
Semua tugas yang ada saat ia tidak sekolah telah diselesaikan Yohan hari ini. Beruntung juga hari ini tak ada tugas hingga Ily tulus mendatangi Juna untuk menemani Yohan meminta maaf. Jelas, awalnya Ily tak mau menemani, namun Yohan mengancamnya.
Jika Ily tak menemaninya, Yohan tak mau berangkat.
Hingga pada akhirnya, kini, Yohan dan Ily berdiri di samping ranjang Juna. Juna sudah sadar, namun belum diijinkan keluar oleh orang tuanya. Meski dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih, Juna masih punya tatapan tajam dan aura mencekam.
Sedari tadi matanya tak lepas dari Yohan yang juga masih diam sejak awal kedatangannya. Menatap tajam, dendam dan marah.
"Mau ngapain?" tanya Juna akhirnya, tak tahan dengan keheningan yang tidak jelas. "Kalau cuma diem, mayat juga bisa."
Jantung Ily berdebar kencang, jelas sangat terkejut dan refleks menyikut pinggang Yohan hingga laki-laki Korea itu merintih kecil.
"Ngomong dong," bisik Ily keras, menyalurkan kekesalan dan ketakutannya pada Yohan.
"Aku harus ngomong apa?" tanya Yohan balik bertanya.
Tangan Ily mengepal kuat, sangat-sangat kesal dan bahkan menghentak-hentakan kakinya pada lantai rumah sakit seraya berbisik, "minta maaf!"
Yohan menipiskan bibirnya sesaat, kemudian mengambil napas kecil dan berucap, "maaf." Dengan cepat tanpa menatap Juna sama sekali, terlihat enggan dan tak niat.
Melihat Yohan yang seperti itu, Ily jelas kesal. Namun, dia mengambil napas panjang dan mengeluarkannya cepat-cepat.
"Juna, jadi begini. Yohan mau minta maaf karena bikin lo kayak gini--"
"Iya, gue maafin. Udah sana pulang, gue mau tidur," potong Juna dengan wajah lelah.
"Lo nggak bakal bermasalah lagi sama Yohan, kan?" tanya Ily memastikan.
Juna memutar bola matanya, menatap Ily jengah dan kesal. "Ngapain? Urusan gue sama dia udah selesai. Kecuali kalau dia cari masalah lagi."
"Oh, baguslah," balas Ily sambil tersenyum kaku. Ia beralih menatap Yohan. "Jangan buat masalah lagi, oke?"
Yohan menggedikan bahunya dengan wajah cuek. "Oke."
Ily mengangguk senang, kemudian tersenyum pada Juna. "Kalau begitu, kita pulang, ya."
"Sana!" usir Juna. "Udah dibuka pintunya, tuh."
Meski kesal setengah mati, Ily memiliki untuk tersenyum lagi sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar kamar rawat Juna. Tangan kanannya meraih tas Yohan dan menggiringnya dengan sabar.
Setelah sampai di parkiran, Ily melepas giringan tangannya dan melipat tangannya kemudian sambil menatap Yohan dengan mata menuntut. Keningnya mengerut dan tak ada wajah ramah di sana.
"Masalahmu apa sih?" tanyanya langsung.
Yohan ikut mengerutkan keningnya. Namun bukan karena kesal, jutsru Yohan sama sekali tak mengerti apa salahnya hingga Ily bersikap seperti ini.
"Masalahku apa?"
"Kok malah balik nanya?"
"Aku salah apa?"
"Kamu," decak Ily tak habis pikir. "Kenapa sih? Tadi harusnya kamu minta maaf."
Yohan menatap Ily dalam-dalam. "Bukannya masalahku dengan Juna sudah selesai?"
"Tapi kamu nggak minta maaf tadi," balas Ily kesal.
"Aku tak mengerti kenapa masalah ini menjadi serumit ini dan membuat terlihat sangat frustasi seperti ini," kata Yohan tak habis pikir.
Ily mengambil napas panjang dan mengeluarkannya dengan wajah sabar. Ia menatap Yohan dengan lelah. "Aku khawatir."
Dua kata itu membuat Yohan terdiam, merasa hatinya tersentuh dan darahnya berdesir cepat ketika melihat mata tulus Ily yang penuh kepedulian padanya.
