Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 53


__ADS_3

Yohan diajak berbincang mengenai sesuatu lebih dulu dengan ayah waktu makan malam selesai dilaksanakan. Ily lebih dulu masuk kamarnya, begitupula dengan ibu.


Kini, tersisa ayah dan Yohan di teras depan rumahnya. Dengan cokelat panas buatan ibu di samping tubuh masing-masing. Keduanya menikmati semilir angin malam yang sejuk sebelum akhirnya ayah berdeham untuk memulai perbincangan.


"Kamu menepati janji, ya," kata ayah serius. "Ayah bangga."


Yohan menunduk malu-malu. Sekarang dia gugup banget. Berhadapan calon mertua, siapa yang tidak gugup? Untuk kedua kalinya, Yohan akan bicara serius dengan ayahnya Ily.


"Ily itu udah seperti jantungku, yah," balas Yohan pelan. Sangat malu untuk mengatakannya, namun ia tak mau menyesal karena malu dan berakhir menyembunyikannya sampai waktu yang tidak diketahui. "Aku tak mungkin melepasnya, tak mungkin rela kehilangannya."


"Baguslah kalau begitu." Ayah tersenyum tipis. Kemudian mengambil dan mengangkat mug cokelat panasnya seraya menatap Yohan yang juga ikut menoleh.


"Minum, Han," kata ayah saat mulai menyesap cairan manis yang mulai menghangat itu.


Dengan gerakan canggung, Yohan ikut mengambil mug miliknya dan mulai menyesap apa yang ada di dalamnya. Rasa manis dan hangat menjalari kerongkongannya sedetik kemudian. Rasa nyaman dan santai ini membuat Yohan ingin menghentikan waktu.


Supaya bahagia bisa abadi, supaya senyumnya bisa terus bertahan dan supaya dia tak kembali pada hidupnya yang kelam.


"Enak," kata Yohan dengan senyum bahagia.


Ayah turut tersenyum.


Tanpa bisa ditahan, air mata Yohan luruh. Benar-benar jatuh, membahasi pipi dan bajunya. Sekuat tenaga, Yohan menahan suaranya agar tak keluar. Yohan begitu terharu hari ini.


Tak lama, ayah menoleh dan terperangah saat Yohan menangis begitu. "Kenapa nangis?"


Yohan mengelap air mata di pipinya dengan senyum lebar. "Entahlah, mungkin terlalu bahagia, aku jadinya begini. Maaf aku lebay, Yah."


Ayah tersenyum maklum, kemudian perlahan-lahan tangannya bergerak, menuju punggung Yohan dan menepuk-nepuknya pelan. Yohan merasa hangat, merasa ditenangkan.


Tanpa aba-aba, ayah Ily bergerak lagi. Kini memeluk Yohan dari samping. Hal yang disayangkan, karena berkatnya Yohan meringis.


Ayah segera melepas rengkuhannya dengan wajah panik. "Hah? Kenapa? Kamu sakit?"


Yohan terkekeh kecil. "Sedikit."


"Eh, maaf," kata ayah merasa bersalah.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Yah," balas Yohan canggung, mengusap tengkuknya yang tak gatal.


Ayah menyesap cokelat panasnya kembali, kemudian mengela napas panjang, seperti lega sekali. "Ayah akan benar-benar percaya sama kamu, Yohan."


"Eh?"


"Ayah percayakan kebahagiaan Ily selanjutnya pada kamu, Yohan," ulang ayah lebih serius, menoleh untuk membalas tatapan bingung Yohan dengan sorot serius.


Persis seperti waktu dia menjalin janji dengan Yohan beberapa tahun yang lalu.


"Ah ...." Yohan meneguk ludahnya kasar. Matanya tak tampak yakin untuk membalas tatapan ayah, masih sempat melirik ke arah yang lain beberapa kali. "Baik, Ayah."


"Kamu harus tegas, Yohan." Ayah mengernyitkan keningnya karena sikap Yohan tak menjanjikan seperti beberapa tahun lalu. Padahal seharusnya Yohan lebih serius dari ini. "Ily baru saja menolak lamaran dari seseorang untuk kamu."


Mata Yohan langsung membulat. "Lamaran?"


"Iya."


"Lamaran menikah maksudnya, Yah?" Yohan bertanya dengan nada tak percaya.


Ayah mengangguk cepat. "Iya! Masa lamaran kerja? Orang Ily sekarang udah kerja."


Melihat cemburu dan cinta memburu dari diri Yohan, membuat ayah tertawa karena ingat masa muda. "Kalau ayah ceritakan pun kamu belum tentu tau orangnya."


"Hebat sekali dia, sampai berani melamar begitu," tukas Yohan dengan senyum pahit, merasa kalah karena perjuangannya untuk Ily tak lebih besar.


"Bahkan udah bersama selama lima tahun dengan Ily," cerita ayah, membuat Yohan makin terkejut karena tak menduga akan ada cerita seperti itu saat ia tak ada. "Dia selalu ada buat Ily. Ily selalu cerita tiap malam. Perlakuannya bahkan manis dan bikin meleleh. Ibu aja sempat jatuh cinta dan mau menjodohkan Ily dengan laki-laki itu."


