"Fakboi, gila, nggak tau malu," maki Lingga dengan emosi dan langsung kehabisan kata-kata beberapa saat kemudian. Jadi, Lingga menatap Langit dan Lethan dengan wajah bingung, "tambahin dong, apa lagi kata-kata yang pas buat ngatain dia?"


Langit mengangkat kedua bahunya, tak mau menambahkan kata-kata untuk perilaku keji yang dilakukan Luhan. "Takut kena transfer dosa lagi."


"Ck." Lingga tak habis pikir. Dia membuang napas panjang-panjang. "Capek Hayati. Haduh, lelah Hayati."


***


halo **gimana semuanya apa kabar?

__ADS_1


setelah baca sejauh ini, apa yang kalian rasakan**?


__ADS_2