Angin berembus pelan, menerbangkan anak rambut di kening Ily dan membuat Yohan nyaman menatap wajahnya selama apapun.
"Aku hanya tak mau kamu punya masalah apapun lagi, Yohan. Kamu di sini baru. Jangan lagi bikin masalah baru dan membuat musuhmu ada di mana-mana."
Kening Yohan mengerut, agak menentang pada perkataan Ily."Bukan aku yang mencari masalah."
"Iya, tapi masalah yang mencarimu. Sadar nggak sih, kamu? Kamu sudah berurusan dengan Tiffany, Elvan, Eza lalu sekarang Juna. Kamu terlalu banyak tingkah." Ily tertawa hambar. "Harusnya kamu mencari teman, bukan mencari masalah."
Yohan tersenyum kecil. "Tapi aku punya kamu. Yang berjanji akan menjadi temanku selamanya."
Atas perkataan Yohan, Ily tersadar dan terdiam membeku untuk waktu yang terbilang lama. Ily tak mengerti mengapa dirinya seperti ini, salah tingkah hingga akhirnya berseru tanpa menatap Yohan.
"Ayo pulang, kita harus belajar untuk UN dua Minggu lagi."
"Siap, Ily," balas Yohan dengan nada jahil.
Membuat Ily semakin salah tingkah dibuatnya.
***
Pada intinya, Ily tak mau ada kegiatan lain selain belajar pada hari-hari libur. Ia tak mau menyesal nantinya.
Pepatah mengatakan berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ily mengerti dan peribahasa itu sangat melekat pada dirinya.
Ajakan Yohan, rayuan Eza maupun ancaman Elvan, ketiganya tak ada yang mampu membuat Ily keluar rumahnya. Minggu kemarin, ketika TO dilaksanakan, Ily merasa dirinya banyak salah dan benar adanya.
Nilainya agak menurun dari sebelumnya dan itu membuat Ily kesal, marah serta kecewa pada dirinya sendiri. Ily menyadari Minggu itu ia banyak memikirkan masalah dan terlibat kasus bersama Yohan karena tak punya kesungguhan niat yang besar untuk belajar.
__ADS_1
Ily tak mau dirinya kecewa lagi.
Tahun terakhir sekolahnya bukan lagi sebuah candaan, tempat bermain atau bermalas-malasan. Ily sudah bukan anak kecil dan mulai beranjak dewasa. Pemikirannya bukan lagi tentang teman, pasangan ataupun saingan sosial, namun tentang bagaimana usaha meraih mimpi.
Jika impian telah terwujud, baik itu teman, pasangan dan saingan untuk memotivasi diri agar lebih maju, akan mendekat begitu saja dan melengkapi hidup.
Jika intinya telah didapat, maka anak-anaknya akan membututi.
Ily tak peduli pada diri yang kesepian tanpa teman sehati sekarang ini, Ily tak peduli pada tubuh yang selalu diam di rumah saat libur Minggu ini, Ily tak peduli pada tatapan orang-orang terhadapnya yang menyebutkan Ily terlalu anti sosial, sebab suatu hari di masa depan, Ily akan membungkam mulut mereka dengan gemerlap diri.
Yang telah diusahakan sebaik-baiknya, yang telah diniatkan seteguh-teguhnya, yang telah mati-matian diraih. Mimpinya.
Ketika Ily sedang mengerjakan soal ke lima dari lima puluh, LED di sisi kanan atas ponselnya menyala, berkedip-kedip, menandakan pemberitahuan masuk. Entah apa itu. Awalnya Ily tak peduli, namun ia melihat jam yang rupanya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Harusnya Ily sudah tidur satu jam yang lalu.
Ayah dan Ibunya mungkin terlalu capek bekerja hingga lupa menegur Ily. Ily berusaha berpikir positif seraya membereskan alat-alat belajarnya. Namun, ketika menaruh pensil terakhir ke dalam tempat pensilnya, sesuatu terasa kosong.
Perutnya.
Jelas, sejak pukul empat sore, Ily belum makan apa-apa selain meminum air mineral yang ada di kamarnya. Terlalu banyak latihan soal yang belum ia kerjakan hingga harus maraton kini.