Yohan menahan napas tak percaya. Khawatir dan takut jika hal itu benar-benar terjadi. Namun, sampai kini, Yohan rasa posisi dirinya untuk Ily masih aman-aman saja.


"Ayah juga nggak ada pilihan lain selain ikut pilihan Ibu, walaupun ingat perjanjian ayah sama kamu, Yohan. Tapi, ayah tetap ingat kamu, soalnya perjanjian antara lelaki itu sakral dan nggak bisa disepelekan apalagi dilupakan," lanjut ayah dengan nada pelan yang mengalir tenang ke telinga Yohan. Ayah mengela napas dan menatap Yohan kembali. "Meski Ily pernah bilang bahwa kamu bukan lagi temannya karena telepon itu, ayah nggak langsung percaya begitu saja. Mungkin situasi kamu waktu itu sedang terpaksa hingga katakan itu, karena ayah percaya bahwa kamu nggak akan semudah itu untuk putus hubungan dengan Ily."


Yohan menipiskan bibirnya, merasa bersalah karena waktu itu dia memang terlalu keras; karena terbawa suasana.


"Sekarang, kamu membuktikan bahwa kepercayaan ayah itu benar." Ayah tersenyum bangga lagi.


"Bagus kalau begitu," tukas Yohan seraya mengangguk. "Aku tidak akan mengecewakan ayah."

__ADS_1


"Terimakasih."


Selanjutnya, ayah dan Yohan kembali menyesap cokelat panas masing-masing, mengisi keheningan yang tiba-tiba melingkupi. Laki-laki tak begitu pandai mencari topik pembicaraan dalam suasana serius seperti ini, sampai Yohan berdeham dan membuat ayah menoleh dengan wajah bingung.


"Kenapa, Han?"


Yohan membasahi bibirnya sebelum bicara. "Ayah nggak bertanya kenapa aku ke sini?"


Kening ayah mengerut samar. "Ibu kan udah cerita. Kamu ada urusan mendesak dan akan menceritakannya kalau memang sudah waktunya."


"Iya, sih ... tapi," Yohan meringis, "bukan kah ayah harusnya curiga dan paksa aku buat cerita? Bisa aja aku jadi ancaman di sini dan membuat keluarga ayah dalam bahaya."


Ayah tertawa atas jawaban tak terduga Yohan. "Ya, kalau kamu belum mau cerita, ayah nggak akan paksa. Selain itu, ayah udah bilang kan, ayah percaya sama kamu, Yohan. Ayah yakin kamu nggak bawa maksud yang bisa membuat kami terluka. Kalau kamu butuh tempat berlindung, ayah akan sediakan."


Rasa hangat melingkupi pundak Yohan ketika ayah menepuk-nepuk bahunya dengan tempo menenangkan.


"Di sini, carilah kebahagiaan, carilah ketenangan, sampai kamu dapat mencari solusi untuk masalahnya dan bisa kembali normal. Ayah akan dengan senang hati mengulurkan tangan untuk kamu," jelas ayah, kemudian tersenyum lebar. "Jangan sungkan untuk tinggal di sini. Apapun yang kamu butuhkan, sampaikanlah. Ayah, Ily dan Ibu akan berusaha untuk memberi yang terbaik."


Bahkan ayah dan ibunya Yohan tak pernah berkata apa yang Yohan butuhkan untuk bahagia. Tak pernah benar-benar atau setidaknya secara tak langsung berkata bahwa mereka ada untuk buat Yohan bahagia.


Yohan menunduk dan itu membuat ayah mengernyit bingung.


"Kenapa, deh?"


"Kenapa ayah, Ily dan ibu bisa sebaik ini padaku?" Yohan bertanya setelah mendongakkan kepalanya, yang kini wajahnya sudah banjir air mata, tak peduli bahwa ayah melihat, Yohan menangis sejadinya, meski tanpa suara. "Padahal aku bukan siapa-siapa?"


Ayah membuang napas kecil. "Ya udah, sekarang kamu keluarga ayah, keluarga ibu dan keluarga Ily. Kamu sekarang bukan siapa-siapa, Yohan. Kita keluarga."


Yohan semakin terperangah, tak dapat berkata-kata.


"Kenapa? Masih keberatan untuk tinggal?"


Perlahan, senyum Yohan terkembang. Begitu bahagia, begitu haru dan begitu sedih; entah mengapa. "Sama sekali tidak, Yah!"


Kemudian Yohan menghamburkan diri untuk memeluk ayah dan erat. Tak peduli bahwa ayah terkejut, Yohan menangis di pelukannya itu. Air matanya bahkan sempat membasahi baju bagian belakangnya ayah.


***

__ADS_1


maaf-maaf nih, ini tuh sebenarnya mau tamat, tapi kok kayaknya masih panjang ya hahaha?


__ADS_2