Ily mengembuskan napasnya kecil. Dengan senyum tipis, ia mengambil cardigan di lemari dan memakaikannya. Ily mengambil ponselnya dan melihat notifikasi pesan dari Tiffany, Yohan, Elvan, dan Eza.
Yang membuat Ily tertarik, langsung ia sentuh dan baca. Ia membuka berurutan, berdasarkan isinya yang menurutnya lebih penting.
Tiffany: maaf. Gue nggak bakal ganggu lo lagi.
Senyum Ily terulas tipis, pasti masalahnya dengan Juna dan Yohan telah selesai sebagaimana mestinya. Syukurlah, Ily Ikut senang dan kini pikiran serta bebannya telah berkurang.
Yohan: aku ingin makan sate bersamamu
Mata Ily membulat, melihat pesan yang rupanya baru terkirim sepuluh menit yang lalu itu. Jantungnya berdebar, entah karena apa. Tanpa bisa dibantah, jarinya mengetik dan kakinya bergerak berjalan menelusuri rumah yang telah gelap dan sepi, kemudian sampai di luar rumah.
Ily: ayo
Ily baru saja memakai sandalnya saat ada panggilan masuk dari Yohan yang membuatnya kaget setengah mati. Tangannya agak gemetar saat telah menempelkan ponselnya pada telinga. Ily sendiri heran, mengapa mereka harus bertelepon saat kenyataannya Ily dan Yohan bertetanggaan yang jaraknya hanya beda lima meter.
"Aku menunggumu, Ily," kata Yohan langsung, dengan suara yang entah mengapa terdengar sangat lembut di telinga Ily.
Ily tak menjawab, justru melangkahkan kakinya dengan malu menuju gerbang rumahnya. Ia sudah mengantisipasi bahwa Yohan berada tepat di depannya saat ia membuka gerbang, namun rupanya laki-laki Korea itu tidak ada.
Di depan rumahnya pun, Yohan tak terlihat.
Ily mulai kesal, ia berdecak. "Yohan, kamu di--"
"Hai--"
Yohan terkekeh geli, terdengar damai bagi Ily. Sebab Yohan yang tertawa ataupun mengeluarkan sebuah emoticon di wajahnya terlihat sangat langka sekaligus melegakan. Ily tak suka pada wajah datar laki-laki itu, sebab itu menggambarkan betapa sulitnya hidup Yohan.
Kini Ily berharap, hidup Yohan dapat membaik. Setidaknya, dirinya ingin membantu mencipta lengkung di bibir laki-laki Korea itu.
"Maaf, ya," kata Yohan santai. Ia mematikan sambungan telepon dengan Ily Dan memasukkan ponselnya pada saku hoodie-nya. "Aku sengaja."
Yohan terkekeh lagi. Terlihat seperti orang bodoh, sekilas. Tawanya aneh, namun justru membuat Ily menatapnya dengan senyum geli.
"Puas kamu bikin aku kaget?" tanya Ily pura-pura sebal.
"Aku akan traktir kamu," balas Yohan, tersenyum percaya diri seolah yakin bahwa kata-kata itu adalah cara ampuh untuk membuat Ily bahagia.
Benar saja. Senyum lebar Ily tak terelakkan. Gadis yang memakai baju tidur biru dongker dengan motif semangka itu langsung menggandeng tangan Yohan seolah Yohan adalah ayahnya dan berseru dengan semangat.
Yohan terkekeh lagi, merasa senang hati ketika Ily sedekat ini dengannya. Justru, Yohan ingin waktu berhenti agar dia bisa selamanya seperti ini dengan Ily.
"Asyik, ditraktir!" Tangan Ily mengepal ke atas. Langkahnya buru-buru, namun tak membuat Yohan kesusahan untuk mengimbangi langkahnya menuju ujung jalan di mana tukang sate berada. "Baik banget sih!"
"Semua manusia pada awalnya memang baik. Namun, ada yang tetap dan ada yang sesaat," balas Yohan santai.
"Iya, iya, Kim Yohan, iya," tukas Ily sambil mengangguk-angguk mengerti. "Kalau aku gimana?"
"Kamu? Hm, bagaimana, ya." Yohan tampak berpikir keras, membuat Ily yang memerhatikan langsung merasa kesal dan otomatis membuang lengan Yohan dari gandengannya.
Yohan ikut tersentak. Ingin protes ketika justru Ily telah berjalan cepat menuju gerobak sate. Gadis itu bicara cepat dan duduk di kursi yang telah disediakan untuk makan lengkap dengan meja kayu tradisional.
Melihat itu, Yohan segera menyusul dan duduk di hadapan Ily. Ily menatap Yohan tanpa minta, kemudian membuang pandangannya. Yohan merasa aneh, dia lantas mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa, Ly?" tanyanya bingung.
"Aku? Hm, aku kenapa, ya," balas Ily menirukan bagaimana tadi Yohan membalas saat ditanya Ily.
"Iya, kamu kenapa, hm?" Bukannya balas kesal, Yohan justru bertanya lebih lembut dengan nada sabar.
Ily mengepalkan tangannya, menggigit bibirnya dengan wajah salah tingkah. Dia tak tahu harus berbuat apa ketika ditatap sedemikian rupa oleh laki-laki Korea yang entah kenapa terlihat sangat tampan malam ini.
Padahal Ily sudah lumayan lama selalu berada di sisinya, bahkan saking seringnya Ily tak bisa melupakan wangi badan Yohan. Namun, kenapa baru malam ini ia menyadari bahwa Yohan sangat menawan.
Apa matanya bermasalah?
"Hei, jangan bengong. Tadi ada nyamuk yang akan hinggap di pipimu." Yohan mengingatkan dengan serius.
"Siapa yang bengong," bantah Ily sambil memutar bola matanya. "Lagipula aku kebal sama nyamuk. Yang harusnya waspada itu kamu. Nanti kulit putihnya merah-merah."
__ADS_1
Senyum kecil Yohan terukir di wajah maskulinnya. "Aku sudah memakai lotion anti nyamuk. Kamu jangan khawatir."
Lagi, Ily memutar bola matanya. "Kamu sudah belajar untuk UN?" tanyanya berubah jutek.
"Sudah," balas Yohan dengan ceria. "Kamu bagaimana?"
"Aku juga udah," balas Ily sama juteknya seperti pertama kali ia bertanya. "Kamu harusnya jangan belajar."
"Kenapa?"
"Nanti nilaiku kalah. Kamu kan sudah pintar."
"Aku hanya berusaha sebisaku."
"Tapi jangan terlalu berusaha. Nanti kamu lelah," kata Ily berubah lemas. Bibirnya mengerucut lucu. "Nanti seperti aku. Capek banget, aduh. Belajar mulu dari jam empat."
"Harusnya kamu ikut main tadi," balas Yohan dengan decakan kecewa. "Aku, Elvan dan Eza pergi ke waterpark dan makan banyak makanan enak di sana. Ada siomay, stik udang, sering, seblak, kwetiau dan tahu pedas."
"Kamu memakan semuanya?" tanya Ily dengan mata membulat.
"Tidak," bantah Yohan langsung. "Aku, Elvan dan Eza membeli satu porsi kemudian memakannya bersama-sama. Itu menyenangkan. Mereka sangat ceria."
Ily mengangguk-angguk mengerti. "Bagus. Kamu sudah ada kemajuan. Bersenang-senanglah dengan banyak teman, jangan aku-aku terus."
"Aku menyukai semuanya, aku juga bersenang-senang, tapi kurang jika tak ada kamu, Ly."
Ily tersenyum malu, namun berusaha menutupi salah tingkahnya. "Aku harus belajar. Tak punya waktu untuk bermain lagi. UN besok lusa, kamu tahu?"
"Iya." Yohan mengangguk. "Aku tahu, Ly."
"Ini neng, satenya," kata Pak Somad, penjual sate langganan Ily sambil membawakan dua porsi sate dengan nasi pada meja yang di duduki Ily dan Yohan. "Selamat menikmati, ya. Lucu deh liat pasangan muda, jadi keinget dia."
Ily tertawa kecil. "Bisa aja, Pak. Ini kita cuma temenan, kok."
"Oh, yaudah, Bapak ke gerobak lagi, ya," pamit Pak Somad yang dibalas anggukan oleh Ily dan senyuman oleh Yohan.
Langganan Pak Somad termasuk banyak. Selain tempatnya yang strategis dan harganya yang ramah kantong, rasanya pun bukan main. Yohan berani bertaruh, ia tak akan bisa bahkan jika satu bulan makannya terus sate Pak Somad.
Ily tersenyum pada Yohan. "Makasih traktirannya."
"Santai, honey," balas Yohan, sukses membuat Ily tersedak ludahnya sendiri karena terkejut.
"A-apa katamu?"
"Santai, honey," ulang Yohan polos. "Menurutku kamu manis seperti madu. Senyummu, matamu, bibirmu, wajahmu, intinya semuanya manis. Apa aku tak boleh memanggilmu honey?"
Ily berdeham, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang semakin menjadi-jadi. Ia menipiskan bibir. "Kita makan saja, deh."
"Oke."
Atmosfir berubah sunyi. Meski banyak pelanggan lain yang bersuara, Ily sama sekali tak bisa mengalihkan pikirannya dari Yohan. Berkali-kali Ily mencoba mengenyahkan perilaku Yohan hari ini, namun jelas gagal saat makanannya kini telah habis dan Yohan menatapnya lurus-lurus.
"A-apa?" tanya Ily berusaha berani.
"Ada saus kacang di sudut bibirmu--" perkataan Yohan terputus saat melihat Ily langsung mengelap sudut bibirnya dengan jari telunjuknya, kemudian menjilatinya tanpa malu. "aku berniat untuk meminta tisu, padahal."
"Aku tak alay," balas Ily tegas, "ayo pulang."
Kening Yohan mengerut. "Langsung saja?" tanyanya ragu.
Ily memutar bola matanya jengah. "Ya kamu bayar dulu, dong! Gimana sih, katanya ngasih traktir!"
Yohan terkekeh seperti orang bodoh. "Benar juga. Aku lupa."
Melihat Yohan yang akhirnya menghampiri Pak Somad, Ily menggeleng kepalanya. Entah harus malu atau bersyukur ketika memiliki teman seperti Yohan.
Beberapa saat kemudian, Yohan telah selesai melakukan pembayaran dan menghampirinya. Ily tersenyum, kemudian mengangguk, mengisyaratkan pada Yohan untuk mengikuti langkahnya, pulang.
"Ly," panggil Yohan dari belakang, suaranya pelan dan cukup terdengar di telinga Ily.
"Iya?" balasnya tanpa menoleh.
"Kamu pernah pacaran?" tanya Yohan tiba-tiba mengambil topik yang membuat Ily kehilangan keseimbangan berpikir hingga kini bingung harus menjawab apa.
Ini kedua kalinya Yohan bertanya. Ily tak mau menjawab, karena dia merasa malu dan rendah jika jujur, bahwa ia tak pernah berhubungan seperti itu dengan lawan jenisnya.
Iya, dari sejam dalam kandungan sampai kini, menjadi seorang siswi yang lusa akan melakukan Ujian Nasional.
Beruntung Yohan tak berjalan di sampingnya dan melihat wajah bodohnya. Ily benar-benar bungkam, awalnya berniat mengabaikan Yohan saja sampai ke rumah dan bersikap seolah tak ada yang terjadi. Namun, Yohan bertindak lain.
Laki-laki itu berjalan lebih cepat, segera berada di sampingnya dalam hitungan detik. Ia terkekeh pelan. "Kalau aku mengajakmu, berarti aku akan jadi pacar pertamamu, ya?"
Ily menggigit bibirnya, kemudian mengembuskan napas kecil. "Kamu kenapa bahas pacar-pacar sih? Diracuni sama Eza, ya?"
"Kok kamu marah? Memangnya tidak suka padaku?" tanya Yohan bingung.
Melihat rumahnya mulai dekat, Ily merasa sangat beruntung. Perempuan itu menoleh dan menatap Yohan dengan wajah serius.
"Tipeku barat, bukan Korea. Aku suka Shawn Mendes, bukan kamu," kata Ily cepat, untuk setelahnya berlari dengan gaya canggung menuju gerbang rumahnya. Gadis itu tak pamit lagi sebelum akhirnya tertelan oleh gerbang rumahnya sendiri.
Meninggalkan Yohan yang hanya bisa tersenyum tipis dengan tanda tanya besar di benaknya atas pernyataan dari Ily barusan.
__ADS_1
***